“Kamu kalau mau deketin Afif, jangan kayak gitu. Kamu itu harus…” Aku sedang bersama Dinda dan memberi tau hal yang tidak disukai dan disukai Afif. Saat Dinda mendekati Afif dan melakukan apa yang aku suruh. Nampaknya gagal. “Okeh! Aku akan bantu kamu. caranya…” Sama saja dengan Dinda, Lisa pun gagal. “Gini, caranya gampang…” Linda juga gagal. “Tau lah! Kamu kalau kasih saran gak bener.” Kata Linda. “Eh, yang aku kasih tau beneran.” Ucapku. Dinda, Linda, dan Lisa pun meniggalkanku sendirian.
Bel pulang telah berbunyi, ini adalah latihan terakhir. Saat aku keluar kelas. Aku melihat Afif berjalan ke arahku. Namun saat sampai tepat di depan kelasku. Bukannya dia berhenti, dia justru terus berjalan. “Afif! Kok kamu diem aja sih? Kamu gak nemenin aku latihan?” Tanyaku. “Aku gak suka kalau kamu kasih tau semua tentang aku ke Dinda, Linda, atau siapapun.” Katanya lalu terus berjalan. “Afif, kamu marah ya? Maafin aku dong!” Aku mengikutinya sampai ke tempat parkir. “Afif, aku kan Cuma mau kamu itu punya temen lain selain aku.” Ucapku. “Tapi bukan begini caranya.” Katanya mengenakan helm dan pergi. “Aduh, Afif marah lagi. Aku kan gak maksud gitu. Gimana nih?” Aku gelisah sekali.
Aku lalu menuju ruang basket putri dan ganti pakaian. Lalu aku berlatih seperti biasa hingga selesai aku menuju halte. “Terpaksa pakai angkutan atau bus deh pulangnya.” Ucapku. Aku melihat jam di tangan kiriku menunjukan pukul 5.30. “Aduh, udah mau gelap. Hujan lagi, udah sore. Mana ada angkutan atau bus lewat sini. Kan siswa udah pada pulang.” Ucapku gelisah. “Aku pulang jalan kaki aja kali ya? Aku kan bawa payung.” Kataku. Saat aku mengambil payung dan hendak pergi. Tiba-tiba ada Andre berlari ke halte. “Andre, kamu belum pulang juga?” Tanyaku. “Uangku hilang lagi. Aku harus cepet pulang nih. Ayah sama ibu aku mau pergi ke Surabaya. Ada tugas disana.” Jawabnya. “Oh, aku ada uang nih.” Saat aku mencari uang di sakuku ternyata tidak ada. “Aduh, uang aku hilang.” Kataku. “Eh, aku ada payung. Kamu bawa aja payung aku.” Aku memberikan payungku pada Andre. “Kamu gimana?” Tanya Andre. “Afif sebentar lagi dateng.” Jawabku. Andre langsung menerima payungku dan berlari pulang. “Aku telpon Afif gak ya? Aku takut dia marah.” Batinku. Tapi aku coba saja menelepon Afif. Dan tidak lama, terdengar suara. ‘Pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini.’ “Aduuh! Pulsaku habis lagi. Gimana nih? Dingin banget lagi.” Ucapku menyilangkan tangan ke badan. Aku sempat mau meneteskan air mata karena aku tidak tau bagaimana aku pulang, pulsaku habis, hujan, sudah malam. “Lari? Nanti sakit. Besok final.” Batinku. Dan air mataku benar-benar menetes kali ini.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang memasangkan jaket padaku. Sontak aku langsung menengok dan terkejut. Namun ketika aku melihat orang itu. “Jangan sok jadi pahlawan. Pikirin diri kamu juga.” Katanya. Aku lalu memeluknya. “Afif, kamu dateng?” Aku sangat senang karena ternyata Afif tidak marah padaku. Bahkan dia tetap menjemputku. “Gimana kita pulang?” Tanyaku. “Ujan, kalau naik bus atau angkutan gak mungkin ada yang lewat sini.” Kataku. “Eh, kamu bawa motor ya? Aku lupa.” Ucapku. “Kamu bawa jas hujan?” Tanyaku. Afif menggeleng. “Yah, terus gimana dong?” Tanyaku.
Sekitar 30 menit kemudian, hujan mulai reda. Aku dan Afif pergi ke suatu tempat. Dan ternyata… “Kamu pakai mobil? Kok gak bilang dari tadi? Kita kan bisa pulang dari tadi!” Kataku kesal karena Afif mengerjaiku. “Haha, maafin aku. Aku Cuma mau lebih lama aja sama kamu.” Katanya. Aku benar-benar menangis. Kami pun pulang. Afif mengantarku sampai rumahku. “Afif, maafin aku ya soal tadi.” Ucapku. “Gak usah minta maaf. Aku tau kamu mau bantu aku. Cuma aku kurang suka aja sama cara kamu.” Ucapnya sambil tersenyum.
Dan akhirnya, sampai juga di rumahku. “Aku minta kamu dateng ke pertandingan aku besok!” Pintaku. “Ya, aku pasti dateng.” Ucapnya. Afifpun pamit pulang.
Malam hari dihiasi hujan rintik-rintik. Aku lalu mengambil tas dan membuka tas untuk mengambil ponsel. Namun aku baru ingat kalau pulsaku habis. Aku lalu pergi untuk membeli pulsa. Saat aku pulang dan membuka tasku untuk menghubungi Andre. Aku menemukan sebuah notebook coklat. “Ini punya Afif kalo gak salah.” Ucapku. Aku membuka halaman pertamanya. “Bener, ini punya Afif. Kok bisa ada di sini?” Batinku. Aku lalu membuka halaman selanjutnya.
‘Buku pemberian ayahku.’ Disertai gambar seorang lelaki dan seorang perempuan yang sedang menggandeng anaknya. Mungkin maksudnya ayah dan ibunya Afif. ‘Aku bingung mau nulis apa?’ Aku tertawa sendiri membaca halaman ini. Lalu aku buka saja halaman selanjutnya. ‘Aku mau cerita sahabat aku aja deh. Namanya Putri. lengkapnya… Aku lupa. Hehe, dia orangnya baik, cantik, pinter? Aku baru kenal jadi aku gak tau. Dia orang pertama yang terus deketin aku. Katanya dia mau jadi temen aku.’ Aku tersenyum membacanya. Aku lalu membuka halaman jauh di depan. ‘Aku benci sekali kelas ini. Harus berpisah dengan Putri.’ ‘Hari ini hari pertama masuk, tapi kelasnya menyebalkan.’
‘Putri kalau main basket cantik banget. Pasti banyak yang suka.’ ‘Permainan basketnya bagus, tapi aku kurang suka olahraga. Hari ini adalah pertandingan pertamanya. Aku malas melihat, Tapi karena Putri yang minta, jadi aku melihatnya. Meski dia tidak tau kalau aku datang.’
“Jadi waktu pertandingan pertama Afif dateng?” Ucapku.
‘Dia memasukkan bolanya dengan tepat ke ring lawan.’
‘Aku dibelikan motor, aku sangat senang. Bisa untuk mengajak Putri jalan-jalan.’ Aku tersenyum membaca itu. ‘Bagaimana aku mengajaknya pergi? Aku tidak bisa memulai pembicaraan.’ ‘Aku lupa kalau aku belum punya SIM. Jadi tidak bisa mengajak Putri jalan-jalan.’ ‘Yang penting sudah bisa naik motor.’ ‘Hanya naik, belum bisa menggunakannya.’
“Haha, Afif kalo di buku harian kayak gini. Gak kayak di dunia nyata.” Kataku.
‘SMA, ternyata aku sudah besar. Aku sudah bisa merasakan kesepian, kedua orangtuaku selalu pergi.’ ‘Putri berubah semenjak dia mengenal seorang pemain basket yang bernama Andre.’ ‘Aku bahagia bisa menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade.’ ‘Aku bisa membanggakan sekolah serta teman-temanku. Namun orangtuaku acuh!’
“Apakah aku berubah ketika aku mengenal Andre?”
‘Banyak siswa siswi yang mengenalku setelah aku memenangkan olimpiade.’ ‘Aku senang aku bisa dikenal. Namun aku tidak senang karena di kenal, banyak siswi yang mendekatiku. Mereka bilang aku tampan? Itu lucu sekali.’ ‘Kenapa baru kurasakan sekarang?’ ‘Jadi ini yang namanya sakitnya CINTA? Aku benci dengan CINTA. Karenanya, aku merasa sakit saat Putri dekat dengan Andre.’
“Andre? Apa Afif suka sama aku?” Aku penasaran jadi aku membuka halaman selanjutnya.
‘Aku tidak ingin merasakan apa itu cinta. Karena cinta, aku menjadi buta. Aku tidak berfikir masa depan. Percuma saja. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan cintanya Putri.’
“Afif bener-bener suka sama aku?” Aku lalu membuka halaman selanjutnya.
‘Putri memintaku datang di pertandingan basket pertamanya di SMA. Dia menunjukkan ban kapten yang ia peroleh.’ ‘Aku datang, tapi Putri tidak mengetahuinya.’ ‘Dia bisa memimpin timnya. Dia sangat hebat.’ ‘Pertandingan kedua, dia cedera. Kakinya terkilir. Aku ingin menolongnya, tapi kenapa harus Andre yang membantunya?’ ‘Tim SMA dapat memenangkan pertandingannya meski tanpa kapten mereka yang cantik.’ ‘Aku melihat pertandingan kedua, meski Putri tidak bermain. Dia tetap memintaku untuk datang.’ ‘Perempat final. Dia bermain sangat hebat. Tidak seperti biasanya.’ ‘Tim putra kalah di perempat final. Aku kecewa juga.’
“Afif bahkan datang di pertandingan basket putra meski dia tidak menyukai Andre.” Kataku. “Aku masih tidak percaya kalau Afif menyukaiku. Tapi kenapa dia tidak mengungkapkannya?” Lanjutku.
‘Semi-final. Putri memintaku untuk datang. Aku datang, namun Putri tidak mengetahuinya. Seperti biasa.’ ‘Aku bisa berangkat bersama Putri lagi.’ ‘Aku ingin menemaninya latihan, namun aku tidak bisa. Aku takut perasaan ini semakin dalam dan aku tidak bisa melepasnya.’ ‘Aku hanya menunggunya di warung dekat sekolah.’ ‘Aku tidak pernah sekalipun pulang sebelum Putri pulang.’ ‘Aku sakit. Apakah aku harus menjadi pemain basket terlebih dahulu agar Putri tertarik?’ ‘Dia berkata kalau dia mencintai Andre? Itu sudah cukup. Aku tidak ingin merasakan sakit lagi. Aku akan melupakannya.’
“Aku…” Aku melanjutkan membaca.
‘Aku harus pergi. Aku harus melupakannya.’ ‘Aku tidak bisa!’ ‘Mungkin ini adalah kesempatanku.’ ‘2 hari terakhir. Dia mengajakku bersenang-senang. Aku hanya ingin melihatnya.’ ‘Dia membuat kesalahan. Nampaknya dia benar-benar tidak merasakan apa yang sudah aku lakukan untuknya.’
“Maaf…” Ucapku dan tanpa kusadari air mataku menetes. Saat aku buka halaman selanjutnya.
‘Aku tidak akan membiarkanmu sakit. Aku tidak akan bisa melihatmu sakit. Terimakasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu…’
“Afif sengaja menulis ini untukku. Apakah dia ingin aku mambacanya?” Aku lalu melanjutkan membaca.
‘… Kamu adalah hal terindah dalam hidupku. Aku harap kepergianku bisa membuatmu bahagia. Menangkan pertandingan besok. Kamu harus bisa membanggakan siswa-siswi dan para guru. Kamu harus bisa membawa nama sekolah!’ Aku membuka halaman selanjutnya, namun di halaman selanjutnya kosong. Aku langsung mengambil ponselku dan menghubungi Afif. Namun nomornya sudah tidak aktif. Aku hanya berharap dia datang besok.
—
“Kita harus semangat!” Kata Airin. “Harusnya yang ngomong gitu kan Putri.” Kata Shinta. “Udahlah, kita disini sama aja. Kita harus berjuang!” Kata Intan.
“Put? Kok kamu malah bengong sih?” Ranti mengejutkanku. “Maaf.” Ucapku. Kami pun menuju tempat untuk kedua tim. 15 menit lagi pertandingan akan dimulai. Aku masih menunggu seseorang. “Afif, kamu bener-bener udah pergi? Semalem aku ke rumah kamu tapi kamu gak ada.” Kataku. Aku melihat Andre. Dia menghampiriku bersama seseorang. “Hey Put. Semangat ya!” Katanya. “Iya.” Ucapku. “Oh, kenalin, ini Nia. Pacar aku.” Katanya. Aku sangat terkejut kalau Andre sudah memiliki seorang kekasih. Andre dan Nia menuju tempat duduk untuk penonton. Ketika aku mengetahui kalau Andre sudah memiliki seorang kekasih, entah mengapa aku tidak kecewa sedikitpun. Nampaknya aku sudah tidak memikirkan Andre lagi. Yang ada di pikiranku saat ini adalah Afif.
Teriakan semakin keras ketika pertandingan sudah dimulai. Tim lawan sangat hebat, kami tertinggal beberapa poin. Aku juga tidak fokus karena aku melihat ke sekitar. Aku sangat berharap kalau Afif datang untuk mendukungku. Di quarter pertama, kami tertinggal, 11-15. Pertandingan dilanjutkan, namun aku masih belum bisa fokus. Al Hasil, Tim kami kalah di pertandingan babak pertama. 19-23.
“Ayo Put! Kita harus semangat! Ini kesempatan kita untuk membawa nama sekolah!” Fitri menyemangatiku. Aku hanya mengangguk. Pertandingan babak kedua quarter ke tiga dimulai. Aku masih mencari sosok Afif di sekitar penonton. Saat aku tengah memegang bola. Aku melihat Afif. Dan dengan cepat musuh merebutnya dan memasukkannya ke ring.
“Put! Ada apa sama kamu? Kamu kelihatannya gak fokus!” Aku tidak memperdulikan Nina. Aku melihat ke arah Afif. Dia berdiri di antara banyaknya penonton. Dia mengangkat tangannya dan berkata “SEMANGAT” meski tidak terdengar.
Setelah itu, aku menjadi semangat. Aku sangat senang karena Afif datang. Dan akhirnya pun, pertandingan menjadi milik kami. Hingga akhir pertandingan. Timku selalu memegang bola. Dan akhirnya, kami menang. 33-30 poin akhir. Ketika aku melihat ke arah penonton. Aku tidak melihat Afif lagi. Aku lalu berlari ke arah penonton saat Afif berdiri. Aku bertanya kepada penonton memang benar ada seorang yang aku sebutkan ciri-cirinya, yaitu Afif. Namun dia pergi ketika pertandingan selesai.
Aku berlari keluar dan mencari Afif. Namun sudah tidak ada siapapun. Aku lalu masuk kembali dan mengambil tasku lalu berencana untuk pulang. Namun ketika aku mau pulang. Ardi memanggilku. “Mau kemana Put? Ini ada titipan dari Afif.” Dia memberikanku notebook coklat milik Afif. Aku lalu membuka tasku. Tidak ada notebooknya disana. Aku lalu membuka halaman setelah halaman terakhir yang terdapat tulisannya.
‘Put, aku tau kamu pasti bisa menang. Aku senang bisa bertemu denganmu. Aku bahagia bisa mengenalmu. Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat aku tidak merasa kesepian meski aku hanya melihat wajahmu saja. Aku menaruh notebook ini saat kita ada di mobil kemarin, dan maaf tadi aku mengambil notebook ini secara diam-diam saat kamu sedang bertanding. Aku pindah ke Singapura karena pekerjaan ayahku, aku berharap kamu bisa berbahagia.’
“Singapura? Aku ingat saat Afif berkata ‘Aku Cuma mau lebih lama aja sama kamu’.” Ucapku. Air mataku menetes. “Gak! Aku gak mau kamu pergi!” Teriakku. Semua siswa lalu menuju ke arahku. Terutama anggota tim basketku. “Afif! Aku gak mau kamu pergi! Aku gak bisa kehilangan kamu!” Air mataku mengalir dengan derasnya. Airin memeluk dan mencoba menenangkanku. Namun itu sia-sia, hanya Afif yang bisa membuatku tenang sekarang. Aku benar-benar merasa bersalah karena aku tidak melihat Afif.
Kesalahan terbesarku adalah ‘Aku tidak melihat ke belakang. Aku tidak melihat seseorang yang ada di belakangku. Aku hanya melihat orang yang ada di depanku. Dan ternyata kenyataannya adalah Ada seseorang yang lebih peduli padaku dari pada orang yang aku pedulikan.
Cerpen Karangan: Arif S Facebook: facebook.com/asyariarif