Bruk. Kujatuhkan tumpukan dokumen yang cukup membuatku kesal hari ini. Apalagi kalau bukan tugas kampus, sebagai mahasiswi tugas adalah makanan utama kami setiap minggu, tidak lebih tepatnya setiap hari.
“heuh..” rasanya aku mengacak-acak semua kertas ini, ditambah kepalaku juga rasanya akan meledak. Pasalnya semua dokumen itu bukan hanya tugas kampus, tapi juga tugas dari pak ben, atasanku di kantor.
Seperti kebanyakan bos pada umumnya, pak ben juga adalah bos galak yang suka memberiku banyak tugas padahal ia sendiri tahu bahwa aku juga kuliah. Awalnya aku hanya bekerja sebagai office girl di kantornya tapi karena melihat kemampuanku aku jadi diangkat menjadi asisten pribadinya. Karena asisten pribadi aku digaji langsung oleh dia termasuk jika aku melakukan kesalahan, bukan hrd yang memarahiku melainkan dia.
Ditambah sikapnya yang kaku, jutek, setiap hari dia selalu berwajah tegas dan datar, dan jika memerintah tidak bisa ditolak meskipun bukan jam kerja. ya, dia memang menyebalkan dan sering melakukan penindasan seperti itu padaku meskipun ia bertanggung jawab memberiku uang lembur.
“Fa, kamu udah pulang?” Aisya meletakan dirinya di sampingku. “Kamu kelihatannya capek gitu, kenapa? banyak tugas lagi” ia mengelus kepalaku yang memang terdiam di atas meja belajarku. “Iya nih, sya. Biasalah, para dosen memang kejam akhir-akhir ini ditambah bos nyebelin itu, bikin aku tambah sensi tahu gak”. “Itu udah resiko kita sebagai mahasiswi plus karyawan Fa, mau gimana lagi?”.
Aku mengangkat setengah badanku menyamakan ketinggian dengan Aisya. “Kamu sih enak sya, tugas gak banyak-banyak amat, kerja gak capek-capek amat. Lah aku? udah di kampus dosen pada nyebelin ditambah di kantor ada bos yang nyebelinnya udah kronis, aku makin pusing sya”. “Haha.. bos yang kamu bilang galaknya nyaingin malaikat jabaniah itu? hati-hati bilfa, nanti kamu jatuh cinta sama dia kuwalat kamu fa. Haha..”. Ini yang menyebalkan dari aisya, dia selalu saja meledekku seperti itu. “Apalagi aku dengar katanya bos kamu itu mirip aktor korea gitu fa, hati-hati fa, kamu bakal terjebak cinta tapi benci. Haha..”. “Udah ah.. kamu gangguin aku aja, udah sana.. iyh..”. “dih, kesel. Iya-iya aku pergi, inget fa, hati-hati” aisya sempat-sempatnya meledekku sebelum pergi.
Aku juga tahu pak ben itu sangat tampan, bahkan aku sering gagal fokus jika ia memberikan pengarahan kerja di tambah ia selalu memaksaku untuk memperhatikannya aku jadi tambah tengsin. Tapi sikapnya yang menyebalkan yang membuat aku yakin bahwa ia sama sekali bukan tipeku.
—
“Ketik ulang tugas kamu, tema dan pembahasannya terlalu umum”. Itu dia pak isqi, dosen yang nyebelinnya mirip-mirip sama bosku di kantor. Bagaimana aku tidak naik darah setiap hari jika ada dua orang yang nyebelinnya udah stadium empat seperti itu. Dan lagi, pak isqi itu dosen yang anti mainstream. Dia tidak suka hal-hal yang bersikap umum di masyarakat, seperti tadi itu makalahku dikembalikan hanya karena sudah umum padahal aku sudah yakin materi makalahku tidak seumum itu.
Drrttt… Sekarang apa, disaat aku kesal-kesal begini ada yang menelfon.
klik. “Assalamu-” “Bilfa, tolong kamu kerjakan laporan saya nanti saya kirim lewat email, secepatnya. Kamu tinggal perbaiki saja mana yang salah, kamu sesuaikan dengan yang ada di dokumen awalnya yang kemaren. Kamu cetak trus kamu serahin ke saya besok, sekalian cetak beberapa dokumen yang akan saya kirim juga. Besok serahin ke saya, saya banyak kerjaan permisi”.
krik krik..
Lihat? Lihatlah…! Bagaimana aku tidak naik darah, aku saja belum selesai mengucap salam ia langsung menerobos, berbicara tak berhenti, bahkan ia menutup telfonnya tanpa membiarkanku bicara, apa itu tidak keterlaluan sebagai bos? Ini namanya penindasan.
Ayolah teman, apa aku akan terus tersiksa seperti ini? itu tidak mungkin. Aku ingin sekali berhenti dari pekerjaan itu tapi aku dikontrak dua tahun, bodohnya waktu itu aku menerima tawarannya. Sekarang aku merasa terjebak sendiri, bayangkan saja aku akan menghadapi masa-masa bersama bos galak itu selama satu tahun lagi.
Hari ini aku ada reuni bersama teman SMA ku, untungnya hari ini aku libur kuliah plus kerja. Aku sangat menantikan hari ini, setelah berpusing-pusing dengan dokumen-dokumen menyebalkan akhirnya aku bisa beristirahat dan merefresh otakku sekarang.
Aku mengajak aisya dalam hal ini, meski ia bukan alumni sekolahku tapi aku tidak mau pergi sendiri ke sana. Akhirnya aku ajak aisya untuk menemaniku. Di sekolah ternyata sudah ramai oleh para alumni, tapi ini yang aku cari, mana teman-temanku. Sudah alumni mereka masih saja ngaret, padahal ini sudah jam janjian kami.
“Bilfa…” suara teriakan itu, pasti riana. Suaranya masih sangat melengking, tapi dimana dia rasanya hidungnya saja aku tidak lihat. “Bilfa…” astagfirullahalazim.. riana malah berteriak di belakangku, memangnya dia pikir kupingku ini mikrofon pelunas hutang?. “Ya ampun rin, kuping aku bisa budeg tahu..”. “Biarin wle.. hehe..”. “Dasar, oh iya. Kenalin, rin ini temen aku namanya aisya, aisya ini rin”. “hai aku aisya”. “aku rin”. Mereka saling berjabat tangan sembari tersenyum.
Seketika mataku membulat hebat, aku terkejut. Sejak kapan orang itu ada di sini, tidak.. tolong sembunyikan aku sembunyikan aku. Haduh… orang itu kesini lagi, tuhan selamatkan aku, jangan biarkan ia mememuiku.
Sementara aku sibuk menyembunyikan wajahku, aisya dan riana malah asik berbincang-bincang, mereka terlihat akrab. Dan itu tidak adil, mereka malah ketawa-ketawa saat aku dalam keadaan terhimpit seperti ini. Aa.. tolong bagaimana ini? dia makin mendekat.
“Fa, kamu kenapa sih?” tanya aisya. Dia tidak tahu saja bahwa aku sangat tidak aman sekarang. Aku sendiri mencoba sembunyi di balik kain hijabku. “Syutt.. diem..” kataku sambil membalikan badanku berniat bersembunyi.
“Bilfa”. Tidak. Aku tahu suara itu. “Kamu ngapain di sini?”. Aku mulai berbalik perlahan. “Eh.. pak benedict, bapak sendiri kok di sini?” dia bosku, aku ketahuan. “Saya tanya kamu kenapa ada di sini? saya guru di sini” guru? dia guru baru di sini? Ya Allah.. sakit apa kepala sekolahku menerima orang seperti ini. “Saya alumni sini pak”.
“Karena kamu ada di sini, kebetulan, bantuin saya rekap nilai murid-murid saya”. “loh, pak kan saya libur hari ini? harusnya-“. “gak ada penolakan, ikut saya”. “Tapi pak” dia langsung pergi.
Ya salam.. kenapa di hari libur saja aku masih harus bertemu dia, pake memaksa membantunya segala lagi. Bahkan merekap nilai murid bukanlah pekerjaanku, dia tetap saja memakasa.
“Fa, jadi itu bos kamu? ganteng banget fa, kalo bosnya seganteng itu sih bisa bikin seorang bilfa luluh nih..”. “Diem deh, rin. Rese tahu”. “Udah, sana ikutin bos kamu. Selamat berpusing-pusing ya, fa.. hihi” terima kasih aisya, kamu baik sekali.
Akhirnya dengan sangat terpaksa aku mengikuti pria itu. Dia berhenti di sebuah perpustakaan dan mulai duduk membuka laptop hitamnya. Aku sendiri duduk di hadapannya, karena tak ada bangku lain.
Dia menyerahkan beberapa lembar nilai siswa, aku diperintahkan merekapnya ke dalam sebuah berkas yang sudah tersedia nama siswa.
Brrr.. Seketika angin menerbangkan berkas-berkas di meja kami. Akhirnya kami panik dan mencoba menangkap semua berkas-berkas itu. Kami kewalahan, angin makin tidak sopan menerbangkan kertas-kertas itu.
Plek. Tidak, kakiku keseleo.
Hap.
Deg deg deg.. Tidak, Ya Allah tolong. Normalkan ritme jantungku ini, oah… aku tidak boleh deg deg-an seperti inu. Astagfirullah.. astagfirullah.. astagfirullah.. Ya Allah selamatkan aku dari situasi ini, maafkan mataku yang lancang menatap seseorang yang bukan mahromku.
Ya ampun.. tapi dia tampan sekali jika dilihat dari dekat. Tapi tidak, bilfa sadarkan dirimu dia bukan mahrommu. Ya ampun, aku malah semakin gagal fokus.
Astahfirullah.. Pak ben sendiri masih memegangi aku, tolong pak biarkan saja saya terjatuh. Saya tidak mau menambah beban dosa saya pak.
“Kamu ngapain liatin saya?”. “Bapak sendiri masih megangin saya”.
Bruk. Dia benar-benar melepaskanku.
Aku segera bangkit dan segera mengambil kertas-kertas yang berserakan, pak ben sendiri segera menempati tempat duduknya dan kembali fokus pada laptopnya. Aku sendiri masih salah tingkah dan jantungku masih berdebar kencang, pak ben juga sepertinya masih kaku.
Cerpen Karangan: Upit Handayani