Hari itu, hari Senin 3 Juli 2017. Hari yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Hari pertama aku melakukan kerja prakteku di tempat baru yang asing. Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di dunia kerja yang katanya orang “mengerikan” dan “dunia sesungguhnya” “welcome to the real life” dan kata-kata mengerikan lainnya.
Jangan salah, aku adalah anak perantau disaat umurku yang cukup belia saat itu (13 tahun), saat pertama kalinya aku harus jauh dari ibuku dan memulai kehidupan baru sebagai seorang anak SMP berasrama. Lalu, saat SMA aku harus kembali berkelana di kota yang berbeda alias menjadi pendatang di tanah Semarang Jawa Tengah, yah kembali menjadi anak asrama. Lihatlah, pengalaman “berkelana” ku ini cukup bisa menggambarkan betapa berani dan mandirinya aku kan? Bayangkan 6 tahun menjadi anak asrama, bukankah itu luar biasa? Terbiasa hidup mandiri, segalanya dikerjakan sendiri, dan hal luar biasa lainnya. Haha.
Tapi, kali ini berbeda. Aku benar-benar harus menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.. apakah aku terdengar lebay? Hanya satu pikiranku saat itu, tepatnya pagi itu saat aku tiba di tempat KKL ku: SEMOGA INI CEPAT BERAKHIR, 30 HARI CEPATLAH BERAKHIR!
Setelah menunggu cukup lama di pos satpam perusahaan KKL ku, akhirnya seorang satpam menghampiriku dan berkata bahwa aku dapat masuk ke dalam untuk bertemu dengan bagian administrasi untuk mengurus segala keperluanku selama KKL.
Singkat cerita, setelah mengisi berbagai dokumen yang diperlukan selama aku KKL, seorang Bapak menghampiriku dan memberikanku baju berwarna biru dan sepatu besar berwarna coklat. Baju biru tersebut adalah seragam wajib yang harus selalu aku gunakan selama KKL, dan sepatu besar berwarna cokelat itu adalah sepatu safety yang harus selalu aku kenakan.
Setelah mengenakan sepatu besar itu, aku diarahkan ke sebuah ruangan (seperti ruangan kantor) yang ternyata adalah kantor Dept. Engineering. Ya, disinilah departemen dimana aku ditempatkan selama KKL. Dan, dari sinilah semua cerita bermula…
Hari pertamaku berlalu tanpa kesan yang berarti. Aku diperkenalkan oleh semua “penghuni” Dept. Engineering, yaitu Bapak-bapak kece dan “ganteng” yang rata-rata sudah bekerja lebih dari 10 tahun disana. Kami mengobrol singkat, lebih tepatnya aku lebih berperan sebagai pemberi jawaban dibandngkan dengan pemberi pertanyaan.
Di sela-sela obrolan kami, salah satu Bapak bernama Pak Sari berceletuk dengan tenaganya: “Wah, kamu hebat ya Stella..” “Hebat gimana pak?” jawabku bingung “Kamu jadi satu-satunya dan the first anak KKL perempuan di Dept. Engineering loh. Sebelumnya belum pernah ada anak KKL perempuan di Dept. ini” Mendengar itu, tak tahu mengapa jantungku berdegup untuk alasan yang tidak kumengerti. Dengan ragu, dan berusaha memberanikan diri, aku pun bertanya “Memangnya di Dept. ini tidak ada karyawan perempuannya ya Pak?”
Untuk sesaat, aku merasakan suasana yang aneh dan mencekam di ruangan tersebut. Bapak-bapak saling bertatapan satu sama lain, lalu akhirnya tertawa. Pak Widadi dengan perwatakannya yang tinggi dan dengan topi hitamnya berjalan ke arahku dan menepuk pundakku sambil berkata “Sejak kapan neng Dept. Engineering ada perempuannya? Hoax itu Hahahaha..” Pak Widadi lalu berjalan pergi, meninggalkanku yang masih terpatung mendengar peryataannya. Tanpa aku sadari, aku menelan ludah yang terasa sangat berat di tenggorokanku dan menatap layar laptopku dengan tanggal di bagian pojok kanannya. Ya Tuhan, ini masih hari pertamaku.. masih ada 29 hari tersisa.. dan aku pun hanya bisa berdoa dalam hatiku berharap hari segera berlalu…
Setelah hari pertama di tempat KKL berlalu tanpa ada kejadian berarti, memasuki hari ke 2, aku pun mulai memberanikan diri untuk berjalan-jalan melihat lingkungan sekitar perusahaan. Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang hanya diam saja di tempat, terlebih karena pengalaman kemarin, aku benar-benar tidak melakukan apapun, membuatku bosan setengah mati. Maka, hari ini aku bertekad untuk melakukan sesuatu agar aku tidak mati kebosanan. Maka, disinilah aku memegang buku hitam yang kugunakan sebagai buku catatanku selama KKL ini, dan berjalan menyusuri pabrik tempat KKL ku.
Pertama, aku berjalan meyusuri lorong menuju bagian belakang perusahaan. Sesampainya di pintu belakang, aku bisa melihat aktivitas seseorang operator yang sedang memindahkan barang-barang dari dalam gudang ke sebuah truck besar. Aku tidak tahu apa yang sedang dipindahkannya itu. Maka, akupun mendekat dan mencoba bertanya. “Permisi Pak, nama saya Stella, saya anak KKL disini.” Dengan santai dan beribawa, bapak itupun menjawab “Oh iya mbak” Kami pun berjabat tangan. Setelah itu kami larut dalam pembicaraan seputar perusahaan. Ada beberapa informasi penting ku dapat dari penjelasan Bapak Gonjali, dan salah satunya adalah tempat yang kudatangi saat itu adalah pos B3, yaitu tempat pembuangan sampah-sampah berbahaya perusahaan. Saat sedang asik mengobrol dengan Bapak Gonjali, tanpa kusadari ada seseorang yang mendekat. Pak Gonjali dengan sigap mengenalkannya kepadaku.
“Kenalkan nih mbak Stella, ini namanya mas Gregi..” dengan cepat Pak Gonjali mengenalkan seorang pemuda kepadaku, yang juga berpakaian sama dengan Pak Gonjali. Karyawan disini, batinku. Dengan ramah aku menjabat tangan mas yang disebut Gregi itu, dan memperkenalkan diri. Pak Gonjali memberikan ruang kepada kami untuk lebih leluasa mengobrol. Dengan semangat aku menanyakan hal ini dan itu kepada mas Gregi. Dengan sedikit terbata-bata mas Gregi menjawab setiap pertanyaan yang aku ajukan. Setelah lama ngobrol dan aku mulai bingung dengan pertanyaan apa lagi yang ingin aku tanyakan, maka akupun pamit dan tak lupa berterima kasih atas bantuan dan kesediaan mas Gregi telah menjawab pertanyaan-pertanyaaku. “Terima kasih ya mas, saya pamit dulu. Kalau saya pertanyaan saya tanya lagi ya mas” “Oh iya mba, silahkan”
Dengan bersiul kecil aku berjalan menyusuri lorong, kembali ke ruanganku. Cukup untuk hari ini. Setidaknya aku tidak menganggur dan duduk diam di kantor tanpa melakukan apapun.
Namun tanpa kusadari, dia, lelaki yang kukenal dengan nama Gregi akan menjadi lelaki yang kukagumi nantinya. Dia, lelaki yang kukenal dengan nama Gregi akan menjadi lelaki yang selalu membuatku berdebar hanya dengan melihat siluet punggungya, lelaki yang membuatku malu-malu kucing saat tertangkap basah mondar-mandir di depan ruangannya, lelaki yang membuatku merasakan perasaan teramat suka, yang sudah 6 tahun belakangan tak pernah kurasakan. Cintaku di tempat KKL…
Cerpen Karangan: Maris Stella Gracia Blog / Facebook: Maris Stella Gracia