Sinar matahari pagi menelusup di balik jendela kamarku. Aku terbangun dari tidur pulasku semalam. Hari ini persaanku tetap sama seperti kemarin, sedih, kacau, kecewa, hal ini yang membuatku pindah sekolah, aku ingin melupakan kenangan pahit bersamanya di sekolah itu.
“Sihfa… Ayo nak berangkat ntar telat”. Teriakan mama sudah kudengar dari luar kamarku. “iya iya ini udah siap”. Sahutku. Lalu aku pun berangkat ke sekolahku yang baru dengan orangtuaku.
Tak begitu lama perjalananku sampailah di sekolahku yang baru itu. Aku langsung turun dari mobil. “ayo nak mama antar”. “nggak usah ma, sihfa bisa sendiri kok, mama berangkat aja nanti telat ke kantornya”. Aku langsung berjalan menjauh dari mama menuju kantor kepala sekolah.
“assalamualaikum”. “Wa’alaikum salam oh jadi kamu anak baru di sekolah ini?”. tanya kepala sekolah itu. “iya pak saya sihfa siswa baru di sini”. “ayo bapak antar ke kelas baru kamu”. Lalu diantarlah aku kelasku yang baru dan aku diperkenalkan juga dengan teman teman baruku.
“hai… Nama kamu sihfa ya?.” tanya seseorang padaku. “iya”. “kok cuek?”. “Kamu siapa kenal aja”. kataku pada laki laki pemilik suara itu. Lalu aku keluar meninggalkan kelas itu.
“kok sendirian? Kenalin aku rani aku ketua kelas di kelas kamu yang baru. Namamu sihfa kan?”. “iya namaku sihfa”. Lama kami mengobrol dan saling berkenalan.
“oh iya kamu tau enggak laki laki itu?”. Tunjuk pada laki laki yang tadi bertanya nama ku. “ohh, dia itu namanya sifan. Dia jadi idola loh di sini. kata cewek di sekolah ini dia orangnya tampan, baik, perhatian, pinter, akhlaknya bagus, sama suaranya enak”. jelasnya padaku. “tampan dari mana?”. gerutuku dalam hati. “sepertinya dia lagi deket sama ila temen kelas kita itu kan?”. “kayaknya dia deket sama semua anak cewek disini”. Memang yang kulihat dia orangnya baik dan juga humoris.
Di kelas sifan sering menanyakan namaku walapun dia sudah tau namaku. Entah hanya ingin bicara padaku atau ingin mendapat perhatianku, aku juga tidak mengerti, tapi kata kata yang keluar darinya mebuat aku kadang tersenyum meskipun aku tidak menggubrisnya. Sampai suatu hari aku mendengar suaranya sedang membaca sholawat, jantungku terasa berdebar mendengar suaranya. Dari situlah aku mulai menanggapinya. Aku merasa sakit dia dekat dengan orang lain. Mmungkin aku suka padanya.
Singkat cerita kami akrab dan dia meminta no hp ku dan kami chatan setiap hari dan disitulah awal aku menyukainya.
Kling… Hpku ber bunyi setelah kubuka kagetnya aku ternyata itu pesan dari sifan. Isi pesannya memang biasa tapi aku merasa bahagia. “ini aku sifan besok sekolah kan?”. tanyanya dalam chat itu. “tentu.” jawabku singkat.
Sudah seminggu lamanya aku mengenal dia. Entah dia tau akan perasaanku atau tidak, tapi aku tetap menyembunyikan perasaan ini darinya.
Pagi pagi buta hp ku sudah berbunyi membangunkan tidurku. “siapa sih chat pagi pagi buta kayak gini ganggu aja”. mataku jadi tidak mengantuk lagi, aku semangat saat kubuka chat itu dari sifan. “hay bangun sudah subuh”. betapa senangnya aku ternyata masih ada laki laki yang bangun pagi untuk sholat subuh. “iya aku sudah bangun. makasih ya”. “iya sama sama, sholat dulu sana ntar keburu telat”. aku sangat bahagia ada yang memperhatikanku aku.
Di sekolah dia tidak langsung menyapaku, tapi aku tau dia diam karena malu padaku. Ada yang berubah darinya yang semula dia sering bercanda dengan cewek cewek di sekolah menjadi diam hanya bicara dan dekat denganku. Yang dulunya malamku sunyi sekarang berubah karenamu. Yang dulunya hidup ini kelabu berwarna karenamu. Aku tak tau siapa dirimu yang kutau hayalah kau adalah orang yang menjadi alasanku untuk tersenyum kembali.
Kliii…ngg… “akhirnya yang kutunggu.” kataku dalam hati. Aku kaget dengan isi pesannya aku sungguh tidak menyangka dengan hal yang dia ucap kan. “sebenarnya aku suka sama kamu tapi aku takut mau bicara sama kamu. Apa kamu mau jadi temanku dan menjadi bagian dari keluargaku?”. aku tak dapat bicara lagi, hatiku masih tidak percaya bahwa orang yang kusuka juga menyimpan rasa terhadapku. Saat itu aku sangat bahagia, duka ku telah dia ganti dengan harapan kebahagiaan.
“kamu yakin memilihku, sedangkan kamu tau bahwa banyak wanita wanita di luar sana yang lebih sempurna dibanding aku yang menyukaimu”. Dengan perasaan yang campur aduk aku berusaha menjawab chat darinya. “apa kamu tau kamu adalah orang yang sempurna di hatiku dan aku mencintai kekuranganmu aku akan melengkapi kekuranganmu dengan kelebihanku, bagiku cantik itu yang takkan hilang walau terkena air wdhlu’, dan aku kira kamulah orangnya”. aku sangat terharu mendengar jawabannya.
“berjanjilah kau tidak akan melukaiku. Aku takut kau menghancurkan aku nantinya dan membuat luka baru dalam hidupku”. Tegasku padanya. “Aku janji tidak akan meninggalkanmu, aku akan membuatmu tersenyum bahagia akan kusembuhkan luka di hatimu aku janji”. “baiklah aku terima kamu”.
Sudah seminggu aku menjalin hubungan dengannya. Hari hariku selalu indah karena dia, dia tidak pernah meninggalkanku sendiri, dia selalu membuat aku tersenyum tertawa lepas setiap detiknya.
Rintikan hujan seakan membisikkan kata kata cinta padaku dalam riak riak air yang jatuh mengalir lembut di tanah seakan ikut berbahagia melihatku.
“hey ngelamun aja”. Sifan nencipratkan air yang jatuh dari atas genting gedung sekolah menyadarkanku dari lamunanku. Kulihat dia sudah basah kuyup karena bermain air hujan. Aku lihat banyak juga anak anak yang main hujan hujanan di tengah taman di belakang sekolah.
“daripada kamu ngelamun mending kita main hujan bareng yuukkk..”. Sifan menarik tanganku ke tengah lapangan. “Sifan gimana kalo ntar kamu sakit?”. teriakku ditengah derasnya hujan. “udah gak papa yang penting kamu seneng, kamu bilang kamu suka hujan sekarang nikmati hujannya”. Dia terus nencipratkan air padaku.
Akhirnya aku terhanyut oleh alunan suara air hujan, kulepaskan semua beban di hatiku, aku lompat lompat kegirangan seperti anak kecil, kunikmati setiap titik air hujan.
Tidak jauh dari tempat aku berdiri kulihat Sifan sedang tersenyum melihatku bermain air hujan, perlahan dia berjalan ke arahku “aku bahagia melihatmu tersenyum seperti ini. Aku janji akan mempertahankan senyum indah itu tetap melekat di wajahmu”. Tunjuknya pada bibirku. “terimakasih telah hadir dalam hidupku dan menemaniku, aku mencintaimu hari ini adalah hari terindah untukku”. kataku padanya. “Bukan haya saat ini tapi selamanya”. sambil mengusap dahiku dengan lembut.
Dia sesorang yang selalu ada disaat sedih ataupun senang, dia orang yang selalu membuatku tersenyum bahagia. Tetaplah bersamaku untuk selamanya.
Tamat
Cerpen Karangan: Siti Sholehah Blog / Facebook: Moch Fad