Aku dan Boy berpacaran, meskipun ldr tapi kita tetap berkomunikasi dengan baik. Seiring waktu berjalan tumbuh rasa sayang kepadanya, pria itu, karyawan SN Cafe hanyalah kenangan yang tidak bisa dilupakan. Boy mengetahuinya tapi dia hanya bilang “kamu tidak bisa melupakan dia tapi aku yakin kamu sudah tidak memikirkannya”.
Sebuah bunga layu dan sepucuk surat tergeletak di depan toko rotiku. “Hai Nusha, aku karyawan SN Cafe. Aku minta maaf karena telah berbohong. Saat kamu bilang menyukaiku, ingin sekali aku memelukmu dan bilang aku mencintaimu. Saat kamu wisuda ingin sekali berada di sampingmu dan memberikan bunga, tapi aku gak bisa. Ada seorang pria yang tulus menyayangimu, percayalah dia yang terbaik. Sekarang aku bahagia kamu telah bersamanya. Aku belum menikah, wanita yang aku tunjuk itu adalah adikku. Bahagialah Nusha”
Aku bergegas menuju SN Cafe dan bertanya dimana pria itu, tapi tidak ada yang menjawab dan seorang wanita menghampiriku. “Kak Ilham sudah meninggal” “Kamu jangan bercanda, lalu bunga dan surat ini apa?” “Aku yang menyimpannya kak, sebelum meninggal dia menyuruhku memberikan bunga dan surat itu” “Kenapa dia melakukan semua ini?” aku menangis “Maafkan kak Ilham”.
Aku pergi meninggalkan SN Cafe, dan di toko sudah ada Boy. “Darimana?” “Aku mencintaimu Boy, jangan tinggalin aku” sambil memeluk Boy. Aku menceritakan kejadian tadi kepada Boy dan dia memaklumi reaksiku.
“Kamu kenapa pulang ke Indonesia?” tanyaku “Aku kangen sama pacarku” “Boy, maaf tadi aku..” “Sudah. Kamu nangis karena luka bukan karena cinta” “Boy” “Sayang, aku sudah kenal kamu lama. Kita jangan bahas masalah ini lagi ya, pikirkan masa depan kita, jangan melihat ke belakang. Dan aku punya resep roti baru, kamu mau tau?”.
Itulah Boy, sulit dipercaya ada pria super pengertian seperti dia. Dan aku memilikinya. Walaupun awalnya ragu tapi ternyata dia yang terbaik untukku, memilih memang sulit dan takdir hanya Tuhanlah yang tahu.
Cerpen Karangan: Nita Septiani