Dia bagaikan malaikan yang tuhan berikan, sosoknya yang baik, tampan, berkharisma, dan sexy. siapa yang mampu menahan godaan itu.
Tak terkecuali Allea, gadis berusia 19 tahun itu selalu terpana memandang sosoknya, walau ia tahu, ia tidak akan pernah bisa masuk kedalam selimutnya, dan menikmati keharuman tubuhnya yang menggoda, karena dia adalah Ayahnya, Ayah angkatnya!
Edouard Alexandre laki-laki berdarah perancis berparas tampan dan baik hati bak seorang malaikat, pertemuan yang tak sengaja saat Allea berlari dari kejaran para penjahat yang membelinya, mereka memaksanya untuk menjadi pengemis di jalanan.
Allea bersembunyi di bawah kolong meja, tempat Edouard duduk tengah menikmati sarapannya. Ia membuka taplak meja yang menjuntai ke lantai marmer yang mengkilap dan bercorak bungan tulip. Di intipnya tepat di tengah kedua kaki laki-laki itu, Allea menengadah dan menunjukkan jari telunjuk di bibirnya.
"Sssttt... bantu aku tuan, jangan sampai mereka menangkapku" pintanya dengan wajah panik.
Edouard diam membisu, ia melihat sekilas ke sekeliling, tampak 4 orang berpakaian preman tengah berlari sambil celingukan. Tampang mereka tampak sangar, tubuh mereka di penuhi dengan tato yang entah bermotif apa, ia tidak dapat melihatnya dengan jelas.
"Brengsek! lari kemana anak sialan itu, kita harus menemukannya, kalau tidak habislah kita!" dengus salah satu dari mereka.
Tubuh Allea bergetar hebat, Edouard dapat merasakan ketakutan gadis yang memeluk kakinya tanpa sadar. Gadis kecil itu terlihat rapuh, Edouard tak habis pikir, bagaimana bisa dia berurusan dengan orang-orang seram itu.
Derap langkah kaki terdengar melewati meja tepat di hadapan Edouard, tak lama derap kaki itu semakin menjauh, Allea menghela nafas lega, namun ia belum berani keluar dari kolong meja.
"Mereka sudah pergi!" Seru Edouard, seraya tersenyum lembut.
Allea menatap laki-laki itu terpana, 'Apakah tuhan sedang berbaik hati? apakah dia malaikat yang tuhan turunkan untuk menyelamatkanku? dia begitu indah, jika tuhan menginginkan nyawaku kali ini, aku tak akan berontak, aku tidak akan menolak. Aku sudah terlalu lelah dengan kehidupanku yang menyiksa, biarlah semua berakhir di depan makhluk indah ini' batin Allea.
Perlahan Allea memejamkan mata, entah kenapa rasanya melelahkan, tubuhnya seperti tidak bertenaga, dan pandangannya menjadi kabur.
Allea menherjapkan mata, kepalanya masih terasa pening, matanya bergerilya menatap ke sekeliling.
Ia menyentuh selimut yang masih menutupi separuh badannya, hangat,lembut dan harum maskuli. Tempat tidur King Size, sofa yang elegant, kamar yang besar, luas dan rapi, terlihat megah. Dinding berwallpaper bermotif batik hitam dengan dasar silver, gorden dan furnitur bernuansakan hitam dan abu-abu tampak begitu mendominasi.
Allea tertegun, 'Apa yang sebenarnya terjadi, di mana ini?' gumam Allea.
"Sudah bangun, makanlah. Kamu pasti lapar, tadi dokter memeriksa, kamu pingsan karena lemah belum makan berhari-hari."
Pipi Allea tampak memerah, 'Aahh... rupanya malaikat tampan ini yang menyelamatkanku' gumamnya dalam hati.
"Apa yang ada dalam kepala cantikmu? cepatlah, segera makan!"
Tanpa di duga, Edouard menggendong tubuh mungil Allea. Sonta saja ia kaget dan makin tersipu hingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Makan yang banyak, tubuhmu sangat kurus. Gadis cantik itu harus berisi, kurus kering tidak menarik seperti tengkorak" celoteh Edouard sambil mencubit hidung Allea.
Edouard sangat gemas, gadis kecil di hadapannya ini gampang sekali di goda, wajahnya selalu memerah saat ia menggodanya. "Benar-benar menggemaskan, sayangnya kamu masih kecil" goda Edouard.
"Memangnya kenapa kalau aku masih kecil? Aku bisa membuat Tuan senang walaupun aku masih sekecil ini!" dengus Allea sebal karena di remehkan.
Edouard tertegun, apakah gadis itu sedang menghodanya? ataukah hanya pikirannya saja yang terlalu berpikir jauh.
"Oh ya, bagaimana kamu bisa menyenagkanku?" pancing Edouard.
"Tentu saja membuka bajumu, menciummu, memelukmu, dan..."
"Cukup!" potong Edouard, ia benar-benar tidak menyangka, bagaimana gadis kecil itu berbicara seperti itu.
"Apa yang kamu bicarakan? dari mana kamu mempelajari itu? umurmu saja masih kecil, mungkin 8-9 tahun tapi kenapa pikiranmu bisa sekotor itu?"
Edouard menghela nafas berat, ia tidak habis fikir, hadis sekecil ini pikirannya tidak sepolos usianya.
"Orang-orang itu bilang, jika aku ingin hidup enak, bisa beli mendapatkan uang yang banyak dan bisa melakukan segala hal dengan sangat bebas jika aku bisa menyenangkan orang yang membeliku, tapi jika orang yang membeliku tidak senang, mereka akan memutilasiku dan menjual organku, seperti..."
Allea tertunduk, raut wajahnya berubah murung, bulir bening mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Hei... sssttt..."
Edouard memeluk tubuh mungil gadis itu, tubuh ringkihnya bergetar, gadis itu terisak dan menangis sejadi-jadinya. Edouard tidak menyangka, niat hati ingin mengorek informasi tentang kehidupan gadis itu malah berujung menyakitinya. Entah apa yang sudah di lalui Allea, namun ia yakin ini pasti berhubungan dengan komplotan perdagangan manusia yang sedang marak di Negaranya.
"Sssttt... kamu akan baik-baik saja, tidak usah khuatir, aku akan menjagamu baik-baik"
Allea menghentikan tangisnya, ia mendongak menatap wajah tampan itu, dengan refleks ia mengecup bibir Edouard dan kembali memeluk tubuh bidang yang begitu nyaman dan wangi menenangkan.
Edouard kembali tertegun, bagaimana bisa gadis itu begitu berani mengecup bibirnya tanpa merasa bersalah. 'Apa yang sudah mereka ajarkan terhadap gadis ini? dasar brengsek tak bermoral!' dengus Edouard dalam hati.
"Hei, Gadis! Apa saja yang mereka ajarkan padamu? apa mereka mengajari cara mencium, menggoda, atau bahkan mengajarkan bagaimana cara... cara..."
Edouard tergagap, ia bingung harus mengatakan apa. Walau bagaimanapun dia masih sangat kecil, sangat tidak pantas baginya mengerti hal seperti itu.
"Bercinta? tidur telanjang dengan seorang pria?" tanya Allea dengan wajah polosnya.
"Hei! Kamu...kamu... aaarrgghhh... benar-benar anak ini, jangan bilang kamu... kamu sudah..."
"Tidak! Aku tidak pernah melakukannya, kata orang-orang itu aku hanya harus belajar menggoda saja.Tidak ada yang boleh menyentuhku, mereka bilang kepolosan dan kegadisanku harus di jaga, karena jika kegadisanku hilang aku sudah tidak berharga lagi dan mereka akan memutilasiku menjual..."
"Stop! Haahhh... syukurlah. Kamu membuatku jantungan, Gadis kecil!"
Allea merengut, keningnya berkerut, ia bingung dengan orang dewasa. Sikapnya itu selalu berubah-rubah, raut wajahnya selalu menunjukkan ekspresi yang tidak ia mengerti.
"Dasar aneh, untung saja tampan!" Seru Allea dalam hati.
"Apa kamu punya keluarga? kemana aku harus mengantarmu?"
Allea kembali mendongakkan kepala, sesaat kemudian ia melepas pelukkannya dan diam tertunduk. Edouard menghela nafas, entah apa yang terjadi, mungkinkah ia di culik? mungkinkah ia kabur dari rumah sehingga bertemu para penjahat itu, ataukah dia sengaja di jual! Edouard harus menyelidikinya terlebih dahulu, sebelum mengantarkan gadis kecil itu pulang.
"Bolehkah aku tetap tinggal?" ucap Allea, dengan suara yang seakan berbisik.
"Hhmmm, kenapa?" tanya Edouard bingung.
Allea menatap Edouard, matanya kembali berkaca-kaca, sesaat kemudian ia kembali menundukan wajah.
"Aku memiliki Ayah, tapi dia pergi membawa kakak karena dia adalah anak kesayangannya. Aku tinggal bersama Ibu, namun, semenjak berpisah dengan Ayah, dia selalu keluar rumah dan selalu pulang dalam keadaan mabuk. Beberapa hari lalu Ibu seperti biasa pergi saat menjelang malam, namun, tidak biasanya dia pulang cepat. Saat pulang, dia membawa tiga orang laki-laki, aku benar-benar takut, aku di paksa ikut dan di seret masuk kedalam mobil. Aku tidak sadarkan diri karena takut, saat sadar aku sudah berada di sebuah ruangan, sangat ramai dan bising, suara isak tangis dan jeritan memenuhi ruangan. Aku terkejut, akupun seperti mereka menangis sejadi-jadinya karena takut."
Allea menghentikan ceritanya, ia mengepalkan tangannya yang gemetar, kilasan kejadian mengerikan itu masih sangat jelas. Allea benar-benar takut, ia tidak ingin pulang, iapun tidak mungkin mencari Ayahnya, ia tahu Ayahnya pasti tidak perduli dan akan langsung mengusirnya.
"Jika boleh, bisakah aku ikut dengan Tuan? aku bisa mengerjakan pekerjaanrumah, atau melakukan apapun untuk tuan, asalkan aku bisa tinggal di sini."
Edouard tampak bimbang, jika memang benar apa yang gadis ini ceritakan sungguh malang nasib gadis itu. tapi, jika ternyata ia berbohong, gadis kecil ini terlalu pintar membuat orang untuk mengasihaninya, itu artinya, bukankah ia sama saja memelihara seekor serigala berbulu domba! Gadis itu penuh kejutan, sangat mencurigakan, namun, iq sama sekali tidak bisa membuktikannya.
"Hhhmmm... entahlah. Aku sudah mempunyai seorang pembantu, selebihnya aku tidak membutuhkan apa-apa. Aku jarang di rumah, dan akupun memiliki seorang asisten yang mengurus segala kebutuhanku."
Allea terdiam, dadanya terasa sakit, 'Selalu saja di tolak! Ayah, Ibu, kakak dan sekarang Tuan ini! Apa sebenarnya salahku? seolah seluruh dunia tidak menginginkanku!" serunya dalam hati.
Allea menghela nafas berat, iapun tersenyum getir, bulir bening yang sedari tadi tertahan akhirnya jatuh juga. Dengan segera ia mengusapnya dan sekali lagi ia menghela nafas.
"Baiklah, anda tidak usah khuatir. Setelah sarapan aku akan pergi, tidak ingin menyusahkan Tuan lagi!" ucap Allea dengan perasaan kecewa.
Alleamakan dengan lahap, tanpa sungkan lagi ia memakan apapun yang ada di meja. 'Makanan ini makanan terenak yang pernah aku makan, anggap saja ini makanan terakhirku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya,' gumam Allea sambil terus memasukkan makanan kemulut mungilnya yang sudah penuh.
"Makanlah perlahan, tidak ada yang akan merebutnya darimu. Kalau kurang aku akan memasakkannya lagiuntukmu!"
"Tiak, ini hudah ukup! (Tidak, ini sudah cukup)" ucap Allea, sambil terus mengunyah sampai mulutnya tampak membulat.
"Haahhh... kamu ini! Ya sudah, aku mau mandi dulu, makan perlahan nanti tersendak!" seru Edouard seraya pergi meninggalkan Allea yang masih lahap memakan sarapannya.
***
Allea membaringkan tubuhnya di tempat tidur, iapun mengendus bau tidak sedap di tubuhnya, ia duduk dan menatap keadaannya saat ini. Ia mendengus sebal, baju kumel, kotor dan tubuhnya sangat bau. Ia baru ingat, sudah tiga hari ia tidak mandi, bahkan selama berhari-hari dalam pelarian ia tidur di emperan dan mengorek-ngorek sampah untuk menemukan makanan sisa yang bisa ia makan. Karena itulah seluruh tubuhnya bau debu, bau sampah dan juga keringat.
"Iuuhhh... baunya! Mana tadi aku memeluk Tuan tampan itu, jangan-jangan dia mandi karena jijik!" pekik Allea, "Tidak, aku harus segera mandi. Sangat memalukan sekali."
Allea celingukan mencari kamar mandi, ia membuka ruangan demi ruangan di rumah besar itu,namun setiap pintu yang ia buka bukanlah kamar mandi. Tinggal satu pintu di hadapannya, tanpa segan lagi ia masuk. Seketika Allea tertegun, tubuhnya terasa kaku, matanya terbelalak. Sosok tampan bertubuh indah dan sexy terpampang jelas di hadapannya, laki-laki itu berdiri mematung sama halnya seperti dirinya.