Namaku clarain dan biasa aku dipanggil rain, aku adalah seorang gadis SMA yang dimasukan asrama oleh ibuku meskipun telah dilarang keras oleh ayahku untuk tidak masuk ke asrama, perjuanganku untuk bisa meloloskan diri dari asrama terbilang sangat susah dan aku harus melalukan itu karena aku merasa tertekan di sini.
Di bawah pohon beringin yang besar aku dan ketiga temanku yang bernama stevi anggi dan diah sedang duduk di bawahnya kami sedang membahas tahun baru untuk nanti malam “aku bosan berlama lama di sini” stevi memulai pembicaraan, “iya nih sama padahal nanti malem kan tahun baru” timpalku dngan nada jengkel “ada rencana kabur gak?” tanya anggi “gimana ya caranya kabur dari sini?” tanya diah kemudian “bagaimana kalo kita lewat gerbang itu itu kan gerbang gak pernah dikunci!” seru anggi dengan bersemangat “terus kita keluarnya gimana kan banyak orang kalau kita ketahuan bisa kena marah kita sama pengurus asrama!” jawab diah dengan santai “aduh diahhh kita kaburnya waktu mereka semua solat jama’ah magrib kan asrama sepi tuh!” jawab anggi dengan enteng “oke deh kita sepakat ya” rain meyakinkan.
Pada pukul 16:10 PM kami berempat berkumpul di toilet asrama untuk menyusun rencana “nanti rain sama diah kabur dulu ya, entar anggi sama stevi nyusul di belakang!” kata anggi mengatur.
Akhirnya aku dan diah memutuskan lihat sekitar asrama untuk memastikan aman atau tidak, “rain sudah sepi yukk” aku menganggukkan kepalaku dan akhirnya aku dan diah berhasil lolos dari asrama, aku dah diah berlari dengan sangat cepat, “udah berhenti di… anggi sama stevi di belakang tuh” kataku sambil mengatur nafas, akhirnya aku dan diah berhenti sejenak, kulihat di belakang anggi dan stevi ada lima pemuda laki laki yang sedang mengejarnya “ohh tidak itu kakak asrama laki laki sedang mengejar stevi dan anggi bagaimana ini rain?” tanya diah dengan nada bingung, kemudian kutarik tangan diah menyuruhnya untuk mengikutiku “ihh rain kok sembunyi di bawah kandang kambing sih jorok banget” ketus diah sambil menutup hidungnya “ihh diem napa dari pada kita kena” jawabku.
Pada saat kakak asrama laki laki kehilangan jejak mereka berpencar untuk mencari kami, kulihat keaadaan sudah cukup aman untuk keluar, aku dan diah langsung keluar dari tempat persembunyian “sudah aman ya rain?” tanya diah sambil membersihkan tubuhnya dari daun daun “iya sudah” jawabku santai “lain kali kalo ngajak sembunyi jangan di bawah kandang kambing lagi dong bau tau” ketus diah “hahhaha sorry di terpaksa” jawabku sambil tertawa.
Tiba tiba ada suara “sreekkk sreekkk” dari semak semak “waduh rain kakak asrama balik lagi tuh” seru diah dengan ekspresi panik “rain diah” teriak seseorang dari balik semak “ehh itu kan suara anggi” tanyaku pada diah, tak lama kemudian muncul dua gadis anggi dan stevi “ehhh kok kamu gak ketangkep mereka” tanyaku dengan bingung “kita dilawan ya gak bisa laah” jawab anggi dengan santai “ehh gimana ceritanya kok bisa ketahuan” tanyaku penasaran “itu gara gara sih idiot mila” “lah tau dari mana kalo mila yang bilang coba?” tanyaku semakin penasaran “kan si idiot mila lagi halangan dia gak solat dan pas aku sama stevi kabur ehh sih mila malah teriak teriak ada orang kabur” jelas anggi panjang lebar “waah si mila tuh harus dikasih pelajaran emang” sahut diah, “oke yuk kita udah kumpul ayo berangkat!” ajak anggi.
“tiiit tiiit tiiiiit” ponselku berbunyi kubuka ternyata pesan dari kakak kelas namanya liam “ehh dek kamu di mana satu asrama pada cariin tuh” isi pesan “ehh kak ini lagi sama anggi stevi dan diah lagi party new years” balasku “balik dong jangan buat khawatir semua orang” “No… aku benci di sana kak” “ok sekarang kamu di mana aku jemput” “udah dong kak jagan sok peduli aku kan bukan siapa siapanya kakak!” jawabku sadis, ketika ku mengira tak ada pesan lagi kumasukan ponselku dalam saku.
15 menit kemudian seseorang pria tampan berambut hitam bermata choklat dan berkulit putih menggandeng tanganku dan menarikku untuk keluar dari gerombolan orang orang yang menari nari “kak liam!” seruku terkejut “ayo dek kembali” liam memohon “aku gak suka di sana kak lepasin aku lepasin tanganku” tak kusangka liam langsung memelukku dengan erat sambil berkata “aku tak mau terjadi apa apa denganmu gadis kecilku karena ku sangat menyayangimu” liam mulai melepaskan pelukannya “kakak” seruku sambil terpaku “rain aku ke sini karena kamu bilang aku bukan siapa siapa kamu dan aku mau menunjukan keseriusanku ke kamu bahwa perasaanku selama ini ke kamu serius bukan main main” jelas liam “tapi kakak kan pacarnya kak selvi?” tanyaku dengan wajah tertunduk “selvi bukan pacarku hanya saja dia menyukaiku tapi aku tak menyukainya karena rasa suka dan cintaku sudah kau ambil semua rain”
Tiba tiba liam memegang kedua tanganku dan berkata “rain aku gak peduli senakal apapun kau ku tak peduli apa pun kata semua orang tapi yang pasti jam dua belas malam tepat ini dan tepat pada tahun baru ini aku mau menyatakan cintaku ke kamu aku harap kamu mau jadi pacarku” “maaf kak bukannya aku gak mau… kakak anaknya pak kyai dan aku santri paling bandel di asrama kakak pasti tau itu” “kamu gak nakal atau apa pun rain kamu hanya ikut ikut temanmu dan aku pikir itu hal wajar karena aku pun juga sama, aku mohon rain terima ya cintaku” aku mengangguk anggukkan kepalaku tanda mau, “yes akhirnya kamu jadi pacarku rain aku seneng banget makasih ya… em iya di mana ketiga temanmu itu ayo kita kembali kamu harus minta maaf ke pak kyai dan yang lainnya untuk tidak mengulangi lagi perbutanmu ini” kata liam sambil mencubit pipiku, akhirnya aku mengajak ketiga temanku untuk kembali ke asrama.
Sesampai ku di asrama aku, ketiga temanku dan juga ditemani kekasih baruku liam pergi ke rumah pak kyai untuk minta maaf, liam mengetok pintu rumah pak kyai “tookk tookk” pintu pun terbuka “abi ini mereka sudah kembali mereka mau minta maaf bi jangan dimarahin ya mereka khilaf bi” jelas liam “iya tenang saja abi tidak akan marah cuma segala kesalahan selalu ada konsekuensinya bukan… dan mereka telah membuat kesalahan berarti mereka harus dihukum” kami berempat syok saat mendengar kata “DIHUKUM”, “memang hukuman apa yang harus kami terima pak kyai?” tanya stevi gugup “kalian harus bersikan asrama ini selama satu bulan” jelas pak kyai, ketika aku mau mengusulkan pendapat aku dicegah oleh liam “oke abi kalau begitu kami pergi dulu saya juga mau ke mushala al-quran saya tertinggal di sana” “baiklah silahkan” seru pak kyai, akhirnya kami semua keluar dari rumah pak kyai “jangan khawatir ya rain aku bantu kok bersihin asrama ini” liam menenangkanku dan sebelum pergi ke mushola liam berbisik kepadaku “jaga diri ya sayang aku sangat mencintaimu” aku membalas senyuman tulusku untuknya.
THE END
Cerpen Karangan: Cece Geraldine Blog / Facebook: Cece Geraldine Cece Geraldine Surabaya 18 Y.O