“Yaaaa!!” “Hebaat!!” “Bagus!!” Sorakan-sorakan penyemangat bagi tim basket SMA-ku. Saat ini aku dan juga teman-teman sedang mengikuti perlombaan basket tingkat provinsi. Jika kami menang dalam pertandingan kali ini, kami akan masuk ke babak final. Yap, kami sudah masuk babak semi final.
Beberapa menit lagi pertandingan akan selesai, dan tim kami masih memimpin jauh. Tinggal hitungan detik pertandingan akan selesai. “Ayo! Ayo! Ayo!” Sorakan murid-murid yang datang untuk mendukung kami. “5… 4… 3… 2… 1!!” Hitungan mundur siswa-siswi SMA kami pun selesai. Peluit berbunyi dan sorakan semakin riuh ketika peluit berhenti berbunyi, pertanda pertandingan telah usai. Semua siswa berlari ke tengah dan bersorak ria serta memberi selamat juga semangat untuk pertandingan selanjutnya.
“Kamu hebat Put! Strategi yang bagus!” Ucap Airin memelukku. “Terima kasih Rin, permainan kamu juga hebat tadi!” Kataku memuji Airin kembali. Suatu kebanggaan tersendiri bisa menjadi kapten tim basket yang bisa membawa timnya sampai ke final, apalagi jika bisa memenangkan pertandingan final dan membawa nama sekolah dengan usaha sendiri.
Namaku Putri, Putri Ratna Hartanto lengkapnya. Aku biasa dipanggil Putri. Aku bersekolah di salah satu SMA ternama Bandung. Aku aktif di bidang olahraga basket dan aku sangat senang karena ditunjuk sebagai kapten tim. Setelah mendapat libur 2 hari dari sekolah, aku kembali masuk. Saat ini aku menunggu seseorang di depan rumah. Aku selalu pulang dan berangkat bersamanya, dia adalah sahabat sejatiku. Aku dan dia sudah mengenal sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Kulihat arlojiku, sudah jam 6 lebih 10 menit. Biasanya jam 6 sudah datang, tapi kenapa sekarang tidak kelihatan sama sekali? Batinku. Dan tak lama, dia datang juga. “Lama banget sih? Suruh cepet-cepet sendirinya lama!” Ucapku. “Udahlah, ayo naik.” “Ish, kamu itu selalu gitu. Kamu tau gak 2 hari yang lalu hari apa?” Tanyaku. “Apa ya? Hari sabtu.” “Iih, 2 hari yang lalu itu pertandingan semi final aku!” “Iya aku tau.” Dia memberikan helm padaku. “Kalau kamu tau, kenapa kamu gak dateng?” Tanyaku sembari mengenakan helm. “Aku sibuk.” Singkatnya. “Kamu itu selalu gitu, gak pernah mau dateng di hari yang penting buatku.” Ucapku. “Oke, aku minta maaf. Udahlah, ayo cepet!” Dia menarik tanganku. “Iya sabar.” Aku pun naik. ”Kamu gak tanya, kemarin menang atau kalah?” Tanyaku. “Nanti aja, sepulang sekolah kamu ceritain.” Ucapnya, datar sekali.
Yah, seperti itulah dia. Afif Soerjono, lelaki yang sangat acuh. Dia tidak pernah mempedulikan lingkungan sekitarnya, cuek, jutek, intinya dia itu menyebalkan. Tapi meski begitu, dia adalah sahabat sejatiku. Dia selalu ada untukku, dia selalu menemani hari-hari sepiku.
Afif adalah anak dari keluarga yang bisa dibilang sudah melampaui kaya. Entah apakah super kaya, atau ekstra kaya, atau over dosis. Mungkin karena itu sebabnya dia acuh pada sekitarnya. Dulu dia sama sekali tidak mempedulikan apapun. Saat dia duduk di sekolah dasar, dia sama sekali tidak memiliki teman. Karena rasa iba juga ada tantangan dari teman-teman saat itu, aku mulai mendekatinya dan mencoba berbincang padanya. Dan akhirnya hanya dengan waktu kurang dari 1 minggu, Afif sudah tidak jutek ataupun cuek lagi padaku. Mungkin karena kecantikanku, haha. Bukannya sombong, tapi begitulah mereka mengatakannya. Bahkan aku dijuluki ‘Bidadari Basket’ karena kecantikan dan keahlian yang sudah melampaui batas ini. Sudahlah, aku tidak ingin menyombongkan diri. Kembali ke cerita…
15 menit perjalanan, akhirnya sampai juga di sekolah tercinta. “Udah sampe.” Afif memberitau. “Ya aku juga tau.” Ucapku. “Kalo udah tau, kenapa kamu gak turun?” “Aku ikut ke parkiran.” “Mau apa sih ikut ke parkiran segala?” Afif lalu menuju tempat parkir. Aku turun lalu Afif memarkirkan sepeda motornya. Di tempat parkir, kami bertemu dengan Dinda. Dinda adalah teman SMPku. “Hey Put.” Sapa Dinda. “Udah masuk lagi ya.” Lanjutnya. “Hey Dinda. Tambah cantik aja kamu. Hahah.” Pujiku. “Ish, kurang ajar kamu…” Katanya. “Hay Fif, kok berangkatnya siang sih?” Ucapnya. “Sibuk.” Afif berjalan meninggalkanku dan Dinda. “Ih, Afif selalu gitu ya Put. Dia gak pernah ngerasa kalo ada orang yang peduli sama dia.” Kata Dinda meletakkan helm di sepeda motornya. “Peduli apa suka kamu? Hahah.” Ledekku. “Dua-duanya.” Dinda berjalan meninggalkanku. “Ish, dasar. Kirain gampang apa deketin Afif. Sombong banget gak mau dibantuin.” Gerutuku.
Dinda menyukai Afif sejak kelas 1 SMA. Dinda sekelas dengan Afif saat kelas 1. Aku bingung kenapa Dinda sangat menyukai Afif, padahal dia itukan jutek? Tapi Afif memang bisa dibilang terkenal di sekolahan. Karena dia adalah siswa yang berprestasi, dia bisa membawa nama sekolahan dengan memenangkan olimpiade tingkat provinsi.
Selain itu Afif juga pandai bermain musik, kalau aku disuruh menyebutkan alat musik apa yang tidak bisa dia mainkan, aku tidak akan bisa menjawabnya. Dia bisa bermain alat musik modern juga tradisional. Tapi Afif itu paling keren kalau sedang bermain gitar, dan katanya suaranya juga bagus. Tapi aku belum mendengarnya langsung. Oh iya, Afif juga memiliki paras yang tampan.
Sampai juga di kelas. Di depan kelas aku bertemu seseorang. “Eh, udah mulai berangkat lagi nih cantik.” Ucap Doni, teman sekelasku. “Apaan sih, jangan sok akrab deh.” Kataku. “Ih, kok galak banget sih? Jangan gitu dong. Nanti gak laku lho.” Ledek Doni. “Ish, bukan urusan kamu!” Aku lalu masuk ke kelas. “Eh, dasar. Sombong banget sih, mentang-mentang menang kemaren.” Gerutunya.
Jam demi jam aku lalui, sampai akhirnya bel istirahatpun berbunyi. Aku menuju ke kantin dimana Afif biasanya makan disana. Dan selalu disana, aku melihatnya sendiri. Namun ketika aku menghampirinya, Ardi dan Roni duduk di sampingnya. Aku tetap saja menghampirinya lalu duduk di depannya.
“Hey Fif.” Sapaku. “Eh, ada Putri. Selamat ya Put.” Ardi memberi selamat. “Wah, kemarin kamu mainnya hebat Put.” Kata Roni. “Hehe, biasa aja.” Ucapku. “Eh Fif…”Lanjutku. “Apa?” Tanya Afif lalu memakan makanan yang selalu dia santap di istirahat pertama ini. “1 minggu ini aku pulang sore terus. Ada latihan. Kan sebentar lagi mau final. Kamu nunggu ya.” Pintaku. “Nanti aku pikirin lagi.” Ucapnya. “Eh Put, kalo Afif gak mau nunggu kamu, aku mau kok nunggu kamu. Tenang aja.” Kata Roni tiba-tiba nyelonor. “Eh, aku aja Put.” Ardi tiba-tiba. “Makasih deh, tapi aku sama Afif aja.” Ucapku lalu memesan segelas es teh dan langsung menghabiskannya. “Bayarin ya Fif.” Kataku lalu kembali ke kelas.
Jam demi jam, pelajaran ke pelajaran aku lalui. Bel pulang berbunyi juga. Aku membereskan semua bukuku dan menaruhnya kembali ke tas. Aku pun beranjak dari kursiku dan keluar. Ketika aku keluar, Afif sudah menungguku.
“Aku gak bisa nunggu kamu sampe pulang. Aku harus pergi.” Katanya sambil berjalan. “Yah, masa kamu tega ninggalin aku sendiri?” Ucapku dengan wajah memelas. “Kamu itu udah bukan anak kecil lagi Put. Kamu udah kelas 2 SMA. Kamu gak bisa terus-terusan kayak anak kecil gitu.” Katanya. “Tapi selama aku SMA, aku gak pernah sama sekali berangkat atau pulang naik angkutan. Kalo aku naik angkutan aku bingung nanti.” Kataku mengikutinya dari belakang. “Kamu telpon atau sms aja. Nanti aku jemput kamu.” Katanya lalu menuju parkiran. “Ish… dasar, kalo aja bukan sahabat aku, udah aku jitak tadi.” Gerutuku. “Tuh kan, ditolak deh. Hahah.” “Ih! Apaan sih Don?” Ucapku ketika menoleh dan melihat Doni. “Aku tunggu deh. Aku siap kok nunggu kamu terus nganterin kamu.” Katanya. “Gak deh! Makasih!” Aku lalu pergi meninggalkannya. “Eh, ditawarin malah gak mau. Maunya Cuma sama cowok batu itu!” Teriaknya dari kejauhan. Mendengar ucapan Doni aku berbalik dan berjalan ke arahnya lagi. “Eh, balik lagi, gimana mau kan?” Katanya dengan pd nya. “Sekali lagi kamu ngatain Afif ‘cowok batu’. Aku hajar kamu!” Ancamku lalu pergi lagi. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
Aku menuju ke kamar ganti di ruang basket putri. Saat aku masuk ke ruang basket putri, disana sudah ada Airin dan Shinta. “Hey kapten, kok datengnya duluan kita?” Kata Shinta. “Kalian udah di sini aja.” Ucapku. “Kita kan harus rajin latihan biar menang di final nanti Put.” Kata Airin. “Kalo itu kita harus menang. Selain itu, aku juga gak mau kalah sama Afif!” Seruku. “Kalau niatnya gitu, nanti bisa gak menang Put.” Kata Airin. “Eh, hehe. Yang penting intinya kita harus menang!” Seruku lagi.
“Ada orang?!” Seseorang masuk. “Wah, baru bertiga ya? Aku kira aku telat.” Nina menggaruk kepalanya yang aku tau sebenarnya tidak gatal. Dan setelah 15 menit semua anggota basket berjumlah 8 orang sudah berkumpul. Aku, Airin, Shinta, Nina, Fitri, Ranti, Rina, dan Intan. Kami pun menuju ke lapangan basket dan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Ketika sedang pemanasan, seseorang memanggilku. Akupun menghampirinya.
“Andre, kamu latihan juga?” Tanyaku. Dia adalah Andre, kapten tim basket putra. Dia juga anak yang populer di sekolah karena kehebatannya dalam bermain basket. Andre itu orangnya tampan, keren, tinggi, baik, sempurna lah pokoknya. Namanya juga pemain basket, kalau keren itu pasti. Andre termasuk seorang yang cukup dikenal karena permainannya dan parasnya yang tampan. Banyak juga yang suka padanya, aku salah satunya. Aku sudah memendam perasaan ini sejak kelas 1. Aku selalu mendekatinya, memberi code, namun dia tidak pernah menyadarinya. Tapi tak apa, aku akan terus berjuang! “Iya Put. Selamat ya, kamu cocok jadi kapten, kamu bisa bawa tim kamu ke final. Semoga kamu bisa menang dan membawa nama sekolah ya Put.” Katanya. “Hehe, kamu bisa aja. Kamu gimana? Menang juga kan?” Tanyaku. “Sayang banget Put. Tim putra kalah, yah padahal Cuma selisih 4 angka.” Andre terlihat kecewa. “Jangan nyalahin diri kamu juga. Yang penting kamu udah usaha.” Hiburku. “Makasih Put.” Ucapnya tersenyum padaku. “Andre!! Yang lain udah pada kumpul!!” Seseorang memanggil Andre. “Udah dulu ya Put. Aku mau latihan, kamu juga. Banggain kita!” Katanya pergi dan melakukan pemanasan. Aku pun kembali ke timku.
“Eh, makin deket aja nih kapten tim putri.” Sindir Intan. “Ish, ngomong apa sih kalian? Kan sebentar lagi mau jadian?” Ranti ikut-ikutan. Semuanya tertawa. “Heh! Apaan sih kalian?! Udah ayo latihan!” Kataku dengan kesal juga malu. Kamipun melanjutkan latihan.
Beberapa jam pun berlalu, matahari sudah mulai terbenam, aku lalu menuju gerbang sekolah dan duduk di halte. Akupun menelepon Afif dan memberitau kalau aku sudah pulang. Tak lama Afif pun mengangkatnya. Baru dia bilang… “Ada apa?” Ternyata Afif sudah ada dibelakangku. “Ih, kenapa diangkat sih? Kalo kamu ada di belakang aku tinggal bilang aja!” Gerutuku padanya. “Udahlah, ayo pulang.” Dia berjalan meninggalkanku. “Tunggu dong!… Eh, ngomong-ngomong kamu kok udah ada di sini aja?” Tanyaku. “Aku habis ngerjain tugas, aku berhenti di warung depan sekolah. Waktu mau telepon kamu aku liat kamu.” Jelasnya. “Oh…” Ucapku singkat. Kami pun pulang. Afif mengantarku ke rumah terlebih dahulu lalu Afif pulang ke rumahnya. Sebenarnya rumahnya dekat dengan rumahku. Hanya berjarak beberapa rumah saja. Rumahnya besar, mewah, megah, super nyaman deh.
Hari ini sama saja dengan hari kemarin, aku berangkat bersama Afif. Namun kali ini lebih pagi, pukul 6 pagi aku dan Afif sudah berangkat ke sekolah. Memang biasanya pukul 6.15 menit perjalanan sampai juga di sekolahan. Aku dan Afif langsung menuju perpustakaan.
“Fif, kamu pernah gak ngerasain jatuh cinta?” Ucapku tiba-tiba mengucap itu. “Jatuh cinta?” Katanya dengan muka datar sambil membaca sebuah buku. “Aku bener-bener lagi ngerasain itu.” Kataku. “Terus?” Masih dengan muka datar. “Afif, apa orang yang cuek kayak kamu pernah ngerasain cinta?” Tanyaku penasaran. “Kamu mau aku jawab?” Katanya bertanya balik. “Afif… aku kan tanya, jadi kamu harus jawab dong!” “Kalau kamu tanya ke aku, jawaban aku biarkan itu menjadi rahasia hatiku.” Katanya. “Eh, gayanya pake rahasia segala. Berarti kamu pernah jatuh cinta ya? Siapa Fif orangnya?” Tanyaku penasaran. Afif hanya menggeleng lalu pergi. “Afif! Sukanya pergi gitu aja!” Teriakku lalu mengejarnya. “Nanti aku latihan, kamu nungguin aku ya.” Pintaku. “Aku sibuk. Kayak biasa aja, kamu telpon atau sms kalo udah pulang.” Katanya. “Ih, Afif gak biasanya begini. Sebenernya ada apa sih?”
Bel pulangpun berbunyi, saatnya pulang. Aku menuju ruang basket putri dan kali ini aku yang datang pertama. Tak lama yang lainnya datang. Setelah semuanya berkumpul, kami memulai latihan dengan pemanasan lalu lanjut latihan.
Cerpen Karangan: Arif S Facebook: facebook.com/asyariarif