Ada ketakutan seiring harapan yang kubangun untuk bisa bersamamu Keraguan akan sempurnamu mampu memeluk kurangnya aku Karena cinta tak bersyarat tak kuyakini dalam sebuah realita Hakikatnya keberadaannya hanya dalam dongeng belaka.
Di tepian hati aku berdiri menantikan sebuah ketulusan yang menerima ketidaksempurnaanku. Bayang-bayang pesakitan mengikuti peredaran angan-angan sebuah harap. Aku tak ingin hidup dalam keterpurukan hingga membuatku menciptakan perisai terlalu kaku membekukan hatiku. Tanpa sadar, sudah mengusirmu yang menawarkan sebuah ketulusan.
Penyesalan hanya menambah sebak di hatiku bersama hujatan rasional yang terus meruntuki kebodohanku. Bahkan logikaku tak mempercayai bila nuraniku mampu menggerakkan lidah tuk berucap hal yang menusuknya sendiri, dan sepertinya kalimat itu pun melukainya.
“Melamun saja kerjamu!” Tidak ada tanggapan aku berikan, pikiranku menemani perasaan yang sedang gusar. Sejujurnya aku tidak menginginkan siapapun berada di dekatku saat ini. “Shei!” bentakannya sedikit mengejutkanku. “Pergilah jika kamu hanya ingin menjahiliku Ar.” Dia menatapku lekat, menelisik sesuatu di balik sinar mataku. Aku berharap dia tak menemukan kepedihan itu di sana karena, dia tak boleh melihat kepedihanku. “Kamu menyesalinya?!” dia berkata lirih. “Tidak” “Menanngislah jika air mata bisa membawa kepedihan itu turut beranjak.”
Mengapa selalu demikian?, bagaimana ia begitu pandai membaca emosiku sementara tidak seorangpun mengerti akan aku. Tapi dia mampu melakukannya. Terlalu jauh ia masuk dalam kehidupanku, aku tak ingin bila nantinya harus bergantung padanya dalam setiap masalahku sementara aku tau pasti bila dia menyimpan rasa yang tak bisa kubalas. Dia terlalu berharga, aku tidak ingin menerima kebencian darinya saat nanti ia berpikiran bila dia hanya sebagai sandaran sepiku.
“Shei…” “Arga cukup. Tolong tinggalkan aku sendiri”. Dia tak boleh meruntuhkan pertahananku. “Sampai kapan kamu mengusir semua orang hanya karena ketakutanku yang tak beralasan?”
Kepalaku terangkat untuk menatapnya. Mataku memanas dan hatiku bergemuruh mendengar penghakimannya yang sembarangan sementara dia justru menatapku teduh meski aku tau dia menahan amarah.
“Shei, nggak semua orang memandang terbatas pada kesempurnaan fisik, masih ada ketulusan yang bisa melihat kesempurnaan melalui sebuah kekurangan”. “Itu karena kamu cinta sama aku”. Dia tersenyum getir. Entah kenapa aku selalu mengecewakan orang-orang yang menyayangiku.
Sekarang dia berjongkok lebih rendah dari posisiku yang duduk pada batang pohon besar yang tumbang. Kini giliran dia yang mendongak berusaha menjangkau pandangku. “Benar. Itu sebabnya aku bisa berkata demikian karena aku punya bukti nyata untuk kuperlihatkan padamu miss realistis”. Aku tau tidak ada niatan mengejek dari seringaiannya.
Mataku terpejam kala rasionalku tiba-tiba mengulas kembali penyebab sesalku. Sebak di dadaku menyeruak kembali seiring sesal itu mengikuti detakan jantungku yang memburu. Tanpa perintah air mataku merembes hingga terjatuh membasahi punggung tanganku.
“Terlambat Ar, aku sudah mengusirnya”. “Kamu berkata sesuatu yang menyakitinya”. Kepalaku terangguk lemah mengakui kebodohan itu. “Apa yang kamu katakan?”
Cukup lama aku terdiam tak menanggapi pertanyaan Arga. Lidahku kelu untuk mengulang ucapan yang didorong oleh nurani dan tidak seharusnya kata-kata itu keluar hingga terdengar oleh indranya.
“Aku bukanlah seseorang yang sempurna, sementara kamu memiliki itu. Kamu juga memiliki penghasilan cukup dan memiliki pkerjaan tetap. Banyak perempuan yang mengimpikan kamu. Jika memang besok atau lusa kamu temui seseorang yang sepadan denganmu serta mampu menyempurnakan bahagiamu. Kuizinkan engkau melepasku.” “Kamu tak akan menanngis untuk itu?” “Menanagis atau tidak, bukan lagi menjadi urusan kamu. Hanya aku minta, ucapkan salam sebelum kamu benar-benar pergi karena, aku tidak ingin menyimpan sebuah kebencian untukmu.” Satu tarikan nafas panjang menjeda kalimatku. “Seperti yang pernah terucap olehmu, bila hal semacam itu selayaknya kita menyimpan sebuah bangkai yang kian membusuk tiap waktunya.” kutahan semampuku sakit seiring kata-kata itu terucap.
Suaranya lenyap sesaat, tergantikan oleh desahan nafasnya yang masih tertangkap jelas oleh daun telingaku. “Pria seperti apa mas dalam benakmu?” Pertanyaannya membuatku terdiam. Menyadari bila aku sudah menggores perasaannya. ‘maafkan aku’ kalimat itu hanya bersembunyi di dasar hati. Beruntung aku tak bisa melihat emosi di raut wajahnya, itu akan menambah rasa bersalahku.
“Mas tidak ingin memberatkanmu, begitupun kamu tolong jangan memberatkan mas.” Ini yang tidak aku inginkan, menjadi beban untuk dia. Aku sendiri tidak tau kenapa perasaanku diperbudak hanya demi bahagianya. Ketakutanku akan kecewanya membuatku tak bisa berdiskusi dengan rasionalku.
“Kamu masih mendengar mas?” “Hemm. Aku tidak bermaksud memberatkan mas, hanya aku tidak ingin mengecewakanmu. Hanya itu.” Sesak kurasa mengingat obrolan terakhir kami. Sebelum dia seakan menghindariku, hingga saat ini tak ada kabarnya lagi. Menghilang tanpa salam seperti janjinya.
“Gila kamu shei!” pekikan Arga menyadarkan aku bila sedari tadi ia mendengar obrolan kami yang aku kisahkan kembali. Arga yang tadinya berjongkok, kini berdiri bersamaan ia keluarkan cemoohannya yang menunjukkan kebodohanku. “Sekarang kamu sesali?” Aku hanya terpejam, tak mau mengakuinya. “Kamu takut dia benar-benar pergi?” Hanya bisa kutahan sesak membayangkan bila itu benar terjadi. Karena aku menginginkan dia dalam hidupku.
“Lakukan terus seperti itu sampai kamu benar-benar sendiri!” Mataku terbuka menatap kesungguhan dari ucapannya, akan tetapi ia sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya. Dia pergi. Argapun mengikutinya. Tinggal aku seorang diri menelangkupkan kedua tanganku guna menutupi wajah seorang pecundang yang ketakutan pada pesakitan dalam bayang.
Kutarik kasar kedua tanganku, mengedarkan pandang kemudian, mencari seseorang yang seakan memperhatikanku. Tapi tak ada seorangpun di sini. Diakah?, mana mungkin, saat ini dia berada di luar pulau. Kami terhalang jarak begitu jauh. Bahkan samudera menjadi pemisah. Apa sebenarnya kita tidak untuk bersama atau ketakutanku yang membuat kita terpisah.
‘Maafkan aku mas…’
Cerpen Karangan: Alif Nur Hidayati Blog / Facebook: Arandatya