Ketika mentari menyinari hujan Ingin sekali aku menjadi sinarnya Mecerahkan dan menghangatkan hatimu yang dilanda haru membisu Aku juga ingin menjadi warna pelangi yang indah Agar bisa menghiasi sedih hatimu setiap waktu Dan dengan atas nama cinta Izinkanlah aku menemanimu selalu, saat ini, hingga selamanya Leisya, akankah kau terima?
Setelah berulangkali kubaca, dengan hati-hati kulipat kertas bercorak merah jambu itu. Ada desir semilir menyeruak di hatiku. Desir penuh cinta dan harapan padanya, siapa lagi kalau bukan pada Leisya, temanku satu kampus yang kebetulan juga berada di fakultas yang sama. Dari pertama aku mengenalnya, dia memang bukan tipe orang pendiam, tapi tingkahlakunya yang tidak dilebih-lebihkan itu membuatku jatuh hati. Segala kesederhanaan yang dimiliki membuat dirinya tampak berbeda dengan yang lainya.
Di mataku Leisya tidak seperti Agnes, cewek bertubuh sintal yang jalanya sengaja dilenggak-lenggokan, atau seperti Mila yang bedak di wajahnya akan ikut terangkat saat dicolek, atau Fani si cantik tapi Playgirl itu. Aku tahu betul semua itu mereka lakukan karena semata-mata hanya ingin mendapat perhatian dari para pria. Dan aku tak habis pikir, Fani, dengan modal kecantikan luarnya doang itu tak merasa malu dengan image yang disandangnya, dia tak bosan-bosanya menggodaku, atau lebih tepatnya berusaha mendekatiku. Jangan-jangan dia hanya tertarik pada hartaku saja. Mungkin dia mengira aku anak orang kaya karena bawaan motor sportku yang memang teramat keren itu.
Tapi biarlah, lagipula aku tak pernah peduli denganya. Hatiku akan selalu untuk Leisya, cewek manis, bermata lentik, dengan bibir yang tipis dan pandai menjaga ucapanya itu seakan berbeda. Tak pernah kulihat sikap yang aneh-anah dari dirinya. Disaat yang lain berlomba-lomba mencari perhatian para pria dengan gayanya masing-masing, Leisya terlihat santai-santai saja. Bahkan dia seperti tak pernah melirik pria manapun. Tak jarang kalau angin-angin tak sedap tentang ketidaktertarikan dirinya terhadap pria itu berhembus sampai telingaku. Tapi aku sebagaimana hatiku mencintainya, selalu menganggap semua itu hanyalah angin yang berlalu saja.
Dan bagiku Leisya bukanlah tipe cewek yang mudah dirayu, bukan juga cewek yang mudah membuka hatinya untuk laki-laki, terlebih dengan perubahan sikapnya yang akhir-akhir ini tampak murung seperti sedang memikul segunduk masalah, itu cukup lumayan membuatku jatuh bangun.
“Kalau ada masalah cerita aja, Sya. Aku akan dengan senang hati mendengarnya. Soal surat itu, aku tidak meminta jawabanmu cepat-cepat, kamu bisa memikirkanya dulu.” kataku suatu siang saat berpapasan denganya di pintu masuk kantin, beberapa hari setelah kuberikan surat merah jambu itu. “Vito, aku gak bisa. Aku hanya akan membuatmu kecewa. Sebenarnya berita yang beredar tentangku itu… Itu benar, vito. Jadi tolong jangan ganggu aku.” “Maksudmu berita tentang…” aku melongo, tak sanggup melanjutkan kalimatku sendiri, rasanya satu ludah telah kuteguk dalam-dalam. “Leisya, please… Mungkin ini hanya soal waktu, pikirkan saja dulu. Mengenai berita itu, aku tak yakin yang kau katakan itu sungguh-sungguh dari hatimu.”
Kulihat Leisya terdiam, sorotnya menerawang jauh ke arah danau di depan kantin. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskanya keras hingga kedua pipinya membulat dan bibirnya mengerucut, membuatku jadi tambah gemas.
“Aku tidak perlu waktu lagi, Vito. Aku sudah yakin dengan jawabanku, ini keputusanku. Dan terserah kamu mau percaya atau tidak tentang diriku. Itu bukan urusanmu!” Aku terlonjak, “Ini jelas urusanku Leisya. Mana mungkin aku percaya dengan sesuatu yang jelas-jelas tidak ada buktinya.” mendadak dahiku berkerut, “atau jangan-jangan kamu sengaja membenarkan berita itu hanya sebagai tamengmu untuk menolakku?” Sekarang kulihat Leisya yang terlonjak. Persis seperti maling yang tertangkap basah.
“Sudahlah, terserah kamu. Yang jelas aku tetap gak bisa, vito.” “Tapi kenapa Leisya..? Kenapa..?? Aku tertegun. Aku meraih tanganya lalu menatap matanya dalam-dalam, “apa ini ada hubunganya dengan kemurunganmu selama ini? Kamu ada masalah apa, Sya? Tolong katakan padaku.” Mata lentiknya tak berkedip dan membalas tatapanku. Suaranya menjadi lemah seperti tertahan sesuatu, “bukan begitu, Vito.” “Lalu kenapa?” “Maaf, Vito. Kamu tidak akan pernah mengerti tentang diriku.”
Kini aku tengah termangu di bangku kantin. Kata-kata Leisya kemarin sungguh masih bergelayutan di kepalaku. Aku masih belum percaya. Mungkinkah berita miring tentangnya itu benar? Astaga, tidak… tidak… Itu tidak mungkin.
Dan mengenai jawaban darinya… Itu memang sudah jelas kudengar, bahkan sangat jelas, tapi entah mengapa aku mesih tetap belum bisa menerimanya. Hati kecilku terus berbisik, pasti ada sesuatu dibalik penolakanya itu padaku. Mengingat aku tak benar-benar menemukan ucapan keseriusan di matanya.
Pikiranku semakin kalut tak karuan. Riuhnya kantin di siang bolong sama sekali tak kuhiraukan, sepintas hanyalah tampak gerakan-gerakan tanpa suara. Benakku mulai beterbangan, mengingat-ingat sesuatu tentang dirinya kembali. Aku masih ingat betul saat kuhampiri dia yang termangu di sudut kantin, dia menatapku penuh arti sebelum akhirnya meninggalkanku tanpa kata, atau saat menemuinya yang tengah berjalan menuju perpustakaan, dia hanya menyunggingkan senyum paksanya dan berlalu menjauhiku, atau saat malam itu… Ah, iya, aku masih ingat, saat itu aku tak sengaja melihatnya di pinggir jalan.
“aku sedang menunggu jemputan, Vito. Aku mau barangkat kerja.” begitu katamu saat kutanya sedang apa.
Dan sesaat setelah kutawarkan diri untuk mengantarmu, kamu lebih dulu berucap dan berlalu dariku, “itu jemputanya, aku duluan.”
Leisya kerja? Apa mungkin kemurunganya selama ini akibat malam harinya kecapean bekerja? Mungkin saja begitu. Aku tahu sejak kecil dia sudah ditinggal kedua orangtuanya dan ikut bersama pamannya hingga sekarang. Boleh jadi Leisya sedang berusaha mencari uang sendiri agar tidak merepotkan pamanya lagi. Dan boleh jadi juga itu yang dilakukanya padaku. Bukankah dia memang tipe orang yang anti merepotkan orang lain? Mungkin dia hanya sedang ingin fokus ke karir dulu. Ah, ya. Aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh tentangnya. Dasar Leisya. Sebegitunyakah perjuanganmu untuk mandiri hingga mengorbankan perasaanmu padaku?
“Dorr!! Bisa-bisanya ya, di kantin serame ini melamun? Melamunin siapa sih?” Ckk.. Ternyata si Playgirl itu. Ngapain sih Fani kesini. Bikin nambah kekalutan di kepalaku saja. Huh, udah wangi parfumnya menyerbak kemana-mana lagi, pasti harganya selangit. Ah, tapi mana peduli dia dengan harganya. Palingan juga dibeliin sama salah satu koleksi pacarnya itu.
“Eh, kamu, Fan.” kataku malas. “Melamunin aku ya?” godanya tiba-tiba membuatku ingin muntah. “Eng.. Nggak kok, gak melamunin siapa-siapa.” aku meringis kikuk. Fani tampak melirikku aneh, “Vito, kamu pasti lagi mikirin Leisya ya? Ngapain sih masih mikirin dia terus? Kamu gak tahu apa dia lagi ada masalah?” nadanya mencibir lalu menghirup es lemon di depanya. Masalah? Aku tahu dia Memang sedang ada masalah, makanya aku memikirkan dia terus. Tapi, Eh! Tunggu! Spertinya kok fani tahu juga kalau leisya punya masalah? Kayaknya dia lebih tahu banyak soal leisya.
“Masalah? Masalah apa, Fan?” Tanyaku pura-pura penasaran. “Loh kamu gak tahu? Leisya itu kan cewek panggilan.” katanya setengah berbisik tapi cukup membuatku tersontak. “Hei!! Fani!! Jaga bicaramu! Jangan menuduh yang bukan-bukan!” “Ya ampun, Vito.. Vito.. Kamu pura-pura gak tahu apa beneran gak tahu sih? Sejagad kampus juga udah tahu kali siapa Leisya. Cuma kamu aja yang belum tahu.”
“Aku memang tahu soal berita yang beredar mengenai Leisya, tapi itu bukan seperti yang kamu katakan. Setahuku berita itu cuma tentang ketidaksukaan leisya pada laki-laki. Dan aku… Mana mungkin aku bisa percaya, bahkan buktinya saja tidak ada. Lalu sekarang, kamu datang-datang langsung menuduh dia sebagai cewek panggilan? Mana buktinya??” “Aduh, Vito.. Kamu itu ya.. Susah banget dibilangin. Kalau soal berita hoax itu aku juga setuju denganmu. Tapi untuk berita yang kukatakan tadi aku gak bohong Vito. Itu kenyataan. Bahkan aku sendiri yang melihat dia sedang menunggu pelangganya di pinggir jalan. Kapan sih kamu bisa sadar? Dia itu bayar kuliah, sewa kontrakan, trus buat makan, semuanya uang dari mana kalo bukan dari pekerjaanya sebagai cewek…”
“Cukup Fani!!” Kusentakkan tangan di meja lalu bangkit. Fani tercekat menatapku. “Apa kamu tidak sadar dengan ucapanmu itu?? Bukankah justru kamu yang bisanya cuma morotin harta dari pacar-pacarmu yang kebanyakan anak orang kaya itu?? Mungkin kuliahmu juga paling dibayarin mereka, iya kan??” napasku memburu, tak peduli lagi dengan banyak pasang mata yang sekonyong-konyong tengah menyorot ke arahku. “Dengar Fani! Aku tetap tidak akan percaya denganmu.” bisikku penuh penekanan lalu bergegas keluar dari kantin. “Dasar keras kepala!” dengusnya pelan namun cukup sampai di telingaku yang sudah berlalu.
Hari menjelang sore ketika Aku dan Riki temanku sedang bermain PS di rumah. Tanganku mungkin memang sedang sibuk memainkan stik PS, namun tidak dengan mata dan segala kecamuk yang ada di dalam kepalaku. Aku masih teringat kata-kata Fani di kantin waktu itu. Tentang berita itu.. Ya ampun Leisyah, kenapa banyak orang yang sepertinya ingin menjatuhkan nama baikmu? Dan si Playgirl itu, bisa-bisanya dia menuduhmu seperti itu. Aku benar-benar tak menyangka. Apa mungkin itu cara dia agar aku menjauhi Leisya? Agar dia lebih mudah mendapatkanku? Hmm, dasar picik!
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku sengaja bepura-pura tak mendengarnya. Lantas Riki yang menyadari sikapku itu beranjak untuk membukanya.
“Siapa, Rik?” teriakku kemudian dari dalam.
Lama Riki tak menjawab, akupun beranjak dan menyusulnya. Dahiku tiba-tiba berkerut, “Fani? Ngapain kamu?” tanyaku ketus.
Aku baru saja akan melangkah membalikan badan karena malas menemuinya sebelum kemudian dia menahanku, “Vito, tunggu! Aku hanya sebentar kok, aku cuma mau kasih ini.” “Kasih ke Riki aja.” kataku tanpa menoleh dan ngeluyur ke dalam.
Cukup ada jeda beberapa menit saat aku sudah di depan tv. Riki tak kunjung masuk seperti sedang membicarakan sesuatu dengan Fani di luar. Diam-diam aku mendekati dinding yang dekat dengan pintu depan, namun sebelum aku benar-benar membuka telingaku untuk -nguping-, mendadak Riki lebih dulu mengejutkanku, “woy!! Ngapain lu?? Nguping??” gelaknya pecah saat melihat mukaku yang meringis kikuk tertangkap basah. “Apaan sih, orang gue mau…” “Prett!! Ngeles aja lu kaya bajai!” cegatnya menggerutu, “Nih, lu dapet dua surat dari Fani”
Disodorkanya dua carik kertas berwarna merah muda dan biru toska itu padaku. Aku yang sudah terlanjur ilfil sama si Fani itu tak kuasa untuk menerimanya. Peduli apa aku dengan isinya. Di mataku sekarang Fani adalah orang yang bisanya cuma memfitnah orang lain saja. Andaikan surat itu dari Leisya.. Pasti aku akan dengan sangat bahagia menerimanya. Ah, Leisya, apa kabarmu sekarang?
“Woy!! Vito!! Malah melamun! Kesambet lu?? Ini suratnya, pegel tangan gue nih.” “Buat lu aja deh.” kataku dan berlalu lagi ke dapan tv. “Eh, lu jangan egois gitu dong. Si Fani kan niatnya baik, cuma mau ngundang lu buat nonton saat dia lagi nyanyi aja. Masa lu gak bisa menghargainya gitu sih.” Jariku yang sedang sibuk dengan stik PS kuhentikan, “nyanyi? Nyanyi apaan?” “Makanya baca dulu, nih.” disodorkanya lagi ke dua surat itu, “Tadi Fani cuma minta tolong sama gue buat bujuk lu, supaya lu mau dateng ke acaranya itu. Kayaknya sih Fani berharap banget lu bisa dateng.”
Dengan berat hati aku meraih kedua surat dari tangan Riki. Dan stelah kubuka surat yang bercorak biru toska itu ternyata isinya adalah sebuah undangan. Undangan acara musik di sebuah cafe terkenal. Dan di sana tertulis jelas sebuah nama FANI NURAINI sebagai penyanyinya. Aku cukup terpana membacanya. Jadi si Fani itu penyanyi? Kok bisa?
Masih dalam benak yang belum sepenuhnya percaya Fani sebagai penyanyi, aku segera meraih secarik satunya lagi yang berwarna merah muda itu dan membukanya.
To: Vito Aku sebenarnya cukup sedih saat kabar-kabar tak sedap tantang diriku itu mulai beredar di seluruh kampus. Namun sungguh aku tak lebih sedih bahkan kecewa saat kabar itu aku dengar langsung dari mulutmu. Aku tidak seperti apa yang kamu atau orang lain pikirkan, vito. Aku mendapatkan barang apapun yang kumiliki ini atas jerih payahku sendiri dengan menjadi penyanyi di cafe-cafe. Aku sering jalan bergantian pria saat keluar dari kampus itu karena mereka adalah teman-teman di tempatku belajar nyanyi dan musik. Sekali lagi aku mohon padamu, Vito. Jika memang kamu tak bisa menerimaku, setidaknya kamu tidak ikut-ikutan percaya mengenai kabar yang tidak benar tentang diriku itu. Dan untuk membuktikanya aku sudah sertakan sebuah undangan untukmu. Anggap saja ini permintaanku yang terakhir jika memang kamu tidak mau lagi bertemu denganku. Aku akan sangat berterimakasih banyak jika memang kamu mau berkenan hadir dan melihat diriku yang sebenarnya.
Fani.
Aku terperangah setelah membacanya. Jadi apa yang kupikirkan tentang Fani selama ini itu salah. Astaga, aku merasa seperti ada rasa sesal yang tiba-tiba muncul di dada. Ternyata justru akulah yang bisanya memfitnah orang lain. Padahal kan belum ada buktinya kalo dia itu Playgirl. Harusnya aku tidak secepat itu tersulut percaya dengan berita-berita miring yang tak jelas dari mana datangnya itu. Apa mungkin karena ambisiku yang terlalu berlebihan memandang Leisya hingga menganggap apapun selain tentang Leisya itu salah bahkan buruk?
Baiklah, mungkin ini kesempatanku yang tepat untuk memperbaiki semuanya. Aku akan segera meminta maaf pada Fani karena sudah salah menilai yang tidak-tidak tentangnya. Malam ini aku harus datang ke cafe itu.
Suasana cafe begitu riuh. Riuh penonton sekalian musik yang cukup membuat hati siapa saja yang mendengar suara lembut penyanyinya akan tergerak untuk menarik suara dan ikut bernyanyi bersama, terlebih lagu yang dibawakan itu adalah lagu lokal yang amat terkenal.
Suara lembut itu ternyata dari ujung depan. Kulihat seorang gadis duduk di sana dengan gitarnya sedang bernyanyi penuh penjiwaan. Semua mata tertuju padanya. Ah, itu Fani. Senyumnya tampak merekah ketika mendapatiku yang sudah hadir di tengah-tengah penonton. Ia melambaikan tangan padaku. Astaga kenapa hatiku tiba-tiba aneh, ada desir yang aku tak tahu apa artinya. Degup jantungku mendadak bertambah cepat. Entah kenapa aku baru menyadari kalau Fani ternyata begitu cantik malam ini, apalagi senyumnya, seakan tampak siluet cahaya karisma kecantikan yang muncul dari dalam dirinya. Begitu mempesona.
Samar-samar aku merasakan sebuah getaran dari kantongku. Kuraih ponsel dan membukanya. Mataku membesar, satu pesan dari Leisya?
– Vito, sekali lagi maafkan aku telah mengecewakanmu. Kuakui semua kata-kataku padamu waktu itu tidak benar. Aku menolakmu bukan karena aku tak menyukaimu. Justru karena aku terlalu mencintaimu, vito. Aku gak mau membuatmu kecewa yang berlebih di kemudian hari. Aku bukanlah cewek yang baik untukmu, Vito. Diriku sudah teramat kotor. Aku tidak pantas untuk orang baik sepertimu. Dan mungkin orang yang lebih baik dan pantas untukmu adalah Fani. Aku tahu kamu juga suka kan sama Fani? Terlihat sekali senyum dan tatapanmu saat ini yang sedang memandangi Fani penuh cinta -.
Loh kok dia bisa tahu aku sedang memandangi Fani? Berarti dia..? Dia disini..?? Dimana dia..?? Mataku menyapu seluruh sudut cafe. Tapi sayang, tak kutemukan juga apa yang kucari. Leisya… entah apa yang harus aku lakukan sekarang terhadapmu Leisya. Haruskah aku sedih, senang atau marah?
Ah. Sudahlah, buat apa lagi aku memikirkan orang yang sudah jelas keburukkanya, sedang di depan mataku kini jelas-jelas sudah ada orang baik sedang menungguku. Memang benar, terkadang akan jauh lebih baik menerima apa yang sudah jelas kepastiannya, dari pada harus mengejar sesuatu yang bahkan aku sendiripun sudah tahu itu buruk.
Kuhampiri sajalah fani sekarang. kulihat tadi dia sudah turun dari panggung. Mungkin ini saatnya aku meminta maaf. Aku juga ingin meralat perasaanku padanya. Bahwa sekarang aku juga mencintainya. Aku mencintai penyanyi itu. Aku mencintaimu Fani Nuraini.
Cerpen Karangan: Owy Ahmad