Aku ingin jadi indramu yang selalu membuatmu merasakan kebahagiaan, bahagiamu adalah bahagiaku. Senyummu yang selalu terpancar dari wajahmu bagaikan pelangi yang memancarkan keindahan warna warni hidup ini.
Pekenalkan aku yuda, yuda alhadi. Aku seorang mahasiswa S1 Akuntansi yang kini duduk di semester 3. Mawar, ya mawar. Nama itu yang selalu menghiasi keseharianku. Mawar adalah kekasih yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Mawar sosok wanita yang pintar, selalu haus dengan prestasi-prestasi yang baru. Ia memiliki cita-cita yang tinggi. Sedangkan aku mahasiswa biasa-biasa saja tak ada yang mencolok dariku.
Suatu sore aku duduk di taman di kampusku untuk belajar bersama mawar, “sayang, ada lomba duta HIV nih, ikut yukk!” ucapnya. “kamu aja yang ikut ya sayang, aku gak ada bakat di sana” balasku. Lalu ia diam dan wajahnya seakan mengisyaratkan kekecewaan terhadapku. “kamu kok gitu sih, aku tuh mau kamu tuh aktif berprestasi juga” jawabnya ketus. “sayang, aku tuh bukan gak mau ikut, aku liat kamu bahagia dengan kamu jadi diri kamu sendiri, berprestasi itu udah cukup buat aku”. Lalu mawar terdiam dan mulai mengerti, setelah selesai belajar bersama lalu kami beranjak pulang.
Keesokan harinya mawar mengajakku untuk mendaftarkan diri di ajang duta HIV yang kemaren ia bicarakan. Setelah itu kamipun pulang dan mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk ajang tersebut.
Tepat tanggal 2 Desember ternyata mawar lulus untuk karantina, dia sangat bahagia dan memelukku. Sekali lagi aku melihat kebahagiaan yang mewarnai duniaku yang terpancar di wajahnya yang lembut itu. Hatiku merasa sangat bahagia saat melihat kebahagiaan itu.
Akhirnya mawar dikarantina beberapa hari untuk persiapan ajang duta HIV tersebut, satu minggu kami terputus komunikasi karena saat karantina gak ada yang diperkenankan untuk melakukan aktifitas lain selain fokus persiapan. Bagiku satu minggu tak berkomunikasi dengan mawar rasanya sangat membosankan, aku bolak balik membuka chatan kami terakhir berharap ia menghubungiku. Rindu mendengar suaranya yang biasanya bawel mengingtkanku untuk sholat, belajar dan makan.
Hari yang ditunggu-tunggu dimana malam puncak ajang duta HIV, di malam itu mawar menghubungiku. “sayang, datang ya nanti malam”. Ucapnya. “iya sayang aku pasti datang kok” jawabku.
Malam itu aku datang dan melihat kekasih yang aku sayangi begitu cantik dan menawan saat berada di panggung. Aku bangga padanya saat namanya dipanggil menjadi pemeneng. Sekali lagi kebahagiaan di wajahnya membuatku bahagia seakan aku dan dia adalah satu.
Hari-hari selanjutnya kami habiskan seperti biasanya mawar selalu ada di hidupku dan akupun selalu hadir untuk mendengarkan keluh dan kesah di saat dia bahagia dan sedih, aku selalu menjadi sandaran untuknya.
Sore hari tepatnya pukul 17.00 kami duduk di taman biasa. Tiba-tiba mawar memelukku dan aku pun merasa aneh karena dia gak biasa begini. “sayang aku mau ngomong sesuatu ke kamu” ucapnya. “mau ngomong apa sih?” balasku. “aku lulus beasiswa ke australia sayang, maaf aku gak pernah cerita ke kamu kalo aku daftar beasiswa itu. Aku takut kamu gak setuju karena nantinya kalo aku lulus aku bakal ninggalin kamu di sini. Sekarang aku lulus dan aku harus ngomong ini ke kamu, kalo kamu gak setuju aku batalin beasiswanya.” Ucapnya sambil memelukku. Aku sempat terkejut mendengar mawar lulus beasiswa ke luar negri, hatiku senang bercampur sedih karena mawar akan pergi. Tapi inilah yang diinginkannya sejak lama kuliah di luar negeri. Inilah kebahagiaannya, aku harus selalu mendukungnya.
Lalu kuusap rambutnya “sayang, aku mau kamu bahagia aku di sini selalu dukung kamu kok aku liat kamu bahagia dan tersenyum itulah kebahagian terbesar bagiku. Kejarlah impianmu sayang karena impianmu juga impianku. Aku seneng kalo kamu ambil beasiswa itu” ucapku sambil tersenyum melihat wajahnya. “sayang, aku bahagia bisa jadi pacar kamu. Kamu gak pernah ngeluh ngadepin aku, kamu selalu ngedukung semua mimpiku. Aku sayang banget sama kamu” ucapnya dan memelukku semakin erat seakan tak ingin dilepaskan. Dan hari mulai gelap dan sang surya mulai tertidur untuk bersiap menyinari hari esok. Kami pun bergegas pulang.
Semingu setelah itu, inilah hari dimana mawar harus berangkat menempuh pendidikan di australia. inilah saat dimana kami akan berpisah untuk waktu yang cukup lama. Aku merasa seakan kehilangan warna di hari-hariku. Aku pun mengantarnya ke bandara, beberapa waktu sebelum berpisah ia memelukku erat seakan menghilangkan rindu yang akan melanda selama perpisahan kami. Senyum bahagia sekaligus sedih terpancar diwajahnya, aku merasa bahagia bisa melihat senyum itu.
Kebahagiaan sejati itu aku dapatkan dari sosok mawar, cinta dan sayang yang amat dalam membuatku dapat memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya di hidupku. Aku selalu bersyukur kepada Tuhan karna aku diberikan sosok wanita yang begitu luar biasa yang bisa membuat hari-hariku berwarna.
Cerpen Karangan: Ponda Pranata Blog / Facebook: ponda pranata