Pagi yang cerah yang selalu menemani hari-hariku di sekolah. Tapi semenjak kepergiannya aku selalu kesepian meskipun masih ada orangtua dan teman-temanku. Dia adalah orang yang sangat berarti bagiku. Dia bukan hanya seorang kakak tapi juga seorang sahabat.
Aku selalu pergi ke perpustakaan saat jam istirahat atau uks kalau aku sedang piket. Hanya dua tempat itu yang aku kunjungi. Karena aku tidak suka tempat yang ramai. Aku lebih suka tempat yang tenang dan perpustakaan adalah tempat yang cocok untuk menyendiri, belajar dan mengingat kenanganku dengan (dia). Karena jarang siswa datang di perpustakaan.
Sekarang aku sedang membaca buku di perpus. Setelah selesai membaca buku aku menaruh buku itu ke tempatnya. Kemudian aku memilih buku lain yang akan aku pinjam. Tapi saat sedang mengambil buku aku mendengar suara seseorang. Lalu aku menuju ke sumber suara.
“Awww…” ringis seseorang. “Lo kenapa” tanyaku pada orang tersebut. “Kaki gue ngijek pecahan kaca jam” jawab orang itu “Ada apa ini” tanya pak guru saat melihat orang itu duduk dan memegangi kakinya. “Kaki saya nginjek pecahan kaca jam, pak!” jawab orang itu. “Kalau gitu kamu nisa bawa dia ke uks” kata pakguru padaku. “Iya pak” jawabku.
Lalu aku memebawa orang itu ke uks sambil membopongnya karena kakinya terluka. Sebelum itu aku menyuruh temanku untuk duluan ke kelas dan memberitahu bu guru kalau aku lagi ngobatin orang. Saat sampai di uks aku mengobati orang tersebut.
“Makasih ya” ucapnya padaku saat aku sudah selesai mengobatinya. “Sama-sama” jawabku. Lalu membereskan obat dan perban dan keluar dari uks. “Eh tunggu nama lo siapa” tanyanya menghentikanku. Aku kemudian berbalik “Nisa putri pratiwi” jawabku. “Gue vino aditya dan nama yang cantik sama kaya orangnya” “Udah tau dan makasih” jawabku kemudian berbalik dan keluar dari uks menuju ke kelas dan meninggalkan vino sendirian di uks.
Sejak saat itu aku selalu bertemu dengan vino cowok yang selalu bikin ulah di sekolah ini. Entah itu saat di sekolah atau di luar sekolah karena ibunya dan ibuku berteman. Aku heran itu kebetulan atau takdir, tapi aku tidak mau pusing dengan itu, aku menjalani keseharianku seperti biasa sebelum aku bertemu dengan vino di perpus.
Vino selalu mengikutiku entah di perpus atau uks. Aku merasa risih karena selalu diikuti terus. Tapi rasa itu hilang karena kadang vino membantuku, melindungiku dan bahkan pernah menghiburku saat aku sedang sedih. Semejak kehadirannya aku mulai merasakan yang namanya sahabat.
Suatu hari saat aku pulang dari toko buku aku melihat vino sedang dikeroyok oleh 3 orang. Aku bingung harus bagaimana karena jalanan sepi. Jadi kalau mau minta tolong tidak ada yang akan dengar. Akhirnya aku menyalakan suara sirine polisi yang ada di hpku.
Saat mendengar suara sirine itu orang yang menghajar vinopun langsung lari. Lalu aku menghampiri vino yang sudah babak belur. Kemudian aku membawanya ke taman dekat situ untuk mengobati lukanya.
“Awww… Pelan-pelan dong” ringisnya. “Kalau gak mau sakit jangan berantem” “Gue heran sama lo kenapa sih berantem terus, padahal sudah tau kalau berantem itu sakit masih aja berantem. Mau jadi jagoan lo ha.” kataku dengan nada marah. “Gue berantem itu karena mereka ngomong sembarang tentang gue ” kata vino membela dirinya. “Hanya karena itu lo rela berantem kayak gini” “Jadi orang itu jangan egois jangan mentingin diri sendiri. Lo harusnya tau apa yang lo lakuin itu bukan hanya menyakitkan lo aja tapi orang yang sayang sama lo” Vino diam
“Lo tau gak hanya karena keegoisan lo itu lo bisa mati tau gak. Coba aja kalau gue gak datang tadi pasti keadaan lo entah kayak gimana.” “Tuhan masih sayang sama lo. Jadi dia ngirim gue buat bantuin lo. Gue mohon hargailah kehidupan yang diberikan tuhan sama lo vin” Vino diam
“Jangan dengerin apa yang dikatakan orang lain tentang lo. Jika itu gak bener” Kataku saat sudah selesai mengobati vino. “Maaf” katanya. “Bukan sama gue lo minta maaf. Oh ya lo harus pergi cek ke dokter takutnya ada luka dalam. karena yang gue obtain itu luka ringan. Gue duluan” kataku lalu pergi meninggalkan vino sendirian di taman.
Keesokannya harinya vino datang mememuiku di uks karena aku sedang piket untuk memgembalikan bukuku yang ketinggalan di taman. “Nih buku lo” katanya sambil memberikan bukuku. “Makasih soal yang kemarin gue minta maaf karena udah marah-marah sama lo” “Gak usah minta maaf. Lo kayak gitu karena lo gak mau apa yang terjadi sama nandan terjadi sama gue kan” “Lo tau dari mana soal nandan” tanyaku kaget. “Mamah lo yang cerita semalam saat gue mau kasih buku lo ini tapi lo udah tidur”
“Nisa bantu gue berubah ya” katanya memohon padaku. “Bener lo mau berubah” “Iya, gue pengen berubah supaya orangtua gue bahagia” “Oke deh gue bakalan bantuin lo” “Makasih nisa” “Nanti aja kalau lo udah berubah”
Setahun kemudian Aku sudah lulus dan aku berhasil mendapat besiswa kuliah kedokteran di luar negeri. Dan juga membuat vino cowok berandalan bisa menjadi cowok yang baik. Kehidupan juga berubah semenjak saat aku membantu vino berubah. Sekarang aku tidak kesepian lagi karena aku sudah mempunyai sahabat yaitu vino. Sekarang aku sedang berada di rooftop sekolah. Karena semenjak aku berteman dengan vino aku sealin perpus dan uks tampet yang paling sering kukunjungi adalah rooftop.
Aku sangat bahagia karena aku berhasil mendapat beasiswa. Tapi disamping itu aku sedih karena harus meniggalkan vino. Setelah mendengarkan kelulusan vino mengajakku ke rooftop karena ada yang ingin dia bicarakan.
“Lo mau ngomong apa” tanyaku setelah beberapa menit hening. “Makasih nis lo udah bantu gue berubah” “Sama-sama” “Nis sebenarnya selama ini gue suka sama lo. Jadi lo gak mau jadi pacar gue” “Sorry vin gue gak bisa” “Kenapa” “Sebenarnya gue dapat beasiswa kuliah di luar negeri dan gue gak mau ldr” “Gue bakal nunggu lo sampai selesai kuliah” “Tapi kalau penantian lo itu hanya sia-sia” “Gue bakalan tetep nunggu. Kalau jodoh kan gak bakal kemana” “Terserah lo vin, tapi kalau lo gak sanggup gak usah nunggu gue”
5 tahun sudah berlau dan sekarang aku sudah kembali ke indonesia aku bekerja di salah satu rumah sakit di jakarta. Aku tidak pernah mendengar kabar tentang vino lagi. Bahkan ibuku dan ibunya vino tidak berteman lagi karena vino dan keluarganya sudah pindah.
Kemudian aku bertemu vino di ruma sakit saat dia mengantar ibunya ke rumah sakit. “Nyokap lo sakit apa” “Biasa kecapean” “Apa kabar” “Gue baik-baik aja kok” “Lo udah lama balik ke indonesia” “Belum terlalu lama” “Oh ya gimana kabar mama lo” “Baik-baik aja”
“Nis lo mau gak jadi pacar gue” “Gak…” “Kenapa lagi” ucapnya memotong perkataanku. “Gue belum selesai ngomong vin” “Jadi” “Gue gak bakalan nolak. karena lo udah lama nunggu gue vin dan makasih banyak vin” ucapku sambil tersenyum pada vino. “Gue seneng banget nis. Ternyata penantian gue gak sia-sia” ucapnya lalu memelukku akupun langsung membalas pelukannya.
Tak pernah kusangka ternyata dari perpustakaan aku bisa mengenal vino. Sosok orang yang mirip dengan (dia), yang pernah mengisi hari–hariku dulu sebelum vino datang. Semua berawal dari perpustakaan. Tempat yang tak pernah kuduga. Tempatku untuk menyendiri, belajar dan mengingat kenaganku dengan nandan. Ternyata adalah tempat yang mempertemukanku dengan vino.
Selesai
Cerpen Karangan: Sartina Blog / Facebook: Sartina