Untuk Anaga.. Aku ingin bicara.. Tentang sebuah rasa basa.. Yang terus beriuh gempita.. Di dalam lubuk hati yang tak berpenghuni.. Rasa itu terus mengetuk indahnya melodi.. Tak peduli banyaknya ritme yang telah mereka mainkan.. Hatimu tetap memberontak tak mengizinkan.. Bilakah engkau peduli? Dengan hidupku yang malang ini.. Karena terus mengharap cintamu.. Yang tak pernah jadi milikku.. Anaga.. Aku ingin mengungkapkan sebuah pengakuan.. Yang telah lama terkubur di relung hati paling dalam.. Bahwa di hatiku rasa cinta tertanam.. Untuk dirimu..
Ainara Sukma Junika
Anaga menutup rapat-rapat surat yang barusan dibacanya. Penyesalan kembali mengetuk relung kalbunya. Berulangkali dia mengutuk dirinya sendiri. Tak dihiraukan banyaknya orang yang berlalu lalang di depan Bandara, tempat Anaga sekarang berada. Baru beberapa jam Anaga kehilangan orang yang ia anggap berharga. Dia menyesali semua kisahnya selama satu tahun terakhir.
8 September 2016.. “H.. Hai.. Nama kamu Anaga ya?” Tanya seseorang yang duduk di samping Anaga. Tidak ada sahutan sedikitpun. “Namaku Ainara.” Seseorang yang ternyata bernama Ainara tersebut mengulurkan tangan pada laki-laki yang ditanyanya tadi. Namun tetap tidak ada sahutan. Dengan kecewa Ainara menarik tangannya kembali.
“Selamat pagi, anak-anak.” Suara itu sontak menghentikan semua aktivitas di dalam ruangan itu. “Pagi, Bu..” “Hari ini adalah hari pertama kalian sekolah di sini setelah Masa Orientasi Siswa. Apakah sudah saling kenal teman-teman semua?” Suara ramah Bu Frinta memenuhi ruangan. Ada yang menjawab sudah, ada juga yang menjawab belum. “Kalau gitu kita buat permainan. Gini.. Kalian harus cari pasangan yang huruf awal membuat Anaga sedikit kaget. “Apaan sih lu?” Untuk pertama kalinya Ainara mendengar suara Anaga yang super ketus dan jutek.
Beberapa menit kemudian, semua siswa telah mendapat pasangan maaing-masing. Bu Frinta pun berpatroli mengoreksi masing-masing pasangan. “Kalian berdua, kok A sama E?” Tutur Bu Frinta yang melintas di depan Anaga dan Ainara sambil melihat name tag mereka berdua. “A sama A kok, Bu. Saya Ainara, dan dia Anaga.” Bantah Ainara. “Nama depan, bukan nama panggilan.” Bu Frinta menghela nafas. “Hah.. Emangnya nama depan kamu siapa sih?” Tanya Ainara yang kemudian menengok ke arah name tag Anaga. Di sana tertera “Elno Anaga P.D.” (P.D. = Putra Diwangga). Seluruh penghuni kelas tertawa seketika saat muka Ainara menyengir konyol. “Hhh.. Jadi kalian berdua harus dihukum. Ayo maju ke depan kelas!” Perintah Bu Frinta. Dengan ogah, malas, plus jengkel, Anaga melangkahkan kakinya. Ia mengutuk Ainara yang telah menjerumuskannya.
“Sekarang, kalian harus menyanyikan lagu yang diminta oleh teman kalian. Minimal tiga lagu.” “Apa?” Anaga dan Ainara terkejut bersamaan. “Ayo silakan semua boleh request lagu.” Kata Bu Frinta. “Aku dong, request lagunya Acha Irwansyah yang My Heart itu. Kayaknya cocok deh buat nyanyi duet kalian berdua.” Usil salah seorang siswa. “Ayo nyanyi!!” Perintah Bu Frinta. Anaga dan Ainara saling pandang. “Ayo, buruan!!” Bu Frinta menegaskan.
Akhirnya lantunan suara keluar dari mulut Ainara. “Bila kita mencitai yang lain.. Mungkinkah hati ini akan tegar.. Sebisa mungkin.. Tak akan pernah.. Sayangku akan hilang.. ”
Barulah Anaga memadukan suaranya dengan suara Ainara. “If you love somebody could we be this strong.. I will fight to win our love will conquer all.. Wouldn’t risk my love.. Even just one night.. Our love will stay in my heart..” Sontak seisi kelas bertepuk tangan dengan riuh gempita. Temasuk Bu Frinta. Ainara dan Anaga saling bertukar pandang lagi. Mereka tersenyum puas.
Panas begitu terik siang itu. Dengan malas Ainara menapaki jalan pulang menuju rumahnya yang berkisar 4 km itu. Jauh memang. Tapi harus bagaimana lagi. Ia sangat anti menaiki transportasi umum. Di perjalanan pulang seperti ini Ainara selalu berharap ada orang yang berbaik hati mau menawarkan tumpangan untuknya.
“Ehhh.. Anaga berhenti..!!!” Ainara tiba-tiba menyetop motor Anaga dengan berada tepat di depan motor itu. Yang sontak membuat Anaga ngerem mendadak. “Gila.. Cari mati lo?!” Bentak Anaga. “Ga, anterin aku pulang dong.” “Nggak!! Ngapain sih lo selalu gangguin hidup gue? Udah sana minggir kalau lo masih pengen hidup. Dasar cewek pembawa sial!!” Anaga memacu kencang motornya saat Ainara sudah minggir dari tempatnya. Ainara hanya mendengus kesal dan tetap melanjutkan jalannya.
—
“Pagi, Anaga yang super ganteng.” Sapa Ainara dengan senyuman khasnya. Anaga berlalu tanpa mempedulikan sapaan dari Ainara. “Ai, kayaknya lo dari kemarin cari perhatian mulu sama Anaga.” Selidik Vidia yang kini telah menjadi teman dekat Ainara. “Soalnya.. Mm.. Gue.. Suka.. Sama.. Anaga..” Sahut Ainara dengan ragu. “Haah.. Lo yang salah ngomong, apa gue yang salah denger?” Vidia mulai sewot. “Nggak ada yang salah. Gue serius. Dan gue namain ini dengan ‘I Love You From September, 8th 2016..” “Hhh.. Sebenarnya nggak papa juga sih kalau lo jatuh cinta. Dan gue dukung lo kok.” “Wihh.. Tanks, Vidia. Lo emang BFF gue dah.”
Pulang sekolah.. Ainara kembali melakukan aksinya seperti kemarin. Menunggu Anaga dan hendak memintanya mengantar pulang. “Lo lagi.. Lo lagi.. Apa nggak puas lo rusuhin hidup gua?” “Anaga.. Gue cuma mau lo anter pulang. Lo nggak kasihan sama gue tiap hari harus jalan kalau pulang sekolah. Rumah gue kan jauh, Ga.” “GUA NGGAK PEDULI…!!!” Kembali Anaga memacu motornya dengan butbutan. “Nggak papa deh.” Desis Ainara.
Setiap pulang sekolah, Ainara selalu menanti Anaga untuk mengantarkannya pulang. Hal itu berlanjut hingga satu tahun berlalu. 8 September 2017.. Ainara melamun dibalik jendela kelasnya. “Ai, kenapa lo?” Tanya Vidia yang tiba-tiba muncul di hadapannya. “Nggak papa kok, Vid.” “Ah, bohong lu. Cerita napa.” “Lo tau nggak ini tanggal berapa? “Delapan.” “Delapan apa?” “September lah.” “Lo tau nggak hari ini hari apa? Hari ini adalah hari genap satu tahun gue jatuh cinta sama Anaga. Setiap pulang sekolah, gue selalu baerharap Anaga mau berbaik hati nganterin gue pulang. Dan entah kenapa harapan sederhana itu terus melekat dalam benak gue.” Vidia terdiam. Menatap sendu pada sahabatnya yang bernasib pilu. Ainara kembali membuka suara. “Vid. Gue sekalian mau pamitan sama lo. Besok gue mau pulang kampung ke Denpasar, Bali.” “Haahh.. Apa? Nggak salah?” “Ini serius. Lo jangan lupa sama gue ya.!” Aor mata pilu mengalir dari mata sendu Ainara. Vidia ikut menangis karena harus kehilangan sahabatnya.
Esok hari 04.30.. “Tok.. Tok.. Tok..” Terdengar suara pintu diketuk. Lama hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Saat pintu dibuka, tampak sosok Anaga yang matanya terlihat sangat berat. “Ck.. Lo lagi.. Heh.. Jadi cewek rese banget sih lu. Ngapain pagi-pagi buta gini bertamu?” Nadanya ketus dan keras. “Anaga, aku kesini nggak niat gangguin kamu kok. Dan aku minta maaf kalau selama ini aku ngganggu ketenangan hidup kamu. Aku selalu nungguin kamu setiap pulang sekolah karena aku pengen dianter pulang ke rumah sama kamu. Dan itu menjadi mimpi sederhana aku selama satu tahun terakhir, Ga. Anaga, aku kesini mau pamitan sama kamu. Dua jam lagi pesawat aku berangkat.” “Maksudnya?” Air muka Anaga berubah menjadi bingung. “Aku mau pulang kampung ke Denpasar. Dan sekolah aku otomatis juga pindah. Jadi kita nggak akan ketemu lagi, Ga. Oh iya, sebelum aku pergi, ini.. Tolong kamu terima surat terakhir dari aku.” Ainara memberikan sepucuk surat pada Anaga. Anaga akhirnya menerimanya dengan air muka yang sangat tak bisa ditebak. “Aku pergi, Ga.” Ainara melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut. “Ai.. Ainara..” Tak ada sahutan dari Ainara. Ia terus berlari dengan hujan dari matanya.
Anaga berteriak penuh penyesalan saat membaca surat dari Ainara. Langsung saja dia memacu motornya menuju ke Bandara. Macet di Jakarta itu tak bisa dipungkiri. Hampir tiga puluh menit Anaga terjebak macet di jalan. Padahal pesawat Ainara terbang lima belas menit lagi. Anaga yang sudah dirundung resah langsung turun dari motornya dan berlari menuju ke Bandara.
Terlihat jadwal penerbangan di sana. Ainara sudah tidak ada. Semua terlambat. Anaga memaki dirinya sendiri. Ia ingin kembali ke masa lalu. Anaga ingin mewujudkan impian kecil Ainara. Ia ingin mengantarkan pulang Ainara. Ia ingin membalas cinta Ainara, setelah ia tahu perasaan Ainara yang sebenarnya. Ia ingin.. Ia ingin.. Dan ia ingin.. “Aku akan mencarimu, Ainara..”
Bersambung atau Tamat?
Cerpen Karangan: Hayu Sukma Wardani Facebook: Hayyunoo Shenju