Full day school membuatku harus membawa bekal ke sekolah setiap hari. Meski rasanya malas sekali harus membawa bekal setiap hari, tetapi itu harus aku lakukan agar aku tidak lemas sampai jam pelajaran berakhir.
Saat istirahat, aku dan Gavin duduk bersama untuk memakan bekal yang sudah dibawa. “Sefia, bawa bekal lauknya apaan?” tanya Gavin, sahabat dekatku. “Ihh, kepo deh kaya neneknya Dora,” jawabku dengan gaya alay. “Yaelah, ditanya malah becanda,” ucapnya. “Gue bawa bekal lauknya itu ayam rica rica. Lo sendiri lauknya apa?” tanyaku. “Ayam goreng dong, itu kan lauk favorit gue,” jawabnya. “Eh Gavin, jangan keseringan makan ayam goreng,” ucapku. “Emang kenapa?” tanyanya penasaran. “Nanti kaya Ipin loh, botak karena keseringan makan ayam goreng. Hahahah…” jawabku lalu tertawa. “Ih, gue tanya seriusan malah ternyata lo becandain gue,” ucapnya. “Ya deh, maafken. Udah ah ngobrolnya, kita sekarang makan ajah,” ucapku. Aku dan Gavin pun menyantap bekal yang sudah dibawa sampai habis.
Aku dan Gavin sudah cukup lama berteman. Kami berdua berteman mulai dari masuk SMA sampai sekarang, kurang lebih kami berteman sudah 1 tahun lebih. Gavin berumur lebih muda setahun dariku, oleh karena itu aku menganggap dia seperti adikku sendiri. Selain itu, meskipun dia laki laki tapi dia memiliki sifat seperti perempuan sehingga aku tak risih dekat dengannya. Oh iya, aku adalah anak tunggal. Akupun hanya tinggal bersama mamaku karena mama sudah bercerai dengan papa.
Keesokan hari, sekolahku mengadakan perlombaan antar kelas untuk merayakan hari ulang tahun sekolah. “Sef, ikut lomba apa ajah?” tanya Aditya saat aku tengah duduk di depan kelas sambil bermain ponsel. “Idih, kepo kaya monyetnya Dora,” jawabku masih menatap ponsel. “Mulai deh becandanya,” ucap Aditya lalu membuang muka ke samping (bukan ke tempat sampah loh). Aku menaruh ponselku ke saku celana olahraga, lalu memegang kedua pipi Aditya untuk menatapku. ‘Ya tuhan, Sefi kok manis banget sih. Walau kadang nyebelin tapi, sungguh dia manis’ kata Aditya dalam hati dan sambil senyum senyum gak jelas. “Lo mau tau ajah atau mau tahu banget?” tanyaku dengan kata sangat halus. “M…ma..mau tahu banget,” jawabnya gugup. “Ishhh, pake gugup segala jawabnya,” kataku lalu menggelengkan kepala Aditya dan melepas pegangan tanganku dari pipi Aditya. “Habisnya lo natapnya gitu sambil pegang pipi gue sih,” ucapnya. “Gue gak ikut lomba apa apa, makanya gue santai di sini,” ucapku. “Owh, gitu,” ucapnya.
“Ciahhh, bukannya ikut lomba malah berduaan disini,” ucap Satria yang tiba tiba datang. “Kami berdua tuh gak sengaja berduaan disini,” jelasku. “Sefia, ikut aku yuk!” ajak Gavin yang tadi ikut datang bersama Satria. “Kemana?” tanyaku. “Ke lapangan,” jawabnya sambil meringis. “Oke,” ucapku lalu menggandeng Gavin dan pergi menuju lapangan.
Selama di lapangan, Gavin selalu memperhatikanku. Aku pun sedikit merasa risih karena tak biasanya Gavin menatapku seperti itu. “Lo kenapa sih?” tanyaku heran. “Gak kok, gue cuma seneng bisa punya sahabat yang selalu bikin gue tertawa dan bahagia,” jawabnya. “Sef, gue mau nyanyi buat lo. Apapun yang terjadi… ku kan slalu ada untukmu… Janganlah kau bersedih… Cause everything’s gonna be ok…” Gavin menyanyikan sebuah lagu untukku. “Aku janji, sesuai lagu tadi gue akan selalu ada buat lo apapun yang terjadi,” ucapnya. Aku tersenyum kepadanya dan langsung menyandarkan kepalaku di pundaknya.
Dari hari ke hari, tingkah Gavin kepadaku menjadi aneh. Dia seperti tak menganggapku sahabat, tapi menganggapku lebih dari sahabat. Selain Gavin, ada Aditya yang juga ikut aneh. Dia menjadi lebih dekat dengan diriku dan sering mengajakku jalan. Aditya juga sering memberiku benda benda kecil namun indah.
Tapi, itu tak berlangsung lama. Semenjak ada siswa baru datang ke kelasku (juga kelas Gavin dan Aditya) sikap mereka berdua berubah kepadaku. Yang tadinya perhatian menjadi cuek. Gavin yang biasanya aku ajak kemanapun mau, sekarang sering menolak ketika aku ajak pergi. Siswa baru itu adalah Ajeng.
“Gavin, temenin aku ke perpustakaan yuk!” ajakku. “Emm, gak bisa Sef. Aku lagi cerita ke Ajeng,” ucap Gavin menolak. “Oke, gue sendiri ajah,” ucapku lalu pergi meninggalkan Gavin dan Ajeng.
Saat jam istirahat kedua, aku ingin bercerita kepada Aditya. Namun, Aditya ternyata sedang bersama Ajeng. Mereka berdua tengah asik becanda dan tertawa. Aku pun memutuskan untuk mencari Gavin, mungkin saja dia sudah berubah seperti biasa lagi.
“Gavin, gue pengin curhat,” ucapku. “Maaf Sef, gue mau ke Aditya sama Ajeng. Kayaknya cerita mereka seru,” ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkanku. “Lo berubah Gavin,” teriakku dengan air mata mulai menetes di pipi. Gavin lalu berhenti melangkah dan membalikan badannya menatapku. “Gue gak berubah Sef. Gue gak jadi power ranger ataupun jadi spiderman. Gue masih Gavin,” ucapnya dengan nada membentak. “Lo emang masih Gavin, tapi sifat lo ke gue berubah. Setiap gue ajak lo pergi, pasti lo ada aja alasan buat nolak. Lo udah gak peduli lagi sama gue, lo jahat Gavin,” ucapku lalu berlari pergi. Banyak anak yang melihat pertengkaran antara aku dengan Gavin.
Aku berlari menuju taman belakang sekolah dan langsung duduk di atas rumput sambil menangis. “Mana janji lo Vin? Mana? Lo bilang akan selalu ada buat gue apapun yang terjadi. Tapi apa? lo cuma omdo (omong doang),” ucapku marah marah. Tiba tiba, perutku terasa sakit sekali. Aku sampai tak tahan dan akhirnya aku tergeletak pingsan di taman belakang sekolah.
Di tempat lain, Satria mencari keberadaanku. “Bimo, lo lihat Sefia gak?” tanya Satria. “Gue lihat sih, tadi dia lari ke belakang sekolah,” jawab Bimo. “Ok, makasih,” ucap Satria. “Yoi, sama sama” ucap Bimo. Satria langsung berlari ke taman belakang sekolah.
“Astagfirullah, Sefia,” ucap Satria kaget dan langsung mendekatiku lalu membopongku untuk membawaku ke UKS. Karena dianggap kondisiku parah, akhirnya aku dibawa rumah sakit lalu pihak sekolah menghubungi mamaku.
Dokter bilang, aku terkena gagal ginjal. Itu mengharuskanku cuci darah setiap dua minggu sekali. Jalan lain, aku bisa melakukan transplasi ginjal agar sembuh. Aku dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Setelah 3 hari, akupun diperbolehkan pulang ke rumah.
Tak terasa, dua minggu sudah berlalu. Dan ini jadwal aku harus cuci darah. “Sayang, kamu mau berangkat sekolah?” tanya mamaku. “Iya,” jawabku. “Loh, kamu itu hari ini harus cuci darah,” ucap mamaku. “Gak mau, aku gak mau cuci darah,” ucapku menolak. “Tapi, ginjalmu udah parah sayang. Mama gak mau kamu kenapa kenapa,” ucap mama. “Cukup ma, aku gak mau cuci darah. Aku mau berangkat, Assalamu’alaikum,” ucapku lalu berpamitan. “Wa’alaikumssalam,” ucap mama.
Di sekolah, aku tak menunjukan wajah sakitku. Meski rasanya sedikit sakit perutku, aku tetap ceria dan menyimpan rasa sakitku. “Satria,” sapaku. “Hey, Sefia. Semangat banget,” ucapnya. “Ya dongs,” ucapku lalu masuk ke kelas.
Aku lalu menaruh tasku dan mencoba mendekati Aditya. ‘Mungkin, dia sudah berubah’ batinku. “Hey Aditya, lagi ngapain sih. Sibuk banget deh,” ucapku sambil menendang bangku Aditya agar tulisannya tercoret. “Eh, lo tuh nyebelin banget sih. Lo gak lihat apa kalau gue lagi nulis. Sekarang lihat, tulisan gue jadi salah gara gara lo. Dasar A****g lo,” bentaknya kepadaku sambil mengatakan kata yang kasar. “Awww, sakit… huhuhu… sakit,” ucapku kesakitan sambil menangis lalu pingsan. Satria yang membawaku ke UKS lalu pihak sekolah membawa aku ke rumah sakit.
Di rumah sakit, aku mengalami koma. Aku juga dipasangi alat bantu nafas. Mamaku tak henti hentinya menangisiku karena aku sudah koma selama 4 hari dan kondisiku semakin parah. Tiba tiba, Gavin dan Aditya datang ke rumah sakit untuk menjengukku.
“Tante, kami boleh masuk kan?” tanya Gavin pada mamaku. “Iya, tapi jangan berisik,” ucap mama.
Tanpa basa basi, Gavin dan Aditya langsung masuk ke ruangan tempat aku berbaring. “Sef, maafin aku udah kasar sama kamu. Aku menyesal udah berkata kasar sama kamu,” ucap Aditya mengelus kepalaku sambil meneteskan air mata. “Gue juga minta maaf Sef, gue udah ngejauhin lo demi Ajeng si munafik itu. Gue juga ingkar janji, maaf Sefi. Aku menyesal,” ucap Gavin menangis lebih keras dari Aditya. “Aku mohon, sadar Sef,” ucap Aditya.
Tiba tiba, Gavin menyanyikan sebait lagu. “Apapun yang terjadi… Ku kan slalu ada untukmu… Janganlah kau bersedih… Cause everything’s gonna be Ok…”
“Gue harap lo cepat sadar Sef, banyak yang merindukanmu,” ucap Gavin.
Saat Aditya dan Gavin di ruang rawatku, dokter datang dan berkata aku harus operasi sekarang juga karena ada ginjal yang cocok untukku. Akupun dioperasi segera dan syukur operasinya berjalan lancar.
1 jam setelah operasi, akhirnya aku tersadar. “Sefia sayang, akhirnya kamu sadar,” ucap mama senang dan langsung menciumku. Saat aku membuka mata tak hanya ada mamaku tetapi, ada Aditya, Gavin, Satria, Bimo, dan teman kelasku yang lain. “Aku ada dimana ma?” tanyaku bersusaha duduk. “Sini mama bantu duduk. Kamu sekarang di rumah sakit. Kamu sudah dioperasi dan kamu sudah sembuh,” ucap mama tersenyum. “Apa? Alhamdulillah,” ucapku gembira. Semua yang ada di ruang rawat pun tersenyum atas kesembuhanku dan mereka juga mengucapkan selamat kepadaku karena aku sudah sembuh.
2 minggu pun berlalu dan aku sudah sembuh total. Aku langsung mengajak Aditya dan Gavin ke suatu tempat yaitu danau. “Sef, gue gak nyangka lo bisa sembunyiin sakit lo dari gue,” ucapnya. “Gavin, karena saking semangatnya gue buat balikin sifat lo seperti dulu membuat aku lupa memberitempe eh, maksudnya memberitahu kalau aku sakit,” ucapku. “Haha… gue rindu kata lucu lo,” ucapku.
“Sef, mumpung disini aku mau ngomong sesuatu ke kamu. Aku cinta kamu,” ucap Aditya tanpa ragu. “Apa? Terus?” ucapku kaget. “Terus, aku mau kamu jadi pacarku dan Gavin saksinya,” ucap Aditya. “Hmm, aku mau jadi cacar kamu. Eh salah, cacar sih penyakit. Maksudnya MAU JADI PACARMU,” ucapku menekankan kata yang di capslock. Aditya lalu tersenyum dan kami saling memandang.
“Ehem, gue dikacang,” ucap Gavin. “Maaf Gavin,” ucapku. “Iya deh, gapapa,” ucap Gavin. “Tau gak sih?” tanyaku. “Tau apa?” tanya Gavin dan Aditya bebarengan. “Kalian adalah alasanku untuk tetap semangat jalani hidup. Kalian penyemangatku,” ucapku lalu tersenyum bersama Gavin dan Aditya.
Karena Aditya dan Gavin kembali seperti biasanya, aku sangat sengang. Apalagi ditambah Aditya menjadi kekasihku. Karena mereka, aku lebih semangat menjalani hidup. Aditya dan Gavin adalah Penyemangatku.
~TAMAT~
Cerpen Karangan: Selda Arifani Blog / Facebook: Selda Arifani Hallo Readers…. Aku lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 30 Maret 2003. Aku hobi membaca dan menulis. Jangan lupa add dan follow: Fb: Selda Arifani (First account) Selda Ran (Second account) Ig: @seldaarifani30 Tweet: @Selda_Ariffani Kalau jelek dan gak jelas maafkan, saya masih penulis pemula