Kenapa kebanyakan cerita di sinetron, film, novel, komik, atau apapun mengisahkan tentang kisah cinta anak sekolah? Hmm.. Sebenarnya masa-masa sekolah adalah masa-masa yang tak luput dari masalah percintrongan. Entah itu di kisah nyata atau fiksi semata.
Pagi ini Dara sangat enggan untuk memasuki ruang kelasnya. Ada sebab pastinya. Sejak dia dan salah satu teman laki-laki sekelasnya sering dijodoh-jodohkan, ia menjadi sangat enggan bahkan malas untuk bersekolah. Bukan apa-apa. Tapi laki-laki tersebut adalah gebetan sahabatnya sejak dua tahun terakhir. Beruntungnya, Bitta, sahabat Dara tidak mengetahui tentang masalah ini. Karena bagaimanapun, Dara tidak ingin mengkhianati sahabatnya sendiri.
Giovano Emerald, atau laki-laki yang kerap disapa Vano itu adalah laki-laki yang akhir-akhir ini digosipkan dengan Dara. “Ehm.. Lo mau di situ sampai kapan?” Suara itu mengagetkan Dara yang sedari tadi berada di depan pintu kelas. Tanpa menjawab, Dara langsung pergi meninggalkan Vano yang barusan bertanya padanya. Vano hanya tersenyum jail melihat Dara yang sudah pergi berlalu.
“I put my heart into your hands.. Here’s my soul to keep.. I let you in with all that I can.. You’re not hard to reach.. And you’ve bless me with the best gift.. That I’ve ever known.. You give me purpose..”
Dara menutup rapat-rapat telinganya saat mendengar sebuah suara merdu melantunkan lagu tersebut. Padahal merdu, kenapa Dara tutup kuping? Sambil merem lagi. “Woy.. Ngapain sih lo tutup-tutup kuping segala?” Sebuah suara tiba-tiba harus membuat Dara membuka telinganya. “Sherly.. Ngg.. Nggak kok.. Siapa yang tutup kuping sih?” Sahut Dara mencoba menyembunyikan sesuatu dari Sherly. “Orang gue tadi lihat dengan mata kepala gue sendiri. Kenapa sih lo?” Sherly malah menjadi kepo. “Tuh..” Dara melirik ke arah Vano. “Kenapa? Suaranya Vano kan lumayan bagus.” “Sebenernya.. Gue takut baper sama Vano. Dengan nyanyi kaya gitu, dia bisa aja bikin gue baper dalam sekejap.” “OMG Daraaaa.. Apa gue nggak salah denger?” Sherly nampak tak percaya. Sedang Dara hanya mendengus kesal. “Lupain deh. Mending sekarang kita ganti baju olahraga. Bentar lagi masuk jam olahraga kan?” Tanpa menunggu jawaban dari Sherly, Dara langsung berlalu dengan membawa sesetel seragam olahraganya.
Dara tampak murung ketika sedang melakukan pemanasan di pinggir kolam renang. “Kalau sudah selesai pemanasan, langsung masuk ke kolam dan lakukan renang gaya bebas terlebih dahulu. Apa disini ada yang belum bisa berenang?” Tanya Pak Angga, guru olahraga di kelas Dara. Dengan ragu dan enggan, Dara mengangkat tangan sambil menundukkan kepala karena malu. Karena disana hanya dia yang tidak bisa berenang. “Nggak papa, Dara. Nanti belajar sama temennya.” Pak Angga menenangkan. Sedang Dara hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tak berani mengangkat wajah karena ia tahu kalau Vano sedang mengamatinya.
Waktu pemanasan selesai dan seluruh siswa memasuki air satu persatu. Melakukan renang gaya bebas seperti perintah Pak Angga tadi. Disaat semua telah masuk ke dalam air, Dara masih duduk berjongkok di tepi kolam. Untuk menyentuh airnya saja ia tak berani. “Woy.. Ngapain lo jongkok di situ? Ini kolam renang, bukan kali tempat lo buang air. Haha..” Ledekan itu tiba-tiba keluar dari mulut Vano. Sedang Dara hanya diam tak menanggapi karena mukanya telah berubah menjadi merah padam. “Dara.. Buruan nyebur ke air? Takut amat sih. Emangnya lo fobia air? Atau jangan-jangan lo itu mermaid, jadinya nggak boleh nyentuh air kalau nggak mau berubah. Haha..” Vano tak henti-hentinya meledek Dara. Padahal muka Dara sudah merah padam akibat malu..
“Dara.. Lo nyebur dong. Nanti gue ajarin renang deh.” Tiba-tiba Sherly muncul dari dalam air. Lega sekaligus bahagia dirasakan Dara. Akhirnya dengan hati-hati Dara memasukkan tubuhnya ke dalam air yang tingginya mencapai dagunya. Sensasi dingin mulai ia rasakan. Saat kakinya mencapai dasar lantai, ia tak sengaja menginjak benda licin yang mengakibatkan dirinya terpeleset. Dara yang tidak bisa berenang gelagapan di dalam air. Ia tidak bisa berpikir karena ia tidak bernapas. Vano yang melihat kejadian itu dengan sigap langsung berenang ke dalam air dan segera menolong Dara. Diraihnya tubuh Dara dengan sigap dan dibaringkannya Dara yang tak sadarkan diri di tepi kolam. Seluruh siswa menghentikan kegiatannya dan bergerak mendekat ke arah Dara dan Vano. Vano yang mulai panik menepuk-nepuk pipi Dara. “Dar.. Dara bangun, Dara”. “Ada apa ini?” Pak Angga tiba-tiba datang. “Dara tadi tenggelam, Pak.” Jawab Sherly. Pak Angga hendak mendekat ke Dara, tapi.. “Pak, biar saya aja.” Sergah Vano. Ia pun langsung menekan dada Dara hingga Dara bangun terbatuk-batuk dan memuntahkan air yang tadi tertelan. Orang pertama yang Dara lihat saat ia bangun adalah Vano. “Lo nggak papa kan, Dar?” Tanya Vano. Tanpa menjawab dan berterimakasih pada Vano, Dara langsung bangkit berlalu meninggalkan tampat tersebut. Tak peduli orang-orang memperhatikannya. “Daraaa..” Sherly mengejar Dara.
—
“Dara. Gue anter pulang yuk!” Vano menghetikan motornya. Dara masih terus mendiamkan Vano dan terus melanjutkan jalannya. Vano turun dari motornya dan mengejar Dara. “Dara.. Sampai kapan lo diemin gue?” Vano menggenggam lengan Dara dari belakang. “Vano, lo bisa nggak sih kalau nggak gangguin gue?” Berontak Dara. “Jadi lo ngerasa terganggu ya sama gue?” Tanya Vano memastikan. “Iya.” “Kenapa sih, Dar?” “Lo berhenti bikin gue baper deh, Van!!” Dara berkata tegas dan sekenanya. “Hhhh.. Baper? Lo takut jatuh cinta sa..” “Iya!!!” Sergah Dara. Vano menepukkan kedua tangannya ke pundak Dara dan menahannya di sana. Ditatapnya mata gadis itu lekat-lekat. “Emang kenapa sih, Dar kalau lo suka sama gue? Kenapa lo nggak biarin aja perasaan itu ada?” “Karena gue masih bisa jaga perasaan sahabat gue” “Gue ngerti maksud lo. Walaupun gue nggak tahu siapa yang lo maksud sebagai sahabat lo. Tapi seenggaknya lo juga bisa hargai perasaan gue ke elo.” Dara tahu kemana arah pembicaraannya. “Lupain deh, Van.” Dara melepaskan diri dari Vano dan pergi meninggalkannya. Vano tak mengejarnya lagi. Tapi hatinya berulang kali mendengus kesal.
—
“Bitta.. Lo apa kabar? Lama ya nggak ketemu.” Dara merangkul tubuh sahabatnya itu. “Baik kok. Oh iya, gue denger lo sekarang satu kelas ya sama Vano?” Tanya Bitta sembari melepaskan pelukannya. “Iya. Ngomong-omong, lo masih suka sama dia?” Dara balik bertanya. “Nggak sih. Soalnya sekarang gue udah ada pacar, namanya Reno. Kenapa?” “Oh, nggak papa kok.”
—
Berulang kali Dara terus mengetik dan menghapus teks pesan di layar ponselnya. Hingga akhirnya ia berhasil menulis dan mengirimkan pesannya yang tertulis, “Vano, bisa ketemuan nggak? Gue tunggu di taman kota ya.” Entah apa yang merasuki gadis ini, tapi tanpa disuruh dan belum menerima balasan dari Vano, ia langsung bergegas menuju taman malam itu.
Angin malam berhembus menyentuh kulit Dara yang sedari tadi menunggu kedatangan Vano. Ia mulai jengah, tapi tidak hatinya. Air muka kepanikan bergelayut di wajahnya. Akhirnya ia pun merasa lelah. Ia berdiri dan menghadap bulan. “Vano.. Gue ini cewek yang paling bodoh di dunia. Gue tau lo naruh perasaan sama gue. Sama, Van. Gue juga suka sama lo. Maafin gue, Van. Sorry..” “Serius??” Sebuah suara riba-tiba terdengar tepat di belakang Dara. Ia menoleh. Didapatinya Vano yang tersenyum jail. Entah apa penyebabnya, Dara tiba-tiba menangis sesenggukan saat tahu Vano datang. “Dara.. Sekarang, kita kan udah saling tau perasaan satu sama lain. Jadi..” “Jadi apa?” “Jadian.. Bukan jadi-jadian..” “Mm.. Maksudnya apa?” “Dara, kamu mau nggak jadi pacar aku?” Dengan yakin Vano Berkata demikian. “Apa perlu aku harus jawab? Seharusnya kamu udah tau jawabannya.” “Apa?” “IYA..” “Yesssss.. Gue sayang sama lo, Dar. Ehh, maksudnya aku sayang sama kamu, Dara.” “Hhh.” Dara hanya tertawa renyah.
TAMAT
Cerpen Karangan: Hayu Sukma Wardani Blog / Facebook: Hayyunoo Shenju Hay .. Namaku Hayu dan usiaku 14 tahun. Aku menulis hanya untuk mengisi waktu luang saja. Jadi maaf ya kalau ceritanya jelek dan berantakan .. ^_^