Rasa cemas berkecamuk di benak Nurhafizah. Selain ketakutannya akan makhluk aneh itu, dia sangat mengkhawatirkan Purnama. Sejak salat magrib selesai, dia tidak menemukan Purnama sama sekali.
Di perjalanan pulang secara tidak sengaja Nurhafizah melihat bercak darah mengarah ke semak-semak. Dia menyusuri jejak darah itu hingga berakhir di salah satu belakang rumah warga.
Ketika dia hendak berjalan mendekati belakang rumah warga, seketika dia terkejut bukan main. Tampak seekor kelelawar berbadan manusia sedang menyantap janin. Samar-samar terlihat jasad Ceu Lastri yang bersimbah darah terbujur kaku di samping anjing itu.
“Astagfirullah!” seru Nurhafizah terbelalak.
Kelelawar jadi-jadian itu menoleh. Dia tampak terkejut menyadari kehadiran Nurhafizah. Tanpa menunggu lama, kelelawar itu mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah rumah dekat kebun karet yang tidak lain adalah rumah Nurhafizah.
Nurhafizah masih gemetar setelah melihat makhluk aneh di depan matanya. Dia juga merasa miris dan tidak sanggup melihat jasad Ceu Lastri. Dia langsung berlari dan memberitahu warga tentang keberadaan Ceu Lastri. Warga kampung segera mendatangi lokasi yang ditunjuk Nurhafizah, sedangkan Nurhafizah pulang ke rumahnya untuk memastikan keselamatan neneknya.
Sesampainya di rumah, Nurhafizah segera berlari mencari neneknya di setiap sudut rumah. Kecemasannya pun semakin menjadi setelah menyadari neneknya tidak ada di dalam rumah. Dia pun keluar mencari neneknya di sekitar pancuran belakang rumahnya.
Saat di pancuran, Nurhafizah kembali dikejutkan oleh perubahan wujud kelelawar jadi-jadian itu. Kelelawar itu melipatkan sayapnya yang lebar ke punggungnya sampai sayap itu lenyap mengepul menjadi abu. Kepalanya berubah menjadi kepala seorang manusia. Bulu-bulu hitam di tubuhnya perlahan berkurang hingga tampaklah sosok seorang lelaki berbadan tegap. Dagu dan mulutnya yang penuh darah segera dia basuh di pancuran.
Nurhafizah terbelalak melihat sosok lelaki itu. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nurhafizah memberanikan diri mendekati lelaki yang sedang membasuh wajahnya di pancuran.
“P-purnama, kaukah itu?” tanya Nurhafizah gemetar. Lelaki itu menoleh dan terperanjat. “N-nur?!” “Purnama, k-kau…” “A-aku bisa jelaskan, Nur. Tenanglah dulu.” Raut wajah Nur berubah menjadi merah padam. “Katakan padaku! Di mana nenekku? A-apa kau juga menerkamnya hidup-hidup?” “Nenekmu? Tidak, Nur. Mana mungkin aku melakukan hal sekejam itu.” “Jika kau tidak menerkam nenekku, lalu bagaimana dengan Ceu Lastri? Bukankah kau sendiri yang sudah membunuhnya dan memakan janin yang ada di dalam perut Ceu Lastri?” tanya Nurhafizah geram. “I-itu… Kumohon tenanglah dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya.” “Kau benar-benar jahat, Purnama. Aku benar-benar tidak menyangka kalau sosok dibalik makhluk mengerikan itu adalah kau.” Purnama menarik tangan Nurhafizah. “Kumohon, dengarkan penjelasanku dulu.”
Nurhafizah menggertak melepaskan genggaman Purnama. “Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi. Semuanya sudah tampak jelas di mataku. Kau itu lelaki musyrik yang rela diperbudak oleh iblis. Aku tidak mau terpengaruh olehmu untuk berjalan di jalan yang sesat.” “Ini semua tidak sama seperti yang kau lihat,” tegas Purnama meninggikan nada suaranya. “Ini bukan kemauanku, Nur. Kakekku yang menurunkan ilmu hitamnya padaku agar aku bisa melanjutkan kejayaan usahanya kelak. Tapi, di sisi lain aku menyadari bahwa yang dilakukan kakekku itu salah. Aku membujuknya berkali-kali agar dia meninggalkan kemusyrikan itu. Tapi apa yang kudapat? Kakekku mengancam akan menjadikanku tumbal pesugihan.” “Kalau begitu, kenapa kau menghendakinya? Itu berarti kau sama sesatnya seperti kakekmu. Sudahlah! Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Aku membencimu, Purnama. Mulai sekarang jauhi aku dan jangan harap untuk bisa mendekatiku lagi,” ujar Nurhafizah berjalan menjauhi Purnama. Purnama berlari kecil dan menahan langkah Nurhafizah. “Tapi, bagaimana jika aku ingin bertobat? Apakah dosa-dosaku tidak mungkin diampuni? Katakan padaku! Bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari kemusyrikan yang kau benci ini? Aku rela meninggalkan semua kekayaan dan kemusyrikan ini demi memiliki iman yang sama sepertimu, Nur. Karena, hanya dengan begitulah aku pantas mencintaimu dan memilikimu seutuhnya.”
Nurhafizah tercengang dan menatap kedua mata Purnama yang penuh penyesalan. Pandangannya membeku, degup jantungnya mengganggu. Purnama semakin merasa hina melihat tatapan Nurhafizah. Dia membuang muka dan mengembuskan napas.
Tak lama kemudian, terdengar suara sahutan wanita tua yang memecah kebisuan di antara Purnama dan Nurhafizah. Seketika Nurhafizah terperanjat dan berlari menghampiri suara itu berasal.
Saat tiba di pekarangan rumah, tampak seorang wanita tua dan pria paruh baya melihat Nurhafizah berlari ke arahnya. Nurhafizah langsung memeluk neneknya erat. Hatinya merasa lega setelah mengetahui neneknya baik-baik saja.
Sementara itu, Purnama memandangi Nurhafizah dari jauh. Segaris senyum terlukis di wajahnya saat melihat gadis pujaannya bahagia menemukan neneknya kembali. Dari kejauhan, Nurhafizah pun melihat Purnama yang berbalik badan dan sosoknya hilang dalam kegelapan.
Tiga hari kemudian, kampung kembali digegerkan oleh keberadaan manusia kelelawar pernah menerkam Ceu Lastri. Kali ini warga kampung memberanikan diri untuk menangkap makhluk itu. Mereka terus mengejar bayangan yang terbang di sela remang-remang cahaya rembulan.
Mendengar kabar itu, Nurhafizah kembali teringat dengan Purnama. Dia pun keluar rumah untuk mencari tahu tentang kelelawar jadi-jadian itu.
Ketika hendak keluar dari pekarangan rumah, tanpa diduga manusia kelelawar itu berdiri di hadapannya. Kedua mata Nurhafizah terbelalak melihat jelas makhluk itu berdiri di hadapannya. Kakinya gemetar, jantungnya berdebar keras. Keringat mengalir deras di dahinya akibat ketakutan yang melanda jiwanya. Suaranya tercekat, bibirnya terkunci rapat.
Saat makhluk itu hendak menerkam Nurhafizah, salah satu warga berhasil melesakkan peluru secara bertubi-tubi ke punggungnya. Manusia kelelawar itu berusaha melawan, namun peluru beracun yang masuk ke tubuhnya berhasil melumpuhkan gerakannya hingga terkapar di atas tanah. Air mata Nurhafizah seketika tumpah meluapkan kesedihan yang menyesakkan dadanya.
“Purnama!!!” jerit Nurhafizah.
Warga kampung berlari mendekati kelelawar jadi-jadian yang terbujur kaku di hadapan Nurhafizah. Mereka begitu gembira dengan keberhasilannya mendapatkan makhluk yang meneror kampungnya. Sedangkan Nurhafizah menepuk-nepuk wajah kelelawar itu dengan berurai air mata.
“Purnama, bangunlah! Dengarkan aku! Kumohon, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyulitkanmu untuk bertobat. Aku hanya ingin kau benar-benar menyadari kesalahanmu agar kau dapat bertobat sepenuhnya. Ayo! Bangunlah, Purnama! Aku mohon.”
Melihat reaksi Nurhafizah yang menangis histeris, warga kampung tercengang heran. Bagaimana mungkin gadis salihah seperti dia menangisi kematian makhluk aneh itu? Salah satu warga kampung menarik lengan Nurhafizah.
“Sudahlah, tidak usah ditangisi. Tidak pantas gadis baik sepertimu menangisi kematian orang musyrik yang menjelma menjadi manusia kelelawar seperti dia.” “T-tapi… Aku juga sama berdosanya seperti dia. Aku telah menutup jalannya untuk bertobat. Aku memang bodoh! Bodoh!” ujar Nurhafizah terisak-isak sambil memukul tanah. “Tidak, Nur. Kau sama sekali tidak berdosa. Berbaliklah! Lihatlah kemari!”
Nurhafizah menoleh menatap seorang lelaki yang membujuknya dari tadi. Seketika, dia terkejut melihat lawan bicaranya itu. Dia pun menyentuh wajah lelaki itu untuk memastikan bahwa yang dilihatnya bukanlah halusinasinya saja.
“P-purnama… K-kau… A-apa ini benar-benar kau?!” “Iya, Nur. Ini aku, Purnama,” ujar Purnama berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Purnama, raut wajah Nurhafizah berubah heran. “Lalu, siapa orang di balik wujud manusia kelelawar itu?”
Purnama bergeming dan memperhatikan satu per satu wajah warga yang memandangnya penasaran. Dia menghela napas dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Dia bapakku. Dia datang kemari untuk membunuh Nur karena dia tidak suka jika aku dekat dengan Nur.”
Nurhafizah dan warga kampung terkejut. Prasangka buruk pada Purnama pun mulai menyerang pikiran warga. Tetapi, tidak bagi Nurhafizah. Dia yakin bahwa Purnama tidak mungkin mengulangi perbuatan musyriknya.
“Kalau begitu, kau juga pasti ada kaitannya dengan pembunuhan Ceu Lastri kan?” tukas seorang pria paruh baya menunjuk Purnama.
Purnama dan Nurhafizah berdiri menatap warga kampung.
“Sejujurnya, dulu aku memang melakukan hal yang sama seperti bapakku. Tapi berkat bantuan Nurhafizah, akhirnya aku bisa menjauhi perbuatan menyesatkan itu perlahan-lahan. Sejak saat itu aku bersumpah untuk tidak mengulangi apa yang pernah diperbuat oleh leluhurku. Aku sudah memilih jalanku sendiri untuk menjadi orang yang lurus dan taat pada perintah agama,” jelas Purnama dengan tenang. “Jadi, aku mohon bantuan dari kalian semua. Tolong tuntun aku untuk tetap konsisten berjalan di jalan yang benar.”
Warga kampung tersenyum mendengar perkataan Purnama. Prasangka buruk di benak mereka perlahan sirna. Mereka pun menerima permintaan Purnama dengan tangan terbuka. Nurhafizah ikut senang melihat perlakuan warga kampung yang begitu ramah terhadap Purnama.
Sementara itu, beberapa orang di antara warga kampung lainnya menyeret kelelawar jadi-jadian itu ke balai kampung untuk dibakar. Meski kedua mata Purnama tidak sanggup melihat kematian bapaknya, tapi hati kecilnya sudah ikhlas menerima kenyataan pahit yang dialami bapaknya.
Setelah melihat akhir hayat bapaknya yang mengenaskan, Purnama semakin yakin akan jalan yang dipilihnya. Kini tujuan hidupnya bukan lagi untuk mendapatkan cinta Nurhafizah, melainkan untuk tetap beramal saleh sepanjang hidupnya. Dia juga amat berterima kasih pada Allah Ta ‘ala karena telah mengirim cahaya pelindung yang menyelamatkan hidupnya dari kegelapan yang menyesatkan.
Cerpen Karangan: Ira Solihah