Namaku Roman. Saat ini, aku sedang menempuh pendidikan di Ame University jurusan Ilmu Hukum semester awal. Memang sih sebutannya maba, tapi walaupun maba, aku sudah tiga bulan lebih disini sejak awal perkuliahan. Ah ya, sedikit informasi, di Ame University ini, jurusan Ilmu Hukum itu minoritas penduduk, kalau tidak salah ingat, jumlah anaknya hanya 84 jadi hanya terdapat tiga kelas untuk jurusan Ilmu Hukum.
Sedikit flashback, sebelum awal pekuliahan, selalu diadakan masa perkenalan antarmahasiswa perjurusan. Saat itu, dari 84 mahasiswa hanya 38 mahasiswa yang hadir dalam masa perkenalan itu. Dan itu sukses membuat para mahasiswa saling kenal hanya dalam sehari. Dalam kegiatan itu juga, pembagian kelas dilakukan. Dan aku mendapat bagian di kelas B.
Diantara mereka, ada salah satu mahasiswa yang menarik perhatianku. Namanya Resa. Sebenarnya dia gadis yang biasa saja jika dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi entah kenapa aku tertarik dengannya. Aku pun mencari tau semua tentangnya. Mulai dari identitasnya, organisasi apa yang diikutinya, sampai jadwal kuliahnya pun aku tau. Katakanlah aku seorang stalker.
Seperti saat ini, aku tau dia hari ini ada jam ketiga. Dan kelas Resa belum memiliki lokal untuk belajar saat ini, karena ini adalah jam lobian. Jadi harus cari lokal dulu agar bisa memulai pembelajaran. Sementara menunggu ketua kelas mencari lokal yang kosong, anak-anak lainnya menunggu di suatu tempat. Kebetulan mereka menunggu di depan lokal kelasku. Aku melihat Resa baru datang dan berkumpul dengan temannya disana. Aku pun keluar kelas, bergaya pergi ke toilet, yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi Resa. Sedikit lirikan kuarahkan padanya ketika aku melewatinya, dan gotcha! Dia melihat kearahku. Senangnya bukan main diriku ketika tau akan hal itu. mungkin jika temanku mengetahui ini, mereka akan menganggapku gila, karena tidak seperti aku yang biasanya, cuek pada cewek.
Sering kali aku berpikiran untuk mengajaknya berkenalan. Namun entah kenapa ketika bertemu aku jadi gugup sendiri hingga akhirnya semua anganku itu hanya sekedar angan saja. Tapi, kali ini aku sudah bertekad untuk mengajaknya berkenalan. Aku tidak peduli apakah dia sudah punya kekasih atau belum yang jelas aku akan mencobanya saat ini juga. Aku menghampirinya yang sedang duduk lesehan di koridor. Dan akupun ikut duduk di depannya. Bisa kulihat, teman-temannya mulai menggodanya dan menepi ke sisi lain guna memberikan privasi untuk kami berdua mengobrol seolah tau maksud kedatanganku.
“Hai. Masih ingat?” sapaku memulai percakapan ini. Dia mengangguk dan menjawab, “Roman kan?”. Ah, senangnya hati ini kala dia ternyata masih mengingatku. “Kosong ya?” tanyaku seolah-olah tidak tau kalau dia ada jam lobi hari ini. “Belum tau. Ini jam lobian belum dapat lokal dan dosennya juga belum ada kabar,” jelasnya. Aku pun mengangguk seakan-akan baru tau padahal udah dari kemarin karena si Fahrul, ketua kelasnya Resa yang kebetulan teman sekamarku, memberitahuku akan hal itu. “Mata kuliah apa?” tanyaku lagi. “Pengantar Ilmu Hukum,” jawabnya singkat. “Emm.. setelah ini ada kuliah lagi?” tanyaku kembali karena aku enggan mengakhiri percapakan kami walaupun dosen yang mengajar kelasku saat ini sudah hadir. Karena sudah kuputuskan aku akan bolos kali ini demi Resa. Yah, kedengarannya itu sangat berlebihan tapi inilah yang sebenarnya. “Ada, sampai sore. Oh iya, kelas kamu sudah ada dosennya tuh,” dia mengingatkanku pada kelasku yang sudah mulai pembelajarannya. Tapi sekali lagi kukatakan, sudah kuputuskan untuk bolos demi Resa. Puitis sekali ya. “Aku tidak bawa bukunya jadi tidak boleh masuk kelas.” Sahutku. Aku tidak sepenuhnya berbohong, karena memang begitu, jika tidak membawa buku maka tidak bisa mengikuti kelas yang berlangsung. Yah walaupun sebenarnya aku bawa buku sih. “Ah begitu,” tanggapnya. Kami pun mengobrol panjang.
Hari demi hari pun berganti. Tak terasa, kedekatanku dengan Resa sudah 2 bulan lebih. Selama 2 bulan ini, aku pun memikirkan berbagai cara untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi kurasa itu tidak semudah yang kupikirkan. Suatu insiden tiba-tiba terjadi sehingga membuat hubunganku dan Resa menjadi renggang. Saat itu, Lina, temanku dari fakultas bisnis, menemuiku.
“Roman,” panggilnya. “Lina, tumben ke fakultas hukum. Ada apa?” tanyaku balik padanya. Gedung untuk setiap fakultas itu berbeda. Jadi, heran aja kalau liat dia disini. “Aku mau ngomong sesuatu,” dia terlihat ragu-ragu kala mengucapkan itu. aku pun hanya menaikkan alisku sebelah. “Kita kan udah lama deket dan sering jalan bareng juga,” bisa kulihat dia masih terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Em.. itu, bagaimana kalau kita pacaran aja?” lanjutnya.
Aku bingung, kenapa tiba-tiba Lina ngajakin pacaran. Ya emang sih aku dan dia deket dan sering bareng, ya karena emang tetanggaan. Tapi kalau urusan perasaan, itu gak ada hubungannya sama sekali. Dan ketika aku mengalihkan pandanganku ke samping, saat itu juga aku melihat Resa. Aku yakin, dia pasti mendengar percakapanku dengan Lina. Buktinya Resa langsung mengalihkan pandangannya ketika bertatap denganku dan tergesa-gesa menuruni tangga.
Melihat itu, perasaan gundah menyelimutiku. Aku takut Resa salah paham, karena itu kuputuskan untuk segera menyelesaikan semua ini. “Maaf Lin, kita memang dekat dan sering bareng, tapi itu karena kita tetanggaan. Lagipula, aku juga sudah punya pacar. Jadi sekali lagi aku minta maaf,” aku pun langsung meninggalkan Lina dan segera mengejar Resa ke bawah. “Resa! Res!” aku berteriak begitu melihatnya, namun dia terlihat seperti sedang mengacuhkanku. Aku yakin, dia bisa mendengarku yang berteriak memanggilnya karena jarak kita tidak terlalu jauh dan suaraku ini kurasa cukup sampai di pendengarannya.
Ketika sudah di belakang Resa, kutarik tangannya agar dia berhenti. “Resa! Kenapa tidak berhenti saat kupanggil?” tanyaku sambil ngos-ngosan akibat berlari mengejarnya dari lantai 3 ke lantai 1. Dia tesentak ketika kutarik tangannya, “Ah, Roman, aku tidak mendengarmu,” bohongnya, dan aku tau itu. “Aku tau kamu tadi mendengarnya. Aku bisa jelaskan semuanya,” “Aku tidak mendengarmu, sungguh,” ucapnya sembari menghindari kontak mata denganku. “Bukan itu maksudku. Aku tau kamu pasti mengerti apa maksudku,” jelasku. “Ah, soal Lina ya,” bisa kudengar perubahan pada suaranya. Terdengar seperti sedang menahan sesuatu, kesedihan, kurasa, tapi dia berusaha menyembunyikannya. “Ya, aku mendengarnya. Tapi kupikir itu tidak ada hubungannya denganku. Kamu tau kan maksudku. Kita memang dekat, tapi, ya begitulah,” jelasnya panjang lebar. “Kami hanya sebatas teman. Dan aku tidak menyukainya,” sangkalku. “Kurasa kamu tidak perlu memberitahuku sampai seperti ini. Yah, kamu tau sendiri kan kita hanya teman. Jadi tidak perlu saling melaporkan sesuatu yang bersifat pribadi,” dia tetap mengelakkan maksudku yang sebenarnya. “Sudah kubilang kan, bukan itu maksudku. Dan aku yakin kamu mengetahui dengan pasti apa maksudku. Maksudku, aku tidak menyukainya, tapi aku menyukaimu. Dan aku ingin menjalin hubungan denganmu, bukan dengannya,” akhirnya tersampaikan kalimat itu padanya. “…” dia hanya terdiam mendengarku.
“Selama ini aku diam bukan berarti aku membisu. Aku hanya memikirkan waktu yang tepat untuk menyampaikannya, karena sudah lama aku mempunyai perasaan ini. Aku hanya ingin kamu juga menyukaiku secara natural karena kita terbiasa bersama. Seperti inilah caraku menyayangimu,” “…”
“Jadi, kamu mau jadi kekasihku?” tanyaku kemudian. Kulihat dia menghela napas panjang sebelum pada akhirnya menjawab, “Apa aku terlihat jahat?” aku tidak mengerti apa maksudnya. Kunaikkan alisku sebelah. “Aku bahagia diatas penderitaan orang lain, terlihat jahat bukan?” Dan pada akhirnya aku mengerti apa maksud perkataannya itu. Aku tersenyum mendengarnya, “Tidak, dia akan mendapatkan yang lebih baik dariku. Terimakasih, Resa,” ucapku padanya. Dia pun hanya tersenyum. Tanpa mengucapkan kalimat balasan pun aku mengerti dia telah menerimaku.
END
Cerpen Karangan: Anhar Restu Blog / Facebook: Anharrestu Go follow: @anharrestu_ facebook: Anhar Restu -itsumo isshou anhar restu-