HUWAAAAAAAHHHHHH…. TARAAAAAA…. TARAAAAA… TARAAAAAA…. itulah suara teriakan sorak-sorai yang selalu aku dengar di barisan tribun saat aku dan tim basketku main di sebuah pertandingan, entah itu pertandingan resmi maupun hanya pertandingan persahabatan. Bahkan aku hanya diam dan terus melanjutkan pertandingan, karena aku memang tidak mau kehilangan fokus hanya karena banyak orang yang memberiku semangat.
“Fansmu manggil-manggil namamu terus tuh, lambaikan tanganmu biar mereka bahagia, hahaha,” canda Freddy rekan satu timku. “Hahaha gak ah, gak pede aku, yooshh ayo lanjut ke pertandingan,” jawabku sambil tersenyum. “Huuh… kebiasaan deh, selalu sok cool di depan ratusan cewek, yoo ambil bolamu dan cetak angka bro,” ucapnya sambil mengoper padaku.
Pertandingan berakhir, dan tim kami memenangkan pertandingan persahabatan yang memang sengaja diadakan sebelum Turnamen antar Universitas dari seluruh Jakarta. Terkadang kesenanganku menjadikan semua cewek-cewek yang ada tribun itu salah paham, karena aku selalu mengacungkan tanganku setiap kali kami memenangkan pertandingan. Mereka menganggap hal itu sebagai sapaan bagi mereka, dan aku tetap saja tak bisa berpaling dari hasil pertandingan yang sedikit memuaskanku.
“Menang lagi bro, semoga saja terus seperti ini,” rangkul Freddy berharap kami bisa menjadi juara nantinya. “Semoga saja bro, tahun ini tahun terakhir kita sebagai mahasiswa semester 7,” jawabku menatap papan skor. “Iya bro, sudah semester 7 dan kamu gak pernah ungkapin perasaanmu ke Vita, apa itu sehat? Hehehe,” godanya. “Hmmmm… entahlah, aku berjanji padamu dan diriku sendiri, sebelum turnamen dimulai aku akan mengungkapkan perasaanku padanya, tapi itu sulit sekali sepertinya,” “Mau aku bantu? Aku mah siap kalau broku yang satu ini butuh bantuan,” “Nggak ah, idemu terlalu gila soal nembak cewek,” “Yah yang penting berhasil bro,” “Terserahmu ajalah bro, hehehe,”
Setelah banyak ngobrol soal perempuan yang aku sukai, kami pun memutuskan pulang untuk merencanakan sesuatu agar cintaku tidak ditolak oleh Vita, perempuan alim, manis dan paling cerdas yang ada di kelasku. Banyak sekali rencana yang disarankan oleh Freddy padaku mulai dengan cara yang romantis hingga cara yang menurutku menjijikan, namun semua itu kutolak, karena memang itu benar-benar bukan diriku.
Keesokan harinya, aku datang ke kampus lebih awal agar aku bisa duduk di samping Vita yang selalu duduk di bangku paling depan. Aku mendatanginya dan menyapanya seraya aku menjadi orang yang sok akrab dengannya. “Assalamualaikum Vit, pagi bener kamu datangnya? Emang kuliahnya dimulai jam berapa?” “Eh Dirga, Walaikumsalam, enggak emang aku aja yang sudah kebiasaan datang pagi biar bisa duduk di depan dan lebih fokus belajar,” jawabnya dengan santun. “Eh Vit, aku dengar kamu sudah ambil skripsi ya semester ini, gimana lancar?” “Alhamdulillah lancar kok, ini nanti siang aku mau bimbingan skripsi bab terakhirku,” “What? Cepet banget udah di bab terakhir?” “Iya Dir, ngapain juga lama-lama di kampus? Sudah bosan aku, pengen cari uang yang banyak,” jawabnya dengan senyum yang begitu manis dan menenangkan jiwaku. “Enaknya yang udah mau kelar, sedangkan aku malah belum apa-apa soal skripsiku,”
KRINKKKKK… KKKRRIINNKKKKKK… suara smartphone milik Vita berdering keras dan menghentikan pembicaraanku sejenak. “Sebentar yah Dir, aku angkat telpon dulu,” sambil menjauh dia berkata dan menjawab teleponnya. Aku terdiam sejenak, inginku mendengarkan musik sebentar melalui smartphoneku, tapi aku urungkan karena mendengar suara teriakkan dan tangisan ditempat Vita mengangkat teleponnya. Kumantapkan langkah kakiku untuk mendatangi Vita. Dan ternyata benar apa yang aku lihat, ia menangis tertunduk dan memegang smartphonenya.
“Eh… Vit… kamu kenapa? Kamu nggak kenapa-kenapa kan, Vit?” tanyaku perlahan. Sontakku terkejut saat tiba-tiba Vita memeluk tubuhku dan menangis begitu kencang, aku berusaha untuk menenangkan dia yang sedang dilanda kesedihan dihatinya. Aku membiarkannya duduk dan memelukku dengan tangisan yang membasahi seluruh bahuku.
“Vit… hari ini kamu jangan masuk kelas dulu ya, aku temenin kamu bolos kok, ayo jalan-jalan dulu, biar pikiranmu tenang,” ucapku mencoba menghiburnya. “Tapi ini mata kuliah dosen killer,” jawabnya yang masih menangis. “Biar nanti aku yang mengizinkanmu, sudah berhenti nangis, nanti cantiknya ilang lo kalo nangis terus,” ucapku yang terus berusaha untuk menghiburnya. Dia tidak menjawab ucapanku, tapi dia menjawabnya dengan jawaban lisan, yaitu menganggukkan kepalanya.
Kami pun berangkat ketempat dimana dia akan merasa lebih tenang dan ceria, yaitu panti asuhan yang sudah membesarkanku, karena dalam otakku hanya tempat itu yang bisa membuatku terus tersenyum. “Kok kesini Dir, mau ngapain?” tanyanya sebelum turun dari motorku. “Tempat ini adalah tempat dimana kita bisa tetap bersyukur dan tersenyum melihat lucunya anak-anak yang masih polos dan terus ceria,” jawabku sok bijak.
KAKKKKKKK TARAAAAAAAA…. KAKKKKKK TARRRRAAAAAAA… teriakan anak-anak kecil yang datang menghampiriku dengan senangnya. “Kamu kenal mereka semua, Dir?” “Jangan panggil Dir dong, panggil aja Tara kayak anak-anak itu, iya mereka adalah adik-adikku,” “Adik? Maksudnya?” “Iya, aku dibesarkan disini, dan sekarang aku tinggal di asrama atlet ya karena aku berprestasi di olahraga basket, sehingga aku harus meninggalkan tempat ini, tapi setiap hari aku ya kesini dan bermain dengan mereka,” jawabku sambil bermain dengan anak-anak kecil di panti asuhan.
“Kak Tara, ayo main basket lagi, kali ini aku akan mengalahkanmu, Kak!!!” ucap Abel, salah satu anak yang juga ingin menjadi pemain basket profesional nantinya. “Oke, kalau kamu menang, kakak akan membelikanmu es krim kesukaanmu,” “Hehehehe,” tawa kecil Vita saat melihat Abel. “Kenapa senyum-senyum gitu? Hehehe,” “Enggak kok, lucu aja lihat mereka bisa seceria itu, sedangkan aku hanya tersandung masalah kecil seperti ini, aku sudah galau gak jelas gini,” “Sudah, temani main anak-anak yang lain, aku ada pertandingan dengan Abel, hahaha,” jawabku.
Dari tengah lapangan, aku bisa melihat senyum manis yang biasa tersemat di bibirnya itu telah kembali, setelah beberapa jam yang lalu hampir saja hilang entah kemana. Aku dan Abel tetap melanjutkan pertandinganku yang hingga akhirnya dihentikan oleh hujan. “Yah hujan, sayang sekali kak, padahal aku hampir saja mengejar skor kakak,” ucap Abel dengan semangat di dalam gedung asrama. “Hahaha, kamu ngalahin kakak? Butuh 10 tahun lagi Bel,” jawabku sambil mengelus kepalanya. “Sudah pasti itu, 10 tahun lagi kakak kan sudah jadi om-om dan aku masih 17 tahun, akan kuhajar kau kak dengan skor yang telak hahaha,” “Hehehe aku mendukungmu Bel, dia kan pebasket yang sombong,” sahut Vita merangkul dan mengelus kepala Abel. “Pasti dong Kak. Ngomong-ngomong aku belum pernah ngelihat kakak selain teman-teman cowok Kak Tara, atau jangan-jangan kamu pacarnya Kak Tara ya… cie… cie…,” Tiba-tiba Abel berlari ke tengah lapangan dengan ekspektasinya sendiri dan memanggil pengasuh dari panti asuhan. “Bu… Ibu… Kak Tara udah punya pacar sekarang, cuantik looo orangnya,” teriak Abel memasuki ruang pengasuh. “Hei… anak kecil… jaga omonganmu, aku akan menghukummu dengan pedang cahaya Star Wars milik Kak Tara,” teriak Tara mengejar Abel. Dari kejauhan aku melihat kembali senyum ceria dan tulus yang tersemat pada bibir wanita pujaan hatiku.
Saat berlari dan tanpa tersadar, aku menabrak Shinta yang sedang berjalan di lorong gedung. Bruakkk… kami berdua pun terjatuh. “Eh… Shinta… maaf ya maaf, aku tadi lagi main kejar-kejaran sama Abel,” ucapku minta maaf dan membantu Shinta membereskan buku-buku yang dibawanya. “Mas Tara udah punya pacar?” tanyanya to the point. “Hah? Belom punya kok,” jawabku terkejut. “Lha itu… mbak-mbak yang disana,” sambil menunjuk ke arah Vita. “Oh… dia teman satu kelas aja kok,” jawabku dengan wajah yang memerah. “Oh… ya sudah, aku mau kembali ke kamar dulu Mas,” “Iya Shin, maaf ya Shin,”
Aku kembali ke tempat Vita duduk bersama dengan anak-anak yang lain. Dengan nafas yang ngos-ngosan aku langsung berbaring dan merebahkan tubuhku ke lantai dengan melihat Vita yang tersenyum bahagia saat sedang menceritakan sebuah kisah dongeng kepada anak-anak. Tak sadar setelah puas melihat senyuman dan tawa Vita, aku pun tertidur hingga aku dibangunkan oleh Vita tepat pukul 4 sore.
“Tara… bangun yuk, ini sudah sore loh. Apa kamu gak latihgan basket?” menggoyang-goyang tubuhku. “Ah… iya Vit, sampek lupa kalau aku ada latihan sore ini,” “Yuk, kembali ke kampus?” “Lha? Kamu gak pulang?” “Ya kan sejalur rumahku dari sini ke kampus,” “Lho? Iya ta? Ya sudah yuk,”
Kami berdua pun berpamitan kepada kepala panti asuhan dan juga anak-anak. Kami juga memutuskan untuk kembali lagi besok sepulang kuliah. Setelah berpamitan, aku kembali memboncengnya untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba di jalan, Vita mengungkapkan sesuatu tentang kebahagiaan dirinya yang belum pernah ia dapatkan.
“Seru juga main dengan mereka, padahal mereka sudah tak lagi memiliki keluarga tapi mereka tetap bahagia dengan cara mereka sendiri,” “Mereka begitu, karena memang mereka sudah terbiasa hidup dengan anak-anak lain sejak masuk panti asuhan itu,” “Haissss… setidaknya penatku hari ini sudah hilang semua karena mereka, dasar laki-laki tak bermoral,” “Hah? Kenapa aku dikatai gak bermoral? Apa salahku?” sahutku polos. “Oh.. Sorry.. Sorry.. bukan kamu kok, tapi orang yang tadi pagi mutusin aku lewat telpon,” “Oalah tadi pagi kamu nangis itu karena diputusin cowok toh,” “Iya, padahal kami sudah tunangan, eh malah dianya yang kecantol sama cewek lain. Tapi aku beruntung masih ada teman yang baik kayak kamu dan juga bisa melihat tawa bahagia anak-anak panti asuhan tadi. Besok aku boleh datang lagi kesana?” “Pake nanya lagi, ya jelas bolehlah Vit. Masak kamu belum sadar juga, kalau mereka seneng banget pas kamu datang,” “Iya juga sih, hehehe… yeey besok bisa main sama mereka lagi,”
Sesampainya mengantar pulang, aku langsung menuju kampus untuk latihan basket dengan tim basket kampusku. Tak bisa dipungkiri bahwa aku begitu berbunga-bunga saat ini dan hal itu ditandai dengan super semangatnya aku ketika latihan, meskipun hanya sekedar jalan ke panti asuhan dengan Vita.
Cerpen Karangan: Sahaq Alby Facebook: facebook.com/bhie.allbee