Dulu, hiduplah pangeran bersama sang puteri di istana bumi. Mereka berbahagia, sangat berbahagia. Setiap hari, setiap waktu mereka selalu habiskan bersama-sama. Mereka menyambut pagi dengan senyuman kebersamaan, mereka melepas senja pun dengan indah kebersamaan mereka. Sejak mereka disatukan oleh takdir, mereka selalu mengungkap janji untuk tidak akan meninggalkan satu sama lain. Melalui ucapan ikrar sang pangeran dan kesediaan sang puteri menerimanya.
Mereka berjanji, bagaimanapun suatu saat nanti keindahan menyapa salah satu dari mereka, tidak akan lupalah apalagi meninggalkan sebuah ikatan janji yang telah mereka buat. Sang pangeran mengutarakan semua rasa tidak ingin kehilangannya terhadap puteri setiap mereka bersama menyambut pagi. Ia selalu berujar, “entah bagaimana bulan tanpa matahari, entah bagaimana bumi tanpa langit, entah bagaimana bintang tanpa sinarnya. Mungkin itu adalah gambaran keadaanku ketika harus kehilangan kamu sayang. Aku sungguh tidak bisa, sebagaimana mereka benar-benar tidak bisa kehilangan pasangannya.” Sambil memeluk erat sang puteri menikmati terpaan awal hari. Sang puteri selalu tersenyum membalas, “bukankah bulan dan matahri tidak akan kehilangan keberasamaannya? Bulankah bumi dan langit selalu bersama? Bukankah bintang tidak akan pernah kehilangan sinarnya? Begitulah kita sayang.” Mengawali hari dengan keindahan mereka selalu lakukan.
Setiap sore di tengah senja mereka selalu menghabiskan senja bersama-sama menari bersama lantunan musik indah alam ditemani tarian indah bebungaan di taman istana. Sambil menjalani itu sang pangeran selalu berucap, “entah bagaimana sore hari akan dikatakan indah tanpa senja, meski senja selalu bergerak sementara, ia selalu meninggalkan rindu di hati penikmatnya. Aku ingin menjadi penikmatmu sayang, yang selalu dan selalu rindu memandangmu dan tidak akan merasakan kehilangan kamu.” Digenggamnya tangan sang puteri sambil menatap syukur terhadap takdir indah tuhan ini yang diberikan kepadanya. Sang puteri membalasnya hanya dengan menggenggam erat tangan pangeran dan memeluknya. Begitu setiap sore menjelang malam, namun tak pernah ada rasa bosan di hati mereka.
Pangeran selalu berucap kepada sang puteri setiap menjelang tidur, “kamulah keindahan satu-satunya yang tidak ada yang seindah dirimu yang membuat aku inginkan untuk aku miliki”. Sambil menyium hangat kening sang puteri. Sang puteri selalu menjawabnya, ” bagaimanapun juga, kamu adalah keindahan yang harus aku syukuri.” Mereka selalu mengakhiri hari-hari mereka dengan senyum janji untuk selalu bersama.
Sampai suatu saat sang puteri menginginkan pangeran terbang tinggi untuk mencapai keindahan di atas awan sana. Sang pangeran jelas tidak mau. Keinginannya selalu bersama sang puteri terus abadi. Menurutnya keindahan dunia tidak sebanding dengan keindahan bersamanya. Pangeran tidak mau.
Akan tetapi keinginannya untuk tetap tinggal terkalahkan oleh keinginan sang puteri untuknya terbang. “Di atas sana pasti indah banget, suatu saat kamu harus ceritain keindahan itu ke aku ya!” kata sang puteri membujuk. “Tapi nanti kita akan berjauhan, sebenarnya kenapa sih kamu menginginkanku untuk terbang?” hati pangeran masih tidak rela harus terbang meninggalkan sang puteri. Sang puteri tersenyum. “Supaya kamu bisa melihat keindahan di atas sana.” “Kalau begitu, ayo kita memandang keindahan itu bersama-sama” ajak pangeran. Namun sang puteri menolaknya. Ia beralasan bagaimana nanti istana tanpa dia. Sehingga mengharuskan sang puteri tetap tinggal di istana. Cukuplah pangeran yang memandang keindahan di langit itu. Sang puteri menginginkan fokus terhadap istana bumi.
Akhirnya dengan berat hati sang pangeran mengikuti kemauan kekasihnya itu. Ia memanggil peri untuk memberinya sebuah sayap untuk terbang. Sang pangeran hanya memandang sang puteri dengan penuh rasa kehilangan, seakan sang puteri mengerti maksud pendangan sang pengeran, ia mengecup pipi sang pangeran. Sambil berujar “jangan takut, suatu saat nanti kita pasti dipertemukan lagi. Kamu bisa memandangku dari atas sana, karena aku pasti di sini menunggu kamu. Aku ingin kamu terbang melihat dunia yang indah ini. Suatu saat aku akan memintamu turun untuk menceritakan segala keindahan yang sudah kamu lihat.”
Sampai saat lah dia terbang. Yang ia rasakan hanyalah kehilangan sang puteri. Setiap ia terbang tidak lepas di hatinya dari merindukan sang puteri. Dalam hatinya selalu bertanya bagaimana keadaan sang puteri? Haruskah ia turun? Sedangkan puteri hanya memintanya untuk terbang? Tidak memintanya untuk turun?
Gunung, laut, ia lewati. Satu tempat yang tak pernah ia lewatkan, Istana Bumi. Setiap kali ia melewatinya, sang puteri melambaikan tangannya. Tersenyum. Selalu tersenyum padanya. Hal itu membuat hati pangeran senang, karena mengetahui sang puteri dalam keadaan baik-baik saja. Setiap sayapnya mengepak di atas istana Bumi, ia melihat kebahagian di wajah sang puteri. Selalu tersenyum.
Putaran demi putaran ia lakukan. Sampai ketujuh kali putarannya terhadap bumi, ia melihat senyum kebahagiaan sang puteri lagi. Akan tetapi kali ini tidak membuat hatinya senang. Hanyalah membuat hatinya bertanya. Apakah sang puteri berbahagia tanpanya? Sampai kapan pangeran akan terus terbang? Kenapa sang puteri tidak pernah memintanya turun? Apa sebenarnya sang puteri tidak meninginginkannya turun? Pertanyaan demi pertanyaan selalu terngiang di benak sang pangeran. Setiap kali melihat sang puteri, ia merasa bahwa sang puteri sudah berbahagia hidup tanpanya. Resah, gundah dan bingung mengisi hati sang pangeran. Mungkinkah sang puteri tidak membutuhkannya lagi?
Sampailah ke putaran sepuluh, ia kembali melihat sang puteri dengan wajah bahagianya. Kali ini tak ada gundah tak ada resah. Sang pangeran tersenyum. Sang puteri sudah berbahagia tanpanya. Pangeran selalu tersenyum. Mungkin, tak perlu lagi ia memikirkan kebahagiaan sang puteri lagi. Ia sudah berbahagia tanpa harus ada dia di sampingnya. Pangeran harus berbahagia karena sang puteri sudah berbahagia.
Pangeran tidak tahu yang sebenarnya terjadi terhadap sang puteri. Sang puteri pun tidak mungkin tau terhadap apa yang dirasakan sang pangeran. Yang pangeran inginkan hanyalah kebersamaannya bersama sang puteri lekaslah kembali. Tapi kebingungan yang membuatnya ragu apakah sang puteri pun menginginkan sang pangeran turun? Pangeran memikirkan kebingungannya itu sampai ia tidak ingat keindahan apa yang ia lihat diputarannya saat itu. Kemudian ia mengingat ucapan sang puteri, “suatu saat aku akan memintamu turun, dan kamu akan menceritakan semua keindahan itu ke aku.” Sang pangeran terdiam.
Sambil tetap terbang sang pangeran berfikir, bagaimana nanti ketika pangeran dimintanya turun namun ia tidak tau keindahan apa yang sudah ia lihat? Seberapa kecewanya sang puteri kepadanya? Untuk apa sang pangeran mementingkan keinginannya saja dengan terus mengedepankan egonya untuk terus bersama tanpa memikirkan keinginan sang puteri ingin mengetahui keindahan dunia ini? Betapa egoisnya sang pangeran. Ia sangat menyesali keburukannya itu. Semua pemikiran itu membuatnya sadar, sekarang adalah tugasnya untuk membahagiakan sang puteri. Dia harus menjalaninya karena ini adalah keinginan sang puteri, keinginan sang puteri adalah kebahagiaan untuknya.
Sejak saat itu, sang pangeran hanya ingin menikmati keindahan di langit sini, mengingatnya dengan baik-baik supaya nanti ia akan menceritakan semua keindahan yang ia lihat kepada sang puteri, ketika ia turun nanti. Kini perjalanan dia isi dengan menyenandungkan sajak sebagai tanda dan pengobat rindunya terhadap sang puteri. Setiap kali ia melewati istana bumi, ia bersajak:
Setahun aku mencintaimu, langkah satu kurasa hanya. Satu kejap aku kehilangan, sejuta waktu kurasa sangat. Cinta lah cinta, cepatlah persatukan warna. Mewarna indah hidupku merajut asamara. Bersama ciptaan indah-Mu.
Sayang oh sayang, cepatlah kau datang. Menjemput masa depan terang penuh keindahan. Menikmati senja bersama takdir-Nya.
Sambil selalu berlantun, di perjalanan demi perjalanan ia selalu ingat dengan sebaik mungkin. Putaran demi putaran sang pangeran lewati.
Cerpen Karangan: Yanuar Heri Saputra Blog / Facebook: YH Saputra