Ajeng Entah sudah berapa kali Ajeng memberikan tatapan indah kepada dirinya, rambutnya yang sebahu ditambah lagi mata dengan pupil berwana biru, serta lesung pipi yang tak pernah alfa dalam semeringai senyum lembutnya. Malam itu disertai dengan hujan lebat suasana café sultan sedang tidak bersahabat, di meja nomor 08 duduk 3 orang remaja, sepintas orang melihat mereka bertiga adalah kakak beradik, bagaimana tidak? Dua pria dengan satu wanita lah yang berada tepat di meja itu.
Ajeng nama wanita itu, di depanya duduk 2 pria, Carla dan Agus, sudah hampir 3 bulan Ajeng menjalani hubungan dengan mereka, Carla sebagai pacarnya dan Agus sebagai temannya, entah apa yang membuat Carla begitu berani untuk membawa teman prianya disetiap saat mereka melakukan kencan, dan tak dapat dipungkiri, sekarang sudah yang ke 10 kali mereka melakukan itu, ya semua akan berpikir bahwa Ajeng akan jatuh rasa pada Agus, teman baik Carla. Dan memang semua itu terjadi, rasa itu tumbuh disertai dengan 10 malam kencan itu terjadi, dan rasa itu semakin tumbuh dengan percakapannya dengan Agus via fb yang begitu lancar terjadi, iringan canda tawa dan perhatian selalu tercurahkan dalam percakapan itu, apakah ini yang disebut dengan cinta sejati itu?
Disetiap doa Ajeng, selalu terucapkan akan harapan-harapan yang selalu tercetak jelas dalam hidupnya, seolah apabila harapan itu terkabulkan maka dia akan bahagia selama-lamanya. “wahai sang pencipta langit dan bumi ini, hari ini aku ucapkan kembali harapan-harapan itu, engkaulah yang mengatur semua kejadian di bumi ini, buatlah Carla untuk memutuskanku, sungguh aku ingin cepat mengakhiri drama ini, aku ingin Agus lah yang memilikiku, aku tidak ingin yang menjadi pengakhir hubunganku dengan Carla, apakah setelah aku memutuskan Carla, Agus akan mendekat kepadaku? Tapi percakapanku dengan Agus selama ini adalah bukti rasa yang dimiliki oleh Agus, tapi sesungguhnya hanya engkau yang mengetahui isi hati Agus wahai sang pencipta, apakah setelah aku memutuskan Carla, kemudian dengan kebesaranmu, aku dimiliki oleh Agus, akankah hubungan Agus dan Carla akan membaik? Aku hanya ingin Agus memilikiku tanpa harus merusak hubungan persahabatan Agus dengan Carla” tangis lah yang mengakhiri di setiap doa-doa Ajeng.
Akankah Agus memiliki rasa dengan Ajeng? Salahkah bila Ajeng mencintai Agus? Pertanyaan itu selalu menggelantung dalam pikiran Ajeng. Ajeng tidak ingin mengorbankan perasaan sahabat antara Carla dan Agus yang telah mereka bangun sejak SMP, namun dia juga tidak ingin mengorbankan perasaanya. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Carla Sungguh tak bosan Carla melihat senyum dan muka datar dari pasangannya Ajeng, sudah 10 kali mereka melakukan kencan di tempat yang sama yaitu café sultan, berbeda dengan kencan yang sering dilakukan orang, kencan yang dilakukan Carla dan Ajeng berbeda, jika ada ungkapan orang “hati-hati ada orang ketiga waktu kalian berduan dengan pasangan kalian” dan itu semua benar terjadi. Takut? Tidak tentunya bagi Carla, bahkan dia lah yang menggundang pihak ketiga itu. Agus namanya, sahabat sejati Carla sejak SMP. Bercerita sedikit tentang Agus, sudah sejak SMP mereka bersahabat, definisi Agus tidak begitu mencolok, tinggi, kulit putih, warna mata coklat, rambut hitam cepak, namun kepribadian Agus begitu mencolok bagi sahabatnya sendiri yaitu Carla, sejak SMP Agus tidak pernah menyinggung soal tentang wanita sedikit pun tidak, hanya anime lah pembahasannya setiap hari, berbeda dengan Carla, sudah berapa wanita yang dia dapatkan, SMP saja 14 mantan dia punya, bagaimana tidak, tinggi, putih, rambut mowhak, pemain basket unggulan SMP, juara kelas, dan ketua OSIS, semua itu sudah menjelaskan betapa tenarnya Carla, namun seiring berjalanya waktu, ternyata Agus tidak mengalami perubahan, bahkaan setelah kuliah semester 3 jurusan psikologi UNY, Agus tetap tidak pernah menyentuh bahkan mungkin hilang sudah kata wanita dalam kamus hidupnya, lantas ibunya dia anggap apa?
Sempat ketika SMA Carla bertanya kepada Agus tentang wanita idamanya, dan Agus hanya menjawab “yang tidak neko-neko rla”. Prihatin dengan keadaanya, Carla dengan kebesaran jiwanya, memikirkan jalan yang sungguh tidak logis, apa itu?
Sudah 5 bulan Ajeng menjadi pacar Carla, dari situ Carla menyebut Ajeng sebagai wanita yang tidak neko-neko, seperti yang diharapkan Agus, bagaimana tidak, make up tidak pake, sampo pake sachet-an, sandal swallow warna biru, tas gambar princess layaknya anak SD, padahal dia anak seorang pejabat, ketika ditanya dia hanya menjawab “pengen cari yang bener-bener tulus”
Malam itu Carla menemui Agus dan mengajaknya, untuk ikut kencan dengan Ajeng. Menolak? Tentu, tapi akhirnya Agus mau setelah Carla mengatakan “aku pengen kamu kenal sama cewek, kamu bisa belajar sama aku dan Ajeng, aku kasian liat kamu, ingat ibumu itu cewek, jangan sampai kamu gak kenal sama gak perhatian dengan cewek”.
Carla begitu besar hatinya, bahkan dia menyuruh Agus untuk menge-chat Ajeng, Carla bilang “chat-lah si Ajeng, belajar ngomong sama perempuan, aku izinin kamu karena aku benar-benar kasian sama kamu” Agus pun memeluk sahabantnya setelah dia diantar pulang dari kencan itu.
Sungguh tak logis? Carla ingin mennjodohkan Agus dengan pacarnya Ajeng? Jawabanya iya Bahkan doa-doa Carla selalu terlantun di setiap malam, “wahai penciptaku, aku relakan Ajeng untuk kau jodohkan dengan Agus, tapi dengan satu syarat aku hanya ingin Ajeng lah yang memutuskanku, aku tidak ingin memutuskan Ajeng karena aku melihat cinta yang begitu besar ketika melihat Ajeng tersenyum pada ku disetiap kencanku, aku tidak ingin perasaan Ajeng tersakiti, aku harap Agus bisa menggantikan namaku di hidup Ajeng, aku harap chat yang dilakukan Agus pada Ajeng bukan hanya sebagai tempat belajar Agus, tapi sebagai tempat berlabuhnya perasaan Agus” doa diakhiri dengan nafas tersenggal dari Carla, mengingat fakta bahwa pria lebih susah menangis.
Tahukah Carla kepada siapa senyum Ajeng selama ini ia berikan? Hanya waktu yang bisa menjawab
Agus Sedang duduk seorang pria, di taman wifi.id jambi, tawanya tak berhenti ketika dia melihat adegan anime one punch man, siapa lagi? Agus tentunya, episode ketika saitama menghajar lalat ditundanya, karena sahabatnya sejak SMP datang, siapa lagi? Carla tentunya, tak diduga-duga Carla meminta agar dia ikut bersama dia, menikmati kencan dengan pasanganya Ajeng. Agus menolak mentah-mentah, dia ingin menikmati anime itu, namun perkataan Carla dengan mata yang merah dan sedih, meluluhkan hati dan jiwa perasaan Agus. Carla ingin Agus mengenal wanita kembali bukan saja anime dan anime. Berangkatlah mereka, tak disangka setelah pulang dari kencan malam itu, Carla memerintahkan Agus untuk menge-chat Ajeng, namun Carla meyakinkan bahwa dari situ dia bisa belajar tentang wanita. Layaknya anak SMP ketika awal sekali mengenal pacaran, pertanyaan basi dari Agus selalu menghiasi malam Ajeng, lagi apa?, udah makan atau belum? Udah minum? Udah nyuci piring yang tadi buat makan atau belum? Padahal Ajeng lagi makan di restoran, yah mau dikata bagaimana lagi, Ajeng mempunyai rasa cinta tanpa alasan terhadap Agus, setiap malam Ajeng mengajarkan kepada Agus bagaimana agar wanita tidak bosan kepada dia, dan Agus selalu berhasil mempraktekanya kepada Ajeng, bahkan Ajeng pun lupa jika itu adalah ajaran darinya, Ajeng dan Carla tentunya tidak bekerja sama untuk mendidik Agus soal wanita, hal itu timbul lumrah karena rasa persahabatan dan cinta, tapi Agus tidak mengetahui tentang itu semua, dan setiap mengakhiri percakapan dengan Ajeng Agus selalu berdoa “sungguh engkau adalah maha baik, engkau telah memberikan orang-orang seperti Ajeng dan Carla, orang-orang yang begitu sabar untuk mendidik ku dalam persoalan wanita, mereka berdua benar-benar kompak dalam mengajariku, Carla mengizinkan aku menge-chat Ajeng, itu pun sudah mereka rencanakan, buktinya setiap malam Ajeng mengajariku bagaimana cara agar wanita tidak bosan denganku, bulan ini aku memberikan sebuah hasil dari pembelajaran mereka kepadaku” berbeda dengan Ajeng dan Carla doa Agus selalu diiringi rasa gembira.
Hari-berganti minggu Minggu berganti bulan Malam pembuktian yang dipikirkan Agus telah tiba, di café sultan telah duduk Ajeng dan Carla, sepasang kekasih yang sudah bertemu di malam yang indah, malam itu langit jambi sedang bersahabat, namun anehnya mereka masih menunggu 1 orang lagi, benar-benar kencan yang aneh, 5 menit kemudian Agus datang.
Malam itu langit sangat-sangat bersahabat, namun tidak bagi Carla dan Ajeng, mereka terlebelalak keget ketika melihat Agus datang, satu pertanyaan mengelayut dalam pikiran Carla dan Ajeng. “siapa wanita yang dibawa oleh Agus?” Agus pun bingung, apa yang membuat mereka kaget dan terlihat bingung, namun sebelum itu wanita itu tiba-tiba memperkenalkan diri “saya lina, saya pacarnya Agus”, pacar!! Hati mereke berdua meledak mengatakan itu.
Akhirnya Agus pun memulai pembicaraan “aku berterimakasih kepada kalian berdua” bertatapan lah Ajeng dan Carla, semakin bingung mereka dibuat Agus, Agus melanjutkan “karena kalian telah mendidik aku untuk mengenal wanita, aku tahu Carla, engkau dan Ajeng telah bekerja sama, enkau mengajak aku berkencan dengan Ajeng dan engkau sengaja mengizinkan aku untuk menge-chat Ajeng, padahal Ajeng juga sudah tahu tentang itu, buktinya setiap aku berkomunikasi dengan Ajeng, dia selalu memberikan cara-cara berkomunikasi dengan wanita, memberikan pandangan wanita tentang kehidupan, memberikan trik dan tips agar aku tidak terlihat bosan saat berkomunikasi dengan wanita, dan semua itu terbukti, lina wanita yang sejak pertama kali aku melihatnya di kampus membuat aku berbunga-bunga, setelah aku mengenal wanita, dengan trik dan tips dari Ajeng tidak lebih dari satu bulan aku bisa mendapatkanya, hehehe makasih ya Ajeng dan Carla kalian berdua sungguh bukti nyata dari baiknya sang pencipta kepadaku” Agus menutup omongannya.
Ajeng sakit hati ketika mendengar Agus mengatakan itu, benarkah Carla telah sengaja membuat Agus menge-chatnya, Carla lah yang membuat hatinya berlabuh pada Agus, Carla yang mengatur semua ini.
Ajeng begitu meluap emosinya “kenapa engkau tak putuskan aku sejak awal Carla, agar aku bisa mendekat pada Agus!!”, Carla hanya mampu menjawab “lalu kenapa engkau selalu memberikan senyum manismu disaat kita bertiga selalu berkumpul disini?”, “pernahkah kau tahu kepada siapa senyum ini kutunjukan” jawab Ajeng, jawaban itu membuat suasana benar-benar hening, burung pun rela memotong sayapnya agar tak terdengar kepakanya.
Siapa yang bisa menyelesaikan masalah ini? Hanya waktu yang menjawab.
The end
Salam author njeh
erpen Karangan: Ilham Setyo Aji Blog / Facebook: ilham setyo aji bersekolah di MAN INSAN CENDEKIA JAMBI