Perempuan bermata sendu itu menjadi candu bagiku. Saban hari bayang tatapan sendu matanya tak mampu aku sapu dari pikiranku, aku lemah terpesona dengan tatapannya. Apakah ini sebuah pembuktian pernyataan bahwa cinta itu bermula dari mata lalu turun ke hati, ah sudahlah, bagiku yang telah lama menyendiri tanpa seorang kekasih kurang percaya dengan pernyataan seperti itu. Aku mendengar perkataan ini dari Joni sahabatku, di pos ronda waktu kami piket malam kemarin.
Aku tak piawai melukiskan keindahan wanita. ketidak-mampuan ini ditambah lagi dengan sudah sekian lama perempuan tak singgah di hati ini. Terlalu naïf jika aku dibilang lelaki yang tidak laku. Aku memilih menyendiri karena suatu alasan. tiga perempuan pernah aku tolak, bahkan satu diantaranya sempat menyatakan ingin bunuh diri ketika aku menolak cintanya. Maka aku mencoba untuk memberi gambaran perempuan bermata sendu ini sedikit saja, agar tak penasaran. Rambutnya panjang sebahu hitam dan bergelombang, wajahnya putih berseri bak purnama lagi penuhnya, tidak terlalu mulus karena masih ada jerawat kecil yang tumbuh di wajahnya, putih berseri, hidungnya mancung, lesung pipinya timbul dan tenggelam tatkala ia mengulum senyum, dan matanya begitu sendu, semakin dalam menatapnya semakin menyadari begitu indah dirinya, selebihnya aku tak mampu lagi melukiskannya.
“Mas”. Aku mendengar suara seorang perempuan di belakangku “Ada yang bisa saya bantu?”. Tawarku Perempuan berbaju merah, menggunakan rok selutut dirinya tidak banyak bicara, walau tak kutemukan air mata namun aku bisa melihat mendung di matanya. Dengan khas senyum di pipinya ia menyembunyikan sesuatu, aku mulai paham.
Dia menarik tanganku dan mengikuti langkah kakinya menuju sebuah kedai kopi. Sore hari kedai kopi ini dipadati pengunjung, kiri kanan pelayan hilir mudik sibuk mengantarkan pesanan ke meja pengunjung, sementara asap kopi terus mengepul di dapur, aroma harumnya kopi menusuk hidung. Sementara perempuan ini masih saja tak mau bicara, aku memesan dua gelas kopi.
Dan tiba-tiba dia memulai pertemuan ini dengan mengajukan pertanyaan aneh “Bagaimana rasanya jika kita ditinggalkan tanpa alasan”. Ujarnya “luka dan perih”. Jawabku “Salahkah jika kita bertahan?”. Tanya dia padaku “Semestinya begitu!”. Jawab ku datar “Terlalu Bodoh”. Timpalnya
Perempuan ini egois gumamku dalam hati, dia yang menarikku ke sini tanpa penjelasan kemudian mengajukan pertanyaan dan menolak jawaban.
Dia mulai menyeruput kopi untuk pertamanya, gelas kopi dipegang cantik oleh lentik jemarinya. bibirnya yang berpoleskan gincu merah menyentuh gelas kopi, dahinya berkerut entah simbol menikmati kopi atau terganggu dengan rasa kopi yang sedikit pahit.
“Pahit sekali hidup ini”. Ia berkata sekaligus gelas kopi diletakkan ke tempat semula. “Dari pahit lantas kita mengenal manis” Balasku mengimbangi ucapanya. “Aku ditinggalkan tanpa alasan, berjanji setia itu semua hanya omong kosong, apa itu namanya laki-laki?” dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Tatapan sayu matanya berubah seketika. Dirinya sedikit tertunduk, sudut matanya mulai basah, aku menawarkan bahu untuk bersandar, ia rebah dalam dekapanku, rambut hitamnya begitu wangi hampir aku terbuai namun di lain sisi gemuruh naik turun napasnya begitu jelas terdengar. Aku hanya bisa menenangkan dirinya seadanya saja.
Lembayung senja begitu indah sore ini, berhiaskan langit yang kian menguning. lampu di kedai kopi ini mulai dinyalakan pertanda malam mulai bertandang, sementara pengunjung satu persatu mulai beranjak. Perempuan bermata sendu ini masih saja rebah di bahuku dengan tangisan yang tak pecah.
Tidak mungkin berlama di sini. Aku bertanya kepadanya apakah mau dipesankan Taksi untuk pulang, dirinya pun hanya mengangguk mengatakan setuju, aku segera memesankan taksi. selang beberapa menit taksi datang, ia berdiri dengan lesu. Kopi dibiarkannya begitu saja tanpa diminumnya lagi, hanya menitipkan sebuah gulungan tisu kecil di kantong kemeja lusuhku, kemudian ia melangkah menuju Taksi tanpa permisi.
Aku menuju meja kasir untuk membayar kopi kami, tiba-tiba seorang pria muda berkacamata tampak mengedarkan pandangan ke segala arah begitu tergesa-gesa hingga menabrakku “Sorry Mas” Ujarnya kepadaku, “Apa kamu melihat perempuan ini di sini?” Ia menyodorkan sebuah foto melalui smartphonenya kepadaku. Tampak jelas ini adalah perempuan yang tadi minum kopi bersamaku. “Maaf ini siapa”. Tanyaku “Pacar saya Mas” Jawabnya tegas “Namanya siapa?.” tanyaku kembali “Krisdiawati… Mas, Ayu Dwi Krisdiawati namanya Mas”. jawabnya.
Aku merogoh kantong kemejaku, ada potongan tisu kecil yang digulungnya tadi kemudian ia selipkan. tertulis nama Krisdiawati beserta nomor Handphonenya. Mungkinkah ia menitipkan ini agar aku bisa menghubunginya kembali dan menyeduh kopi bersama, entahlah sampai sekarang aku saja masih tak tahu di mana rimbanya.
Cerpen Karangan: Apriliansyah Blog / Facebook: Apriliansyah Mahasiswa tingkat akhir, namun tak tahu kapan berakhir, sedang berjuang untuk wisua