Tanpa terkendali aku berteriak “Vanesh…” air mata ini juga sudah tidak bisa terbendung. Andai saja aku tadi tidak terlambat setidaknya aku nggak akan ngecewain Vanesh. aku yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa menyesali kebodohanku.
Beberapa minggu yang lalu… Suara sepatu hak tinggi itu sudah terdengar dari lorong kelas 11c yang hanya berjarak satu kelas dari kelasku 11b. Serentak anak-anak satu kelasku berlarian ke arah kursinya masing-masing. Ada yang mengeluarkan buku dan yang lain menyiapkan pakaiannya agar terlihat rapi. begitu juga dengan aku, buku tulis berwarna biru tua aku keluarkan dari tas merah maroonku. Kelas yang sebelumnya penuh canda tawa karena jam kosong tiba-tiba diam karena perempuan bersepatu hak tinggi itu memasuki ruang kelas kami.
“Greeting…” teriak Johan ketua kelas kami. “Good morning miss desi” respon kami kompak setelah mendengar teriak Johan. “….” keadaan hening dan miss desi tidak menjawab salam kami, itu berarti salam kami kurang bersemangat. “Greeting…” ulang Johan. “Good morning miss desi” teriak seluruh isi kelasku. “Ok good morning students.. duduk” akhirnya miss desi menyuruh kita duduk.
Dengan kompak kami duduk, setelah duduk banyak dari kami yang menundukkan kepala dan hanya berani melihat buku di atas meja. hanya satu murid yang berani menatap mata miss dessi yaitu Vanesh. bukan karena dia paling nakal atau paling pemberani, tapi karena Vanesh adalah anak dari miss desi.
“saya sudah selesai memeriksa hasil tes tengah semester kalian untuk nama-nama yang saya panggil adalah anak-anak yang harus mengulang tes karena hasilnya tidak memenuhi nilai minimal. Dan yang saya panggil langsung maju ke depan: Heru, Nanda, Desta, Rachel, Budi, Setya, Kevin, Yuni, Feri, Wulan, Danang dan Restu.” Kata miss desi sambil membacakan kertas kecil di tangannya. Dengan langkah yang terseret-seret aku maju kedepan.
“yang di depan ini soalnya dikerjakan boleh buka buku tapi jangan nyontek teman lain. yang lain buka halaman 81 baca teksnya lalu kerjakan soalnya.” Lanjut miss desi sambil membagikan kertas soal dan hasil tes tengah semester lalu.
Dengan muka kesal aku mengerjakan soal, kukerjakan halaman pertama dengan cepat karena nomor 1-8 memang mudah. di halaman kedua aku mulai membuka buku catatanku, kali ini soal-soalnya mulai sulit. Secara nggak sadar ujung pensil di tangan udah masuk ke mulut, sambil memegang-megang kepala aku berusaha mengerti apa maksud dari pertanyaannya. Keadaan kelas sedikit ramai dan aku yang duduk di urutan ke dua barisan belakang sudah mulai melirik kanan kiri. Kulihat dua meja di sebelahku, feri dan heru nampak mengerutkan dahinya sambil sedikit memukul kepalanya, kupikir mereka juga kesulitan. “sst.. her… fer…” panggilku berbisik. Mereka hanya mengangkat kedua bahunya seakan memberi tanda mereka juga tidak bisa mengerjakan. Pandanganku terarah ke Vanesh dia yang juga sedang mengamatiku terlihat mau membantuku, karena nyaliku kurang untuk meminta bantuan ke Vanesh akhirnya aku mengerjakan dengan seadanya.
“untuk yang mengulang tes waktunya tinggal 10 menit lagi.” Kata miss desi sambil melihat jam tangannya. Disaat kepepet sepeti ini insting menjawabku semakin tajam, tanpa ampun lembar jawaban kuisi dengan karangan indah. Dan karena panik waktu tinggal sebentar lagi jawaban soal uraian pun kuisi dengan menulis soalnya kembali. Pikirku agar terlihat aku sudah mengisinya.
“kring…. kring… kring..” suara bel istirahat “ya anak-anak selesai tidak selesai semua di kumpulkan” kata miss desi. anak-anak dengan cepat mengumpulkan tugasnya masing-masing. “ok pelajaran sudah selesai terimakasih” lanjut miss desi. “greeting…” teriak Johan. “good afternoon miss, thank you”
Kelas kembali ramai, anak-anak yang lain pun langsung keluar kelas. “tadi gimana vin bisa nggak ngerjain soalnya? Vanesh yang tiba-tiba duduk di bangku sebelahku. “eh Vanesh, a… aku ng..ggak bisa” jawabku yang sedikit terbata. “santai aja kali vin, mau aku ajarin?” tawar Vanesh. “ehmm, nggak usah.. eh maksudnya takutnya ngerepotin kamu, aku mau ke kantin dulu” jawabku mengelak karena memang selama ini aku nggak biasa ngomong sama cewek, apalagi cewek secantik Vanesh. “ya udah kebetulan dong aku juga mau ke kantin sekalian makan bareng aja yuk.” Ajak Vanesh sambil memperlihatkan senyum manisnya. “Ehm boleh” entah kenapa aku seperti tersihir dengan senyum Vanesh.
Yang aku tahu memang Vanesh bukan tipe cewek yang suka ngumpul bareng cewek-cewek lain, saat waktu-waktu istirahat dia sering terlihat mendengarkan lagu dengan earphone dan membaca novel. Kami berdua berjalan berdua ke kantin yang jaraknya nggak jauh dari kelas. Perjalanan terasa lama karena langkahku harus mengiringi langkah Vanesh yang pelan karena sambil membaca novel.
“eh Kevin aku punya novel bagus nih kamu mau baca nggak?” “coba liat” jawabku mengambil novel itu. “nih, jadi ini novel tentang sepasang kekasih yang berbeda negara dan bahasa tapi dipertemukan di dalam mimpi, akhirnya mereka bisa berjodoh keren deh kamu harus baca.” Kata Vanesh sambil aku membolak-balik novel. “ehm van tapi ini kan novel bahasa inggris.. tapi bagus juga kayaknya” “hehehe iya juga yaa, mau makan apa?” sekali lagi senyum manis itu muncul dari bibir Vanesh. “hehh vin kok bengong” kata Vanesh sambil sedikit mengagetkanku. “manis…” kataku keceplosan “manis apa?” “maksudku teh manis udah aku yang pesenin aja”
Sambil menikmati makanan yang kami pesan, Vanesh mengajari aku bahasa inggris dengan mengartikan bersama apa isi novel tadi. Waktu istirahat yang cuma 15 belas menit terasa seperti 2 menit saja baru satu halaman yang sudah kami baca bersama bunyi bel masuk sudah terdengar. Pikirku Vanesh adalah orang yang ramah dan mungkin dia mau mengajariku bahasa inggris.
Keesokan harinya aku beranikan diri untuk mengajak Vanesh makan sambil mengajari aku lagi. “boleh mau makan dimana?” jawab Vanesh mengiyakan ajakanku “ehm kal…” jawab ku belum selesai. “kita makan bakso aja dulu di deket perpustakaan kota terus nanti aku ngajarin kamu di perpusakaan di sana enak suasananya terus aku mau sekalian pinjem buku. Tapi kamu yang traktir ya..” kata Vanesh yang menarik tanganku “ok .. nggak papa” jawabku yang memang sudah berencana traktir Vanesh.
Hari yang cerah dan angin yang sejuk di ruang baca perpustakaan kota semakin membuat kita betah. Pikirku mungkin Vanesh lebih cocok jadi guru bahasa inggris ketimbang miss desi sendiri, dengan cara kreatif Vanesh menjelaskan grammar kepadaku melalui novel yang kemarin sempat ditunjukan kepadaku. Halaman demi halaman novel udah kita lewati, dan nggak kerasa jam menunjukan pukul setengah 5 sore yang berarti perpustakaan kota mau ditutup.
“nah kamu sekarang udah mudeng kan?” tanya Vanesh. “oh jadi gitu ya.. mudeng-mudeng.” Jawabku sambil mengangguk-anggukan kepala. “Eh vin udah sore nih bentar lagi perpustakaannya mau tutup, ini juga mamah udah sms aku suruh pulang. Gimana kalo kita lanjutin ke rumahku?” “haa? Ke rumahmu..? nggak aja van” “kamu takut sama mamaku ya? Mamah kalo di rumah nggak galak kaya di sekolah kok.” Kata Vanesh meyakinkanku. “besok lagi ajalah van, aku juga disuruh pulang mamaku. Sekarang aku anterin kamu pulang” jawabku. “tapi kan rumah kita beda arah, nanti ngerepotin kamu” “nggak papa itung-itung aku rasa trimakasih aku, kamu kan udah ngajarin aku hari ini.”
Nggak kerasa udah 2 minggu aku dan Vanesh belajar bareng, dan bukan hanya Vanesh yang ajarin aku bahasa inggris tapi aku juga ngajarin Vanesh matematika pelajaran yang Vanesh benci.
“vin.. Kevin..” panggil Danang sambil berlari ke arahku. “eh nang ada apa” “kemana aja sih vin? diajak basket kok nggak dateng terus kalo udah punya pacar jangan lupain temen dong, nggak seru nih..” kata Danang sambil sedikit mendorong pundakku. “siapa yang punya pacar?” “nah jadi selama ini kamu sama Vanesh belum pacaran?” “nggak lah, jadi selama ini aku sama Vanesh cuma belajar bareng aja kok” “kalo diliat-liat kalian berdua udah mesra banget kenapa nggak jadian aja?” “nggak ah kita cuma temen aja kok” “terserahlah nanti ada yang nikung nyesel sendiri lho… udah dulu lah vin nanti dateng basket jam 3 kalo nggak dateng awas…” kata Danang sambil mengepalkan tangan tanda ancaman.
Sepulang basket aku langsung pulang dan tiduran di kursi ruang tamu, entah kenapa kata-kata Danang terus ada di pikiranku. Dan kalo dipikir-pikir selama ini aku juga sudah mulai jatuh cinta sama Vanesh, dia satu-satunya cewek yang bisa buat aku lama ngomong sama cewek. “apa aku tembak Vanesh aja ya?” kataku keceplosan “cie anak mamah udah mau punya pacar” kata mamah yang lagi kedengeran dari ruang sebelah. “eh enggak mah bukan itu” kataku yang panik. “udah nggak papa mamah dulu juga pernah muda, nggak usah malu kalo mau nembak cewek.” Sahut mamah menggoda. “ah nggak mah” “jadi namanya Vanesh, cewek yang buat anak mamah sering ketawa-ketiwi sendiri selama ini?” goda mamah lagi. “udah ah mah aku mandi dulu” kataku sambil cepet-cepet kabur.
Sudah jam sepuluh malem dan aku belum bisa tidur padahal badan udah capek karena latihan basket tadi sore. Semakin berusaha untuk memejamkan mata semakin susah tidur. Tiba-tiba Hp ku berbunyi. Kulihat ada pesan dari Vanesh “vin lagi apa? Udah tidur belum?” isi pesan Vanesh “belum van aku nggak bisa tidur ada apa malem-malem gini?” jawabku sambil senyum-senyum sendiri. “nggak papa vin aku cuma mau ajak kamu besok ke perpustakaan mau nggak?” balas Vanesh dengan cepat. Karena bingung aku jawab “boleh-boleh” “kan besok sabtu gimana kalo habis kita baca buku di perpustakan kita main dulu? Makan gitu vin?” “ok tapi besok kita pulang dulu ya ganti baju, terus aku jemput kamu” balas ku tanpa ragu. “yeee…! berati besok kamu jemput aku jam setengah satu ya… ya udah vin aku mau tidur dulu.. met malen Kevin.. ” Obrolan tadi membuat aku semakin mantap untuk nembak Vanesh
Rencanaku hari ini sudah bulat hari ini aku bakal nembak Vanesh. jam sekolah serasa sangat lambat padahal jadwal hari sabtu kita pulang jam sebelas. Selama pelajaran aku menyusun kata-kata apa yang harus aku pakai buat nembak Vanesh. beberapa kali aku mencoba curi-curi pandang ke Vanesh yang duduknya nggak jauh dari kursiku. Hingga satu waktu kita berdua nggak sengaja saling bertatapan mata, karena salah tingkah aku langsung mengarahkan pandanganku ke depan sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa. Hatiku begitu berdebar, bagaimana tidak ini kali pertama aku merasakan jatuh cinta.
Tapi entah hanya perasaanku saja atau tidak Vanesh nampak tidak seperti biasanya dia banyak diam dan menunduk. Dan waktu istirahat saja Vanesh tidak kelihatan. “ah sudahlah mungkin cuma perasaanku saja” aku berkata di dalam hatiku. Pulang sekolah pun Vanesh juga langsung pulang sama miss desi tanpa mengucapkan satu katapun kepadaku. Sekali lagi aku berusaha untuk tidak berpikiran negatif “mungkin Vanesh nggak sabar untuk langsung pulang dan bersiap buat malam mingguan denganku.”
Sengaja aku bawa baju ganti biar bisa langsung mandi di rumah Danang yang rumahnya cuma belakang sekolah. Memang aku sudah biasa numpang mandi kalau sebelum berangkat basket. Setelah mandi aku langsung beli boneka dan bunga mawar untuk nembak Vanesh nanti. Setelah sedikit latihan dan mendengar saran Danang yang playboy, akhirnya aku memberanikan diri untuk menjemput Vanesh di rumahnya.
Kulihat jam tanganku sudah jam 1 aku telat sudah telat setengah jam. “Vanesh … Vanesh..” panggilku di depan rumah Vanesh. setelah beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil tidak menjawab. Aku mengintip ke balik jendela gelap nampak rumahnya sepi. Aku putuskan untuk menelepon Vanesh. tiga kali aku mencoba menghubungi Vanesh tapi sepertinya tidak diangkat.
“Vanesh aku di depan rumah kamu.. kamu dimana?” smsku, dari dalam kudengar ada suara orang berjalan ke arah pintu masuk. Ternyata itu buk Susi asisten rumah tangga Vanesh yang sering aku temui saat aku mengantar pulang Vanesh. “ada yang bisa dibantu dek?” tanya buk Susi. “e.. ini saya Kevin temenya Vanesh mau jemput Vanesh main” jawabku. “adek belum tau? Dek Vanesh dibawa ke rumah sakit” “emang sakit apa?” tanyaku agak membentak dan raut wajahku tiba-tiba saja berubah. “sudah 3 tahun ini dek Vanesh menderita sakit jantung…” jawab buk Susi “Haa… sakit jantung? Nggak mungkin bu.. tapi tadi kan Vanesh baik-baik aja di sekolah.” “sebenarnya sejak jam 12 dek Vanesh sudah memaksa menunggu dek Kevin tapi karena sudah tidak kuat, papa Vanesh langsung melarikan ke rumah sakit di singapura.” Mendengar perkataan bu Susi, sejenak aku terdiam tidak percaya apa yang sudah dikatakannya.
Tanpa terkendali aku berteriak “Vanesh…” air mata ini juga sudah tidak bisa terbendung. Andai saja aku tadi tidak terlambat setidaknya aku nggak akan ngecewain Vanesh. aku yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa menyesali kebodohanku.
Cerpen Karangan: Wegga Perkasa Eddyviar Blog: sastraperkasa.blogspot.com