“Nih buat kamu.” Ucap Nadia sambil menyodorkan minuman dan obat. “Buat?” tanya Andika. “Katanya sakit. Get Will Soon yaa. Jangan sakit.” setelah itu Nadia pergi meninggalkan Andika.
Selepas kepergian Nadia, ada sesuatu yang bergetar di dalam hati Andika. Sesuatu yang belum dia rasa sebelumnya.
Keesokan harinya, Nadia bertemu Andika di lorong sekolah. “Makasih yaa.” sambil terus jalan. Nadia menoleh, dan tersenyum, lalu pergi untuk menuju kelasnya.
Kau tahu, bahkan hati yang dingin pun bisa luluh karena Cinta. Jika kau tak setuju, terserah!
Entah sejak kapan, Nadia selalu masuk dalam pikirannya. Nadia hanya wanita biasa, yang juga pemalu jika bertemu dengan orang yang dia suka. Di sekolah pun Nadia jarang ngobrol dengan Andika, meskipun mereka satu kelas. Entah apa yang mereka berdua pikirkan.
Hari itu, untuk pertama kalinya Nadia tahu bahwa Andika sedang dekat dengan Dina. Anak kelas XI IPA 3. Dan Nadia memilih untuk diam, dan diam-diam dia mencoba menghilangkan perasaan cintanya.
Waktu pelajaran olahraga, Nadia pingsan di tengah lapangan. Karena dia tidak sarapan dikarenakan dia telat bangun. Dan alhasil dia pingsan.
“Lo gak pa-pa?” tanya Andika pada waktu melihat Nadia membuka mata. “Hemm. Iyaa.” jawabnya. “Nih buat lo. Jangan sakit.” sambil menyodorkan teh hangat dan kemudian berlalu.
Banyak kabar bahwa Andika berpacaran dengan Dina, dan itu sangat membuatnya terpuruk. Hingga tanpa sadar saat dia menangis di sebuah taman dekat sekolah, Andika menghampiri. “Ada apa?” tanyanya Nadia diam, dia tidak menjawab.
“Gue khawatir sama lo!” bentaknya “Lo harusnya mikir. Lo udah punya pacar, tapi kenapa lo masih perhatian ke gua? Gue sakit. Dan gue gak mau dianggap perebut pacar orang.” ucapnya tanpa sadar. Dan langsung membekap mulutnya. “Oh jadi karna itu? Perlu gue jelasin yaa, gue gak ada hubungan apa apa sama Dina. Dina yang mau ke gue. Bukan gue yang mau sama dia. Gue pulang bareng dia karna nyokapnya yang minta gue. Karna rumah kita searah dan dia temen SMP gue.” jelasnya “Oh, sorry gue gak tau.”
Setelah itu Andika menatap Nadia, dan memegang kedua tangannya. “Sebelumnya gue minta maaf, gue gak pernah mau tau soal perasaan lo, gue selalu egois karna cuma mikirin diri gue sendiri.” sambil menghela nafas. “Dan gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” sambungnya saat itu yang membuat Nadia diam tak berkutik.
“Iya gue mau.” jawab Nadia dengan senyum kebahagiaan sambil menunjukkan gigi gingsul nya itu.
Cerpen Karangan: Ismiyatul Inayah Facebook: Ismiyatul Inayah Saya Ismiyatul Inayah. Suka anime Naruto. Sekarang sedang duduk di rana kuilah dan menempuh semester 3. Saat ini sedang mendung di Madura. Di dalam masjid terasa begitu gelap. Sepertinya hujan akan turun. Find me in: Ig: Ismiyatul_inayah