Sebenarnya enggak tau hubungan antara mantan pacarmu itu. Tapi yang membuatku risih adalah, saat kamu memperlakukan mantanmu itu sungguh membuatku berpikir, bahwa kamu masih menyayanginya. Apa aku cemburu? Jelas, aku enggak cemburu. Karena pikiran rasionalku lebih tinggi dari rasa cemburuku. Walau pada saat itu aku sedang bersama dengan kamu, aku tetap tidak cemburu. Ketahuilah, aku hanya risih, dan sama sekali tidak cemburu. Aku hanya ingin kamu tahu. Aku juga wanita sama seperti mantan pacarmu, jadi tolonglah hargai perasaanku saat bersama denganku. Sebab rasa sayangku lebih besar dari rasa cemburuku.
Aku bahkan tidak peduli saat kamu pulang dengan membonceng mantanmu. Justru temanku yang terlihat tidak suka, “kok loe enggak mau bareng dia sih? Malahan dia sama mantannya. Emang enggak cemburu?” Tanya temanku saat dia melihat kamu pergi berlalu dengan membonceng mantanmu, aku hanya menggeleng, “enggak. Biasa aja. Lagian cuman mantan.” Jawabku seadanya sambil terus melihat kearah motormu yang sudah hilang berbelok, “yakin enggak cemburu? Gua kesel dah liatnya! Sebenernya, pacarnya elu apa tuh cewek sih!?” Tanya temanku lagi dengan sewot, “biarin ajalah, aku enggak peduli juga.” Jawabku yang makin membuat temanku sewot, “ya ampunn… kok biarin aja dah? Mantan dia kan masih idup! Itu loh.. ya ampun.. bisa aja kan, dia masih sayang sama mantannya! Gua kesian liat elu, jarang banget pulang sama cowok loe sendiri. Malahan cowok loe pulang sama cewek laen yang udah jadi mantannya. Bilangin ke dia, kalo loe cemburu!” Jelas temanku yang terlihat kesal, “gua enggak cemburu tapinya.” Seruku yang membuatnya jadi menggelengkan kepala, “enggak mau tau, loe harus bilang ke dia. Kalo loe cemburu! Jangan mau diginiin jadi cewek dong Cell.” Seru temanku dengan kesal, aku hanya mengangguk pelan.
Hari ini, hari minggu. Kegiatan yang selalu aku lakukan setiap hari minggu adalah jogging dengan, sebut saja nama pacarku Akmal. Tapi, nama itu terlalu bagus untuknya, jadi nama aslinya adalah Kholil. Aku memang tidak pernah menganggapnya pacar yang seutuhnya, sebab aku punya sifat yang sangat cuek, bahkan aku tidak peduli saat dia jatuh dari motor waktu ingin menjemputku ke sekolah. Aku hanya mengatakan, “lagian enggak hati-hati. Yaudah yuk, nanti telat.” Jawabku saat dia bercerita kalau tadi dia terjatuh.
Pagi ini, suasana taman sedikit ramai dengan adanya pedagang yang berjualan dan anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari, “mal. Temenku marah sama kamu.” Seruku yang membuatnya langsung berhenti, “marah kenapa?” Tanyanya sambil berlari kecil, “katanya, kamu jangan pulang lagi sama mantan kamu itu.” Jawabku tanpa ekspresi, “kamu cemburu?” Tanyanya lagi, aku hanya menggeleng, “kamu kok enggak cemburu sih? Kalau aku jalan sama Dinta?” Tanyanya lagi sambil menyebutkan nama mantannya, “enggak. Aku cuman risih aja, temen-temenku selalu bilang kalo sebenernya, pacar kamu siapa sih.” Jawabku dengan tatapan lurus kedepan, “kamu pacar aku lah.. dia cuman temen kok.. lagian kalo aku Tanya kamu cemburu atau enggak, pasti bilangnya selalu enggak.” Serunya sambil mengikutiku duduk di bangku taman, “sekarang aku yang Tanya, kamu masih sayang sama dia?” Tanyaku dengan menatapnya sekilas, dia berpikir sejenak dan berkata, “aku sayang kamu tapinya.” Jawabnya sambil mengelus-elus rambutku yang dibuatnya berantakan, “kamu tau, aku enggak cemburu tapi aku risih kalau setiap hari harus denger temen-temen tuh pergokin kamu lagi sama mantan kamu itu. Kamu mau tau, aku enggak peduli sebenernya. Tapi aku risih sama temen-temenku yang selalu komentarin kamu. Jadi kamu tahu harus ngapain?” Seruku dengan membuatnya terus menatapku, “jauhin dia?” Tanyanya sambil menatapku, “aku enggak nyuruh kamu juahin dia. Aku mau kamu berhentiin temen-temenku yang komentarin kamu terus, aku risih. Aku enggak suka.” Seruku yang langsung berdiri dan mulai berjalan kembali, “yaa berarti aku harus jauhin dia lah say.” Jawabnya yang mensejajarkan langkahnya dan kembali mengacak-acak rambutku yang aku biarkan terurai.
Hari senin, selalu menjadi hari yang paling aku tidak suka, sebab selalu ada upacara yang membuat kakiku serasa ingin copot. Terlebih lagi, Akmal agak telat menjemputku, jadilah senin ini sangat menyebalkan karena gerbang sekolah sudah tertutup dan yang telat upacara di luar gerbang. “maaf yak, jadi telat deh.” Sesalnya sambil mengelus pelan kepalaku, aku hanya tersenyum kecil dan sedikit mengangguk. Aku tidak tahu darimana asalnya, tiba-tiba dia sudah tidak ada di sebelahku lagi, dan ternyata dia sedang menghampiri mantannya yang juga berdiri tidak jauh dariku, aku hanya menghela nafas pelan, “gua enggak suka jadi omongan pliss.” Gumamku dalam hati.
Selesai upacara tidak seburuk yang kukira, guru-guru ingin rapat termasuk guru BP yang tidak sempat untuk menghukum atau menjemur murid yang telat, jadilah 2 jam kedepan kita free class. Mendengar itu aku buru-buru pergi ke halaman belakang sekolah yang jarang dilalui siswa maupun guru, untuk menghindari komentar-komentar dari teman-temanku yang sangat aku tidak sukai. Sebab, tadi saat upacara dia terus saja mengobrol dengan mantannya, dan aku jadi omongan oleh siswa lain dengan bisik-bisik sambil pandangan yang jelas tertuju padaku.
Suara langkah kaki jelas terdengar yang justru membuatku tidak peduli, “aku cariin kamu say. Kebiasaan banget deh kamu selalu disini.” Serunya sambil menghampiriku yang sedang duduk di bangku bawah pohon rindang, “disini adem. Disana panas. Banyak yang omongin! Kamu tau enggak sih? Aku tuh enggak suka jadi bahan omongan. Aku emang enggak cemburu. Sebodo amat kamu sama dia ngapain. Aku tuh cuman risih jadi omongan!” Seruku sedikit kencang yang membuatnya memasang wajah memelas, “jadi aku harus gimana?” Tanyanya yang membuatku semakin kesal, “gimana kek! Biar enggak jadi omongan.” Seruku kencang yang langsung berdiri dan bergegas jalan diikuti dia dari belakangku.
Benar saja, teman-temanku sedang mencariku dan langsung menghampiriku saat aku muncul, “itu si Akmal masih aja deketin mantannya. Gua kesel liatnya Cell, seriusan dah.” Seru temanku yang bernama Gita, “loe bilangin aja gih sana. Gua males.” Jelasku acuh sambil masuk ke dalam kelas, langsung kupasang headset saat sudah di bangkuku. Aku melihat Gita sedang berbicara dengan Akmal, tapi siapa peduli, dia saja tidak peduli.
Ternyata, rapat berlangsung sangat lama, hampir mendekati bel istirahat, rapat belum juga selesai. Karena terlalu lama mengurung diri di kelas akhirnya aku keluar dengan headset masih menempel di kupingku, tiba-tiba pundakku ditepuk pelan dari belakang, aku menoleh dan ternyata itu Akmal berdiri di belakangku sambil memegang coklat? Oh ya, coklat, dan itu membuatku langsung tersenyum lebar, hanya coklat yang bisa membuatku tersenyum lebar seperti sekarang ini, “makasih.” Seruku yang langsung mengambil coklat dari tangannya, “maaf yak, aku bikin kamu kesel terus. Aku udah selesain masalahnya kok. Aku enggak akan deketin dia lagi, atau apapun itu. Aku tau kamu cemburu, tapi dengan cara yang lain kamu cemburunya. Dengan cara kamu bodo amat dan terus biarin aku sama dia. Aku salah, aku minta maaf banget yak. Aku berusaha jadi yang baik buat kamu kok.” Jelasnya aku hanya memperhatikannya sekilas sambil memakan coklat yang tadi ia berikan, “udah ngomongnya? Masih ada lagi?” Tanyaku yang langsung memalingkan wajah, “kok kamu ngomong gitu sih? Aku serius kan.” Serunya dengan tampang wajah memelas, “kamu enggak usah ngomong banyak-banyak. Buktiin aja, aku enggak suka cowok yang banyak omong tapi enggak ada apa-apanya.” Jelasku masih memakan coklat, “iya sayangku.. aku siap membuktikannya.” Serunya sambil mengacak-acak rambutku dan mengambil coklat yang sedang aku makan dan itu membuatku sontak berteriak dan mengejarnya, “Aku enggak cemburu, aku hanya risih. Iya, risih liat kamu sama mantan kamu terus. Ternyata kamu bisa mengartikan kata risih aku itu dengan sempurna.” Gumamku dalam hati sambil mengejarnya.
The end
Cerpen Karangan: Adzkal Adzkiya Blog / Facebook: Adzka Adzkiya