Rembulan tak pernah ingkari cahaya ke bumi. Dalam gelap dihiasi mega-mega gelap di angkasa, ia tetap bersinar.
“Ra, buruan dong mau hujan nih” kata Arum, remaja asal cina yang menetap di Indonesia bersama sahabat kecilnya, Ara. Ara berusaha menambah tenaganya saat berlari, sulit dengan kodisinya saat ini. Ara masih tersenyum walau rasa sakit di dadanya semakin menjadi. Arum berlari ke arah halte di seberang taman.
“Arum, tunggu Ara” teriak Ara, Arum masih berlari tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia menabrak seorang laki-laki seusiannya, yang ia kenali walau sudah 10 tahun yang lalu terakhir mereka bertemu. Sedang Ara diam di tempatnya, mungkin lelah ia duduk.
Tut… tut… tut… tut… tut… Alat pemacu jantung bersuara dengan amplitudo yang tidak menentu. Ya, Ara tengah terbaring lemah di ruangan ICU bersama para dokter yang memang menangani kasus jantung Ara. Arum menunggu dengan cemas, namun kenapa ia tak bisa menanggis, kenapa ada rasa lega, namun hatinya teriris melihat ibu dan ayahnya yang tak berhenti menanggis. Brian yang dengan setia berdoa untuk kekasihnya, Arum merasa sesak melihatnya.
Flashback on Arum dan Brian ikut berlari kearah kerumunan murid di depan gerbang sekolah, ada seorang gadis kecil manis dengan senyum ramahnya, tertarik untuk mendekat, Brian menarik tangan Arum yang berat untuk melangkah. “hai, matamu indah sekelam langit malam dan senyumu indah laksana rembulan walau tertutup awan” itu kata yang pertama kali Brian ucapkan kepada gadis kecil, yang kemudian tersenyum polos. Arum turut tersenyum, terganjal.
Ini masih terlalu dini namun kenapa Brian benar-benar memilih Ara sebagai sahabat selamanya dalam hidupnya. Mungkin karena ketidaktahuan Arum memilih pergi ke Cina, ke rumah kakeknya.
Sepuluh tahun berlalu, perasaan itu belum berunah, Ara dengan kepolosannya, Brian dengan keramahannya, sahabat selamannya. Akankah Arum dengan dendamnya. Flashback off
“Brian suka Ara ya?” akhirnya berbicara setelah lama membisu. “Ara sahabat saya, setelah kamu pergi tanpa sebab yang jelas. Akankah kamu merebutnya kali ini? awan selalu saja pergi meninggalkan saya, kenapa?” pertanyaan itu begitu menusuk. “Bolehkah saya bilang, semua menjauhi saya karena dia” Arum menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. “Bukankah kamu yang menjauh dari mereka, dan Ara datang sebagai sosok pengganti kamu diantara mereka?” Arum menundukkan kepalanya. “Saya datang kesini hanya untuk meninggalkan ini” kotak surat berwarna putih dengan pita jepang merah muda menghiasinya, Brian menerimannya dan seketika itu Arum pergi.
Bolehkah saya Menjadi rembulan malam yang selalu engkau rindukan, Partikel debu menemani saya ketika cahaya tak lagi bersama saya Namun benar cahaya akan selalu setia bersinar Salah satunya bersinar di hati saya Hangat dan ramahnya hatimu walau diam malam membisukan kamu Untuk Fajar briant Alfaro, cahaya yang mulai berpindah ke hati saya
End
Alien ingin berbicara pada benda mati walaupun benda mati tak pernah mengerti bahasa alien…
Cerpen Karangan: Mevi Indriyani Blog: Mierenstorywordpress.com