Cacian itu saya terima dalam hati. Mengalir deras dalam ingatan dan memposisikannya sebagai hal terpenting yang tak boleh terlupakan. Tak ada dendam, dan tak ada balasan caci. hanya kebisuan yang aku berikan, Dia pergi dan aku tetap disini menanti. Ternyata, Membisu itu anugerah!
Karena Baik tak selalu baik, salah tak selalu salah, kadang mereka bertukar posisi sesuai situasi.
“kamu kenapa lemes gitu Lang? Gara-gara dia lagi? Udahlah lupain Lang!” komentar Mita tanpa dosa dengan tangan yang masih menempel di bahuku.
Aku akan menjaganya.
Cacian itu terus terngiang di telinga dan terulang-ulang dalam ingatan secara otomatis. Tak bisa aku membenci, tak bisa aku pergi. Cacian itu diselimuti dengan kesombongan yang kuat, dibungkus kemunafikan yang terdidik dan diluapkan dengan aliran yang lembut. Dalam cacian itu hanya ada satu kesimpulan; aku salah dan dia benar. Aku tak tau salahku tapi dia tau salahku, aku tak tau benarnya tapi dia tau benarnya.
Ternyata Pengorbanan tak selalu membutuhkan imbalan.
Mengapa waktu begitu cepat saat kita dekat, dan saat kita jauh justru terasa melambat. Padahal ia masih sama di dalam detak. Mungkinkah karena kita diuji jarak. Jika Dia mulai merasa lemah dan ketakutan, membutuhkan kekuatan dan dukungan seseorang. Aku bisa memberikan tanganku untuk Dia genggam. Meski nanti masalahnya tak akan berkurang, setidaknya Dia akan merasa lebih baik karena mendapat dukungan dari orang yang menyayanginya.
Memikirkan itu tenggorokanku pun ikut kering, erang kesakitan sudah tidak lagi berguna. tak ada yang benar-benar sakit di tubuh ini hanya saja dada rasanya tertindih, terdorong dan terkhianati. Sepintas Memori itu kembali bersama lantunan caci yang merdu sekali. Kenangan saat kita masih sama-sama percaya akan cinta sejati. Kenangan saat kita masih percaya bahwa semua yang diinginkan harus diperjuangkan. Waktu itu, Kita ukir seluruh dinding-dinding masa depan dengan nama kita, kau genggam erat dan kau tarik tanganku mengikuti langkah kakimu yang semakin cepat. Aku mengikutimu, aku mempercayai genggamanmu.
Sesekali kau ajari aku terbang, kau ceritakan indahnya awan yang pernah kau duduki. Aku mengikutimu, aku mempercayai ceritamu. Lama sekali kita diskusikan tentang aku dan kamu, tentang kita. Diskusi selesai kita sepakat bersama selamanya. Selamanya bersama aku dan kamu. Aku lega, aku percaya kesepakatan itu. Hingga suatu saat kau bilang padaku tepat setahun sebelum hari dimana kita menyepakati hasil diskusi itu.
“Lang!!! kamu terlalu baik buat aku. Keputusanku sudah bulat, aku tak mencintaimu lagi, aku tak menginginkanmu lagi. Aku bosan denganmu, sudahlah lupakan semuanya, cinta itu bukan idealis. Cari yang lain yang sama-sama mencari cinta sejati. Aku gak bisa kau kekang dalam imajimu.” Katanya dengan tatapan meminta belas kasihan. Suaranya lembut, Dia sengaja tak ingin menyakiti telingaku. “bagaimana dengan janji kita? Dengan kenangan-kenangan kita?” suaraku lirih dengan mata yang tak kalah mengiba darinya. “sudahlah, itu dulu. Aku bukan anak kecil lagi, perjalananku masih panjang, aku masih harus menyelesaikan kuliahku, aku masih harus kerja, dan gak mungkin aku bersamamu terus. Terserah kau mau bilang aku munafik, atau apalah. Intinya aku sudah gak mau ada hubungan lagi,” jawabnya dengan nada lembut dan muka yang berseri-seri.
Aku akan menjaganya.
Aku tau apa yang sedang kualami. Rasanya sulit dijalani. Bayangkan, disaat kita sedang mencintai seseorang, pasti kita akan cenderung untuk memberikan perasaan kita sepenuhnya, dan manakala seseorang itu pergi, rasanya sebagian dari kita telah lenyap.
Kukira itu normal. Itu adalah bagian dari suatu proses berduka. Tetapi cepat atau lambat, aku harus bisa menerima sepenuhnya, meskipun sebagian dari diriku masih berharap akan bisa kembali bersama-sama. Aku hanya bisa menunggu untuk melihat perkembangan. Saat itu, aku hanya berharap dia akan berubah pikiran dan mau kembali lagi denganku karena setiap saat aku selalu ingin kembali dengannya!
“Move on dong Lang. Tak cariin cewek ya?, Dia itu jahat, kok masih kamu perjuangin. Dia aja udah bahagia sama pilihannya, masa kamu cowok kalah. Ahhh… Cemen lo Lang.” Komentar mita dengan tangan sibuk membenarkan ikatan kerudung yang melilit lehernya.
“Apakah cinta segampang itu hilang? Aku tak percaya.” Suaraku lirih dengan langkah pergi mencari udara bersih di luar ruang kantor yang sedikit ventilasi.
Keyakinanku masih utuh, semangatku masih penuh tapi kau sudah jauh. Rasanya baru sebentar kita mengenal, kau ceritakan semua kisahmu. ada sedih, ada senang, ada tragedy, ada asmara, ada fantasy dan ada keluargamu. Aku mengamati, aku merasa memiliki. Tapi aku membisu tak berkisah, tak ada senang, tak ada tragedy, tak ada asmara, tak ada keluarga tapi kau pun mengamati, dan kau pun merasa memiliki.
Berkali-kali kutanyakan pada diriku terdalam kenapa aku mencintainya? Tak ada terkaan, tak ada bisikan yang datang. Aku mencintai tapi tak tau kenapa mencintai. Jika suatu hari nanti kutemukan jawaban itu, maka saat itu juga aku tak mencintaimu lagi. Karena apa yang kucintai dalam dirimu pasti ada dalam diri orang lain, bahkan aku bisa cari yang lebih baik. Aku selalu berdoa agar hari itu tak akan datang dan tak akan pernah ada.
Saat itu, ketika aku bertanya-tanya tentang kamu, apakah kamu juga bertanya-tanya tentangku? Di saat aku sedang merasa rindu, apakah kamu juga merasakan hal yang sama, meskipun kamu sudah senang dengan kehidupan barumu? Ingin sekali ku pecahkan kebisuanku ini dengan ledakan. Ingin rasanya kupandangi bola matanya lama. Hingga terlihatlah wajahku disana. Sambil berusaha memberikan pengertian, berusaha memberikan rasa aman, dan harapan. Harapan akan segera pulang. Pulang membawa banyak uang agar suatu hari nanti tak perlu lagi kerja dan tinggal menua bersama.
Jika hari itu tiba, kita akan menjelajah dunia. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara. Bermain dengan penguin-pinguin di Cape Town selatan Afrika. Menyeruput pina coklat di Huawaii sambil menyaksikan tarian Bora-bora. Kalau perlu, kalau dia mau, aku akan membeli rumah berikut taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang bangkrut. Membeli apapun yang ia inginkan semudah orang membuang kentut.
Tapi tidak mudah memberikan sejuta harapan. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Mungkin jika hari itu tiba, aku beribu-ribu kali hanya bisa pulang membawa sedikit uang. Hanya cukup untuk makan sekedar, bayar listrik, air, telpon, kontrakan, dan sekolah anak-anak kita yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Dan aku tetap akan pergi. tetap akan pulang. Kamu tetap membiarkan aku pergi. Dan tetap menungguku pulang. Hingga nanti kau membiarkanku pergi dan tak menungguku pulang.
“Capek ah nunggu, aku sudah mau tidur!” semprotmu.
Aku akan menjaganya
Air asin itu mendarat di bibirku lagi. Kamar kos gelap menjadi markas depresi tingkat tinggi. Sudah jam tujuh pagi. Sudah waktunya kerja. Aku harus segera bergegas. Tapi kepalaku masih dipenuhi pikiran. Apakah dia benar-benar mencaci? Apakah tak ada jalan lagi untuk kembali? apakah dia tak merasakan sakit hati? Jika dia mencintai kenapa harus menyakiti?
Aku takut kehilngan. Kehilangan sesuatau yang tak berwujud. Kehilangan sesuatu yang bukan aku pemiliknya. Aku takut kehilangan yang aku sendiri tak tau akan kehilangan apa. Mungkin kamu, mungkin juga cintamu, senyummu, perhatianmu, pelukmu atau imajiku tentang kita. ketakutanku bersumber darimu. Atau bersumber dariku sendiri,
Tak pernah kurapikan kamarku, bergegas ku raup jaket dan jam tangan darimu yang sedari dulu tenang dalam kenang. Aku tak ingin terlambat lagi, jika ingin gaji tetap sesuai janji. Tak ada yang bisa kunaiki hanya kaki dengan sepatu kumuh berdebu yang tau berapa waktu untuk sampai di kantor. Semakin cepat gesekan sepatu ini dengan tanah maka semakin cepat datangku tak terlambat. Teman kerjaku tau aku tak beroda dua apalagi empat. Jadi dia menawarkan solusi antar jemput gratis. Akupun mringis dengan kepala naik turun elastis. Akhirnya! Sepatuku tak terlihat kumuh lagi.
Hari-hari ketika cacimu datang aku hanya tidur terlentang dengan guling terjepit di selangkangan. Menatap langit-langit kos yang tak berbintang dan tak berawan. Ada lampu mini di langit itu tapi tak pernah kuhidupkan. Gelap itulah rasanya hari dimana cacimu datang.
Akhirnya hujan turun menyirami hatiku yang kemarau sejak kau tinggal, meski sedikit menggigil oleh kenang, kubiarkan hujan menyeka semua luka perpisahan yang masih belum sembuh benar. Aku tak memaksamu kembali, biar rindu saja yang membawamu kesini. Saat hatimu mulai disiksa sepi tanpa aku disisi. Kamu adalah setumpuk rumit teka-teki yang jawabannya masih kucari.
Hingga hari itu tiba, Aku tak tahan akan kebisuan yang menerjemahkan keadaan. Akhirnya kubuatlah janji pertemuan dengannya. Tekatku bulat, aku ingin meledak. Ledakan yang kuat dan tepat. Kusiapkan amunisi argumentasi untuk membuatnya kembali. niatku Cuma satu, aku ingin membuatnya kembali. dan mulai kisah ini dengan hati yang baru lagi.
“kamu maunya apa sih? Kalo akunya gak mau, trus kamu bakal maksain gitu? Udahlah. Yang pasti aku udah gak sayang. Aku udah gak mau lagi. Kamu mau tau kenapa aku meninggalkanmu?” jawabnya cepat dengan muka yang masih berseri-seri. “iya, aku ingin tau semuanya.” clotehku dengan mata layu menatap mata itu. “kamu itu munafik, banyak janji yang kau ingkari tapi kau tak peduli. Kamu Cuma peduli cinta, kamu Cuma punya cinta. Buat apa? Aku tak bisa kenyang hanya dengan cintamu. Urus dirimu dulu, baru perjuangin aku. Dan Selama aku denganmu tak ada kemajuan di hidupku. Stagnan. Aku bosan akan itu tapi kau terus meninggikan konsep cintamu. Aku muak dengan semua itu. Kamu munafik”. Jawabnya dengan muka yang tak berseri-seri lagi.
Aku akan menjaganya
Akhirnya, aku pergi meninggalkannya. Aku pergi dengan seluruh tubuhku yang masih ingin kembali dalam dekapannya. Tersenyum sendiri aku menatap langit, sambil membayangkan duduk berdua denganmu dipangkuan bulan sabit. Bersama menatap segala keindahan sampai mata hari terbit. Hingga aku kembali tersadar bahwa mencintaimu itu sakit. Karena semua yang indah hanya kudapat dari khayalanku saja. Andai merelakan kau pergi semudah menerima kau datang, andai perpisahan tak pernah meninggalkan kenang mungkin aku sudah melepasmu dengan senang. Sayang ini tak semudah terbayang karena aku terlanjur kau buat sayang.
Hatiku tidak patah hanya saja sedikit berdarah karena tergores ketajaman lidah. tapi tidak apa-apa aku tidak marah. Terkadang, aku hanya ingin mengenang. Tanpa ingin mengulang. Aku hanya rindu pada yang hilang. Aku membisu dengan tangan di saku jaket yang lusuh. Tak ada ledakan, tak ada benturan argumentasi, aku membisu kembali. dalam pertemuan itu hanya ada satu kesimpulan; dia benar dan aku salah. Aku pernah mencintaimu dengan susah payah hingga hati kurelakan berulangkali patah. Sampai akhirnya aku memilih untuk menyerah karena mencintaimu tanpa dicintai lagi itu lelah.
Peristiwa-peristiwa itu sungguh membangkitkan perasaan yang kuat! Sebagai sebuah kenangan yang tak akan pernah kulupakan, untuk dikenang berulang-ulang. Bagaimana aku amat sangat gembira oleh sebagian besar waktu yang pernah aku habiskan bersamanya.
Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kita dapat dari situ. Masa lalu bukan untuk didebat, itu sudah bagus. Biarkan.
Kalau dulu aku berkata aku mencintai dirimu, maka kukira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap dan berlaku tidak hanya sampai hari itu, melainkan juga hari ini, dan untuk selama-lamanya.
Jika suatu hari kau menemukan lelaki lain, aku harap lelaki itu sebahagiaku waktu mendapatkanmu. Aku harap lelaki itu tak punya niat buruk padamu, selalu mendampingimu, selalu membuat pipimu mengembang. Yang paling penting dia mau berjuang buat masa depanmu. Tak egois sepertiku. Lelaki itu harus bersyukur bisa mendapatkan seorang periang dan dermawan sepertimu.
Dia tidak meninggalkanku, Aku hanya membiarkan Dia pergi. Jangan berpikir Aku kehilangannya, Dia yang kehilanganku.
Aku akan menjaganya
Aku kembali ke kamar kos. duduk diatas tempat tidur dan memutar kembali memori pertemuan itu. Tanganku masih terdiam dalam saku jaket lusuh sedang menggenggam kertas. Surat itu kubuat malam sebelum pertemuan. Ingin kuberikan padanya tapi aku lupa. Karna waktu kita bertemu, aku sibuk menyimaknya, menatap matanya dan menyesali kesalahanku padanya, walau aku tak tau pasti yang mana. dan akhirnya Kubuka kembali kertas itu.
Jujur! Sampai saat ini aku masih belum menemukan jawabannya. Antara terus berjuang atau berhenti. Hatiku terus berteriak jika Dia masih mencintai. Itulah alasan aku masih bertahan sejauh ini. Walaupun aku tak bisa selamanya menanti. Aku yakin siapapun itu pasti akan menyerah jika orang yang ia kejar tak pernah menoleh, termasuk aku.
Surat untuk Dewi Puspita Anggraini. Kau ajari aku tentang putih Tapi kau sendiri menghitam. Kau tunjukkan aku jalan Tapi kau sendiri tersesat. Kau bimbing aku menjadi baik Tapi kau jahat padaku. Kau suruh aku menyayangimu Tapi kau membenciku. Aku kau suruh selalu setia Tapi kau malah minta berpisah. Aku kau suruh berubah Tapi kau tambah parah. Aku kau suruh memperjuangkan Tapi kau terlentang di tengah jalan. Aku ingin kau juga sama denganku, Menjadi baik bersama, memutih bersama, Bersama saling memberi, berdua saling melengkapi. Beri sedikit waktu untuk kita perbaiki, aku dan kau yang itu. Kita buat aku dan kau yang baru dengan sembilu biarlah berlalu. Air asin itu masih saja menetes ketika kebaikan yang kulakukan ini berasal darimu. Kesabaranmu yang dulu mengajariku, kau bilang “jika kita tanam kebaikan maka akan tumbuh kebaikan pula. Tapi itu juga berlaku sebaliknya”. Aku terus menanam bibit kebaikan itu padamu, sambil berharap akan tumbuh darimu untukku.
Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana engkau padaku, terserah itu urusanmu. Dewi Puspita Anggraini, Terima kasih, kau pernah mau padaku. Dan kini, biarkan aku, kalau selalu ingin tahu kabarmu.
Aku rindu! kau harus tau itu slalu. Dari: Gilang Pratama, yang masih mencintaimu.
Aku akan Menjaganya. Malang. 22 september 2017, 20:45 WIB
Cerpen Karangan: Dilan Ich Blog / Facebook: Ichsani_baladewa[-at-]yahoo.co.id jenis kelamin laki-laki. bernafas menggunakan paru-paru sama seperti seekor paus.