Kasih sayang pada sesama itu adalah fitrah. Tak perlu disesali, apalagi dibenci.
—
Nara terdiam. Wajahnya memerah, malu dan marah ia rasakan. Aduh, apa yang harus dijawabnya?
Hai, Ra. Sehat ya? 🙂 Maafkan aku mengganggumu malam-malam begini. Kamu tahu? Tidur cepat malam ini lebih baik daripada begadang menatap layar untuk sesuatu yang tidak berguna. Aku membacanya dari sebuah artikel di forum diskusi. Besok sekolah, see?
Night, Raha.
Kurang ajar! Pasti Nao mengatakan sesuatu yang aneh-aneh tentangnya pada Raha. Anak itu, pasti akan dibunuhnya besok. Pasti. Mood Nara hancur. Pasti ia akan insomnia malam ini.
Berdoalah untuk keselamatanmu esok hari, Nao!
—
“Raha, Nao itu gila.” “Raha, Nao itu pembohong.” “Raha, kau tahu Nao itu bego, bukan?” “Raha, hai! Nao itu selalu asal-asalan, bukan? Maksudku, kau tahu? Eh-” “Raha…” “Raha…”
Aduh, bagaimana caranya Nara memberitahu Raha tentang ketidak-benaran Nao? Pasti dia akan berpikir yang aneh-aneh. Bisa saja Raha berpikir Nara tiba-tiba koslet membicarakan sesuatu secara tiba-tiba. Bagaimana kalau ternyata itu tidak benar? Bagaimana kalau ternyata Nao tidak memberi tahu apapun?
Atau jangan-jangan Raha akan berpikir kalau Nara jaim di depannya, seolah punya rasa lebih. Tidak boleh. Sunggu tidak boleh. Ini tidak sehat untuk pikiran Nara.
Oh ayolah! Perkataan Nao saja sudah membuatnya gila karena malu. Padahal itu belum pasti kebenarannya. Bagaimana kalau otaknya dirasuki pikiran Raha bisa jadi buruk tentang Nara? Demi! Bahkan Nara tidak tahu harus bersumpah atas siapa! Lupakan!
Pertama, Nara harus menipiskan kemungkinan tentang kebenaran Nao mengatakannya pada Raha atau tidak. Dan Nara yakin kalau Nao pasti memberi tahu Raha. Kedua, Nara harus bersikap! Benar, bersikap. Tahu dan mengatakan kebenaran pada Raha, atau, pura-pura tidak tahu. Oke. Nara akan pura-pura tidak tahu. Hari ini ataupun besok. Selamanya juga, terserah.
—
“Raha!” Nara melambaikan tangan pada cowok di depan kelas itu. Sedang berjalan memasuki kelas. “Yo!” Raha mengangkat tangan cool- ‘berusaha’ dalam tanda kutip. Duduk di kursinya yang terletak di belakang Nara sejak 2 hari yang lalu.
Sial sekali. Tempat duduk yang baru ini membuat Raha selalu melihat Nara. Membuatnya selalu terpikir tentang perkataan mesum Nao, teman Nara. Membuatnya selalu salah tingkah melihat Nara. Menjauh perlahan.
Nara membalikkan badannya menghadap kursi Raha di belakangnya, “Kamu tidur dengan baik semalam?” Tersenyum tipis.
Eh? Tumben Nara memulai percakapan dengan Raha. Sebuah basa-basi pula. Biasanya hanya merespon- menjawab- ucapan Raha tanpa peduli basa-basi. Langsung ke poin inti. Apa Nara-
Eh, Nara di seberang masih menantikan jawaban. Wajah cantik dengan sedikit jerawat di dahi itu tampak tenang.
“Ah, iya. Tentu saja. Malamku selalu baik-” Raha mengerinyit. Teringat ia buru-buru tidur agar tidak mengecek ponselnya. Tapi toh, tidurnya tetap baik, “-dan menyenangkan tentu saja.” Raha balas tersenyum. “Kenapa, Ra?” Nara tampak tidak kaget dengan pertanyaan Raha. Tentu saja. Bukankah ia sedang melakukan keanehan? Bertanya tiba-tiba adalah sesuatu yang tidak lazim dalam hidupnya. “Aku berterimakasih untuk smsmu semalam. Itu membantu tentu saja. Tapi, untuk menghibur diri, menatap layar bukan kesalahan.”
Raha yang tampak kaget. Teringat ucapan Nao kemarin-kemarin. Menghibur diri katanya? Dengan menonton-
“Yah, walaupun tidur sebenarnya adalah bentuk menghibur diri terbaik. Tapi terkadang film jauh lebih menyenangkan, benarkan?” Nara ngotot minta dibenarkan. “Eh, terserah padamu, Ra.” Raha tampak kikuk. Film yang sedang dibahas Nara bisa jadi adalah film xx. “Aku hanya menyebarkan berita. Membuatnya diketahui banyak orang.” Bahunya diangkat pelan. “Ya, baiklah. Terima kasih kalau begitu.” Nara kembali menghadap ke depan. “Ngomong-ngomong, cobalah tonton anime sekali-sekali. Atau buat proposal tengah malam dwngan secangkir kopi. Itu menyenangkan. Try it! Oke?” Lanjut Nara dengan wajah tertekuk. Seolah sedang membaca buku di atas mejanya. “Baiklah,” jawab Raha singkat. Ia tahu itu adalah jawaban Nara. Kebenaran yang dicari olehnya selama berhari-hari karena perkataan sialan Nao. Ia mengerti. Nara tetap anak baik meski usia dan hormonnya bertambah. Film xx tentu bukan jawaban. Ia menghela napas lega.
—
Jantung Nara kembali memacu. Setiap bertemu Raha pasti perasaan sialan ini kembali membuncah. Menerbangkan berjuta kupu-kupu.
Nara ingat sekali. 2 tahun lalu di hari dimana ia mengetahui perasaan Raha padanya. Cowok itu bilang, ia suka Nara sejak awal bertemu di SMP, tapi baru berani mengungkapkan perasaannya sekarang. Karena, katanya, Nara terlihat seperti seseorang yang tidak nyaman berhubungan dengan laki-laki. Yah walaupun itu benar.
2 tahun lalu, Raha mengajak Nara berpacaran.
Nara mulai mempelajari hatinya 2 tahun terakhir. Mulai menata hal-hal kecil. Menyimpan dalam-dalam perasaan yang belum seharusnya tumbuh. Ini bukan waktunya.
Besok ujian akhir sekolah. Raha, cowok itu kini sedang berdiri di depannya. Menatap Nara dengan kikuk. Ini percobaan ketiganya di sma ini. Meminta Nara menjadi pacarnya. Karena mengutarakan perasaan sudah dilakukannya 2 tahun lalu. Hari ini ia berharap banyak pada Nara. Berdoa semoga Nara menerimanya.
“Jadi, Raha. Kamu mau ngomong kaya 2 tahun lalu lagi? Atau kaya tahun lalu?” Nara mencoba bertanya, berharap kata-kata yang dikeluarkannya tidak terlalu kasar dan tajam. “Eh, Nara. Aku-” “Maaf, Raha. Kalau kamu mau minta lagi agar aku jadi pacar kamu, maka sekali lagi aku menolak.”
Nara mengepalkan tangannya lebih erat. Maaf Raha. Maaf.
“Aku, sebenarnya udah siap dengar kamu ngomong begitu. Tapi kok tetap nyelekit, ya?” Raha tertawa pelan, “Berasa 2 tahun belakangan aku gagal buat kamu suka sama aku.” Raha menunduk. “Maaf.” Nara tidak tahu harus bilang apa lagi. “Aku selalu sabar, menahan diri biar ngga kelewat batas deketin kamu. Kamu benar, ngga punya rasa apapun padaku?” “Aku-” Nara terdiam. Ayolah, Nara bahkan tidak pernah memungkiri ia punya rasa pada teman laki-laki yang berdiri di depannya ini. Tapi- “Satu, Ra. Kasih aku satu alasan kenapa kamu selalu nolak.” Raha menatap Nara dengan tatapan kesungguhan. Seolah tak goyah.
“Aku-” Nara membasahi bibirnya. Berusaha melanjutkan, “-bagi aku pacaran itu bukan solusi ataupun jalan akhir yang harus dilakukan oleh sepasang manusia yg saling suka. Pacaran itu adalah hubungan paling rendah dalam percintaan. Karena untuk menjalinnya cuma perlu bilang ‘aku suka kamu’, ‘aku juga’, ‘mau pacaran sama aku’, ‘mau’, terus jadi resmi pacaran.” “Buat putus? Kalau salah satu dari kita bilang putus maka hubungan itu resmi berakhir. Kamu tahu? Hubungan kaya gitu cuma diikat dengan kata kata mau dan putus. Bisa kamu bayangin betapa rendahnya? Raha?”
Nara mengambil napas. “Jadi maaf kalau selama ini aku buat kamu sakit hati. Besok kita ujian akhir, dan kamu masih berbaik hati luangin waktu kamu cuma untuk denger penolakan aku yang terakhir. Aku mau ke Australia sehari habis ujian. Jadi kalau kamu benar-benar serius sama aku, yang perlu kamu lakuin cuma ketemu orangtua aku. Kamu sanggup?”
Raha terperangah. Itu seperti ‘Ebuset ngajak nikah’ di pikiran Raha. Ia masih menatap Nara yang sekarang tampak salah tingkah.
“Eh, lupakan saja. Terima kasih dan maaf.” Nara beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Raha dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
Terlintas di pikirannya, Kalau Nara seserius itu, memangnya Raha bisa menolak?
Cerpen Karangan: Raudhah El Hayah