Keesokkannya, Fandy menunggu Yuri di halte biasa. Tak lama Yuri datang. Ia tersenyum dari kejauhan. Tak lama Bus pun datang, merekapun naik. Semenjak itu Fandi dan Yuri sangat akrab, mereka saling berbagi cerita, teman-teman Yuri sangat mendukung jika mereka berpacaran. Namun mereka menjalaninya biasa-biasa saja. Hingga tak terasa hubungan mereka terus berjalan lancar hingga ujian pun telah usai. Semua siswa menuju papan pengumuman, mereka akan melihat hasil belajar mereka selama tiga tahun dan bergantung serta sangat berharap pada kata-kata “LULUS”. Yuri berteriak keras karena namanya terpampang dengan kata-kata lulus. Begitu juga Fandy, Yuri spontan memeluk Fandy karena bahagianya. Yuri terbelalak dan langsung melepaskan pelukannya, suasana pun mendadak hening antara mereka berdua. Sedangkan murid-murid yang lain pun sangat bahagia dan saling berpelukan. Ketika ingin pulang Yuri mencari Fandy untuk ke terminal bersama. Namun ia tak menemukan Fandy. Tetapi ketika ia mencari ke belakang kelas ia melihat Fandy berada dipelukan seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai. Dan sempat terdengar suara isak tangis. Wanita yang berada di pelukan Fandy ternyata Bella. Yuri bergegas pergi dari pandangan yang membuat batinnya terisak. Tanpa sadar selama ia menuju halte seorang diri, air matanya terus menetes. Entah apa yang ia rasakan, “apa ini?” gumamnya dalam hati dengan terus menghapus air matanya.
Bus datang dan Yuri segera naik. Dan tiba-tiba Fandy datang dan langsung duduk di samping Yuri. Spontan Yuri memalingkan wajahnya karena matanya jelas saja sembab. Mereka terdiam beberapa saat. Yuri menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, ia berusaha menenangkan hatinya. “Lusa nanti kamu datang ke acara perpisahan di rumah Nirta?” tanya Yuri yang memulai obrolan di tengah keheningan. “Sepertinya. Semoga tidak ada halangan,” jawab Fandy. Yuri mengangguk-angguk kecil. Tak sengaja ia melihat gulungan kertas di tangan Fandy. “Apaan nih?” ucap Yuri yang langsung mengambil gulungan kertas tersebut. Fandy terkejut, mencoba mengambil kertas namun ditahan oleh Yuri. Yuri terdiam melihat isi kertas tersebut. “Kamu mau ke Jakarta?” tanya Yuri. “Iya, aku mendapat beasiswa untuk kuliah disana. Kamu kemana?” “Aku kuliah disini saja. Kapan berangkat?” “Tiga hari lagi.” “Tiga hari lagi???” tanya Yuri tak percaya. “Iya.” “Berapa lama kamu disana?” “Pastinya selama aku kuliah disana, kemungkinan tiga sampai empat tahun.” jelas Fandy. Yuri terdiam, entah mengapa perasaannya risau ketika tau kalau Fandy akan jauh darinya. Hatinya mengatakan kuat bahwa kini ia mencintai sosok yang ada di sampingnya kini, yang selalu menjadi penyemangat di kala ia benar-benar jatuh terpuruk. Namun ia harus menjadi tegar dengan masalah yang kini ia alami.
“Oh iya, besok kamu ada acara? Bisa keluar sama aku?” tanya Fandy di tenga keheningan. “Tidak ada. Boleh,” jawab Yuri. “Oke, besok kujemput jam 3 sore ya.” Yuri mengangguk.
Besoknya tepat pukul 3 Fandy sudah siap di depan rumah Yuri dengan motor ninja merahnya. Kebetulan orangtua Yuri sedang keluar kota. Mereka pun pergi ke taman yang tak jauh dari rumah Yuri. Sesampainya di taman, mereka berjalan menyusuri taman. Sesekali Fandy terus saja menjadi sorotan pengunjung taman, terutama wanita yang sangat menyadari ketampanannya, ditambah dengan kaos birunya yang membuat kulitnya terlihat makin putih, juga jeans putihnya. Sedangkan Yuri terlihat tak kalah imutnya dengan kaos merah muda berlapis jaket putih kesayangannya, dengan poni yang ia kesampingkan. Melihat hal itu spontan Fandy berhenti tepat di hadapan Yuri sembari menatapnya. “Sepertinya ada yang beda.” Ucap Fandy dengan merengutkan dahinya. “Apaan?” tanya Yuri bingung. Seketika Fandy membenarkan poni Yuri, ia ketengahkan dan merapikannya. “Rapi seperti ini. Ini baru Yuriku.” Ucap Fandy sembari tersenyum dan melanjutkan jalannya. Mendadak hal itu kembali membuat Yuri berdebar.
Fandy terus berjalan ke arah penjual es krim, dan mereka memakannya sembari duduk tepat di depan bunga-bunga yang tengah bermekaran. Mereka sangat menikmatinya. Hingga tak terasa sudah pukul 8 malam saja. mereka pun segera menuju terminal. Tak lama menunggu bus pun datang. “Em, kamu duluan aja Fan, aku lupa ada barang yang harus kuambil di rumah Nirta.” Ucap Yuri tiba-tiba. “Hah? Ini sudah malam. Besok kan kita kesana.” Ucap Fandy kaget. “Em, barangnya harus kuambil sekarang Fan, kamu duluan saja tidak apa-apa.” “Kamu yakin?” tanya Fandy yang tepat berada di depan pintu bus. Yuri mengangguk. Fandy pun naik dan masuk ke dalam bus tersebut. Yuri langsung memaling badannya dan berjalan ke arah rumah Nirta. Padahal tidak ada barang apapun yang ia ambil di rumah Nirta, ia hanya tak sanggup terus-terusan memendam perasaannya, lebih baik ia menjauh, pikirnya. Ia terus menangis menyusuri jalan tersebut.
“Yuri.” tiba-tiba seseorang menahan tangan kirinya. Yuri terkejut dan berbalik. Ia kaget ternyata Fandy. Ia langsung menghapus air matanya. “Kamu jalannya cepet banget. Aku ikut ke rumah Nirta.” Ucap Fandy terengah-engah. Yuri terdiam sembari menatap Fandy. Ia sangat tak menyangka dengan apa yang terjadi sekarang. “Hei, malah ngelamun.” sergah Fandy “Emmm, sebenarnya aku tidak jadi ke rumah Nirta, aku lupa barangnya sudah kuambil kemarin.” Ucap Yuri yang kembali ke halte. “Hah? Apa? Arrgghhh dasar wanita aneh.” teriak Fandi yang masih terengah-engah. Merekan pun kembali menunggu bus. Setelah datang, mereka pun naik. Keadaan tetap saja hening.
Sesampainya. “Maaf ya Fan.” ucap Yuri. “Iyaa, masuk gih. Sampai ketemu besok,” jawab Fandy dengan sedikit kesal. Yuripun masuk. Sedangkan Fandy melanjutkan perjalanan pulang.
Yuri masih risau dengan apa yang ia rasa. Ia duduk menghadap meja yang terlihat susu hangat di hadapannya. Ia terus menatap susu itu hingga ia benar-benar sadar apa yang ia rasa. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak tau mengapa air matanya kembali menetes. Ia harus mengakui bahwa perasaannya sangat kuat pada Fandy.
Keesokan malam pun tiba. Yuri hadir dalam acara perpisahan di rumah Nirta, begitu juga Fandy dan teman laki-lakinya. Semua saling meceritakan Universitas mana yang akan mereka tuju. Terlihat kebahagiaan sekaligus kesedihan dalam acara tersebut, terkecuali Yuri. Ia terdiam dengan memegang minuman di tanganya. Ia melihat Fandy yang sedang tertawa bersama teman-temannya, seolah-olah tak mengerti dengan apa yang ia rasakan.
Tak terasa sudah pukul 10 malam, acara pun berakhir, mereka pulang, termasuk Yuri. Yuri terus jalan menuju terminal. Ternyata di depannya adalah Fandy. Sesosok lelaki yang berjalan dan tak lupa dengan pengeras suara yang selalu setia menempel di telinganya. “Fan.” panggil Yuri. Fandy berhenti dan berbalik. Ia melepaskan salah satu pengeras musik dari telinganya. “Aku mau ngomong sesuatu.” ucap Yuri.
Suasana hening malam itu. Hanya terdengar suara hewan malam yang ikut menikmati keadaan malam itu. Yuri bimbang dengan hatinya, apakah ia harus mengatakannya atau tidak. Tentang perasaannya. Tapi, “ini belum tepat” ucapnya dalam hati. Ia menarik nafas. “Jaga dirimu baik-baik disana.” ucapnya yang langsung menghembuskan nafasnya. Lagi-lagi tertunduk setelah ucapan itu. Fandy tersenyum. Ia mendekat dengan Yuri dan mengacak-acak poninya. “Aku tau, aku bukan anak kecil lagi.” ucap Fandy sembari mengusap rambut Yuri. Namun Yuri menangis dan langsung berlari menjauh dari Fandy. “Yuriii” teriak Fandy heran. Yuri benar-benar merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Kenapa ia tak sanggup untuk mengungkapkan yang sejujurnya. Ia sangat tak pantas bila di bandingkan dengan Bella. Dirinya bukanlah apa-apa. Dirinya hanya anak orang biasa, sedangkan Bella anak kepala sekolah di SMA nya. Ia merasa benar-benar benci dengan dirinya. Ia terus berlari sembari menangis malam itu.
Seminggu dari malam itu membuat Yuri selalu terdiam. Ia tak mengantar keberangkatan Fandy karena ia benar-benar tak sanggup. Ia mulai menata kehidupannya, karena ia kini bukan lagi siswa SMA melainkan calon seorang mahasiswi. Hari ini adalah hari dimana ia harus mendaftar ke salah satu universitas di kotanya. Pagi itu ia bangun kesiangan. Dengan hujan yang lumayan deras, ia pun menuju halte, dan bus baru saja berangkat. Terpaksa dengan wajah kesal ia harus menunggu bus selanjutnya yang sepertinya lumayan lama. Ia duduk di kursi halte dengan menutup kepalanya dengan topi jaket.
Tiba-tiba sepasang kaki dengan sepatu hitam terenti di hadapannya. “Deras juga hujannya”. ucap seseorang yang sepertinya tak asing lagi. Yuri terdiam, “suara itu” gumamnya dengan mata yang terbuka lebar. Ia langsung mengarah ke asal suara. Yuri langsung menitikkan air mata, seakan tak percaya apa yang ia lihat. Ia langsung berdiri dan memeluk sesosok lelaki di hadapannya. Ternyata Fandy. Tangisya membasahi pundak Fandy. “Kamu kok bisa disini?” tanya Yuri yang sejenak melepas pelukannya. “Aku ngerasa aku meninggalkan sesuatu disini.” “Meninggalkan sesuatu?” “Iya, aku meninggalkan hatiku. Aku enggak mungkin bisa pergi sedangkan hatiku jauh dari tubuhku. Aku tidak tega jika mengingat tangisnya di malam itu. Dan aku tau sebenarnya bukan kata-kata itu yang ingin kamu ucapkan di malam perpisahan itu. Kamu sudah benar-benar menunjukkan sikap tegar kamu dalam menghadapi masalah.” jelas Fandy sembari menghapus air mata Yuri. “Tapi, bukannya kamu dengan Bella…” tanya Yuri terputus.
Fandy tersenyum. Ia memegang kedua pundak Yuri. “Kejadian di belakang kelas itu adalah perpisahan kami. Ia mengajak untuk seperti dulu, namun hatiku menolak untuk mengatakan iya. Aku benar-benar lupa dengan cinta yang pernah ada untuknya.” jelas Fandy. Yuri mengangguk pelan. “Aku tau kamu ada pada saat itu. Makanya aku segera lari ke terminal, jelas saja matamu sembab. Ternyata wanita aneh bisa juga menangis.” ucap Fandy meledek. Yuri tersenyum malu. Fandy pun langsung memegang kedua tangan Yuri. “Kali ini, izinkan aku yang ingin mengungkapkan sesuatu… aku menyayangimu Yuri, dengan segenap kemampuanku aku akan membahagiakanmu.” ucap Fandy memohon. Yuri mengangguk dengan air mata yang tak tertahan. Fandy langsung memeluknya dengan bahagia. Namun Yuri mengingat sesuatu dan melepas pelukannya. Fandy bingung. “Terus, kuliah kamu bagaimana?” tanya Yuri cemas. Fandy tersenyum dan langsung mengangkat selembar kertas yang bertuliskan formulir pendaftaran dari universitas yang sama dengan Yuri. Yuri langsung tersenyum. Tak terasa bus pun datang mereka pun naik menuju universitas yang sama. Apa yang Yuri rasa kini benar-benar berubah, perasaannya sungguh bahagia. Ia berterima kasih pada Tuhan, dan berjanji pada Tuhan bahwa ia akan menjaga kebahagiaan yang ada padanya sekarang yang ia yakini itu akan menjadi kebahagiaan untuknya, selamanya.
Cerpen karangan: Tyas Septiani Facebook: Tyas Septiani Nama Lengkap: Tyas Septiani Nama Pena: Jum TTL: Indramayu, 24 September 1997 Alamat: Jl. Pulosari Blok P no.3 rt 07 rw 07, kec. Blimbing, kel. Purwodadi, Malang, Jawa Timur. Status: Mahasiswi di Akademi Pariwisata dan Perhotelan Ganesha Malang Email: tyasseptiani12[-at-]gmail.com Instagram: @_yasspt