Dua tahun yang lalu, aku pernah begitu mencintai seseorang. Pria itu bernama Alfan. Dulu, aku sangat menginginkan dia tapi, dia sangat tidak menginginkanku. Hatiku patah, saat itu. Saat di mana dia mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tidak menyukaiku, apalagi menyayangiku.
Berbulan-bulan aku merasa seperti gila -apalagi jika rindu padanya datang menghampiri, ketika itu aku ingin dia ada di depanku detik itu juga agar rinduku hilang, tapi kenyataan membuatku semakin sakit, ketika aku mengiriminya pesan dan mengatakan bahwa aku sangat merindukannya. Sambil menunggu balasannya, aku mengambil buku diaryku dan mulai menulis di sana.
Kamu dan aku Memang kini sudah jauh Sejauh langit dan bumi
Takkan menyatu Walau jerit serta tangis berdarah Sesak terasa ketika rindu mulai datang
Bagaimana bisa aku menepis jarak? Yang kian nyata dan menyesatkan rasa Merindumu adalah kesalahan indah yang terus kuulangi
Ketika aku selesai menulis, ponselku bergetar, lalu aku mengambilnya dan mulai membaca pesan balasan dari Alfan. Aku tidak menyangka dengan balasannya.
Dia malah mengirim Voice Note yang menyuruhku untuk tidak usah lagi memikirkannya, merinduinya apalagi berharap bisa bertemu dengannya. Saat itu dia berkata “Anggap saja aku sudah mati.” karena dia juga sudah lebih dulu menganggapku begitu.
Awalnya, dadaku terasa sesak. Aku menangis semalaman di kamar, tapi setelah puas menangis, aku berjanji pada diriku sendiri untuk pergi dari hidupnya, untuk menganggap dia benar-benar mati, sesuai keinginannya.
Dua hari yang lalu, dia kembali menghubungiku. Dia ingin bertemuku, katanya dia ingin mengatakan sesuatu dan sangat penting. Awalnya aku menolak tapi dia terus memaksaku sampai akhirnya saat ini aku berada di salah satu kafe yang sering kita kunjungi, dulu. Tapi, sudah sekitar setengah jam aku menunggu, dia tak kunjung datang sampai ketika aku hendak pergi, akhirnya dia datang.
“Maaf aku telat,” katanya pelan sambil tangannya menggenggam tanganku. “Itu memang kebiasaanmu, kan?” ucapku datar sambil melepaskan tanganku dari genggamannya. Dia tersenyum, senyum yang masih semanis dulu, diam-diam aku merindukan senyum itu.
“Kamu masih ingat kebiasaanku?” ucapnya sambil tertawa kecil. Aku tidak menanggapi ucapannya, bahkan tersenyum saja tidak. Disela rindu, ada sakit yang masih kurasa seperti dua tahun yang lalu.
Tapi, aku memerhatikannya, saat ketika dia baru saja muncul di ujung pintu kafe ini. Tubuhnya masih seperti dulu, tinggi dan berisi. Rambutnya dipotong cepak, dan ditata rapi dengan gel rambut. Dia memakai kaus abu-abu yang dilapisi jaket berwarna marun dengan celana jeans dan sepatu sneakers berwarna putih.
“Rin, kamu terlihat lebih kurus, kenapa?” tanyanya. “Program dietku berhasil.” aku menjawab sekenanya. Dia tertawa kecil, aku tahu, dia pasti masih ingat ketika kita masih bersama, aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menurunkan berat badanku tapi tidak pernah berhasil.
Lalu, dia memesan makanan dan minuman tapi, sampai makanan dan minuman kita habis, dia tidak mengatakan apa maksudnya ingin menemuiku, dia malah menceritakan tentang hidupnya dua tahun setelah aku pergi.
Katanya, dia merasa sepi, dia merasa ada yang hilang. Dan, dia juga mengatakan bahwa dia menyesal sudah menyuruhku untuk menganggapnya sudah mati. Tapi, aku tidak berani bilang bahwa mungkin saja karma sedang menghampirinya walau pun memang sebenarnya begitu.
“Rinka, kamu tau kenapa aku memaksamu bertemu hari ini?” Aku menggelengkan kepala. “Aku rindu kamu, sebenarnya rindu itu sudah datang sebulan yang lalu. Tapi, aku masih bisa mengabaikannya sampai ketika aku menghubungimu dua hari yang lalu, rindu itu sudah tidak bisa aku tahan, Rin.” dia menjelaskan sambil terus menatap mataku.
“Hanya karena itu kamu mencariku? Lalu, setelah rindumu hilang. Kamu akan meninggalkanku lagi, iya?” Dia menggeleng kuat. “Setelah hari ini, aku tidak akan meninggalkanmu, Rin. Aku janji, kamu mau memberiku kesempatan kan?” Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan. “Alfan, kamu datang di waktu yang tidak tepat, Al. Dulu… kamu yang menyuruhku untuk mengganggapmu sudah mati, aku sudah melakukan itu. Sesuai keinginanmu, Al. Dan… kamu juga yang berkata bahwa aku tidak usah lagi berharap bisa bertemu kamu kan?” Aku menunggu jawabannya, tapi dia tetap diam.
“Hanya karena rindu, kamu mengingkari janjimu sendiri? Al, kamu itu pria. Pria harus bisa teguh pada pendiriannya.” Kali ini dia menunduk dan mengangguk pelan. “Aku memang salah, Rin.” “Pengakuanmu tetap tidak bisa menyembuhkan rasa sakit hatiku, Al. Aku dulu pernah serindu itu padamu, bahkan mungkin lebih-lebih rindu dari pada apa yang kamu rasakan sekarang, tapi saat itu kamu mengatakan apa padaku, Al? Kamu masih ingat?” ujarku bergetar, aku sudah tidak bisa menahan emosiku. Ada rindu juga marah padanya. Kali ini Alfan menatap mataku yang mulai berkaca-kaca.
“Aku tahu aku salah, Rin. Kamu boleh memakiku sepuasmu, aku memang pantas mendapatkan itu,” ucapnya lembut. Aku menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku. “Apa kamu menganggap sejak tadi aku sedang memakimu?” aku mencoba menormalkan kembali suaraku.
“Rin, kamu mau ke mana?” Alfan berdiri ketika melihatku berdiri dan hendak pergi. “Aku mau pulang.” “Tapi, Rin. Apa aku boleh memelukmu sebentar saja?” Aku mengangguk pelan. “Ya. Kalau itu bisa menghilangkan rindumu.” sedetik kemudian dia memelukku erat, aku balas memeluknya.
Aku memang tidak benci padanya, aku akui, aku juga merindukannya. Sangat-sangat merindukannya, pelukannya masih sehangat dulu, masih bisa membuatku merasa nyaman.
Dia melepaskan pelukannya, “biar kuantar pulang, rumahmu masih yang lama, kan?” “Tidak usah, aku mau pulang sendiri.” “Rin, aku mohon. Ini permintaan terakhirku.” “Al, ini juga permintaan terakhirku. Aku sudah terbiasa tanpamu, Al. Aku sudah bisa pulang-pergi sendiri, aku bukan Rinka yang selalu kamu anggap tidak bisa apa-apa.” “Baiklah.”
Ketika ke luar dari kafe, aku berjalan menuju ujung jalan yang terdapat pertigaan. Di sana, seorang pria yang mampu menyembuhkan dan meluluhkan hatiku kembali setelah patah sepatah-patahnya, sudah menunggu.
Bahkan, dia juga yang menyarankanku untuk menemui Alfan. Dan, dia juga yang mengantarku ke kafe tadi untuk bertemu dengan Alfan. Katanya, “lebih baik kamu temui dia, aku tahu, rindu memang tidak pernah bisa hilang jika belum bertemu.” aku sempat menolak tapi dia mengatakan bahwa aku tidak usah memikirkannya, dan katanya, dia juga tidak akan mempermasalahkan ini di kemudian hari.
“Rindu pada pria masa lalu sudah hilang kan? Berarti mulai hari ini, rindumu sepenuhnya hanya miliku, kan?” ucapnya menggoda. Aku tersenyum malu, “tentu. Hanya akan ada kamu, sekarang dan selamanya, Ardya.”
Di awal tulisan ini, aku mengatakan bahwa aku pernah begitu mencintai seseorang kan? Sekarang, faktanya berbalik, aku sedang begitu dicintai seseorang.
Cerpen Karangan: Salmadmynti Blog / Facebook: Salma Damayanti Hubungi saya di Instagram: @salmadmynti