Aku harus menulis rangkaian kata apa untuk mengawali tulisan ini? apakah perlu, aku mengawali dengan kata-kata, yang membuat aku sendiri ketawa. karena tak kusangka aku bisa menulis sajak yang lumayan menggelikan bagiku.
– Senja sore ini begitu mempesona, semburat oranye yang menonjol di langit kota membuat suasana hatiku sedikit tenang. tak terasa aku sudah menapaki jalan ini hampir tiga tahun. yap hari ini adalah hari terakhir aku berdiri di sekolah ini memang aku merasa tak rela jika harus meninggalkan sekolah ini tapi itulah kenyataan yang harus kujalani, memulai hidup yang sebenarnya. banyak cerita memang saat kujalani skenario di sekolah ini apalagi jika harus membahas tentang “Dia” yang memberi banyak warna dalam kisah Sekolah Menengah keatasku.
Detik ini aku masih tak habis pikir, kenapa aku masih mengagumi sosoknya padahal ini sudah 2 tahun lamanya. “Ata, ini antarakan pada paman. dia meminta ibu membelikan bubuk kopi tadi” Suara ibu membuayarkan lamunan yang begitu senang menari nari di pikiranku. “iya bu, hmm apa paman terus begitu? kenapa tidak memperhatikan stok persediaan kopinya” jawabku “Sudahlah ikhlas ta” “Iya sudah ata berangkat ya buk” ucapku sembari menaiki sepeda motorku.
“Paman Jo ada?” tanyaku pada kasir “Paman ada keponakanmu” ucap kasir itu pada paman “Kau membawakan bubuk kopinya ta?” tanya paman “Arata Primuda Ningsih?” Ucap paman sangat memekakkan telingaku. “Paman, tidak usah seperti itu. telingaku berdengung sekarang”
“Kamu ini kenapa? diajak bicara malah ngelamun” “Apa pria di kursi pojok itu langgananmu paman?” ucapku sedikit berbisik “Iya dia pengusaha sukses” aku membulatkan mataku, aku tak percaya. baru 2 tahun tak bertemu dia, sudah sangat mapan. hmm banyak gadis yang pasti menginginkannya. Yap! aku tak sengaja berjumpa dengannya di kedai milik pamanku, aku tahu dia pasti tak mengenaliku. karena apalah aku? hanya seorang itik buruk rupa.
-Rikas- itu namanya, dia lelaki yang membuatku mengaguminya secara diam-diam. sangat menyukai kegiatan yang sangat konyol jika dibayangkan, yap! melihatnya dari jauh tanpa berkedip itulah hal konyol yang membuatku tertawa. apalagi melihat salah satu buku, kumpulan dari coretan tanganku yang menggambarkan tentang sosoknya. aku sangat geli sekali melihat coretan itu begitu naifnya aku dulu. Apakah ini efek karena tadi aku bertemu dengannya di kedai paman?
Drrtt- drrrtt lagi lagi lamunanku diganggu, menyebalkan! “Ata! kau resign lagi?” ya aku tahu siapa pemilik suara berat, serak dan menyebalkan ini. dia Andre sahabatku “Memangnya kenapa?” jawabku “Ada lowongan pekerjaan di perusahaanku. hehe jadi bagian pemasaran sih sama sepertiku” “Benarkah? wah kau harus membantuku ndre!” “Harus?” “Wajib!” lalu segera kumatikan telepon agar dia tidak membantah lagi.
Pagi ini aku berdandan serapi mungkin, karena hari ini aku ada acara interview dengan perusahaan tempat andre bekerja. “Kau sudah siap ta?” ucap andre saat aku masuk mobilnya. kujawab hanya dengan anggukan, karena sesungguhnya aku sangat gugup.
“Hari ini rencananya akan diwawancarai oleh direktur pemasaran, tapi dia berhalangan karena direktur utama mengajaknya keluar kota” ucap seseorang di depanku “Baik, tidak masalah” ucapku
rasanya cukup melegakan. aku diterima di kantor ini karena kemampuan kerjaku.
tiga bulan berlalu aku masih bekerja di kantor ini. “Ata, hari ini direktur pulang dan membawa seseorang untuk dijadikan penerusnya” ucap mita. dia temanku disini dan dia juga kekasih andre jadi dia cukup dekat denganku. “Aku tidak peduli mita, lagian apa urusannya denganku?” “Aish! kau ini sekarang udah berapa usiamu hm?” “21 tahun, kenapa?” “Kau masih saja betah menjomblo” selera makanku ambyar segera ku pergi ke kantor lagi. “Kau itu marah?” Ucap mita tepat di sampingku “Tidak, tapi selera makanku ambyar” “Hahaha, oke kita harus cepat aku dapat pesan dari andre bahwa direktur tiba” ucap mita sambil menarik lenganku. sampai aku tak tahu menabrak seseorang akibat mita “Maaf tuan” teriakku.
“Eh itu ya cucunya?” “Tampan ya” “Ah dia sungguh mempesona” itulah kalimat yang sangat mengganggu telingaku. “Ekhem maaf ini bagian pemasaran ya?” ada suara asing sekarang tapi, kepalaku tetap tertunduk. “Ah iya iya” seru para gadis itu dengan antusias “Arata Primuda Ningsih, Staf pemasaran” dan kali ini kudongakan kepalaku. betapa terkejutnya aku sekarang. beberapa pasang mata melihatku iri, “Hmm i..tu sa..ya” ucapku sedikit gugup “Name Tagmu jatuh saat kita bertabrakan tadi. dan kau berterima kasih secara tidak sopan nona, oleh karena itu kau ikut denganku” seperti petir di siang bolong aku sungguh tak menyangka semua ini.
“Arata Primuda Ningsih. kau sekarang jadi sekertaris pribadiku, mengerti?” ucapnya setelah kami masuk ruangannya “Ta..pi, ini..” “Sudah turuti”
Genap 1 tahun aku di sini. dan sudah 7 bulan aku menjadi sekertarisnya, ya sekertaris si Rikas Prayoga Natagara. siang ini dia mengajakku makan siang bersama. Dia terlihat gelisah, dia juga menghembuskan nafas panjang dan kasar.
“Arata Primuda Ningsih, lahir 4 januari tahun 1996. Anak dari bapak dodi dan ibu Nalif, will you marry me? oke pasti kamu shock tapi aku sudah memiliki rasa padamu saat kita awal masuk SMA dulu. dan sekarang aku ingin kau menikah denganku”
Cerpen Karangan: Agyata