“Sial! Lagi-lagi kalah,” gerutu seorang pemuda bernama Purnama melempar kartu gaple. “Dari dulu lu itu enggak pernah becus main yang beginian. Sekarang, mana uang lu?” kekeh pria paruh baya yang akrab disapa Juned. “Sudah dua hari lu enggak kasih uang main. Kalau begini terus, mendingan lu enggak usah main lagi,” timpal temannya yang bernama Yudi. “Iya deh iya. Ini uangnya. Sekalian buat dua hari yang lalu,” Purnama menyodorkan sepuluh lembar uang seratus ribu ke hadapan Juned. Juned terbelalak. “Dari mana lu dapat uang sebanyak ini? Bukannya lu pengangguran?” “Bapak gua sangat murah hati. Jadi enggak usah heran kalau gua punya uang sebanyak ini. Lagi pula gua kan anak tunggal, apa sih yang enggak bisa dipenuhi orangtua buat anak kayak gua?” “Senang banget ya jadi lu. Bapak lu juragan cengkeh, belum lagi sawahnya berhektar-hektar. Pasti harta lu juga melimpah. Tapi anehnya, kenapa sampai sekarang enggak ada cewek yang mau sama lu? Padahal tampang lu juga loh kayak cowok metropolitan.” Yudi menggoda. “Ah, lu bisa saja, Di. Bukannya enggak ada yang mau, malahan di luar sana banyak banget cewek yang antre minta dinikahi sama gua. Tapi, gua enggak butuh cewek-cewek yang lihat gua cuma dari tampang dan hartanya doang,” sanggah Purnama. “Wih, gaya lu,” ujar Yudi menyikut badan Purnama.
“Eh, gua pulang dulu ya. Gua ada urusan sebentar sama bapak gua. Nanti gua balik lagi,” ujar Purnama beringsut.
Saat Purnama hendak beranjak dari pos ronda, seorang gadis cantik bernama Nurhafizah melintas di hadapan mereka. Seketika Purnama terpaku memandangi gadis jelita berhijab bak bidadari dari surga. Juned dan Yudi saling lirik satu sama lain setelah memperhatikan tatapan Purnama yang membeku.
Juned mendehem memecah lamunan Purnama. Sedangkan Yudi terkekeh melihat Purnama terperanjat. Purnama tampak begitu gugup dan menggaruk kepalanya.
“Kenapa lu sampai melongo begitu sih? Kayak baru pertama kali lihat cewek cantik saja,” kata Yudi menggoda. Pipi Purnama berubah merah menahan malu. “Apaan sih, Di?”
Purnama segera bergegas menaiki motornya, berusaha menghindar dari godaan kedua temannya. Juned dan Yudi tertawa melihat sikap Purnama yang mendadak salah tingkah.
Jalan menuju rumah Nurhafizah rupanya searah dengan rumah Purnama. Melihat Nurhafizah yang masih berjalan membawa barang belanjaannya, Purnama menghentikan motornya. Seketika Nurhafizah dibuat terkejut oleh Purnama yang berhenti di sampingnya secara tiba-tiba.
“Hai, bolehkah aku mengantarmu pulang?” tanya Purnama tersipu. “Eh, t-tidak. Terima kasih, rumahku dekat kok,” jawab Nurhafizah gugup. “Dekat? Loh, bukannya rumah kamu ada di seberang kebun karet itu? Tidak usah sungkan. Aku akan mengantarmu sampai rumah.” “Tidak perlu repot-repot, aku bisa jalan sendiri kok.” “Jangan begitu, anggap saja ini rezeki dari Allah yang dikirimkan buat kamu. Bagaimana? Aku antar kamu sampai rumah ya.”
Nurhafizah berpikir sejenak, namun tak lama kemudian dia menerima tawaran Purnama. Kebahagiaan bergejolak di hati Purnama. Siapa sangka kebaikannya mampu meluluhkan gadis yang membuatnya jatuh hati saat pandangan pertama?
Satu bulan berlalu, benih cinta di hati Purnama perlahan tumbuh. Seiring berjalannya waktu, kebiasaannya mabuk dan berjudi perlahan memudar. Dia mulai rajin membantu para petani menggarap sawah bapaknya. Melihat perubahan positif pada diri Purnama, Pak Jamal merasa heran. Dia menghampiri putra semata wayangnya yang sedang beristirahat di saung bersama para petani.
“Eh, Pak,” Purnama menoleh. “Purnama, bapak lihat akhir-akhir ini kamu jadi sering bantu-bantu di sawah. Sebenarnya apa sih yang membuatmu jadi rajin seperti ini?” Purnama tersenyum. “Memangnya kenapa kalau aku jadi rajin membantu para petani menggarap sawah Bapak? Apa Bapak enggak senang?” “Bukan begitu, Nak. Hanya saja bapak merasa aneh saja sama kamu.”
“Begini, Pak. Setelah aku pikir-pikir, aku tidak bisa terus menerus mengandalkan hasil usaha Bapak. Aku harus belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab demi masa depanku kelak. Jika aku terus-terusan bergantung pada penghasilan Bapak, bagaimana aku bisa merasakan beratnya perjuangan seorang kepala keluarga dalam menafkahi anak dan istri?” “Wah, putra bapak sudah berpikiran lebih dewasa rupanya. Omong-omong, apa kau sudah punya calon untuk pasangan hidupmu?” Purnama tertunduk malu. “Um, sebenarnya ada sih, Pak. Tapi untuk sekarang ini sepertinya belum tepat untuk mengenalkannya ke Bapak. Jika saatnya tiba, aku akan langsung meminangnya dengan menggunakan uang hasil keringatku sendiri.” Pak Jamal mengernyitkan kening. “Meminang? Memangnya gadis mana yang ingin kau pinang? Kok kamu enggak cerita-cerita sama bapak sih?” “Dia gadis sederhana dari kampung sebelah. Namanya Nurhafizah. Dia gadis salihah yang tinggal bersama neneknya setelah kedua orangtuanya wafat.” Pak Jamal tercengang. Raut wajahnya seolah menggambarkan kebencian pada Nurhafizah. Pak Jamal menatap Purnama dengan kesal.
“Sebaiknya kau urungkan saja niatmu itu. Bapak tidak suka jika mendapat menantu seperti dia.” “Loh? Tapi kenapa, Pak? Dia itu penyayang, giat bekerja, dan rajin beribadah. Lalu, apa salahnya kalau Bapak punya menantu seperti dia? Bukankah dia gadis yang ideal untuk dijadikan istri?” Pak Jamal memelototi Purnama. “Kalau bapak katakan tidak, ya tidak! Biar nanti bapak carikan kamu gadis yang lebih cantik dan kaya daripada dia.” “Tapi, Pak. Aku hanya mencintai dia.” Pak Jamal memandang jauh dan beringsut. “Kalau kau tetap bersikukuh untuk meminang dia, tolong pikirkan lagi. Memangnya, siapa dirimu? Apa kau pantas mendapatkan gadis seperti Nurhafizah?”
Pak Jamal pergi meninggalkan saung. Sementara itu Purnama termenung memikirkan perkataan bapaknya. Di tengah keraguan yang menyerang pikirannya, tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang mengusik hatinya. “Apa aku punya iman?”
Setelah selesai menggarap sawah, Purnama membawa kembali cangkulnya dan pulang dengan langkah hampa. Tatapannya kosong, pikirannya melayang. Yudi yang melihatnya dari seberang jalan segera berlari menghampiri Purnama.
“Purnama!” sahut Yudi menepuk bahu Purnama. Purnama terkejut dan menoleh. “Yudi?” “Kok lu lemas begitu. Ada apa, Pur?”
Purnama menyeret Yudi ke pinggir jalan. Dia menghela napas dan memandang jauh. “Yudi, bilang sama gua dengan jujur. Apa gua enggak pantas menginginkan gadis salihah kayak Nurhafizah untuk dijadikan pendamping hidup?” “Kenapa lu ngomong begitu, Pur? Menurut pandangan gua, lu itu cocok banget sama Nurhafizah. Kayak pasangan serasi.” “Bukan begitu, Di. Maksud gua… Lu tahu kan kalau dulu gua itu sering mabuk dan main judi? Memangnya pantas kalau cowok sehina gua menginginkan cewek salihah yang taat beribadah?” Yudi menggaruk kepala. “Iya juga sih. Tapi kan akhir-akhir ini lu berubah. Kenapa lu jadi mendadak minder begitu?” “Ah, tidak juga. Ya sudah, gua pulang dulu ya, Di,” kata Purnama melambaikan tangan. Yudi menatap Purnama heran. Tidak biasanya Purnama murung seperti itu.
Mentari terbenam. Lembayung senja perlahan pudar oleh kegelapan malam. Sayup-sayup suara azan menggema di setiap penjuru kampung. Nurhafizah bergegas pergi ke madrasah untuk mengajar anak-anak mengaji.
Ketika Nurhafizah membuka pintu, tampak sosok seorang lelaki mengenakan jaket kulit berdiri di depan teras rumah.
“Purnama,” sahut Nurhafizah berjalan mendekati lelaki itu. Purnama berbalik dan menatap Nurhafizah. Dia tampak lesu berhadapan dengan gadis jelita yang dipujanya. “Purnama, kenapa kamu ke sini di jam begini? Bukannya kamu suka pergi ke mesjid dan salat berjamaah di kampungmu?” Purnama menunduk. “Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Aku pikir sekarang waktu yang tepat untuk mengatakannya.” Nurhafizah menyatukan kedua alisnya. “Tapi… Sekarang sudah magrib. Sebaiknya kita cepat pergi ke mesjid dan salat berjamaah. Ayo!” “Tidak, Nur. Ini sangat penting. Aku harus mengatakannya sekarang juga,” desak Purnama. “Purnama, salat itu lebih penting. Lebih baik kau katakan saja setelah salat magrib ya,” bujuk Nurhafizah. Purnama mengangguk, dia menunda kejujurannya untuk sesaat. Nurhafizah tersenyum dan membawa Purnama ke mesjid terdekat di kampungnya.
Melihat tempat ibadah yang dikunjungi cukup banyak jamaah, Purnama semakin minder. Dia mundur satu langkah dari samping Nurhafizah. Dia merasa tidak pantas untuk berada di dalam masjid. Nurhafizah menatap Purnama dengan heran.
“Loh? Kenapa kamu tidak masuk?” “Kamu duluan saja, nanti aku menyusul.”
Nurhafizah tersenyum dan masuk ke dalam mesjid, sedangkan Purnama masih berdiri mematung di luar. Dirinya masih merasa kotor dan berdosa untuk berada di dalam mesjid.
Lima belas menit setelah salat magrib selesai, terdengar suara ribut dari luar mesjid. Seisi penghuni mesjid pun penasaran. Begitu pula dengan Nurhafizah yang tidak luput dari rasa keingintahuannya.
“Ada apa ini?” tanya Nurhafizah pada seorang wanita paruh baya di sampingnya. “Itu, Neng. Habis azan magrib Ceu Lastri hilang. Kata saksi mata sih dibawa sama makhluk aneh seperti kelelawar tapi badannya besar seperti manusia. Sepertinya itu makhluk jadi-jadian yang pernah menyerang bayi dan ibu hamil di kampung sebelah. Kasihan Ceu Lastri, dia lagi hamil tujuh bulan, suaminya juga belum pulang dari perantauan.” “A-apa?! Bagaimana makhluk itu bisa datang ke sini?”
Wanita paruh baya itu mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Air muka Nurhafizah berubah panik. Dia pun menyarankan anak-anak untuk pulang dan tidak keluar rumah larut malam sampai makhluk itu dipastikan tidak kembali ke kampung.
Cerpen Karangan: Ira Solihah