‘Aku ingin bercerita tentang cinta monyet yang kualami pada masa SMP’ sebagai tanda perkenalan, kenalin namaku Fay dibaca Fey.
Reiner, satu nama terindah yang masih tersimpan dalam hatiku. Reiner, iya dia temen sekelasku yang emang ganteng dari sananya. Pinter iya, dia saingan terberatku di kelas. Selain, ganteng dan pinter, udah pasti dia popular dan banyak fans, apalagi fans adek kelas yang kecentilan itu. Tapi Reiner tidak seperti yang kalian pikirkan, pasti yang kalian pikirkan itu Reiner itu orangnya sombong, sok keren, dan sok kegantengan kaya cogan di sekolahan kalian? Enggak! Sekali lagi enggak! Reiner orangnya rendah hati, murah hati, dan ramah senyum. Aku dengannya tak terlalu akrab, karena aku tergolong sebagai orang yang pendiam. Ketika memulai percakapanpun pasti dia yang memulai terlebih dahulu. Saking pendiamnya aku, aku teringat pertanyaan yang pernah kutanyakan padanya. “Reiner, Tugas Matematikamu udah selesai?” Itu pertanyaan yang sangatlah sederhana namun masih tersimpan dalam.
Hingga hari begitu cepatnya berlalu, hari ini pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Kemarin pak Yudi, guru Bahasa Indonesia memberi PR untuk membuat puisi cinta untuk teman sekelasnya. Saat itu, siswa dipanggil secara acak untuk membacakan puisinya. Aku yang sedaritadi melamun, menjadi terbuyarkan karena tubuhku digoyangkan oleh teman sebangkuku Dita.
“Fay, Reiner mau baca puisi nih.” Bisik Dita padaku. “Eh, iya?” Aku menatap tajam mata Reiner. Aku benar benar menyimaknya. Reiner menarik nafas dalam dalam. “Puisi ini saya tujukan untuk…” “Untuk Fayyana Sharla.” Sambung Reiner sambil menunjuk ke arahku. Sontak aku benar benar terkejut mendengarnya.
“Wahai engkau bidadariku Engkaulah cahaya dalam kegelapanku Tak ada yang bisa mengalahkan cantikmu Cantiknya parasmu dan cantiknya hatimu Membuatku takluk akan padamu Wahai engkau bidadariku Telah lama kupendam rasa ini padamu Namun kini rasaku tlah tersirat padamu Wahai engkau bidadariku Maukah engkau menjadi kekasih hatiku?”
Seisi kelas bertepuk tangan sangat meriah malah ada yang bersuit. “Ahay, cie Fay, Reiner loh Fay!” Teriak Dita histeris. Dalam hati aku berkata ‘iya, aku mau menjadi kekasihmu wahai pangeran’ sayangnya itu hanyalah sebatas puisi.
Akhirnya pak Yudi bertanya kepada Reiner “Reiner, puisimu benar benar bagus, itu betul betul karyamu sendiri?” “Alhamdulillah, terimakasih pak. Iya itu imajinasi saya sendiri.” “Wah rupanya kamu berbakat ya, dan kenapa puisi itu kamu tujukan untuk Fay?” “Ya karena Fay orang yang saya kagumi di kelas ini, lagipula dia cocok dengan isi puisi saya.” “Wah kamu benar benar cerdas Reiner, tapi apakah kamu juga benar benar punya rasa untuk Fay?” “Hehe kalau itu biar hati yang menjawab pak.” “Ah kamu ini, ya sudah silahkan duduk.”
Beruntungnya hari itu aku belum dipanggil pak Yudi. Kali ini bel istirahat berbunyi, aku hanya duduk berdua dengan Dita di teras kelas. Biasanya kami bercakap cakap, namun kali ini tidak.
“Dit, kok dari tadi diem terus sih?” Tanyaku. “Aduh Fay, gue, gue, perut gue sakit gue ke belakang bentar ya?” Ucap Dita sambil berlari meninggalkanku.
Tiba tiba terlihat Reiner duduk di sampingku. Jantungku berdebar tak keruan. “Fay, puisi buatanku tadi gimana?” Tanyanya sambil memberi senyuman manisnya padaku, aku tak berani menatap wajahnya. “Eh, bagus kok. Bagus banget tadi.” “Syukurlah, kalau kamu suka. Hei hei Fay! Aku disini Fay.” “Eh, oh i.. iya.” Aku berusaha menatapnya, memang sedikit canggung aku padanya.
“Eh, Dita kemana? Biasanya berdua.” Kali ini aku mencoba untuk lebih rileks. “Oh, katanya tadi dia mau ke belakang bentar. Tapi nyatanya lama.” “Hehe, kamu mau ke kantin gak?” “Mau sih, tapi si Dita belum balik juga nih.” “Yaudah gimana kalo kamu temenin aku ke kantin? Aku traktir deh.” “Boleh juga.”
Selama perjalanan menuju kantin, aku dan Reiner banyak membicarakan tentang pelajaran. Sampai di kantin, Reiner memesan 2 mangkok bakso dan 2 gelas jus mangga. “Makasih ya Rei, maaf juga malah ngerepotin.” “Ya, nggak masalah kok.”
Disela saat makan Reiner angkat suara “Fay?” “Hm?” “Aku mau jujur, sebenernya aku udah lama suka sama kamu, Ya, aku berharap kamu mau jadi pacar aku.” Jujur, aku setengah tak percaya, tapi yakin ini kenyataan. “Rei, sebenernya aku juga udah lama aku suka sama kamu, tapi aku nggak bisa Rei,” “Maksud kamu?” Reiner mengernyitkam dahi. “Aku nggak bisa nolak cinta kamu.” “Jadi sekarang kita resmi pacaran?” “Menurutmu?” Sahutku.
Setelah itu, kami sering belajar bersama, dan selain itu kami juga jadi pasangan terpopuler di sekolah kami, karena kami merupakan pasangan terpintar di sekolah kami.
END
Cerpen Karangan: Liana Cahyani Blog / Facebook: Liana Cahyani Penulis amatir.