Mendung. Kelabu. Langit menangis rintik-rintik. Jujur, aku membencinya.
Suasana itu tak bersalah. Aku tak menyalahkannya tapi aku membenci mereka datang kepadaku. Yang sejujurnya kusalahkan, adalah di mana kenangan itu muncul, membawaku kembali ke masa lalu. Mengingatkanku tentang kamu. Salah. Benar salah jadinya, aku bisa bertemu denganmu dan mengenalmu. Perihal ingatan itulah yang membuatnya jadi bersalah.
Dulu. Dulu sekali saat aku masih bisa mengenalmu dengan baik. Kamu berkata padaku pelan. “Yang bener itu, putus cinta enggak menyakitkan. Yang nyakitin, udah putus tapi masih cinta,” sekiranya dari ucapanmu. Kamu pasti tau aku masih sayang padamu. Meski hubungan kita sudah hilang sejak tiga bulan yang lalu.
“Lai!” Afif berseru padaku pelan. Saat aku tadinya masih terusik dengan hujan yang semakin deras di luar bangunan sekolah. Belum jam pulang sekolah, murid masih tenang berada di dalam kelas mendengarkan guru berceramah.. “Hngg?” aku bertanya gerangan. Tapi Afif selalu tau bagaimana keadaanku. Ia tersenyum sambil menggenggam tanganku erat. “Gosah sedih. Jangan peduliin hujannya,” bisiknya pelan. Aku mengangguk. Seperti anak kecil polos.
Afif. Ia sahabatku. Gadis yang sebaya denganku itu, punya kisah cinta lebih sadis dariku. Tipe ceria sepertinya ternyata banyak memendam luka. Ia sudah terbiasa ditinggalkan orang tercinta. Mulai dari ibunya, adiknya, hingga kekasihnya. Tapi begitu kuatnya ia. Senyum dan tawanya selalu terbagi meriah. Katanya. “Papa ga pingin aku jadi anak yang suka murung. Aku sayang papa. Jadi aku bakal jadi anak yang ceria demi dia,”
Tapi aku bukan gadis yang setegar Afif. Riko, cowok itu adalah pertama dan terakhir untuk sekarang, seseorang yang meninggalkanku dalam keadaan aku masih mencintainya. Dan bagiku, lebih dari sekedar rasa sakit. Aku benar-benar putus asa kala itu. Semua terjadi begitu saja.
Hari itu… “Laila!” Riko menyeruku pelan hari itu. Tiba-tiba saja, selepas bel pulang berbunyi. Ia datang dari kelas sebelah sambil menarik tanganku. Untung barang-barangku selesai terkemas ke dalam tas. Lantas, aku akhirnya terpaksa mengikutinya. Hari itu. Riko menarik tanganku sedikit kencang. Membuatku menahan rasa sakit. Gak ada masalah di antara kita. Semuanya baik-baik saja sampai saat itu.
Hawa dingin memang sudah terasa dari cuacanya. Sedang musim penghujan. Sekolah juga sedang diguyur hujan lebat. Tapi Riko sepertinya gak mau peduli dengan hujannya. Ia menarik tanganku hingga keluar dari area beratap. Lantas seluruh tubuhku terguyur hujan, bersamaan tas dan seisinya.
“Ko, apa-apaan sih,” aku mulai merasa kesal. Tanganku kutarik cepat-cepat. Riko berhenti kemudian berbalik dan menatapku. Posisi kami sudah berada di luar area sekolah. “Kita putus,” ujarnya tak berdosa. Aku terkejut. Enggan percaya tapi rasa yang orang bilang sakit banget itu mendadak muncul. “Ha? Kamu bercanda?” tanyaku berharap jawabannya iya. Tapi percuma juga. Riko meninggalkanku di sana. Di bawah air hujan yang rasanya makin lebat. Pria itu dengan seenaknya pergi tanpa mengucap perpisahan atau menjawab pertanyaanku. Ia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
Aku tak bergerak. Hanya diam menatapnya dari kejauhan. Enggan untuk berteriak memanggil namanya, meski seharusnya itu yang kulakukan.
Hari itu bener-bener gak masuk akal. Selepas mengeringkan badan di rumah. Aku berharap bisa komunikasi lewat sosmed atau telepon. Tapi null. Riko benar-benar serius dengan ucapannya. Semua sosial medianya terhapuskan, nomornya tidak aktif. Aku benar-benar kehilangannya saat itu dan seterusnya hingga sekarang.
Di sekolah. Ternyata Riko sudah pindah. Entah pindah kemana tapi ia sudah mengurusnya kemarin-kemarin. Aku sama sekali tak mengetahui apapun tentangnya. Ia tak pernah bercerita. Hubungan kami seolah baik-baik saja kala itu.
Kadang. Penyesalan itu muncul. Andai saja aku tak menarik tanganku darinya. Aku akan dibawa kemana oleh Riko? Apa dia marah padaku karena aku sedikit membentaknya saat itu? Dimana dia sekarang. Kenapa cowok yang sudah berhasil kupercaya menghilang seperti mayit tanpa jasadnya. Lost contact.
Sejak saat itu. Hujan selalu mengingatkanku. Aku selalu membencinya. Aku selalu mengingat Riko. Tentang Riko. Tentang kamu. Bagaimana hidupmu yang sekarang. Aku benar-benar masih mengharapkan kamu punya rasa yang sama, penyesalan yang sama, dan ingin menemuiku sejenak. Setidaknya untuk mengucap perpisahan.
Kata putus-mu yang mendadak itu. Tak akan pernah kusetujui begitu saja. Gak adil. Kamu ingin putus sementara aku enggak. Kamu yang memulai aku jatuh cinta padamu. Kamu mengajariku untuk percaya padamu. Dan akhirnya pelajaran terakhir yang kamu berikan, pergi tanpa pamit dan sekenanya.
Benarkah dirimu seperti itu. Tentang kamu. Aku berharap kamu membaca ini. Lantas. Ungkapkan penjelasan yang ku mau. Karena segalanya tentangmu. Termasuk bagaimana kamu meninggalkanku. Aku masih tetap mencintaimu.
Cerpen Karangan: Sylvia. hn Blog / Facebook: Sylvia Follow igku ya: sylvia.hn Aku juga bikin novel di wattpad cari aja dg judul “Thirteen[Long Distance Religion]” baca, follow, dan vote sekalian yak 🙂