Kring!!! suara jam membangunkan Zahra, yang sebenarnya masih ingin tidur, matahari menembus jendela kamarnya, dengan malas dia mengambil handuknya dan segera mandi. Hari pertamanya sekolah, karena dia baru saja pindah dari Bandung, dan sekarang akan sekolah di Jakarta. Zahra duduk di bangku SMA kelas 2.
Selesai Zahra bersiap-siap, ia pun segera turun untuk sarapan bersama orangtuanya. “ma, aku sekolah dimana?” tanya Zahra, “kamu sekolah di SMA Tunas Bangsa” jawab mama Zahra, “oh, aku sekolah sama Rahma kan ma?” Zahra kembali bertanya, “iya, Zahra anakku” jawab mama Zahra sambil mengelus rambut anaknya.
“Hai, Zahra!!!” teriak Rahma, Rahma adalah sepupu Zahra yang sangat periang, “Hai juga Rahma” jawab Zahra dengan nada malas, sebenarnya Zahra tidak mau pindah ke Jakarta, karena dia masih sayang sama sahabatnya. Zahra dan Rahma pun pergi ke sekolah.
Saat perjalanan keruang kepala sekolah. Brukk!! “aduh!! kamu gimana sih” teriak Zahra, “aduh, maaf-maaf, aku nggak sengaja” jawab seorang laki-laki yang tidak aku kenal, “kamu anak baru ya? aku nggak pernah liat kamu, kenalin aku Reza” lanjutnya, “iya, aku anak baru, emang kenapa? aku nggak perlu perkenalan kamu!” ketus Zahra masih dalam keadaan kesal, “yuk, ah, ma, kita pergi, males banget aku disini” lanjut Zahra berkata pada Rahma, merekapun pergi ke ruangan kepala sekolah.
Zahra satu kelas dengan Rahma, Rahma memulai pembicaraan saat waktu istirahat, “ra, tadi kenapa kamu ketus banget sama Reza? padahal dia itu salah satu murid yang terkenal di sekolah ini, dia anak basket, anak osis, paling ganteng di sekolah ini, biasanya dia selalu jalan sama temennya 3 orang,” jelas Rahma, “bodo amat, emang gue pikirin! dia tuh, sok banget, sok kenal!” tegas Zahra, “kita ke kantin yuk, laper nih” lanjut Zahra, “yuk” jawab Rahma.
Sesampai di kantin. “mba pesen nasi gorengnya 2 sama milkshakenya 2 ya” pesan Rahma, “siap neng” jawab penjaga kantin. Saat itu datang 2 laki-laki dan 2 perempuan, yang membuat semua mata tertuju pada mereka, “itu kan cowok yang nabrak aku tadi, dan cewek itu…” kata Zahra, “kak Dina!!!” teriak Zahra, “kamu kenal ya ra?” tanya Rahma, “iya, aku kenal dia itu sahabatku dulu” jawab Zahra.
“Zahra!!” teriak Dina sambil menuju meja yang diduduki Zahra, “kamu kok bisa ada disini?” tanya Dina, “emm, iya kak, aku pindah”, “udah lama banget ya kak” lanjut Zahra, “iya ra”.
Seorang cowok memotong pembicaraan “kamu kenal cewek ini Din?” kata cowok itu yang tak lain adalah Reza, “iya za, dia sahabat aku waktu di Bandung” jawab Dina, “yah, apes banget kamu punya sahabat ketus kayak dia” kata Reza, “eh, kamu diem aja ya, aku nggak minta pendapat kamu, dasar cowok nyebelin” jawab Zahra, “aduh, udah deh kalian tuh ribut terus, berisik tau ga sih” kata Rahma, “oh, iya ra, kenalin ini temen aku niken, reza, dan Adit” kata Dina, “oh, iya kak, salken ya kak niken, kak adit” sapa Zahra. Mereka pun bersahabat.
Sudah dua bulan Zahra selalu bersama dengan mereka, susah senang mereka lalui bersama, Zahra selalu bertengkar dengan Reza, saat itu ada berita bahwa Reza sakit, entah kenapa Zahra tidak merasa senang saat itu, hatinya terasa sakit, “apa jangan-jangan aku suka sama Reza? aduh, nggak mungkin, kak Dina kan suka sama Reza, masa aku ngerusak harapan kak Dina” batin Zahra saat berada di kamarnya merenungkan hal ini.
Satu minggu berlalu. Reza mengajak Zahra ketemuan jam 4 sore di cafe, saat di cafe. “kenapa za?” tanya Zahra, “aku mau ngomong sesuatu sama kamu” jawab Reza, “ngomong aja za, nggak papa kok” kata Zahra, jantung Zahra berdetak kencang, “sebenernya aku mau nembak Dina, kamu setuju nggak?” deg! hati ini serasa tertusuk beribu-ribu duri, ternyata selama ini harapan aku tuh sia-sia, nggak ada gunanya lagi aku berharap* batin Zahra, “hello, setuju nggak?” ucap Reza sambil melambaikan tangannya di depan wajah Zahra, “eh, ya udah tembak aja langsung” kata Zahra, “emm, aku pulang dulu ya, tiba-tiba aku inget kalo disuruh pulang cepet sama mama aku, bye” Zahra berlari meninggalkan Reza, dan mencoba untuk tetap tegar di hadapannya.
Di sepanjang perjalanan air mata Zahra tidak berhenti mengalir, Zahra tidak bisa mengendalikan emosinya. Brukk!! kecelakaan terjadi, mobil Zahra menabrak pohon, dengan segera warga membawanya ke rumah sakit.
Zahra mencoba membuka matanya perlahan-lahan, “aku dimana?” tanya Zahra, “kamu ada di rumah sakit ra, ini aku Rahma, kamu habis kecelakaan” jelas Rahma, “Ra, aku punya kejutan buat kamu, tunggu ya. silahkan masuk, em, aku keluar dulu ya” lanjut Rahma. kejutan itu datang, dan dia adalah “Raka?! kamu kok bisa ada disini? bukannya kamu ada di Bandung?” tanya Zahra, “aku pindah kesini ikut sama nenekku dan kakakku, nggak sengaja aku ketemu kak Dina dan dikasih tau kalo kamu ada dirumah sakit” jelas Raka.
Selama seminggu, Raka merawat Zahra dengan baik. tapi Zahra tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan dulu. diapun memutuskan untuk mencari Reza, karena saat itu Reza sudah lulus SMA. Zahra pun sampai di rumah Reza.
“Tok! tok! tok! assalamualaikum”. “iya, tunggu”, kreek! pintu rumah terbuka “kamu Zahra, ada apa?” tanya Reza, “kamu kenapa ngejauhin aku!? kamu nggak nengokin aku, atau nggak tanya kabar aku, kamu kenapa za? jawab aku!” Reza terdiam, air mata Zahra tak dapat dibendung lagi, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang keluar dari rumah “siapa kak?” tanya laki-laki itu, Zahra kaget. “kamu kok disini Raka!?” Zahra sangat bingung dengan hal ini, Reza pun angkat bicara “jadi gini, Raka itu adik aku, dan aku udah tau kalo kalian itu saling suka, jadi aku ngerelain kamu demi adikku, jadi aku bilang kalo aku mau tembak Dina” jelas Reza, “tapi kak, aku nggak suka sama Zahra” kata Raka, “iya za, aku juga nggak suka sama Raka, aku cuman nganggep dia sebagai sahabat aku” emosi Zahra tak dapat dibendung, “jadi kalian nggak saling suka? berarti Dina bohong sama aku, ra, sebenarnya aku suka sama kamu” kata Reza, “iya za, aku juga suka sama kamu”.
Setelah mereka menggapai cita cita mereka. akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah.
-TAMAT-
Cerpen Karangan: Denia Asha Rushdina Instagram: @asha__denia TTL: Kendari, 26, 05, 2005 Hobi: membaca, berenang