Siang itu hujan begitu deras, seorang gadis duduk di halte bus dengan tas biru di punggungnya. Sebut saja namanya Yuri, gadis yang kini duduk di kelas 3 SMA. Setiap berangkat atau pun pulang sekolah ia selalu naik bus yang searah dengan sekolahnya. Dia berasal dari keluarga yang sangat mampu, fasilitas apa saja dapat ia nikmati di rumahnya. Ditambah lagi ia anak terakhir dari dua bersaudara, yang mana kakak perempuannya telah menikah dan ikut suaminya. Namun ia tetap hidup sederhana bahkan tidak mau membawa kendaraan sendiri. Ia memilih naik bus tiap harinya karena ia merasa sangat nyaman saat berjuang pergi ke halte. Apa lagi disaat tertinggal bus, yaa itu merupakan kesenangan tersendiri baginya.
Tak beberapa lama ia menunggu bus terdengar ketukan sepatu yang mengarah dekat padanya. Tepat seseorang lelaki duduk di sampingnya, dengan seragam yang sama dengan yang ia pakai. Ia sedikit mengerutkan dahi, ia sama sekali belum penah melihat lelaki itu. “Deras juga hujannya” ucap lelaki itu dengan rambut dan baju yang tampak sedikit basah. Yuri menoleh sembari tersenyum.
Tak beberapa menit bus pun datang. Mereka pun naik bus tersebut. Tanpa sadar ternyata mereka duduk bersebelahan. Mereka menikmatinya. Menikmati dinginnya siang itu. Derai air hujan yang tampak indah bila dilihat dari dalam bus. Yuri terus memeluk tasnya, sedangkan lelaki itu tetap santai dengan pengeras musik di telinganya.
Bus pun sampai di terminal berikutnya. Dan hujan telah berhenti. Merekapun turun. “Boleh ku tau namamu?” tanya lelaki itu dengan sedikit keras, karena Yuri sudah agak jauh darinya. Yuri berbalik badan. “Yuri… Yuri Kirana,” jawab Yuri tersenyum. Lelaki itu tersenyum. “Namamu?” tanya Yuri. “Fandy, Fandy Anggara,” jawab lelaki itu dengan tersenyum. Merekapun mengawali perkenalan dan berpisah di persimpangan jalan.
Sekilas tentang Yuri, ia gadis yang pendiam, dengan rambut panjangnya yang hitam, dan poni lurusnya, tidak banyak orang yang mengetaui tentang dirinya. Namun bila di kelas ia tidak memilih siapa yang menjadi temannya. Semuanya menjadi teman baiknya. Namun sifat pendiamnya tidak bisa dirubah. Tetapi semenjak kenaikan kelas 3 sifat pendiamnya agak berkurang, karena banyak teman-temannya yang pergi ke rumahnya untuk belajar bersama, sehingga tak membuatnya kesepian. Teman-temannya sangat terkejut ketika tau bagaimana kehidupan Yuri, kenyataan dengan yang mereka lihat dari keseharian Yuri sangatlah berbeda. Mereka benar-benar sadar Yuri anak yang sangat sederhana ditengah kehidupannya yang serba berkecukupan.
Keesokkan harinya. Cuaca begitu terang setelah hujan kemarin. Meski masih terasa dingin. Pagi itu Yuri kesiangan bangun dari tidurnya, ia tak sempat sarapan karena ia harus mengejar bus. Benar saja ketika ia sampai di halte, bus sudah bergerak pelan. Yuri mengejar bus dengan berteriak agar bus berhenti. Ia terus berlari dan tepat di samping pintu masuk, ketika ia ingin menarik pegangan pintu namun tak sampai.
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan seseorang mengulurkan tangannya, Yuri terkejut, ternyata Fandy. Yuri langsung meraihnya, dan Fandy menarik Yuri ke dalam bus. Yuri pun duduk dengan terengah-engah. “Makasih bantuannya tadi, kalau enggak ada kamu mungkin aku bisa telat.” ucap Yuri dengan mengipaskan telapak tangannya ke arah leher yang berkeringat. “Iya, sama-sama.” Fandy tersenyum tipis. “Kamu murid SMA Bakti juga?” tanya Yuri. Fandy mengangguk. “Tapi aku belum pernah melihat kamu.” “Iya? Padahal aku selalu di lapangan basket,” jawab Fandy heran. “Oh, begitu? Aku jarang keluar kelas.” “Pantas saja.”
Sekitar 15 menit mereka pun sampai. Yuri segera masuk kelasnya, begitu juga Fandy. Hari itu tepat hari dimana ruang kelas 3 B melakukan praktik olahraga. Yuri dan yang lain segera mengganti pakaian mereka dengan baju olahraga. Mereka pun menuju lapangan basket bersama Pak Santoso, guru olahraga mereka. “Yuri, kamu kenal enggak sama pemain basket yang terkenal di sekolah kita ini? Kemarin dia paling banyak masukkan bola ke ring, dan sempat pacaran dengan Bella, anak kepala sekolah itu lo yang kelas 3 A.” ucap Nirta, salah satu teman Yuri. Iya, Bella bisa dikatakan wanita terpopuler di SMA Bakti. Selain rupanya yang begitu cantik, ia pun anak kepala sekolah. “Aku enggak tau. Enggak penting juga Nir.” ucap Yuri sembari melakukan pemanasan. “Yeee… iya enggak penting karena kamu belum ketemu dia.” ucap Nirta dengan tersenyum.
Pak Santoso pun mengumpulkan mereka di lapangan, ia menjelaskan bahwa mereka akan diajarkan bermain basket yang baik dengan para pemain basket terbaik di sekolah mereka. Tak berapa lama para pemain basket di sekolah mereka datang. Semua murid wanita histeris terkecuali Yuri karena memang perlu diakui para pemain basket di SMA Bakti tampan-tampan. “Yuriiiii, itu yang aku bilang ganteng banget.” teriak Nirta yang sedikit mengejutkan Yuri dan sembari menunjuk ke arah orang yang ia maksud. Yuri pun mengikuti arah tangan Nirta. Ia sangat terkejut karena yang Nirta tunjuk ternyata orang yang dua hari ini betemu dengannya di bus. Yaahh benar, itu Fandy. Entah mengapa perasaannya begitu gugup ketika ia menjadi orang pertama yang ditunjuk Pak Santoso untuk praktik basket dan diajarkan oleh Fandy. Semua wanita merasa iri ketika melihat Fandy mengajarkan Yuri. Yuri pun tak menyangka bahwa orang yang di kagumi banyak wanita ternyata Fandy. Sekilas tentang Fandy. Dia lelaki yang bisa dibilang handsome, jadi wajar saja banyak yang menyukainya. Dia terkenal cuek, namun jika sudah akrab dia begitu ramah.
Praktik olahraga pun berjalan dengan lancar. Ketika pulang sekolah Yuri dan Nirta menuju gerbang sekolah. “Aku duluan Yur.” ucap Nirta sembari melambaikan tangan dan berjalan mundur. Yuri tersenyum dan melambaikan tangan. Ia pun kembali berjalan menuju terminal bus. Ia merasa ada langkah orang lain yang berjalan di sampingnya. Ia pun menoleh ke arah kirinya, ia langsung terkejut dan langsung menunduk.. “Kenapa?” tanya lelaki yang ternyata Beni, mantan kekasihnya. Yuri tak menghiraukan ucapan Beni. Beni menahan tangan Yuri dan mereka berhenti tepat di bawah mohon dimana dulu adalah tempat mereka putus. Tiba-tiba saja angin berhembus pelan seolah-olah merasakan apa yang ada di benak Yuri. Dengan kuat Yuri menahan air matanya. Yuri melepas genggaman tangan Beni, wajahnya mulai terlihat kesal. “Ada perlu apa lagi?” tanya Yuri kesal. “Aku minta maaf Yur tentang perbuatanku satu tahun yang lalu. Aku selingkuh sama Dina itu benar-benar enggak sengaja,” jawab Beni. “Apa? Enggak sengaja? Baru kali ini dengar orang selingkuh enggak sengaja. Dan juga selama satu tahun kamu kemana saja, kok baru nongol sekarang?” ucap Yuri semakin kesal. Beni diam, namun ia tetap memohon dengan memegang tangan Yuri. “Sudahlah Ben aku mau fokus sama sekolahku dulu, aku sudah kelas tiga, bukan saatnya main-main lagi. Ya sudah aku mau pulang.” ucap Yuri melepas tangan Beni. “Tapi Yur, sekali lagi aku minta maaf, kita bisa kan seperti dulu lagi?” tanya Beni. “Aku sudah maafkan kamu, tapi maaf untuk kembali itu enggak mungkin,” jawab Yuri langsung pergi meninggalkan Beni. Kali ini ia tak menangis karena untuk Beni air matanya telah mengering. Kejadian setahun yang lalu membuatnya trauma mengenal lelaki. Sakit hatinya belum terbendung lagi, harus ia akui ia masih mencintai Beni. Menjalani hubungan tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar, dengan selalu berbagi bersama dan menjalani hari-hari bersama. Namun itu semua lenyap ketika pengkhianatan dimulai dari Beni yang selingkuh dengan wanita yang jauh lebih segala-galanya dari dirinya. Sejak saat itu ia takut untuk merasa jatuh cinta lagi, takut untuk sakit lagi, dan takut untuk terbuang lagi. Ia sudah merasa nyaman dengan kehidupannya yang sekarang tanpa merasa sakit hati lagi, dengan teman-teman yang selalu ada untuknya. Hidupnya benar-benar beda dari sebelumnya.
Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju halte, dan ia mendengar suara langkah kaki yang tepat berada di sampingnya, “memang dasar” gumamnya dalam hati. “Sudahlah Ben…” teriak Yuri yang menghentikan langkahnya dan menatap ke arah lelaki di sampingnya. Yuri sangat terkejut, dan langsung menutup mulut menggunakan kedua tangannya. “Kamu kenapa?” tanya lelaki di sampingnya dengan muka heran, yaahh dia Fandy. Yuri hanya menggeleng, ia berpikiran bahwa Fandy pasti melihat dan mendengar obrolannya dengan Beni tadi. Yuri pun melanjutkan langkahnya, sedangkan Fandy berjalan mendahuluinya. “Dasar wanita aneh. Kasihan juga melihat wanita yang terus-terusan dibayangi dengan sang mantan.” ucap Fandy yang tiba-tiba membuat Yuri berhenti melangkah.
“Kenapa berhenti?” tanya Fandy yang berbalik ke belakang. Yuri terdiam menunduk. “Kamu enggak tau apa-apa. Yang aku rasa, yang aku alami, itu cuma diri aku sendiri yang tau gimana rasanya, enggak ada hak kamu untuk ikut campur.” jelas Yuri sembari menangis. Dengan air mata yang sudah tak tertahankan ia tetap tertunduk. “Aku memang enggak ada hak, tapi sampai kapan kamu bertingkah seperti ini, berpura-pura tegar tapi hati kamu sakit.” ucap Fandy mendekat. “Kamu tau apa tentang aku, lebih baik kamu pergi kalau hanya ingin membahas hal ini. Pergi!!!” teriak Yuri. “Aku memang enggak tau apa-apa tentang kamu, tapi mata kamu buat aku tau segalanya apa yang kamu rasa!!!” teriak Fandy yang memegang kedua lengan Yuri dan semakin mendekat dengan menatap matanya yang basah Yuri spontan langsung memeluk Fandy. Entah apa yang ia rasa, yang jelas ia membutuhkan sebuah pelukan. Fandy mencoba menenangkannya. Tanpa berpikir panjang Fandy langsung menarik tangan Yuri dan berlari ke suatu tempat. Setelah sampai, Yuri menghapus air matanya untuk melihat keindahan danau di depan matanya. Mereka pun duduk di tepi danau. Yuri kembali tertunduk dan menitikkan air matanya lagi. Fandi langsung menyandarkan kepala Yuri ke pundaknya.
“Aku lelah Fan, bawa aku lari dari masalah ini. Aku enggak sanggup.” ucap Yuri terisak. “Masalah itu bukan untuk dihindari tetapi dihadapi. Semua orang pasti punya masalah, tergantung orangnya bagaimana cara dia menghadapinya. Aku tau kamu wanita tegar, aku tau kamu bisa cepat menyelesaikan masalah kamu.” jelas Fandy dengan mengusap rambut Yuri. Yuri langsung berdiri, dan segera menghapus air matanya. “Aku bisa kok, aku akan menghadapi masalahku, aku pasti bisa. Makasih ya, saran dari kamu itu sangat membantu.” ucap Yuri yang tersenyum kepada Fandy. Fandy membalas senyum manis itu, ia pun berdiri dan merusak poni Yuri. Yuri membenarkan poninya dengan sedikit kesal. Merekapun menikmati keindahan danau itu hingga tak terasa sudah jam tiga sore. Mereka langsung ke halte dan pulang.
Cerpen karangan: Tyas Septiani Facebook: Tyas Septiani Nama Lengkap: Tyas Septiani Nama Pena: Jum TTL: Indramayu, 24 September 1997 Alamat: Jl. Pulosari Blok P no.3 rt 07 rw 07, kec. Blimbing, kel. Purwodadi, Malang, Jawa Timur. Status: Mahasiswi di Akademi Pariwisata dan Perhotelan Ganesha Malang Email: tyasseptiani12[-at-]gmail.com Instagram: @_yasspt