Pada akhirnya aku akan terbiasa hanya menatap pada keheningan. Bukan bias warna-warninya yang mengisi setiap relung pikirku! Pada tempat yang pernah kita singgahi, kembali aku teringat akan janji yang pernah kau ucapkan tentang si pembuat keindahan. Tentang si wanita hujan yang setiap kali menelusuri bekas dari si bianglala…
“Hai…” Sapanya padaku, aku menengok sambil menanggahkan kepala. “Ah tuan, selamat pagi” “Kau masih mencari jejaknya? Percuma saja, kini ia hanya muncul sebentar lalu menghilang” “Ya, aku tahu. Tapi tetap saja, aku merindukannya hingga sangat penasaran! Apakah mungkin kini ia menjelma menjadi sesuatu?” “Entahlah” Kemudian tuan pergi meninggalkanku yang masih terus mencari dijejak bekas hujan.
Malam yang begitu tenang, aku kembali ke pasar malam hanya untuk memandanginya. Sesekali, membeli gula-gula manis kesukaan mereka. Para anak kecil itu selalu riang hanya dengan menjilatinya. Setiap hari, aku selalu ikut mengantri di loket hanya untuk sebuah tiket. Bahkan penjaganya sampai ingat betul wajahku yang tak pernah absen!.
“Silahkan nona…” Pintu kereta itu terbuka, terdapat dua kursi saling berhadapan di dalamnya. Lalu seorang pria menyerobot antrian mendahuluiku masuk kedalamnya. Aku hanya diam menyaksikan itu!
“Ah, silahkan tuan. Saya akan naik pada kereta selanjutnya” “Kenapa kau tak duduk denganku saja, ayo! Masuklah” Ajaknya. “Tidak tuan, nona ini hanya mau duduk sendirian! Biarkan dia naik di kereta selanjutnya” Kata penjaga kereta itu. “Tenang saja, aku mengenalnya. Ayo naik! Masih banyak yang mengantri” “Tuan ini benar, jadi tenang saja. Saya akan naik dengannya pak” Kataku menimpali.
Selama beberapa menit, semuanya hening. Hanya pada keretaku saja, karena yang lainnya seperti biasa bersorak gembira. Kemudian tuan memulai pembicaraannya!
“Kau sering kesini? Naik kereta putar ini sendirian?” “Ya” “Kau masih mengira ia menjelma menjadi si kereta putar?” “Bagaimana tuan tahu aku memikirkannya?” Tanyaku sambil memalingkan wajah menatap lampu-lampu di bawah. “Hanya menebak” “Hmmmm…” Aku menarik nafas pelan.
“Mau kuceritakan sesuatu tentangnya? Atau kau mau mendengar puisiku tentangnya? Atau keduanya?” Tanyanya “Boleh”
Kereta sudah berputar tiga kali, ini akan berputar ke empat kalinya! Ia mulai berkata, kata demi kata… Kudengar baitnya “Oh” Aku hanya diam terperangah!
Bianglala menuai kata dalam soneta Langit di angkasa Terlukis indah di cakrawala Membiru warna raya perkasa
Silampukau Mimpi menjangkau Di antara mimpi-mimpi Penuh ilusi
Mengecup bara dalam genggaman Terkapar di persinggahan Tanpa naungan Sendirian
Merintih Menahan perih Jiwa nan ringkih Susuri waktu langkah tertatih
Jalan panjang jalan bimbang Jauh dari terawang Serupa kenang Terpancang
Harapan Ukir senyuman Lepaskan segala angan Bangkit bersama setitik keyakinan
Berpusat di palung jiwa Lukis indahnya bianglala Selepas prahara Bahagia
Hati bersenandung syahdu Kala gundah berganti rindu Bagai kuncup bunga yang mekar Dalam belaian purnama yang bersinar
“Dalam ceritaku, dulu aku punya si wanita hujan. Seperti dirimu! Ia selalu mencari warna-warni itu selepas hujan, di akhir riwayatnya. Ia tak pernah pupus mencari, hingga ajalnya tiba tak pernah sekalipun warna itu datang padanya. Hanya hitam dengan sedikit putih, kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku hancur, hingga kujanjikan warna-warni itu akan datang padanya! Pada tanah merah yang telah mengering. Dia adalah wanita yang amat sangat kusayangi. Setiap kali melihatmu gigih mencarinya, di sana tergambar jelas wajahnya pada siluet wajahmu. Yang hanya terlihat hitam terpapar cahaya matahari. Aku pernah membuatkannya sajak, namun tak pernah sampai padanya! Ini kau baca sendiri, jangan pernah lagi mencarinya. Karena si bianglala itu sudah tak ada”.
Kereta berhenti tepat delapan putaran. Tuan turun dengan aku yang masih belum mengerti! Kertas hitam yang tuan berikan padaku masih kugenggam… Tuan tak pernah memperlihatkan senyumnya. Aku hanya selalu menatapnya penuh keheningan, seperti tak ada kehidupan padanya! Jantungnya mungkin masih berdetak, tapi hatinya tidak! Aku pulang, sepanjang perjalanan aku tak pernah berhenti melipat-lipat kertas hitam itu. Aku tak sabar untuk membacanya… Tinta putih yang tercurah di setiap kata berukuran kecil. Kertasnya agak tebal dan kusut, seperti sudah lama disimpan namun tertata rapih!
TERUNTUK WANITA HUJANKU
Senja tenggelam di langit barat .. Kini kau bertakhta di antara jutaan binar intan permata di permadani hitam .. Kedua bibirku tengah dipagut mesra olehmu .. Mereka seolah enggan membiarkan otak ini terlarut dalam kepulan bayang-bayang wanita hujanku .. Mereka seolah enggan menggadaikan anganku!
Disini, aku bersajak .. Bernapaskan senja yang sudah terlarut .. Menggamit segala asa yang kutuang padamu, wanita hujanku .. Sejenak bertakhta dalam pandangan mata .. Selamanya bersemayam dalam jiwa .. Sesaat bertakhta dalam surga ..
Malam kian larut .. Tarian selendangmu semakin menggodaku .. Menendang-nendang indera penciumanku dengan aromanya yang syahdu .. Namun, yang aku nikmati bukan tariannya .. Bukan juga kemolekannya .. Bukan pula aromanya .. Melainkan kerinduan yang tertanam di ladang senja ..
Yang kau tuang bersama binar matamu .. Yang kau sinari dengan bianglala di kedua bibirmu .. Yang kusirami dengan air mata rindu .. Yang kusemai dengan sajak jelaga ..
Adakah di pelupuk matamu tergenang sajakku yang kau bajak dengan tutur lembut tingkah lakumu .. Adakah di kerlingan matamu terbias rinduku yang kau manjakan dengan sapaan hangatmu kala mentari belum berdiri .. Akankah kita bersua di padang ilalang lagi? Tempatku bersimpuh dalam nadi yang usang .. Atau, akankah kita bercengkrama di tepian telaga hitam? Tempatku berjudi dengan pekatnya rindu di tengah malam yang hitam ..
Karawang, 1997
Sejenak aku diam, aku selalu tak mengerti tentang tuan! Namun tuan seperti tahu banyak tentangku. Kami belum lama saling mengenal, namun aku seperti sudah lama bersamanya. Dia adalah sosok ayah bagiku. 20 tahun yang lalu ketika dirinya masih seusiaku. Kekasihnya mungkin, si wanita hujan itu yang gila pada warna bianglala pergi meninggalkannya. Dengan masih memegang janji membawanya pada warna-warni. Namun masih tetap saja hitam, tulisan 20 tahun lalu milik tuan sangat menyayat hatiku. Akankah aku seperti dia “Si wanita hujan”? Hingga ajal menjemputku, akankah janji-janji itu justru ditujukan padaku yang kini seperti dirinya.
“Tuan, tolong aku! Aku tak bisa berhenti”
Aku duduk diantara dua meja, lampu-lampu seakan berputar-putar mengelilingi. “Tuan, benarkah si bianglala kini menjadi kereta putar? Atau namanya saja nampak sama? Tuan pikiranku kini berputar-putar disana” Gumamku dalam hati.
Keesokan paginya, tuan sudah berdiri di depan rumahku. Dengan buku yang digenggamnya, ia kemudian membuka setiap lembarannya. Judul buku itu “Mejikuhibiniu”, sudah tergambar jelas apa isi didalam buku itu. Tentangnya, tentang si bianglala. Tuan akhirnya bicara “Kau sungguh tak ingat? Sedikit saja bicarakan tentang mimpimu” Katanya. “Maksud tuan?” Tanyaku heran “Kau percaya reinkarnasi?” Tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku. “Tidak, tapi juga iya” Kataku ragu, tuan memberikan sesuatu dari dalam buku itu. Kulihat lagi wajahnya, tergambar jelas wajahku disana. Namun gambarnya tampak usang, seperti gambar beberapa puluh tahun lalu.
“Ia adalah si wanita hujanku, kau mirip sekali dengannya. Dan setiap kau menelusuri jejak hujan, kupikir kau sedang mencari si bianglala yang hilang. Seperti dirinya, kau begitu sangat… Ah aku terlalu banyak bicara” Tuan menghela nafasnya kemudian bicara lagi, “Bagaimana mungkin gadis seperti dirimu ini dia, ia sudah lama tiada membawa janjiku yang belum sempat kuberikan padanya. Apakah aku juga harus mencarinya? si bianglala itu. Agar kau juga tak seperti dirinya” Air mataku jatuh begitu saja, tiba-tiba tubuhku ambruk di hadapannya. Tuan terus memanggil namaku. “Aini… Aini bangunlah. Lupakan semua janjiku, dulu dan kinipun sama kau hanya akan melihat kegelapan. Karena ruang yang kau ciptakan itu adalah keheningan. Tenanglah disana, dan cari warna-warni itu sendiri. Keluarlah dari kegelapan itu” Aku bangun dan menggenggam erat tangan tuan. “Aini, si wanita hujan itu tuan”, “Bagaimana kau tahu namanya?” Tanya tuan padaku, lalu tuan melepaskan genggaman tanganku. “Aini datang di mimpiku tadi, tuan juga ada disana. Itu seperti nyata, tuan bicara padanya untuk keluar dari kegelapan itu. Sama seperti aku, aku juga ingin keluar dari keheninganku. Maka dari itu, menikahlah denganku tuan” Pintaku padanya, tuan kemudian berbalik membelakangiku.
“Tidak, kau harus mencarinya sendiri. Aku sudah cukup menderita karena janjiku padanya. Tolong aleena, jangan lagi cari warna-warni itu. Kau hanya harus keluar dari kegelapanmu” Lalu tuan pergi begitu saja, aku berteriak histeris. “Tuan tolong dengarkan aku, tuan bukan saja sosok ayah untukku. Tapi aku sudah lama menganggapmu lebih dari itu. Percayalah tuan, aku sangat serius”.
Tapi tuan terus saja menjauh hingga hilang dari pandanganku, rain yang sedari tadi memperhatikan kami datang menghampiriku. Rain adalah sahabat yang mengenalkanku pada tuan. “Aleena, kau jangan begitu. Bagaimanapun juga, ia tampak lebih tua darimu. Kau jangan egois, aku tahu tuanpun sangat mencintaimu. Tapi ia juga memikirkan pandangan orang, sulit untuk menjelaskannya padamu” “Tapi rain, aku sama sekali tidak memikirkan pandangan orang. Aku tak perduli” “Iya, kau mungkin tidak memikirkan bagaimana pandangan orang terhadap tuan. Yang akan disalahkan adalah laki-lakinya karena membiarkan gadis seusiamu mencintainya yang pantas jadi ayahmu. Kau sama saja jahat aleena” Aku hanya terpaku diam, kembali pada titik awal dimana aku berdiri. Aku berlari meninggalkan rain. Kemudian langkahku terhenti disana, sebuah mobil sedan menabrakku hingga aku kehilangan segala penglihatanku. Semuanya gelap, sunyi dan hanya tanah-tanah basah yang mengelilingi tubuhku.
Secarik kertas bersemayam di atas persinggahanku. Dari tuan untuk si wanita hujan.
Bianglala pindah ke pasar malam, Ia menjadi wahana permainan anak anak?
Tapi bianglala di butuhkan sedikit hujan dan matahari untuk menghasilkan pembiasan warna warni bukan?
Ah entahlah senja, barangkali karna kebanyakan orang sudah tidak mempedulikan bianglala.
Lihat saja senja. Kebanyakan orang orang sibuk dengan isi perut dan kepalanya saja.
Kini bianglala hanya digambar di karton putih oleh anak anak berpendidikan usia dini lengkap dengan gunung dan sawah sawah yang berhamparan.
Jadi kini apa makna bianglala sebenarnya? Kereta putar? Ataw gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainya? Entahlah senja apa definisi yang benar untuk bianglala.
Mungkin ia jemu senja, Jemu sejemu jemunya.
Karawang 22, Agustus.
Cerpen Karangan: Dheea Octa Blog / Facebook: Octavhianie dheea