Selamat membaca 🙏
Hari ini sangat cerah, sinar mentari yang menerangi sesisi bumi tanpa adanya awan mendung yang menutupi langit, namun tidak bagi seorang gadis belia yang merasakan kejamnya kehidupan masa mudanya.
Stella lousiana, gadis remaja dengan segala kesedihan yang mendalam dihatinya, diusianya yang masih sangat muda ia harus merasakan kekejaman hidup yang amat sangat menyedihkan, kadang hanya air mata yang mampu menjelaskan keadaanya, selepas kepergian kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Stella menjadi bagian dari panti asuhan Bunda bakti sejak usianya masih sepuluh tahun, gadis belia yang begitu cantik, lugu serta baik hati ini selalu menjadi bahan bullyan oleh teman temanya di panti asuhan, karena kejadian yang terus berulang itu membuat mental Stella terkikis, ia pernah berpikir untuk bunuh diri diusianya masih terbilang sangat muda, hari hari yang ia lalui sangatlah berat, bahkan hanya untuk makan saja Stella harus mengendap endap pergi ke dapur agar tak dijahili oleh anak anak panti lainnya.
Waktu terus berlalu, sekarang gadis kecil yang menyedihkan itu tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik, namun tubuhnya sangat kurus karena beban pikiran yang menggerogoti daging manisnya, kemalangan nasibnya tak pernah usai, Kini Stella sudah di adopsi oleh keluarga yang tampak baik namun sebenarnya Stella merasakan hal yang sangat menakutkan dalam keluarga itu.
"Cuci pakaian ini, kau jangan malas-malasan."teriak Sopia, adik angkat Stella.
"Pia, biarkan aku istirahat sebentar, aku lelah karena baru saja mencuci piring.
Plaakkk
Sebuah tamparan mendarat dipipi lucunya itu membuat bekas merah yang mengecap sebuah telapak tangan.
"Pia kakak akan mencucinya sebentar lagi."ujar Stella dengan air mata berlinang dipipinya.
"Cepat lakukan nanti Mama dan Papa pulang, ingat kau harus bilang ke Papa aku yang mengerjakan tugas rumah paham!."bentak Sopia kepada Stella.
Stella tidak menjawabnya, ia hanya menganggukan kepalanya, dan mulai membawa baju yang harus ia cuci.
Tiiidd..tiiddd
Suara klakson mobil orang tua angkat Stella yang sudah pulang dari rumah orang tua mereka.
"Mama."teriak Sopia berlari memeluk Mamanya.
"Sayang kamu rindu Mama nak."tanya Mela mama Sopia.
"Aku sangat rindu Ma, Pa."jawab Sopia dengan raut wajah memelas.
"Anak papa ini sangat manja."ujar Adi mencium pipi Sopia anak kandungnya tersebut.
"Lalu dimana anak itu."ucap Mela mencari Stella anak angkatnya.
"Kaka sedang bermalas malasan dikamar ma."jawab Sopia.
"Apa!."ucap Mela kesal.
"Iya Ma kakak hanya berdiam diri dikamarnya dari saat Mama dan Papa pergi.
"Lalu siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah?"tanya Mela geram.
"Hanya aku yang setiap hari menyelesaikan pekerjaan rumah."jawab Sopia memelas.
"Kurang ajar anak tak tau diuntung!."cetus Mela.
Mela pun bergegas masuk kedalam rumah mencari Stella yang sedang bersitirahat karena semua pekerjaan rumah yang ia lakukan sendiri setiap hari.
"Stellaaa!!"teriak Mela menganggil.
"Iya Ma."jawab Stella berlaru menuju suara Mela yang memanggilnya.
Plakkkkk
Sekali lagi tamparan keras yang mendarat dipipinya, kali ini tamparan keras itu dilakuan oleh Ibu yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Ampun Ma, apa salah Stella hiks..hiks."ucap Stelah sambil menangis.
"Dasar anak tak tau diuntung!."bentak Mela.
"Sudahla Ma mungkin Stella lelah makanya dia beristirahat."tegur Adi suami Mela.
"Papa diam aja!."bentak Mela kepada suaminya yang hanya bisa menghela nafasnya dalam.
Lalu Mela menyeret Stella ke taman belakang, ia menyiram Stella dengan air dari mesin pompa air penyiram tanaman, ia juga menendang dan menampar Stella berkali kali, Stella hanya dapat memohon dengan berlutur dibawah kaki Mela.
"Ampun Ma ampun..hiks..hiks"ucap Stella menangis menahan sakit.
"Jangan pernah menyuruh Sopia membersekan pekerjaan rumah lagi, karena itu tugasmu bukan tugas adikmu."jelas Mela dengan nada tinggi.
"Iya Ma, maafkan Stella Ma hiks..hiks."ucap mela dengan air mata yang berlinang.
Setelah puas melampiaskan amarahnya Mela pergi meninggalkan Stella dengan ancaman jangan tak boleh makan malam.
Stella hanya menganggukan kepalanya dan menuruti kehendak orang tua angkatnya itu.
Saat tengah malam Stella menahan rasa laparnya, tubuhnya terkulai lemas tak bertenaga, dengan suhu malam yang semakin dingin serta perut yang kosong seharian Stella hanya menangis meratapi nasibnya yang sangat malang, air matanya mengalir ia menangis tersedu sedu karena ia sangat lapar dan tak tahan lagi menahan rasa sakit diperutnya yang kosong.
Pagi yang cerah terlalu mengejek Stella yang harus menjalani hari hari yang suram serta penuh penyiksaan dari ibu angkat dan adik angkatnya.
Stella tak dapat beranjak dari tempat tidurnya, tubuhnya sangat dingin serta keringat yang keluar dari tubuhnya yang sangat pucat.
"Stellaaa!..."teriak Mela memanggilnya.
Stella ingin sekali menjawab panggilan dari Mamnya itu, namun ia tak lagi memiliki tenaga lagi ia terbaring pasrah ditempat tidurnya dengan air mata yang berlinang.
Saat keadaannya yang tak sehat ia malah mendapatkan siksaan dari ibu angkatnya itu, Mela menyeret Stelah keluar dari kamar, menampar serta menginjak kaki Stella yang membuatnya berteriak histeris memohon ampun karena hari ini ia sangat tidak sehat.
"Ampun Ma, Stella tak sehat badan Ma..hiks..hiks."ucap Stellah menahan tangisnya.
"Terserah, kamj harus membereskan pekerjaan rumah hari ini."bentak Mela yang masih menginjak kaki gadis cantik yang malang itu.
Dengan segenap tenaga yang tersisa Stella menuruti apa yang ibu angkatnya itu mau, ia berjalan merapat kedinding dengan langkah kaki tergontai gemetar, ia menuju dapur untuk makan namun tak ada makanan yang tersisa, ia melihat sepotong kecil cake dalam kulkas dan ia memakannya dengan lahap, tak terasa air matanya tak berhenti mengalir, ia terjauh kelantai menangis dan mempertanyaakan mengapa ia harus dilahirkan kalau hanya penderitaan yang ia dapat selama hidupnya.
Hanya potangan cake kecil dan segelas air putih hari ini yang ia makan, ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan wajah pucat serta mata yang sembab karena ia selalu mengis, karena hanya menangislah yang dapat ia lakukan, selain menangis ia tak tau lagi harus bagaimana.
"Stella! bentak Sopia mengagetkan Stella yang sedang mencuci piring.
"Ada apa Pia."jawab Stella lirih.
"Mengapa kau memakn cake ku!."bentak Sopia.
"Maaf Pia, aku sangat lapar karena dari tadi malam aku belum makan, aku mencari makanan namun aku hanya menemukan potongan cake kecil di dalam kulkas."jawab Stella membela diri.
"Mamaaaa!."teriak Sopia dengan lengkingan nyaring ciri khas suaranya.
"Ada apa sayang kok teriak teriak."jawab Mela mehampiri anak kandung kesayanganya itu.
"Lihatlah Ma kaka memakan cake ku, ia menghabiskanya."ucap Sopia memelas sambil menunjukan piring cake yang sudah kosong.
"Benarkah itu Stella!."bentak Mela melotot.
"Aku hanya mekanan sisa cake itu Ma sepotong kecil."jawab Stella lirih.
"Dasar anak kurang ajar!."bentak Mela sambil menarik rambut indah Stella.
"Aww...a-ampun Ma sakit."ucap Stella memohon.
"Hari ini kamu jangan makan! bentak Mela.
Stella menangis, ia tetap melanjutkan pekerjaannya dengan air mata yang selalu keluar dari kelopak matanya, hari ini ia akan menahan rasa lapar lagi stella hanya bisa meratapi itu, sedangkan Sopia tersenyum bahagia karena ia dapat membuat kakak angkatnya itu kena hukuman.
Hari demi hari dijalani Stella dengan air mata tangisan serta kekerasan dari adik angkat dan ibu angkatnya, sedangkan ayah angkatnya hanya berdiam diri seperti seorang pecundang yang takut istri.
"Ya tuhan tolong aku, tolong,,, aku sudah tak kuat lagi hiks...hiks."batin Stella memohon.
Tak ada satu pun orang yang dapat membebaskannya dari penderitaan yang menyedihkan itu, termasuk ayah angkatnya yang bodoh itu, laki laki yang sama sekali tak mempunyai ketegasan terhadap istri.
Stella, semoga suatu saat nanti akan ada seseorang yang membebaskanmu dari penderitaan yang mengerikan itu, semoga saja.
Tamat.
NOTE : Bantulah sesama, terutama anak yatim/piatu serta pakir, dengan membantu kita dapat meringankan beban orang lain, dengan membantu kita sudah menjalankan salah satu kewajiban kita di dunia yang fana, Terimakasih 🙏