Aku dan kamu adalah sahabat sejak kita kecil. Kita sangat dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama. Hingga kita beranjak remaja, kita mulai menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar sahabat.
… Kita saling jatuh cinta …
Kamu menyatakan cintamu padaku di taman dimana sebagai tempat sebuah ikatan dan janji terikrar. Tempat kami saling menghabiskan waktu bersama. Berbagi tawa dan tangis.
Sampai pada suatu saat bahwa kebersamaan itu pergi. Kamu dan keluargamu terpaksa harus pindah ke Barcelona. Aku tentu menangis benar-benar tidak ingin kehilangan kamu. Namun, kamu mengingatkan akan janji kita.
“Bertemu di tempat ini setiap hari sampai kita benar-benar tidak dapat bernafas lagi”
Separuh hatiku tenang tetapi separuhnya lagi menolak kenyataan pahit ini. Namun apa dayaku? Aku tidak bisa melawan takdirku sendiri.
… Jangan meninggalkanku …
Seperti mayat hidup inilah aku sekarang. Tidak ada lagi senyum di wajahku.
Jangan tanya apakah aku ke tempat itu setiap hari? Tentulah, hanya di sana aku merasa tenang. Akan selalu kuingat janji kita. Aku selalu berbaring di sana, menatap langit lalu melihat wajahmu tersenyum padaku membuatku kalut.
… Aku merindukanmu …
Satu tahun berlalu tidak ada yang berubah dalam hidupku dan kamu pun belum kembali. Aku tetap melakukan hal yang sama.
Tidak ada yang mau mendekatiku, tidak ada yang mau berteman denganku aku tak peduli. Tapi … ada satu lelaki yang membuatku jengah. Dia sok peduli padaku. Dia selalu mengikutiku juga mengajakku bicara. Dia juga selalu memaksa mengantarku pulang ke rumah dan berbicara dengan ayahku.
… Dia selalu ada untukku …
Dia tahu tentang aku dan kamu. Dia berubah, tidak lagi banyak bicara dan tatapannya padaku berubah.
Suatu saat kemudian kamu kembali. Tapi … aku tidak lagi menemukan kebahagiaan seperti dulu, saat aku melihat kedatanganmu setelah menunggu berjam-jam. Padahal aku menunggumu bertahun-tahun tapi rasa itu sudah tidak ada lagi.
… Dimana rindu yang dulu ada? …
Aku melihatmu. Perasaan itu tidak ada lagi aku tidak tahu. Bimbang, kenapa hatiku menolak keras kehadiranmu? Aku tidak tahu.
Pikiranku dipenuhi dia. Otakku teringat momen-momenku dan dia bukan malah momenku bersamamu.
Aku sadar aku tidak lagi memiliki perasaan padamu. Semuanya hilang karena dia. Dia ada di hatiku. Aku tidak bisa berbohong.
Maafkan aku, aku mencintainya, dia …
Cerpen Karangan: Tria Nur Ramadhani Blog / Facebook: Fb: Tria Nur Ramadhani