Selepas Langit memutuskan untuk pindah ke Jogja, ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Senja. Senja terus menghubunginya, tetapi Langit hanya mengabaikan telepon dan sms dari Senja. Langit berpikir dengan mengabaikan pesan dari Senja maka ia akan lebih mudah untuk melupakan Senja. Tapi faktanya otak dan hatinya masih dipenuhi dengan Senja.
Pertunangan Elenio dan Senja semakin dekat. Hanya tinggal menghitung hari saja untuk menuju hari bahagia bagi Senja dan Elenio. Tapi mungkin hari bahagia itu sudah musnab dibunuh oleh pengkhianatan Elenio terhadap Senja. Elenio ternyata hanya ingin merebut perusahaan orangtua Senja. Perusahan terbesar di Indonesia. Namun, akhirnya rencana busuk Elenio telah terbongkar. Begitu bodohnya Senja telah mencintai lelaki yang ternyata hanya mengejar Harta orangtuanya saja.
Senja begitu hancur setelah mengetahui kebusukan calon tunangannya itu. Senja hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Ia duduk terpaku menatap angkasa. Gumpalan awan membumbung tinggi di angkasa berhiaskan guratan warna jingga menemani Senja yang hanya bisa menangis mengingat pengkhianatan Elenio. Ia begitu rapuh, hatinya bagai ditusuk pisau berkali-kali. Disaat seperti ini Senja begitu membutuhkan orang yang bisa menenangkan hatinya. Orang yang membuatnya lepas dari jeratan kesedihan yang mengikat tubuhnya. Mungkin saat ini Langitlah yang sangat dibutuhkan Senja. Langit yang selalu ada untuk Senja. Langit yang menjadi tempat menetap Senja. Langit yang bersedia menerima Senja walaupun Senja datang dan pergi sesuka hati.
“Kenapa saat gue kalut kaya gini lo ga ada di samping gue, Lang? Gue butuh lo sekarang. Gue ga bisa ngadepin ini semua sendiri. Setelah Elenio yang gue percaya ternyata tega mengkhianati gue. Lo dimana, Lang?” ucap Senja yang sedang menangis ditepi danau.
Saat Senja sedang kalut, Bulan datang untuk memberi semangat pada Senja. Meskipun Bulan tau bahwa Senja adalah orang disayangi Langit, dan hal itu membuat Bulan jauh dari Langit, tapi Bulan tidak pernah mempunyai niat untuk membenci Senja. Bulan sadar dia hanyalah sahabat Langit. Tak lebih dari apapun.
“Lo yang sabar ya, Senja. Gue tau ini mungkin berat, bahkan berat banget buat lo. Tapi lo harus bisa ambil sisi positif dari kejadin ini. Tuhan sayang sama lo, Senja makanya Tuhan nunjukin ini semua sekarang, sebelum semua terlambat dan Elenio udah bisa nguasain semuanya. Ini bisa jadi pembelajaran buat lo untuk lebih hati hati lagi milih kekasih. Belum tentu yang selalu nyanjung lo yang selalu ngungkapin sayang sama lo itu baik buat lo. Dan ini juga bisa jadi pembelajaran buat orangtua lo buat ga gampang percaya sama orang. Gue yakin lo bisa hadepin ini semua. Lo harus kuat, Senja.” ucap Bulan sambil memeluk Senja untuk menguatkannya. “Thanks ya, Lan. Lo baik banget sama gue. Gue bakal coba buat hadepin ini semua.” “Gue yakin lo kuat, Senja.”
“Btw Langit kemana, Lan? Udah beberapa bulan belakangan ini dia ga pernah keliatan, gue coba hubungin juga ga pernah ada tanggepan.” Bulan diam terpaku mendengar pertanyaan Senja. Bulan bingung harus menjawab jujur atau berbohong tentang Langit yang pindah ke Jogja. Ia takut jika ia mengatakan yang sebenarnya maka hati Senja akan tergores dan terluka. Langit memang ingin menyembunyikan tentang perpindahannya ke Jogja dari Senja. Ia tak mau jika ia memberitahu Senja, maka ia akan semakin sulit untuk melupakan senja. Tapi apa daya, Bulan tidak bisa terus menerus menutupi ini semua dari Senja. Bulan akhirnya memberi tahu Senja tentang Langit yang pindah ke Jogja.
“Ya mungkin Langit pingin refreshing, mungkin dia capek dan bosen dengan dunia perkuliahannya di Jakarta. Tapi, Senja. Ada satu hal yang perlu lo tau, ada satu hal yang perlu lo mengerti dan ini menyangkut hati Langit.” Senja menatap Bulan dengan sorot mata yang berisi segudang pertanyaan tentang apa yang diucapkan Bulan. Ia mencoba menerawang apa yang telah Senja dan Langit lakukan. Dan nampaknya tak ada hal yang spesial dari itu semua. “Mungkin lo ga sadar, mungkin lo cuma nganggep Langit sebagai temen apa sahabat aja. Tapi perhatian dan Kasih sayang yang dia beri buat lo itu lebih dari itu semua. Dia sayang bahkan hati Langit seutuhnya udah buat lo, Senja. Dia selalu bilang sama gue kalo misalnya nanti lo emang udah jodoh sama Elenio dia bakal ngerelain lo buat bahagia sama Elenio. Dia ga bakal maksain lo buat milih dia. Karena dia tahu dia ga bisa seegois itu buat milikin lo seutuhnya. Dia bakal lebih sakit kalo lo maksain milih dia karena dia tau kalo hati lo cuma buat Elenio.”
Seketika degup jantung Senja melambat. Dadanya dipenuhi sesak yang menyiksa. Ia hanya bisa terdiam dan menangis mendengar pernyataan Bulan tentang langit yang menyayangi Senja lebih dari sahabat. Ada rasa bersalah yang menguasai batin Senja, rasa bersalah karena telah menyianyiakan orang yang menyayanginya dengan tulus dan malah memilih pengkhianat seperti Elenio.
“Bulan.” ucap Senja. Bulan menatap Senja. “Gue minta tolong buat nyampein permintaan maaf gue ke Langit ya. Gue juga minta tolong buat ceritain semua pengkhianatan Elenio. Gue harap Langit mau balik lagi ke Jakarta. Gue butuh dia, Lan.” “Gue bakal coba ya buat bujukin Langit. Tapi gue ga janji kalo Langit bakal ke sini lagi. Masalahnya dia udah bilang kalo dia pingin buka lembaran baru di Jogja.” Mereka saling memeluk. Bulan seolah menyalurkan energi ke dalam tubuh Senja. Energi untuk menghadapi badai yang menerpa hidupnya.
Pagi ini Bulan berkunjung ke Jogja untuk menemui Langit. Bulan akan memenuhi janjinya kepada Senja. Bulan akan menceritakan semua pengkhianatan Elenio terhadap Senja, dan Bulan juga akan membujuk Langit untuk kembali ke Jakarta. “Dikhianatin? Maksud lo gimana, Lan? Elenio kan sayang banget sama Senja dan Senja juga sangat sayang sama Elenio.” Bulan pun memulai narasinya, menceritakan semua rencana busuk Elenio yang hanya mengincar harta orangtua Senja. Langit hanya mendengar cerita Bulan dan raut wajahnya nampak tak percaya. Bagaimana mungkin orang yang dipilih orangtua Senja untuk menjadi pendamping malah mengkhianatinya.
“Sekarang Senja lagi kalut banget, Lang. Dia butuh satau orang yang bisa ngertiin dia, yang bisa bikin dia move on dari ini semua. Ya, mungkin lo yang saat ini dibutuhin Senja, Lang.” “Gue ga bisa balik lagi ke Senja, Lan. Itu ngebuat gue semakin susah buat ngelupain dia. Gue pingin Senja sama gue jalanin hidup masing masing. Dia bahagia dengan caranya sendiri dan gue juga begitu.” “Coba deh lo pikirin lagi, Lang.” Kalimat terakhir yang ducapkan Bulan pada Langit sebelum ia meninggalan Langit.
Tinggalah Langit sendiri bertemankan pikiran mengenai Senja. Hatinya berkata jika ia harus kembali ke Jakarta lagi. Namun, disisi lain ia tidak mau kembali ke masa dimana ia harus memendam rasa sayangnya kepada Senja dan hanya bisa menyayanginya dalam diam saja.
Setelah pergulatan antara batin dan otaknya, akhirnya Langit memilih untuk kembali ke Jakarta lagi. Tentu ini keputusan yang telah ia pikirkan matang-matang dan telah ia perhitungkan nantinya. Banyak pertimbangan sebelum akhirnya Langit mengambil keputusan ini. Ia kembali ke Jakarta bukan untuk melanjutkan perjuangannya untuk meraih Senja ke dalam pelukannya, melainkan ia ingin meneruskan studynya yang sempat tertunda.
Pagi ini Langit sudah ada dalam pesawat. Ia telah siap untuk ke Jakarta lagi. Ia telah siap menemui cerita yang lalu namun belum sempat ia selesaikan. Namun satu yang belum siap, hatinya. Hatinya yang masih seutuhnya untuk Senja, namun dia juga ingin keluar dalam lingkaran cinta ini. Yang Langit pikirkan saat ini hanyalah ia ingin menyelesaikan studynya dan menjadi orang yang sukses.
Siang yang cerah, sang surya tak malu malu menampakkan sinarnya. Senja sedang duduk termenung di danau dekat kampusnya. Ia masih terpuruk dengan kejadian yang menimpa dirinya. Namun seketika itu pandangannya berbalik 180 derajat. Bola matanya bertemu dengan bola mata Langit. Sorot mata mereka penuh dengan kerinduan yang teramat dalam. Air mata Senja mengalir dengan deras. Membasahi pipinya. Ada kesengangan bercampur kesedihan yang terlukis di wajahnya. Orang yang dirindukannya kini ada di depan matanya. Senja langsung menghampiri dan memeluk Langit, seolah semua kesedihannya ia transfer ke tubuh Langit.
“Lo yang sabar ya, Senja. Ini pelajaran buat lo biar ga gampang nerima orang asing.” “Thanks ya, Lang. Lo emang selalu ada buat gue, mungkin harusnya gue milih lo yang tulus nyanyangi gue walaupun gue gapernah ngebales rasa sayang lo.” “Apaan sih, Senja. Jangaan galau-galau lagi lah.”
Dan sejak Langit kembali ke Jakarta Senja kembali seperti semula. Senja yang ceria, Senja yang bahagia dan Senja yang mulai menyayangi Langit. Namun, kini Langut memilih untuk mengejar masa depannya. Bukan ia sudah hilang rasa kepada Senja, rasanya masih tetap utuh pada Senja, namun ia sadar sekarang yang harus lebih ia prioritaskan adalah masa depannya.
Karena senja tercipta karena adanya matahari dan ia bersinggah di langit.
SELESAI
Cerpen Karangan: Cazaliestya Hanzani