Aku melangkahkan kaki menuju ruang kelas, suasana tampak ricuh teman-teman berkumpul entah apa yang mereka perbincangkan aku tak peduli. Hari ini classmeet karena akan diadakan lomba memasak antar kelas. Aku duduk dan menaruh kepalaku di atas meja, aku merasa sangat pusing pagi itu.
“Aleta kamu baik-baik saja, kan?”. Tanya Arga khawatir. “Eh Arga, ngagetin saja, iya aku baik-baik saja kok”. Jawabku sambil tersenyum. “Jangan bohong deh, wajahmu pucat”. Tanya Arga makin khawatir. “Apaan sih, lebay banget kamu, Ga”. sahut Aleta santai “Kamu dengar aku sekali saja kenapa sih Al”. Seru Arga. “Udah ah, aku baik-baik saja Arga jangan khawatir, okey mendingan kita lihat nama deh”. Kataku mengalihkan pembicaraan “Huft iya deh”. jawab Arga menyerah.
Kami pun pergi melihat nama ternyata kami diikut sertakan lomba memasak. Aku hanya terdiam tapi hatiku senang. “Aleta kita sekelompok lomba memasak deh”. sahut Arga “Hem i..iya Arga”. jawabku terbata-bata “Kamu gak kenapa-kenapa kan, Al?”. tanya Arga “Iya Arga enggak apa-apa kok”. Jawabku sambil tersenyum “Ya sudah kita ke panitia daftarin nama dulu ya, cantik”. kata Arga sambil mencubit pipiku.
Wajahku menjadi merah, jantungku berdegup kencang, andaikan kau tahu Arga kalau aku menyukaimu sejak lama. Kami pun jalan menyusuri lorong menuju lapangan untuk mendaftarkan diri ke panitia di lapangan. Selang 30 menit berlalu lomba pun dimulai, kami pun kompak saling membantu. Tiba-tiba aku merasakan pusing luar biasa dan “bruuk!!”, aku pingsan. Arga yang berada di belakangku langsung menangkapku. “Aleta banguun..”. sahut Arga panik. Semua teman-teman dan guru pun ikut panik semua memadatiku karena penasaran apa yang terjadi.
“Sudah semua mundur, Arga kamu bawa Aleta ke ruang UKS sekarang”. Kata bu Wardah ketua panitia lomba Tanpa menjawab Arga pun membawaku ke ruang UKS. Aleta pun segera ditangani oleh dokter sekolah. Arga yang khawatir terus menggenggam tanganku dengan erat.
Setelah pemeriksaan beberapa saat kemudian aku siuman. “Ga, aku kenapa?”. tanyaku. “Tadi kamu pingsan, kamu kenapa gak pernah mau dengar sih kata-kataku kalau udah kayak gini kan aku makin khawatir”. Terang Arga panjang lebar. “Iya, iya bawel amat sih”. kataku sambil menampar pelan pipi Arga. “Biarin, aku kan gak mau kalau sahabatku yang cantik ini kenapa-kenapa”. kata Arga sambil mengelus kepalaku. Aku hanya biasa terdiam, iya aku tahu Ga aku sahabat kamu tapi apa kamu gak bisa melebihkan sedikit perasaanmu kepadaku sejak kecil kita selalu bersama-sama tak pernah kah kamu menyukaiku walau sedikit. “Sampai kapan aku akan menyimpan rasa suka ini?”. kataku dalam hati. “Aleta! melamun apa sih? Diajakin bicara dari tadi gak tanggapi, mikirin apa? Gak usah banyak mikir deh kamu kan lagi sakit”. Gerutu Arga sebel. “Iya maaf Arga kepalaku masih pusing”. Kataku lirih. “Hem sorry deh”. sahut Arga cemberut. “Udah dong jangan cemberut. Hemm.. Ga, aku mau ke kelas deh capek baring disini”. sahutku mengeluh.
Seketika Arga mengendongku dan membawaku ke kelas. Bukannya menurunkanku duduk di kursi ia malah mengambil tasku dan mengantarku pulang dengan mobilnya. “Ya ampun, Ga. Aku makin sayang sama kamu kalau kamu perhatian gini sama aku, tapi kenapa kita cuman sekedar sahabat”. kataku dalam hati. “Al, aku antarin kamu pulang saja ya. Aku takut kamu tambah kenapa-kenapa. Sekalian nanti kita mampir beli bubur aku tahu kamu belum sarapan”. sahutnya menyadarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk dan melemparkan senyum manja kepada Arga. Kami bercanda riang selama perjalanan. Aku selalu bahagia dengannya.
Ting.. Ting.. nada dering handphone Arga berbunyi. Aku melihat pesan dari “Diana”. “Diana? Siapa dia, kenapa aku gak pernah tahu”. kataku dalam hati. Seketika aku merasakan sakit hati yang luar biasa. “Oke kita udan nyampe, cantik” katanya bersemangat. Tanpa menjawabnya aku keluar dari mobil dan berlalu begitu saja dari Arga. Seketika air mata yang sudah kubendung saat perjalanan pecah begitu saja. “Al, Aletaa!!” teriak Arga. Aku tidak menghiraukan panggilannya, aku berlari menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya. “Kamu tega Arga!! Aku tuh sayang sama kamu, kita sahabatan udah lama, tapi kenapa kamu gak ada perasaan sama sekali ke aku!!” teriakku. Arga yang tidak dihiraukan panggilannya menyusul Aleta menuju kamarnya. Arga mendengar teriakan Aleta dari balik pintu, Arga kaget dengan apa yang ia dengar. Mulutnya mulai terkatup tak bisa berkata-kata. Arga pun berlari menuju mobilnya dan pergi. “Aleta kenapa sih kamu gak pernah bilang kalau kamu suka sama aku, aku juga udah lama suka sama kamu, tapi aku takut kamu pergi saat aku ngungkapin ini ke kamu Al, aku gak mau kehilangan kamu” sahut Arga kecewa.
Keesokan harinya, Aleta bersiap pergi ke sekolah seperti biasa tapi hari ini ia tak sarapan membuat mamanya khawatir karena sedari malam Aleta belum makan. “Ma, Aleta sekolah dulu ya” sahut Aleta sambil menyalami mamanya. “Kamu gak sarapan dulu, sayang? Dari malam kamu belum sarapan” ujar mama khawatir. “Enggak Ma, nanti aku sarapan di sekolah saja” jawab Aleta tak semangat. “Tapi beneran ya kamu sarapan di sekolah” pinta Mama. “Iya Mama” kata Aleta datar.
Di perjalanan Aleta masih meneteskan air matanya hingga matanya membengkak. Dia terus saja memikirkan siapa “Diana” itu. Aleta ingin sekali mencari tahu, tapi tidak tahu dengan cara apa. Ia ingin menanyakan langsung pada Arga tapi Aleta sedang tidak mood berbicara dengannya, menatap wajahnya saja tak mau. Tapi bagaimana Aleta saja sekelas dengan Arga Mau tak mau ia pasti akan bertemu dan menatap wajah lelaki yang sudah menyakitinya secara tak langsung. Ketika Aleta sampai di depan pintu kelas Arga pun menyambutnya tanpa merasa ada masalah.
“Selamat Pagi, Aleta yang cantik” sapa Arga dengan senyum hangatnya. Aleta yang masih kesal dan sedih dengan Arga mengabaikan sapaan Arga dan berlalu begitu saja dari hadapan Arga. Arga yang mengerti menyusul Aleta. “Al, pasti kamu belum sarapan, kan? Sebelum kesekolah aku beli bubur ayam kesukaan kamu, dimakan ya” pinta Arga. Aleta yang masih kesal tiba-tiba membentak Arga. “Arga! Kamu bisa gak ganggu aku sehari ini! ” Bentak Aleta. “Oke, aku gak bakal ganggu kamu!” sahut Arga geram.
Sejak saat itu, Aleta bersikap dingin dan acuh pada Arga. Arga yang mengerti berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan mengajak Aleta bertemu. Tetapi, Aleta selalu saja mengabaikan ajakan Arga. Arga pun berpikir keras agar bisa bertemu dengan Aleta. Akhirnya, Arga pun mendapatkan ide.
Too Aleta: Aleta kalau kamu sahabat aku yang baik, kalau kamu memang benar-benar sahabat aku, please. Turuti permintaan aku sekali ini saja. Datang ke dermaga pukul 5 sore. From: Arga
Seusai kegiatan belajar mengajar disekolah Arga pergi menyiapkan surprise kepada Aleta di dermaga tempat kesukaan Aleta melihat senja. Aleta sangat senang melihat senja, ia merasa tenang dan bahagia ketika senja datang. Waktu menunjukkan pukul 5 sore tapi tanda-tanda kehadiran Aleta tak kunjung ada, Arga pun putus asa dan pasrah. Arga pun duduk terdiam di ujung dermaga sambil menyaksikan datangnya senja.
“Al, maafin aku” kata Arga lirih. “Aku udah maafin kamu” ujar Aleta. Arga pun terkejut dengan kehadiran Aleta, Arga pun berdiri dan memeluk Aleta. “Al, kamu jangan jauh lagi, please” pinta Arga “Iya Ga, maafin aku ya karena udah acuhkan kamu 2 minggu ini”. sesal Aleta. Arga pun melepas pelukan, Arga menggenggam tangan Aleta dan menatapnya.
“Al, disaat senja tiba ini, aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu, bahwa aku telah lama menyukaimu. Tapi aku selalu taku mengungkapkannya karena aku takut kamu gak punya perasaan itu sama sekali dan pergi tinggalin aku”. kata Arga menyatakan perasaannya. “Sebenarnya aku juga udah lama suka sama kamu, Ga”. kata Aleta malu-malu. “Kamu mau gak jadi pacarku?”. Pinta Arga. “Iya, Ga. Aku mau”. Ujar Aleta tersenyum. Mereka pun berepelukan dan menikmati hingga senja hilang dari pandangan mereka.
“Aku janji Al, bakal jagain kamu sampai akhir hayatku” kata Arga dalam hati.
Setiap berjalannya hubungan pasti menuntut hak kepastian. Agar yang dilakukan pun tak salah, dan tak mengakibatkan salah paham yang berujung kekecewaan~
Cerpen Karangan: Fauziah Aryani Fajar Putri Facebook: Fauziah Aryani Putri cerpen kedua yang dikirim di cerpenmu.com bersekolah di SMA 1 Negeri Merauke. kelahiran 13 Desember 2002 di Jayapura. Instagram: fauziaharyaniputri