Ucep seorang pemuda yang masih duduk di kelas tiga SMK. Walaupun usianya sudah 18 tahun tapi dia masih polos. Karena kepolosannya ia sering ditipu oleh teman-temannya. Hingga suatu hari kejadian memalukan menimpanya.
Pada saat itu Ucep sedang tertarik kepada seorang wanita satu kelasnya. Ia sering menyapa dan mengobrol dengan wanita itu, dengan harapan sang pujaan punya rasa yang sama dengannya. Tetapi wanita itu tidak mempunyai rasa suka kepada Ucep, karena Ucep terlalu polos untuk dicintai.
Teman-teman Ucep sudah tau bahwa Ucep sedang mabuk cinta. Temannya yang bernama Aryo punya ide jail untuk mengerjai Ucep, dia pun berdiskusi dengan Hendra dan Atep. Mereka merancanakan sesuatu untuk menjebak Ucep.
Jam istirahat Ucep sedang menyantap makanan di kantin, dihampirinya tiga orang tadi. Mereka berkata kepada Ucep, mereka bisa membantunya untuk mendapatkan cinta sang pujaan hatinya itu. Mendengar itu, Ucep merasa senang, ia yakin dengan dibantu oleh temannya. Ia bisa cepat mendapatkan wanita yang disukainya itu.
Aryo, Atep dan Hendra berjanji akan berbicara pada Mita sang pujaann hati Ucep, dan mebujuk dia untuk mau memperhatikan Ucep. Tapi pada kenyataannya mereka bertiga tidak berkata apa apa pada Mita.
Dua hari setelah itu, mereka bertiga menemui Ucep, dan berkata padanya bahwa Mita sebenarnya memang suka pada Ucep. Dan mereka yakin bila Ucep mengutarakan perasanya sekarang, pasti Mita bakal menerimanya. Ucep yang berwajah polos itu, percaya apa yang dibilang mereka. Mita juga bilang kepada mereka bertiga, kalau mau menembaknya dia ingin di depan umum seperti di kantin pada waktu istirahat. Dengan mudahnya Ucep terpedaya ucapan mereka. Ucep dengan percaya diri akan menyatakan cintanya di kantin pada waktu istirahat.
Bel istirahat berbunyi, Ucep bersiap siap pergi menuju kantin. Dengan memakai minyak rambut ia menyisir rambutnya ke arah kiri. Setibanya di kantin matanya mencari Mita diantara puluhan orang yang memadati kantin. Ucep melihat Mita sedang berkumpul bersama teman-temannya di bangku tengah. Ucep segera menghampirinya, setelah berada di hadapannya ia berlutut lalu memegang tangan kanan Mita. Sontak mata semua orang tertuju padanya. Suara yang tadinya ramai seketika menjadi hening. Kemudian Ucep dengan lantang menyatakan cinta pada Mita.
Semua orang bersorak bahkan tertawa melihat kejadian itu. Mita yang kelihatannya malu kala itu, segera melepaskan tangannya yang dipegang Ucep lalu ia berlari keluar dari kantin. Semua orang pun tertawa terbahak-bahak, Ucep yang ditinggalkan tanpa jawaban oleh Mita merasa sangat malu. Ia pun berlari menuju kelas dan menangis. Hatinya seakan akan hancur lebur tidak tersisa, yang tersisa dalam dirinya hanyalah penyesalan
Cerpen Karangan: Ari Nugraha Blog / Facebook: Ari Nugraha