Setelah peristiwa yang tidak disengaja itu, Aku dan Vita pun menjadi semakin akrab dan sering mendatangi panti asuhan. Aku selalu bersama dengannya layaknya orang yang sedang hangat-hangatnya berpacaran.
“Woooeeii… Broku kayaknya udah semakin dekat dengan pujaan hatinya,” ucap Freddy sest sebelum latihan terakhir menjelang pertandingan resmi minggu depan. “Hehehe… masih deket aja kok akunya, gak terjadi apa-apa,” jawabku malu-malu. “Kapan rencanamu untuk mengungkapkan perasaanmu ke dia?” “Rencanaku minggu depan, tepat setelah pertandingan,” “Wih… gila bener ini anak, kamu akan merusak reputasi kegantenganmu di mata fansmu lo bro,” “Gak masalah aku mah, yang penting aku bisa dapetin Vita,” “Oke siip, ayo ke gedung olahraga untuk latihan,” “Yosh!!!”
Hari pertandingan tiba, aku dan rekan setimku sedang melakukan pemanasan ringan sebelum bertanding. Tiba-tiba Leo mendatangiku dan menunjuk ke arah Vita yang sedang berada di pelukan lelaki lain. “Eh… Bro… bukannya itu cewek yang sering kamu ajak datang ke latihan ya?” “Yang mana bro?” “Itu lo bro yang berada dalam pelukan cowok populer di kampus,” “Oh iya, itu Vita… Ayo kita fokus ke pertandingan saja, lagian dia kan bukan cewekku, jadi terserah dia Le,” “Oh gitu ya? Ya sudah ayo,”
Aku meminta pelatih untuk dimainkan di quarter ketiga saja, kerena konsentrasiku pecah saat melihat Vita kembali dengan tunangannya. Kutundukkan kepalaku, karena aku ingin memfokuskan hati dan pikiranku hanya untuk pertandingan pertama ini.
Quarter kedua lewat dan aku melihat Vita dengan pasangannya menjadi semakin dekat dan dekat terus. Pikiranku yang tadi sudah hampir tidak fokus, akhirnya sudah mulai terfokuskan untuk pertandingan dan aku hilangkan kekesalan dan rasa cemburuku pada Vita yang bukan siapa-siapaku.
TAAAAARRAAAAAA…. TAAARRRAAAAAAA… teriakan itu kembali membuatku semangat, suatu yang tidak terdengar sekalipun saat aku belum menginjakkan kakiku di lapangan. “Sudah boy, jangan pikirkan Vita yang lagi bermesraan dengan kekasihnya di tribun, saatnya kita mengejar ketertinggalan,” ucap Freddy menyemangatiku. “Dua quarter sudah cukup untuk membuatku terpuruk tadi, sekarangnya aku akan memenangkan pertandingan ini. Beri bolanya padaku, aku gak akan mengecewakan kalian. YOSSSHHHH!!!”
Dalam beberapa menit di quarter ketiga, ia sudah mencetak lebih dari skor tim lawan yang membuatnya begitu ditakuti oleh lawannya. Bahkan kali ini dia tidak seperti pemain basket kampus biasa, dia bermain melebihi ekspektasi para sponsornya.
Kemenangan akhirnya diraih olehnya dan tim, skor yang terpampang di papan pun membuat semua orang terkejut dengan come back yang dilakukan setelah pelatih memasukkannya, yaitu skor 56-98. Freddy menyadari ada keanehan pada sahabatnya itu, ia menghampiri Tara yang seakan tak peduli dengan kemenangan yang ia raih.
“Hei Broku, ada apa denganmu kali ini?” “Huuh… ” menghela nafas panjang. “Akhirnya aku puas, daripada aku emosi mending aku lampiaskan ke ring basket.” “Hehehe… ini baru sahabatku, tetap tenang seperti biasanya,” “Aku gak sepanik yang kamu bayangkan kok bro, tinggal menjauh dari Vita aja cukup kok. Gak perlu menghancurkan hubungan orang lain,” ucapnya dengan berusaha tegar. “Sip dah kalau gitu, ayo main ke anak-anak streetball, sudah lama gak kesana,” ajak Leo yang dari tadi membuntuti mereka. “Oh… Le… ayo kesana menarik juga, sudah lama gak main ke mereka,”
Mereka bertiga pun ke lapangan streetball yang biasa mereka datangi bersama-sama untuk main three on three. Mereka bertemu dengan salah satu pemain asing yang juga masih muda dan sedang bermain streetball.
“Hi Guys… Congratulations… Good Job today,” ujar orang asing yang langsung menyalami Tara. “My Job?” jawabku kebingungan. “Yeah, I was watching your match today and I know you will be man of the match,” “Who are you Mr?” “Oh… I’m sorry, My Name Is Stephen Brown, Talent Hunter from Los Angeles,” “Wow.. exactly i’m shock, this is amazing,” jawabku seolah tak percaya. “Where’s your phone number, Tomorrow i call you,” “Okey… okey… wait…” “This my phone number and thank you,” “Okey… see you soon,”
Freddy dan Leo pun hanya melongo dan terkejut ketika Tara sahabatnya itu dimintai nomer handphone oleh orang Amerika. “Gila lu bro, emang pada dasarnya kamu emang pebasket berbakat bro,” puji Freddy. “Lupa dong sama patah hatinya, nanti ke Amerika kan banyak cewek yang lebih cantik,” “Hah? Kalian berdua ngomong apaan sih, udah dibahas nanti aja kalau di asrama, kita juga kudu tanya saran pelatih,” “Benar juga, ayo main 2 quarter aja sama teman-teman,” ucap Leo.
Dengan adanya tawaran yang begitu menggiyurkan bagi pengalamanku di dunia basket dan juga harapanku yang telah pupus untuk mendapatkan Vita, aku pun menghindari Vita dan memilih untuk terus berlatih demi masa depanku. Sempat sesaat pulang kuliah dan aku belum bisa pulang karena tugas yang cukup membebaniku, yaitu harus mendapat nilai 100 pada mata kuliah bahasa Inggris agar aku bisa berangkat ke Amerika.
Ada sesuatu yang begitu mengejutkanku, yaitu Vita mendatangi bangkuku dan menyapaku dengan muka yang merenung. “Serius banget belajarnya? Sampai-sampai kita berdua gak pernah ngobrol sedikitpun,” tanyanya dengan nada yang berat. “Kamu kenapa Vit? Bukannya kita emang gak pernah dekat ya ataupun ngobrol banyak,” jawabku sambil membaca buku kuliah. “Kok kamu gitu ngomongnya?” “Ya kan emang sebagai teman, aku harus menghiburmu waktu kamu dalam kesusahan. Setelah kamu udah seneng dan bisa senyum lagi yah, tugasku sudah selesai kan?” “Kamu gak anggap aku lebih atau gimana gitu?” “Jujur, aku gak ngerti loh sama arah obrolan kita, soalnya kita emang belum pernah dekat sebelumnya” “Sebelum pertandingan resmi yang pertama waktu itu, bukannya kita sangat dekat yah,” ucapnya yang nadanya semakin berat. “Oh iya kah? Mungkin perasaan kamu aja Vit. Yah memang kita dekat, tapi kan emang waktu itu aku menghiburmu agar bisa melupakan segala masalahmu,” “Gitu amat ngomongnya, aku ada salah sama kamu?” “Ehmmm… enggak sih, aku cuma lagi fokus aja sama pertandingan selanjutnya, jadi aku harus serius menghadapinya,” Belum selesai aku memberikan alasan tentang diriku yang terus menghindarinya, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku lihat handphoneku untuk mengecek siapa yang menelponku, dan ternyata dia adalah Stephen Brown.
“Halo Mr. Brown, What’s Up?” “Can i meet you tonight?” “Yeah of course,” “And Invite your friend, Freddy, because my man falling love with skill of Freddy,” “Okey… Mr. Brown,” Ku tutup telpon dari Mr. Brown dan kembali ke topik perbincangan dengan Vita.
“Oh iya, tadi sampai mana Vit? Maaf aku terlalu senang, karena pencari bakat dari Amerika menelponku,” “Kamu akan pergi ke Amerika demi menjadi pemain profesional?” “Iya dong, itu sudah jelas,” “Terus gimana dengan anak-anak panti asuhan? Apa kamu gak kasihan sama mereka kalau kamu tinggal?” “Kasihan gimana? Kan ada Ibu sama Bapak pengasuh, lagian mereka tidak selemah yang kamu bayangkan kok,” “Tapi… apa gak ada sesuatu yang hilang ketika nanti kamu pergi?” “Mungkin aku akan kehilangan mereka untuk sementara dan kembali lagi dengan membawa uang banyak untuk membahagiakan mereka, karena bagiku mereka adalah keluarga yang paling hebat,” ia berkata dengan begitu tegas sambil berdiri untuk pergi dari kelas. “Ah iya… kamu benar sekali, mereka adalah keluarga terbaikmu,” ucapnya sambil mengusap air matanya sendiri. Mungkin aku menyesal mengungkapkan itu pada orang yang selama ini aku sayangi, tapi semua itu demi kebaikanku dan kebaikannya. Karena merusak hubungan orang lain dengan selingkuh adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan hanya demi keegoisanku sendiri.
Hari itu tiba, dimana semua adikku menangis karena keberangkatanku menuju Amerika dan Abel adalah anak yang nangisnya paling keras daripada anak-anak lainnya. “Katanya mau ngalahin kakak, calon superstar basket gak boleh nangis dong,” ucapku memeluknya menitihkan air mata. “Bukan itu, aku menyayangkan kalian berdua putus, padahal kalian adalah pasangan yang begitu serasi,” ucap Abel yang menangis kencang. “Abel… dengerin omongan Kak Tara yah, aku sama mbak Vita itu gak pernah pacaran sama sekali dan kalau tidak pacaran kan berarti gak ada ungkapan putus,” “Kakak bohong, aku memang masih kecil, tapi saat kakak sama mbak Vita, kakak mesti melihatkan senyum terbaikmu,” “Hmmmm mungkin waktu itu kamu sedang mengigau. Lagian yah bel, mbak Vita itu sudah punya calonnya sendiri dan itu bukan Kakakmu ini,”
“Apa yang terjadi padamu Tara?” sahut Ibu Pengasuh. “Tidak terjadi apapun kok Bu,” “Ini bukan anak manis yang Ibu kenal, melarikan diri layaknya pecundang,” Ucapan Ibu membuatku memeluknya dan menangis sekencang-kencangnya saat Ibu mengatai aku layaknya seorang pecundang. Kemudian Ibu menceritakan semua yang terjadi setelah pertandingan pertama waktu itu. Ia berkata bahwa, Vita selalu datang setiap hari meskipun aku tidak pernah lagi datang dan fokus pada olahraga kesukaanku. Bahkan Ibu juga mengatakan, kalau Tara adalah orang hebat yang bisa membuka pikiran Vita menjadi lebih terbuka lagi dan mulai menaruh hatinya pelan-pelan ke tangan Tara. Saat ibu mengatakan itu, aku pun memotong perkataan Ibu. “Bu, maaf anakmu yang dangkal ini, tapi Vita bukan orang yang cocok buat Tara Bu. Vita terlalu hebat buat Tara, Tara gak layak mendapatkan Vita Bu. Vita layak mendapatkan orang yang lebih… lebih… lebih baik lagi dari Tara. PLAAKKKKK!!! “Dasar anak bodoh, masih aja gak mau dengerin omongan orang tua, pergi sana!!! Pesawatmu mau berangkat tuh,” “Hehehe… sakit Bu, tapi terima kasih telah merawatku selama ini. Assalamualaikum,”
S menit setelah keberangkatanku, Vita datang dengan berlari-larian dan ngos-ngosan ia tak sempat menemuiku sama sekali dan mengucapkan apa yang ingin ia ungkapkan.
Sesampainya di LA aku langsung menelepon Ibu dan memberi kabar kalau aku sudah sampai dengan selamat, dan yang membuatku terkejut adalah seseorang yang mengangkat telepon itu. “Halo Ibu, aku sudah sampai di LA Bu. Doain anakmu yang nakal ini jadi orang terkenal ya Bu. Hehehe,” “Doa macam apa itu, minta jadi terkenal,” “Eh… Kok Vita yang angkat,” “Jangan lupa pulang ke Indonesia, agar aku tetap setia menunggu kehadiranmu disini,” Aku langsung menutup teleponnya dan senyum sendiri seperti orang gila.
Cerpen Karangan: Sahaq Alby Facebook: facebook.com/bhie.allbee