Aku berjalan menyusuri lorong sekolah yang masih tampak sepi. Aku tertarik dengan sebuah kursi yang terletak di depan kelas dan dengan santainya aku duduk di kursi tersebut. Kuambil ponsel dan aku mengotak atik ponsel itu.
“Azell,” sapa seseorang yang langsung duduk di sampingku. Aku hanya melirik sepintas orang tersebut, dan ternyata dia adalah Adrian. “Hmm, sibuknya sampe gue dianggap angin lewat,” ucap Adrian. “Perasaan, gue gak bilang lo angin lewat deh,” ucapku masih menatap ponsel. “Aelah, lo emang gak bilang tapi sikap lo ke gue itu gambarin kalau lo gak anggep gue disini,” ucapnya semakin kesal. Aku pun langsung nenaruh ponselku lalu beralih menatap dalam dalam kedua bola mata Adrian. Cukup lama kami dalam posisi seperti ini dan tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami.
“Woyyy, pagi pagi udah saling tatap tatapan. Kesambet setan bisa lebih dari tatapan,” ucap Ridho yang datang bersama Sendi dan Beni. “Dia duluan tuh yang tatap gue,” ucap Adrian. “Lo bilang kan lo pengin dianggep, ya gue tatap lo biar lo gak banyak omong lagi,” ucapku. “Tapi-,” belum selesai Adrian berucap, aku memotong ucapannya. “Udah ah, gue mau masuk,” ucapku lalu pergi meninggalkan mereka berempat.
Bel masuk pun berbunyi dan jam pelajaran olahraga pun dimulai. Aku memilih ikut bermain basket daripada main bola voli. Aku dengan lihai bermain dan berhasil mencetak poin lebih tinggi dari tim lawanku. “Yess, masuk,” ucapku saat berhasil memasukan bola kembali di detik detik waktu akan selesai. “Yuhu…, tim kita menang bree,” ucap Sendi kegirangan. “Usah lebai deh Sen, gue juga yang masukin lebih banyak,” ucapku sombong. “Weleh, nyombong nih ceritanya,” ucap Beni. “Udah heh, gue yang bisa nafas aja gak sombong kok,” ucap Adrian sambil menaik turunkan alisnya dan merangkulku. “Ehem, gak usah pake rangkul gue kali,” ucapku datar. “Eh iya, sengaja. Hehe…” ucapnya.
“Ke kantin yuk ah, gue laper neh,” ucap Beni. “Hu…, kerjaan lo makan aja bisanya,” ucap Ridho. “Gak makan aja kok, ada nulis, baca, nafas, kentut juga bisa gue,” ucap Beni. “Udah ah becandanya, gue haus nih,” ucapku. “Iya iya,” ucap Ridho. Kami berlima pun menuju kantin dan makan serta minum disana. Kami juga becanda dan selfi selfi. Beberapa foto aku simpan di galeriku untuk jadi kenangan dewasa nanti.
“Kalian tau gak?” tanyaku. “Apaan?” tanya balik Sendi, Adrian, Ridho, dan Beni bebarengan dengan wajah kepo. “Gue seneng dan beruntung banget punya sahabat kayak kalian,” jawabku. “Kita juga,” ucap mereka berempat lagi.
Hati hari aku lewati dengan penuh kebahagiaan bersama keempat sahabatku. Aku tak peduli dengan kata anak lain yang mengatai aku cewek gatel dan sebagainya.
Saat jam istirahat, aku gunakan waktu istirahat itu untuk bermain basket sendirian. Aku berkali kali memasukan bola dengan jarak jauh. Di kejauhan, aku melihat keempat sahabatku sedang melihatku bermain basket.
“Gile bro, Azell emang multitalent. Udah pinter, jago buat puisi, jago main musik, jago nyanyi, jago banget juga main basketnya. Keren abiss,” ucap Ridho. “Itu yang buat gue tertarik ama dia,” ucap Adrian. “Apa!” ucap Sendi, Ridho, dan Beni kaget. “Maksud lo apa bro?” tanya Sendi. “Semenjak aku ditatap ama dia, aku jadi punya rasa sama Azell. Aku jadi sayang sama dia lebih dari sahabat. Dia itu gadis sangat istimewa,” jawab Adrian. “Cielah, ternyata lagunya Alm. Mike Mohede betul juga. Sahabat jadi Cinta, ciahhhh,” ucap Beni. “Udah ah, jangan ledek gue. Malu tau gak,” ucap Adrian. “Hmm, malu katanya. Bisanya aja malu maluin,” ucap Ridho.
Esok harinya, ada yang beda. Ada siswa baru yang masuk ke kelasku. Dia adalah Tia, pindahan dari luar kota. Aku berteman baik dengannya, tapi lama kelamaan aku jadi gak suka sama dia. Dia selalu deket deket dengan keempat sahabatku. Itu membuat aku jadi jauh dengan mereka. Bahkan, dia sering gandengan tangan dan berangkulan dengan mereka berempat.
“Gue muak sama dia, bisa bisanya dia gandengan tangan juga rangkul rangkulan sama Sendi, Adrian, Beni, dan Ridho. Gue aja yang udah lama sahabatan sama mereka risih kalau digituin,” gerutuku sambil mendribble bola. Tiba tiba, Tia melintas di tepi lapangan basket dan reflek aku melemparkan bola ke arah Tia. Alhasil, kepala Tia terkena bola dan dia tergeletak jatuh.
“Tia, lo kenapa?” tanya Adrian khawatir. “Huh, lebay banget. Gue juga biasa kena bola gak papa kok. Lagian Adrian kenapa juga sih perhatian banget,” batinku. “Gue dilemparin bola sama si Azell,” jawab Tia. “Eh Azell, lo emang jago tapi lo gak boleh gitu dong. Gimana kalau Tia luka, kan lo juga harus tanggung jawab,” ucap Adrian.
Gue maju kearah Adrian dan aku menatap tajam kearahnya. “Gue Salah? Iya aku akui kalau aku salah. Gue tadi refleks timpuk dia pake bola yang sedang gue dribble. Lagian gue malah seneng dia kena bola, biar dia tau rasanya sakit,” bentakku. “Lo kok jadi nyolot sih,” ucap Adrian. “Kenapa? Salah kalau gue nyolot? Ini hak gue jadi lo gak usah sewot,” ucapku membentak dan tambah melotot kearah Adrian. “Kok lo jadi kasar gitu sih Zell,” ucap Adrian. Aku tak menghiraukan kata kata Adrian dan melangkah meninggalkan lapangan. Namun, tiba tiba Adrian mendorongku hingga aku terjatuh dan lututku berdarah. Aku mencoba terbangun dan menahan rasa sakitku lalu berjalan kembali kearah Adrian.
“Lo bilang tadi kalau gue jadi kasar. Tapi apa? Lo lebih kasar dari gue. Lo dorong gue sampai gue terluka. Lo perlu tau Adrian Daren Assegaf, kalau gue itu benci sama makhluk yang lo belain tadi. Dia cuma ngerasain sakit sedikit, sedangkan gue? Gue rasain sakit sesakit sakitnya orang sakit. Lo, Sendi, Ridho, dan Beni itu jadi cuekin gue. Lo jadi jarang ngajak gue main bareng. Dan yang lebih buat gue sakit, lo katain gue kasar,” ucapku marah marah dan mata berkaca kaca. Adrian hanya diam seribu bahasa, begitu juga dengan Sendi, Beni, Ridho, dan Tia. Semua anak yang melihat kejadian ini juga hanya bisa diam. Hingga Sendi mendekatiku dan berlutut.
“Maafin gue Zell, kalau selama ini gue salah,” ucap Sendi. “Maaf? lo baru peka setelah gue kayak gini. Sahabat macam apa lo Sen. Gue udah terlanjur sakit dan gue butuh waktu buat maafin lo Sen,” ucapku. “Azell gu-,” belum sempat Ridho beucap, aku memotong ucapannya. “Cukup. Gue udah gak mau lagi denger ucapan kalian. Gue sakit, sakit banget. Adrian, lo perlu tahu kalau gue cinta sama lo semenjak lo sering perhatiin gue main basket. Tapi, lo malah deket sama Tia dan itu buat gue patah hati,” ucapku. Adrian kembali terpaku dan hanya bisa menatap bola mataku yang berkaca kaca.
“Gue gak suka cewek sombong dan kasar kaya lo,” ucap Adrian dengan datarnya.
Bagai tersambar petir di siang bolong, hatiku terasa sangat pedih seperti seribu duri menusuk hatiku. “Oke, cukup lo tambah gue sakit hati. Mulai besok lo gak bakal lihat gue lagi, biar aku pergi. Aku relain lo bahagia sama si Tia. Gue janji, gue besok pergi dari hidup lo juga Sendi, Beni, dan Ridho,” ucapku dan tak terasa air mataku mulai menetes. Semua yang ada disini tercengang mendengar ucapanku. Aku lalu pergi dengan langkah gontai.
Esoknya, aku segera menuju bandara untuk pergi ke luar kota pindah rumah. Saat aku hendak menuju pesawat mereka berempat, datang ke bandara. Mereka mendekat ke arahku dan aku hanya menatap sinis mereka. “Gue mohon, jangan pergi,” ucap Ridho. “Gak, keputusanku udah bulat. Selamat tinggal kalian. Gue harap kalian bisa bahagia tanpa gue,” ucapku. “Oke, tapi denger Azell. Kemarin pertama kali gue lihat lo nangis dan hari ini terakhir gue bersama lo. Semoga lo juga bahagia di kota baru lo,” ucap Sendi. Aku membalikan badan dan melangkah menuju pesawat.
“Biar aku yang pergi… Biar aku yang tersakiti… Biar aku yang berhenti… Berhenti mengharapkanmu,” aku menyanyikan sebait lagu milik Aldy Maldini (Aldi CJR) sambil meneteskan air mata.
Pesawat pun meluncur dan dalam pesawat aku tak hentinya menatap jendela pesawat. “Adrian, akan aku jadikan kamu kenangan di hidupku. Mungkin dengan aku yang pergi, kamu akan bahagia. See you again Adrian,” ucapku lalu terlelap tidur.
Cerpen Karangan: Selda Arifani Blog / Facebook: Selda Arifani
Hallo Readers…. Aku lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 30 Maret 2003. Membaca adalah Hobiku. Add and follow my sosmed: Fb: Selda Arifani (First Account) Selda Ran (Second Account) Ig: @seldaarifani30 Twit: @Selda_Ariffani Maaf kalau ceritanya gaje dan jelek. Saya masih jadi penulis pemula.