Pelangi mencintai Rein, sebaliknya Rein membenci Pelangi. Entah apa alasannya Rein selalu tidak menganggap kehadiran pelangi, sekeras apapun pelangi mencoba. Tapi satu yang pelangi yakini. Pelangi akan datang setelah hujan, dan Pelangi yakin suatu saat Rein akan menjadikan Pelangi bagian dari hidupnya.
Pagi yang cerah, Pelangi mendatangi Rein yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.
“Rein, aku bawain sarapan buat kamu”. “Apasih lo rese gue GA SUKA!” Bentak Rein. “Rein sampai kapan kamu nolak aku? Aku itu peduli sama kamu, apa kamu ga pernah lihat itu?”. “Haha denger ya Pel- Ah siapapun nama lo, lo itu kaya cewek murahan tau. Nyamper-nyamperin cowok lo punya malu gak sih? Gue tuh bosen tiap hari lo gangguin lo intilin kaya anak bebek”.
Deggg… Pelangi terisak, apapun yang dikatakan Rein terasa benar baginya.
“Ma..maaf gue ganggu lo, ta..tapi gue beneran sayang dan peduli sama lo. Ma..maafin gu..gue”. Pelangi mulai terisak dan berlari
Di kelas. Pelangi tak fokus pada pelajaran Matematika Bu Inggrid, Pelangi hanya memikirkan kata-kata Rein yang menyakitkan baginya. “Heh Pel, jangan bengong mulu!”. Kata Aira-teman sebangkunya- “Hah gimana?”. Pelangi sontak kaget dan bersuara kencang. Seisi kelas pun tertuju padanya, Bu Inggrid pun menegurnya. “Pelangi kamu kenapa sih? Tidak biasanya kamu begini?”. Tegurnya. Tidak heran Bu Inggrid bicara begitu karena Pelangi adalah salah satu murid berprestasi. “Ma..maaf Bu saya tadi mengantuk”. “Ya sudah kali ini Ibu maafkan tapi jangan diulangi Pelangi, sekarang semuanya tenang kita lanjutkan materi”.
XI-A tak secerah pagi tadi, awan menghitam langit terlihat muram. Semuram suasana hati Pelangi saat ini.
“Pel, mau ujan. Lo balik nebeng gue ya”. Pinta Aira “Ngga Ra, makasih gue mau pulang sendiri aja kaya biasa kan gak terlalu jauh”. Aira menatap sahabatnya sendu. “Pel, kalo ujan jangan ujan-ujanan, kalo sedih jangan nangis, kalo ada masalah lo cerita ya. Gue disini support lo terus kok”. “Thanks Ra, tapi gue bener-bener gapapa kok. Lo sana balik kasian supir lo nungguin”. “Ya udah gue balik yaa, lo ati-ati Pel”. “Iya Ra, Lo juga”.
Nyatanya pelangi tidak menuruti ucapan sahabatnya itu. Pelangi berjalan di tengah rinai itu dan menangis di bawahnya. “Seenggaknya gak ada yang tau kalo gue nangis”. Yaa begitu pikir Pelangi.
Tapi tanpa dia sadari ada seseorang yang memerhatikannya sedari tadi dan dia adalah… Reinald Alfatir
Rei Pov. “Gue jahat ya? Biarin itu cewek kaya segitunya. Apa dia beneran tulus sama gue, tapi kok gue malah ga seneng dia selalu kasih perhatian ke gue kaya gitu”. Rei bermonolog di kamarnya malam ini, malam setelah dia melihat tangisan Pelangi di bawah derasnya hujan.
“Apa gue harus buka hati buat cewek itu?”. Pikirnya
Cerpen Karangan: Lia Apriliani Blog / Facebook: Lia Haii saya Lia saya suka menulis Kujungi Facebook saya Lia