Sinar bintang di malam itu menambah suasana hatiku yang lagi bahagia, aku menatap langit yang ditaburi ratusan bintang, berharap seseorang dapat menemani dalam keindahan malam tersebut,
“Alletan lagi ngapain?” suara itu menghentikan lamunanku, ternyata itu kak Arza “Gak ada kak ni lagi liatin bintang” aku menjawabnya dengan nada yang sedikit cangggung, “sendiri aja?” sahutnya balik, dan langsung mendekat dan duduk di sampingku, rasanya sedikit aneh karena kak Arza dikenal dengan anak yang tertutup dan sedikit jaga jarang dengan orang lain, dan sifat-sifat itulah yang membuatku mengagumi kakak itu dia orangnya simple dan gak suka basa basi,
“lagi mikirin apa?, gak takut apa sendiri disini?” dengan menghela napas akupun menjawab pertanyaan itu “masa takut sih kak, kan udah SMA, masak duduk disini aja takut” kemudian dia menampakkan senyuman di bibir tipisnya yang membuatku semakin caggung berada di sampingnya.
Aku masih mencoba memutar otakku kok bisa kakak ini jadi orang aneh kayak gini, apa ada yang salah dengan dia malam ini, perasaan sejak 2 bulan aku tetanggan sama kakak ini baru kali ini dia nyapa dan tiba-tiba udah duduk aja disini
“kakak kok tumben keluar rumah biasanya kan selalu ngurung diri kayak gak ada kehidupan di luar” sahutku sambil tertawa kecil, ”ya kakak keluar rumah buat nemui kamu, kalau bukan untuk itu kakak juga gak bakal keluar”, aku mencoba mencerna kata-kata itu “maksud kakak apa?” “kakak datang kesini mau meyelesaikan semua masalah kakak”
Aku pun makin pusing memikiran maksud dari kata-kata nya “kakak sebenarnya punya masalah apa, Alletan aja sampai bingung kok bisa kakak jadi orang yang terbuka gini, kakak tadi nggak minum obat apa-apa kan kak?” balasku dengan sedikit senyum.
Dia pun menatap mataku dengan mata bulatnya dan mencoba memulai kata demi kata yang ingin dia sampaikan
“kamu masih ingat dengan kejadian 2 bulan yang lalu pas pertama kali kakak datang kesini, kamu nabrak kakak pas joging? dari situ kakak merasa ada yang lain dalam hati kakak, setiap malam kakak susah tidur karena bayanganmu selalu datang di langit-langit kamar kakak kamu kayak virus yang susah dihilangkan, sebenarnya kakak bukan orang yang tertutup kakak hanya ingin menyimpan perasaan kakak untuk sementara karena kakak gak mau nanti kamu berpikir kalau kakak itu orangnya mudah mengambil keputusan tanpa pikiran yang serius, jadi selama ini kakak mengumpulkan keberanian kakak untuk menyampaikan ini padamu”
Mulutku kaku gak tau mau bilang apa pipiku mulai mememerah di dinginnya suasana malam itu, aku mulai membalas kembali pandangannya padaku.
“Kenapa kamu diam, apa salah kakak menyatakan hal itu padamu?” aku menjawab “jadi kenapa kak, aku gak pernah merasakan hal itu, sebenarnya aku juga membutuhkan seseorang seperti kakak, tapi kenapa baru sekarang kakak bilang itu?”, ”itulah All kakak mengumpulkan keberanian kakak sampi saat ini untuk menyatakan itu padamu, kakak memang selalu nampak santai dan gak peduli dengan hal itu, kakak hanya ingin menutupi semua itu, jadi sekarang kakak merasa lega karena kakak udah nyampein perasaan kakak ke kamu, kakak harap kamu memberikan keputusan sesuai dengan apa yang ada di hatimu saat ini”
Rasanya sekarang aku bagaikan seseorang yang dilemparkan di tanah padang pasir yang tak nampak sudut dari padang pasir itu dan tidak tau harus berbuat apa, Akupun semakin bingung dengan semua ini akau hanya dapat menggigit bibir sembari menundukkan padanganku karena tak saggup lagi menatapmya, sebenarnya hati ingin menyatakan hal yang sama, kalau aku sebenarnya juga sudah menganguminya sejak awal dia datang ke sini.
Akupun bersaha mengumpulkan keberanian untuk menatap matanya kembali dan berkata “sebenarnya Alletan juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan kakak pas pertam kali datang kesini rasanya Alletan juga semakin semangat untuk mengawal hari hari Alletan, trus alletan juga mau minta maaf pas waktu alletan nabrak kakak Alletan langsung jalan aja tanpa menatap muka kakak, disitu karena Alletan juga merasa gerogi jadi dari pada salah tingkah di depan kakak Alletan langsung pergi aja.”
Memang setiap apa yang baru kita lihat untuk pertama kali, kalau kita menganggap itu adalah sebuah hal yang spesial itu benar-benar akan menjadi spesial, jadi pertemuan denganmu memeng membuatku semakin menghargai apa yang kulihat di sekitarku tanpa terlebih dahulu memikirkan sesuatu yang buruk dari hal tersebut.
Dia kembali tersenyum mendengar perjelasanku itu dan manarik tangaku sembari berkata ”kakak gak butuh sesuatu yang spesial tapi kakak butuh yang simple tapi berati dan itulah KAMU”
Cerpen Karangan: Tuti Alawiyah Blog / Facebook: Nasution Tuty