3 jam latihan, usai sudah untuk hari ini. Aku menelepon Afif dan memintanya menjemputku di sekolah. Sekitar 10 menit kemudian Afif pun datang.
Kebetulan hari ini ada jam kosong, aku pergi ke kantin untuk sarapan karena aku belum sarapan pagi tadi. Aku menuju ke kantin bersama Sarah dan Lisa. “Eh Put, Afif itu orangnya gimana sih?” Lisa tiba-tiba. “Afif? Kok tiba-tiba ke Afif sih?” Tanyaku. “Kemarin dia liat kamu sama Afif, Put. Katanya dia ganteng.” Kata Sarah. “Oh, ceritanya naksir nih? Hahah.” Ledekku. “Eh, kenal aja gak kok. Tapi kalo kenalan mau.” Canda Lisa. “Ish, dasar! Minta bantuan Putri aja.” Usul Sarah. “Hehe, aku tadi mau minta bantuan kalo gak ada kamu Sarah. Tapi ya udah deh, gimana Put? Kenalin aku sama Afif dong.” Lisa meminta. “Boleh.” Ucapku. “Kamu mau kenalan juga gak Sar? Nanti sekalian.” Lanjutku. “Kenalan? Bercanda ya kamu. Makasih udah nawarin, tapi gak deh.” Kata Sarah. “Yeh, kirain kan.” Kataku. Setelah selesai makan, aku, Lisa, dan Sarah kembali ke kelas.
Jam sekolah telah usai. Seperti biasa, aku menuju ruang basket Putri untuk ganti pakaian. Latihan juga seperti biasa. Selesai latihan, aku mengirim pesan pada Afif. Afif membalasnya dan berkata dia akan menjemputku. Saat aku sedang menunggu Afif bersama Lisa dan Sarah. Andre baru keluar dari sekolah. Aku memanggilnya dan melambaikan tangan. Dia balas dengan lambaian tangan juga. Dia pun menghampiriku.
“Baru selesai latihannya?” Tanyaku. “Kalau latihan dari tadi sih Put. Cuma aku nyari uang tadi. Uang aku 20 ribu hilang. Padahal uang itu buat pulang.” Katanya terleihat sedih. “Mmm… kamu boleh ambil uang aku.” Aku merogoh sakuku dan mengambil uang 20ribuan. “Beneran nih Put?” Tanya Andre. “Beneranlah.” Aku meyakinkan. “Oke, tapi aku bukan minta ya. Aku minjem. Besok aku balikin.” Katanya. “Oke!” Singkatku. “Eh, tapi ngomong-ngomong kamu pulangnya gimana?” Tanya Andre. “Aku mah pulangnya biasa. Di jemput Afif. Eh, aku sama Afif gak ada hubungan apapun kok tapi. Aku cuma temen kecilnya Afif.” Ucapku. Andre terlihat tidak mengerti dengan ucapanku.
“Mau pulang atau masih betah?” Seseorang tiba-tiba datang. “Afif… dateng tiba-tiba gitu. Bikin kaget aja.” Kataku. Lisa mendekati Afif. “Ooh… jadi kamu yang namanya Afif. Ganteng juga kalau dari deket.” Lisa terlihat terpana. “Eh, kenalin aku Lisa.” Lisa mengulurkan tangannya. “Afif.” Afif menerima uluran tangan Lisa.”Maaf?” Afif menatap tangannya. “Oh, m…maaf. Grogi. Hehe. Boleh minta nomor hp gak?” Tanya Lisa. “Kalau mau minta nompr hp, minta ke Putri aja. Aku gak ada waktu.” Kata Afif. “Ayo Put.” Afif berjalan terlebih dulu. “Ya udah, aku pulang dulu ya Ndre. Dah.” Aku tersenyum dan melambaikan tangan. Dia hanya membalasnya dengan tersenyum.
15 menit pernajalan sampai juga di rumahku. “Fif, mampir dulu yuk!” Ajakku. “Gak deh makasih, banyak PR. Aku pulang aja.” Katanya. “Hfftt… untung Afif orangnya baik. Jadi jutek juga gak masalah deh.” Batinku.
Pagi ini aku berangkat lebih awal. Aku mengirim pesan pada Afif agar dia datang lebih pagi. Aku masih ada tugas yang tidak bisa aku selesaikan. Jadi aku memutuskan untuk datang lebih awal dan mengerjakannya bersama Linda, teman sekelasku. Tak lama Afif datang juga.
“Mau apa berangkat pagi?” Tanya Afif memberikan helm. “Ada urusan.” Jawabku lalu naik ke motor. 10 menit sampai juga. Aku langsung turun dan menuju kelas. Sedangkan Afif memarkirkan sepeda motornya.
Saat aku sampai di kelas. Linda sudah duduk di tempat duduknya, barisan kedua tepat di belakangku. “Gimana Linda? Kamu udah selesai?” Tanyaku lalu duduk disampingnya. “Belum nih Put. Aku juga belum tau caranya. Tapi aku lagi cari di Internet.” Ucapnya sambil memainkan laptopnya. Saat aku dan Linda sedang mengerjakan tugas, Afif lewat kelasku dan dia melihatku bersama Linda. Dia sudah lewat, namun tiba-tiba dia masuk ke kelasku. “Oh, jadi ini alasan kamu berangkat pagi?” Ucapnya. “Aku gak bisa ngerjain Fif. Sengaja berangkat pagi eh ternyata Linda juga gak bisa.” Jawabku. Afif lalu duduk di baris pertama dan menghadap ke arahku. “Aku tunjukan caranya.” Katanya mengambil bukuku dan membuka halaman terakhir bukuku dan menuliskan soal yang aku dan Linda tidak bisa kerjakan. “Oh! Kamu bisa?” Tanya Linda. Afif lalu menjelaskan caranya. Saat Afif sedang menjelaskan cara mengerjakan soal. Linda terlihat mencuri pandang terus ke Afif. Aku menyikutnya. “Ssstt…” “Oh jadi gitu caranya. Makasih ya.” Linda tersenyum manis pada Afif. Ketika Afif hendak pergi, Doni datang. “Wah, murid baru ya?” Kata Doni. Afif hanya cuek dan pergi. “Eh, kurang ajar dia.” Kata Doni Kesal. Doni lalu menghampiriku dan Linda. “Eh, mau apa dia kemari Put?” Tanya Doni. “Bukan urusan kamu.” Kataku lalu menaruh tas di tempatku dan pergi ke luar. Linda juga mengikutiku. “Eh Put! Tunggu aku!” Linda memanggilku. “Apa sih?” Tanyaku. “Kamu mau ke mana? Kok malah ninggalin aku sama cowok gila itu sih?” Ucap Linda. “Aku mau ke koperasi.” Kataku. “Ikut deh.” Katanya.
Sampai di koperasi. “Eh, ternyata Afif itu pinter banget ya.” Katanya. “Ish, waktu Afif jelasin tadi faham gak kamu?” Tanyaku. “Hehe, aku belum paham.” Dia menggaruk kepalanya. “Kamu liatin Afif aja! Naksir ya?” Kataku. “Eh… jangan keras-keras.” Ucapnya. “Aduh, ternyata pesona Afif gak kalah ya sama Andre.” Ucapku. “Hayooh! Kamu juga naksir tuh sama Andre ya?” Aku justru diserang balik. “Eh… kurang ajar kamu! Jangan keras-keras dong!” Ucapku. Aku pun langsung meninggalkan Linda dan menuju kelas.
Bel masuk pun berbunyi. Pelajaran di mulai. Dan setelah beberapa pelajaran usai. Akhirnya bel pulang berbunyi. Saat aku keluar dari kelas, Afif sudah menunggu di dekat kelasku. “Afif, kok gak pulang?” Tanyaku. “Kamu masih latihan? Aku kira besok hari minggu.” Katanya. “Aku tetap latihan.” Kataku. Linda, Lisa, dan Sarah datang. “Eh, Afif. Makin ganteng aja kamu.” Kata Lisa. Wajah Linda terlihat tak senang. Tak lama Dinda datang. “Eh, Afif. Kamu gak pulang? Ke tempat parkir bareng yuk.” Ajak Dinda. “Eh, Afif. Kamu mau gak nganterin aku?” Linda memohon. “Ada apa sih? Kenapa kalian…” Afif menghentikan ucapannya. “Put, biasa ya. Kalo mau pulang sms atau telpon aja.” Afif pergi meninggalkan kami semua. “Eh Afif! Tunggu!” Dinda mengejar Afif. “Aduh, Dinda terlalu berlebihan. Lisa sama Linda juga.” Batinku. Aku mengejar Afif dan menarik tangannya. “Eh, kenapa Put?” Tanya Dinda yang ada di samping Afif. “Fif, kenapa kamu gak sekali-kali nunggu aku latihan. Besok kan hari minggu. Pasti kamu gak sibuk kan?” Kataku. “Eh, apaan sih Put? kamu…” Belum selesai Dinda berbicara, dipotong oleh Afif. “Aku mau pulang.” Katanya. “Afif, ayo dong. Sekali-kali liat aku latihan. Aku seneng banget kalo kamu liat aku latihan sampai nunggu aku pulang.” Ucapku. “Afif itu…” Lagi, ucapan Dinda di potong Afif. “Oke, terserah kamu aja.” Katanya. “Sip!” Batinku. Dinda terlihat tidak senang. Baru pertama kali Afif melihat aku latihan sampai-sampai menunggu aku selesai latihan.
“Eh Put. Afif kalo dari deket cakep juga ya.” Kata Intan. “Eh, apaan sih kamu? Kamu suka sama Afif?” Tanya Airin. “Aku kan Cuma bilang cakep?” Kata Intan. “Semua orang juga bilang kalo Afif itu cakep kali.” Kata Shinta. “Sekarang aku mau tanya ke kalian!” Ranti tiba-tiba. “Apa?” Tanya Nina. “Oke, Andre sama Afif mendingan siapa?!” Kata Ranti. “Eh! Apaan sih kamu Ran? Kok tiba-tiba bandingin Andre sama Afif?” Aku kesal karena ucapan Ranti. “Hehe, ada yang marah nih.” Kata Ranti. “Kalo Andre cakep, tinggi, keren. terus…” Fitri tidak melanjutkan ucapannya. “Afif juga cakep, emang gak terlalu tinggi. Tapi dia juga keren. Pinter lagi, kalo di pikir, Afif banyak plusnya. Cuma satu min-nya. Jutek.” Kata Rina. “Eh! Apaan sih kalian! Udah gak usah pada sok tau deh!” Kataku tambah kesal. “Hehe, jangan marah Put. Kita Cuma bercanda kok.” Kata Ranti. “Eh, tapi bener juga kata Rina. Afif sama Andre mendingan Afif. Tapi kok Putri lebih milih Andre ya?” Airin tiba-tiba ikut-ikutan. “Ehhh… Kalian kenapa jadi malah ngomongin orang sih? Udah latihan!” Aku agak berteriak. Akhirnya kami melanjutkan latihan.
Dan 3 jam berlalu usai sudah latihan kami. Saat aku dan Afif hendak pulang. Andre menghampiri kami. “Put! Fif.” Sapa Andre. “Andre… ada apa?” Tanyaku. “Eh, Put. Aku mau minta tolong boleh gak?” Tanya Andre. “Tumben nih Andre minta tolong ke aku.” Batinku. “Boleh. Mau apa?” Tanyaku. “Anterin aku buat beli kado ulang tahun yuk.” Ajaknya. “Oke.” Ucapku. “Fif, maaf ya. Padahal aku udah minta kamu nunggu aku sampe pulang. Titip tas ya.” Aku menitipkan tasku pada Afif dan langsung pergi. Dan aku pun pergi ke toko boneka untuk membeli boneka sebagai hadiah ulang tahun entah siapa itu. Dan setelah itu, Andre mengantarkanku sampai rumah. Aku sangat senang hari ini. Sampai tidak memikirkan untuk siapa hadiah itu.
Sudah 4 hari berlalu setelah pertandingan semi final. Berarti lusa adalah pertandingan final. Kami tentu berdoa untuk yang terbaik. Kebetulan hari ini adalah hari libur, hari minggu soalnya. Pagi ini aku pergi ke rumah Afif. Ketika sampai ke rumah Afif, aku menekan bel. Tak lama ada seorang yang aku kenal, pembantu rumah tangga.
“Afifnya ada kan bi?” Tanyaku. “Ada neng, den Afif sedang di teras atas. Silakan masuk.” Aku masuk ke rumah Afif.
Rumah Afif memiliki teras di lantai 2. Tempat yang enak untuk belajar. Saat aku sudah di depan pintu, aku mendengar sesuatu. “Gitar…?” Lirihku. “Afif lagi main gitar.” Kataku. Aku menempelkan telingaku ke pintu, aku mencoba mendengarkan suara nyanyian. Namun tidak kunjung ada nyanyian, hanya suara gitar saja. Karena tidak kudengar suara nyanyian, aku pun membuka pintu.
“Putri? Kamu ngapain pagi-pagi udah ada disini?” Tanya Afif keheranan. “Main boleh kan?” Aku duduk di samping Afif. “Yah, terserahlah.” Katanya menaruh gitarnya. “Ayah sama ibu kamu gak di rumah lagi?” Tanyaku. “Yah, biasalah. Pulang malem, paginya pergi lagi.” Katanya sangat datar. “Mereka kan kerja juga buat kamu juga Fif.” Aku mencoba menghibur Afif. “Ah udahlah, aku gak mau ngomongin itu.” Afif beranjak dan menuju ke tepi. Aku lalu beranjak dan berdiri di samping Afif. “Fif, aku mau kamu dateng ke pertandingan final nanti.” Ucapku. “Aku gak bisa janji.” Katanya. “Kamu gak pernah sekalipun dateng ke hari pertandingan aku. Bahkan meski pertandingan di SMA pun kamu gak liat, kamu malah pergi entah kemana?” Kataku. “Aku gak terlalu suka sama olahraga.” Katanya.
“Maaf ya soal kemarin.” Ucapku. “Soal apa?” Tanya Afif. “Kemarin aku pergi sama Andre.” Jawabku. Afif diam saja dan menatap ke langit. “Tempat ini tempat yang nyaman buat belajar. Tempat yang nyaman buat bermain gitar.” Katanya. “Main gitar ya? Kamu main gitar dong. Sambil nyanyi. Nyanyiin satu lagu buat aku.” Pintaku. Afif menggeleng. Tidak. Mungkin itu jawabannya. “Ya udah deh. Terserah kamu aja. Mending dari pada kamu stress mikirin orangtua kamu yang pergi terus. Kita pergi yuk.” Ajakku. Kami berdua pergi ke sebuah taman bermain di Bandung. Kami memang sudah SMA namun kami masih suka bemain di sini. Bukan kami sih sebenarnya, Cuma aku. Tidak terasa matahari sudah di atas kepala.
Kami pun pulang ke rumah. Ke rumah Afif sebenarnya. Aku duduk di ruang tamu dan disuguhi minuman oleh pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Afif. Aku melihat sebuah notebook dengan sampul berwarna coklat. Aku mengambilnya, dan saat aku membuka sampulnya.
“Ini buku hariannya Afif.” Ucapku. Saat aku membuka halaman berikutnya. Tiba-tiba Afif merebutnya. “Itu punya aku.” Katanya. “Ih Afif, pinjem.” Pintaku. “Itu buku harian kamu ya?” Tanyaku. “Bukan, ini buku catatan.” Katanya. Yah sudah biarkan sajalah.
Cerpen Karangan: Arif S Facebook: facebook.com/asyariarif