Setiap insan selalu memiliki inti hati, yang mana jika titik itu tersentuh oleh dzat lain maka hancurlah pikiranya retaklah jiwanya hilanglah kesadaranya. Semata karena terbuai dalam cinta.
Pada sebuah desa kecil di bawah lereng gunung merapi terdapat seorang pemuda gagah berani namun dia ditakuti orang di sekelilingnya karena prilakunya yang nakal. Pria itu bernama panji brahmana. Ia sesosok pemuda yang berambisi besar untuk menaklukkan negeri, hingga tak jarang orang di sekitarnya mengumpatnya “hah wong koyok koe mbesok ya dadi wong ngemes le”. Setiap prang yang mendengarkan perkataanya tentang menaklukkan negeri selalu mendapatkan cibiran yang tak enak didengar.
Panji dikenal sebagai sosok yang nakal tingkahnya yang selalu selengekan namun kesopananya pada kaum lemah mengalahkan budi sang dewa. melihat kelakuannya yang seperti itu tak heran kalau ia dibenci oleh semua orang di sekitarnya. Kejailannya tingkahnya yang membuat orang kesal dan takut kepadanya. Mungkin jika pada waktu itu panji menghilang tak ada satupun orang yang mau mencarinya malah kata syukur yang keluar dari mulut orang orang.
Sejak kecil panji diasuh oleh neneknya, orangtuanya meninggal saat ia masih bayi karena peperangan antar negara, karena peristiwa itu panji bersikukuh ingin menaklukkan suatu negara dan membentangkan perdamaian di semua negara. Nenek panji nenek karmina orang yang sangat pekerja keras hingga tak bisa mendidik panji selayaknya anak anak pada umumnya, tak heran jika ia bertingkah selayaknya preman kampung yang ditakuti setiap orang.
Sepertihalnya aktifitas di pedesaan pusat keramaian adalah pasar tempat di mana orang berjual beli tempat bertemunya semua orang, dan di situlah panji berkeliaran dengan dua orang sahabatnya yang bernama jatmiko dan arya. Karena tempatnya yang ramai dirasa pasar adalah tempat yang pas untuk menjahili pedagang kecil. Dan tak jarang dia berdiri di tengah pasar sambil teriak “tunggu aku wahai masyarakat raden mas panji yang akan mempersatukan bumi nusantara ini” teriak panji dengan lantang, saking seringnya iya mengucapkan kalimat tersebut hingga tak satupun orang menggubris apa yang ia ucapkan.
Pagi yang cerah. suasana pasar pun tak kunjung menyepi, suara oarang saling tawar menawar bak musik yang mengiringi keramaian. Hingga pada suatu ketika, putri cantik dari kerajaan cempaka melintas di depan panji dan sahabatnya. Terdiam sesaan sambil menelan sedikit ludah, itulah ekspresi dari panji. Tak lama kemudian ketiga sahabat itu bergumam selayaknya orang berdiskusi.
“siapa tuh siapa” tanya si panji sambil tergopoh gopoh. “Itu putri andini, anak raja cokro” “Mau kenalan ah” kata panji” “Mau mati lu” cibir jatmiko”
Panji sosok pria yang tidak berpikir panjang dan keras kepala kalaupun dia menginginkan matahari maka ia akan menggapanya walau ia terbakar karena panasnya matahari. “Biarin aku kan raden mas panji yang sakti mandra guna hahaha” ejek panji dengan bibir yang ia kerucutkan.
Seketika itu ia berlari menuju sang putri dan kespontanannya melihat putri kaget melihat panji. “Maaf putri saya ngagetin ya heheh” kata panji sambil tersenyum bodoh “Ada perlu apakah kisanak menghampiruku” letupan kata dari bibir manis sang putri “Saya, panji putri pemuda yang sudah tersohor di pasar raya ini. Yang nantinya akan menguasai semua negeri dan menjalin perdamaian heheh” Dengan sepontan tuan putri pun tertawa geli melihat panji berpidato singkat di hadapanya. “Hehe, iya semoga saja jadi kenyataan ya hihi, udah ya kang panji aku mau balik ke istana dulu jikalau ada waktu luang bolehlah kita berjumpa lagi” Putripun pergi meninggalkan panji. Kegembiraan yang tak terkira dirasakan panji dengan hati yang berbunga bunga.
Semenjak pertemuan itu mereka semakin intens untuk bertemu dan mengirim surat, dan sejak itupun kelakuan panji berubah dari yang tadinya suka usil sekarang dia suka menolong dari yang suka kasar kini berubah jadi kasih sayang. Semua itu berkat ajaran sang putri yang ia bisikan ke panji pada saat kedekatanya semakin meningkat.
Setelah dua minggu tuan putri dekat dengan sosok pemuda nakal itu akhirnya paduka raja cokro mengetahui kedekatan mereka. marah besar sang raja mendengar kabar bahwa putri semata wayangnya yang cantik nan menawan itu dekat dengan lelaki desa yang miskin dekil dan tak berpendidikan itu. Tak lama kemudian pintu ruangan pun terketuk tanda orang mau masuk, dan ternyata itu suara ketukan sang putri yang baru beranjak dari jalan jalan ke luar.
“ada apakah gerangan ayah menyuru saya kemari?” kata sang putri sambil menundukkan kepalanya “ayah tau engkau bergaul dengan siapa, jangan sekali kali engkau lancang meneruskan perbuatanmu itu” kata sang raja sambil melototkan matanya tanda sang raja sedang marah besa. Tanpa menjawab celotehan sang raja putripun meneteskan air matanya tanpa membantah bahkan mengiyakan omongan raja. Tak lama kemudian sang putri menangis berlari ke kamarnya, tempat dimana ia bisa meluapkan semua perasaanya.
Dua hari ini putri tak mengirimkan kabar apapun tentang dirinya tak pernah keluar dari istana, membuat pikiran panji bertanya tanya “ada apa dengan engkau putri” pikiranku kacau karena selalu terbayang akan wajah ceriamu. tanpa beepikir panjang panji langsung beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi ke istana,untuk memastikan keadaan si putri.
Sesampainya di sana ia bertemu dengan kedua penjaga gerbang istana. panji menyerobot masuk dan tak diizinkan masuk. pertikaian pun terjadi antara penjaga istana dengan panji. Mendengar keributan tersebut keluarlah sang raja.
“Siapakah engkau wahai pemuda? Dan ada perlu apakah engkau ke sini?” “Saya panji dari desa manukwari. Aku kesini ingin mengajak tuan putri keluar dari istana.” ujar panji sambil memegangi perutnya karena rasa sakit dari pukulan sang penjaga. “Ketahuilah anak muda tak mungkin anakku kuizinkan bergaul dengan pemuda dekil miskin dan tak berpendidikan seperti dirimu, camkan itu wahai anak muda. Maka pergilah kau dari sini dan jangan sekali kali kau mendekati putriku.” Bentak sang raja dengan nada tinggi. Perlahan lahan panji berjalan meninggalkan istana dengan hati yang amat hancur kesal dendam dan kecewa.
Sesampainya di rumah dia terdiam sesaat sambil memikirkan cara untuk bisa bertemu sang putri dan melihatnya melepas tawa.
Selang beberapa waktu datanglah paman panji dia seorang pedagang yang berdagang kemana mana hingga pelosok dunia. Saat itu terbesit di pikiran panji kalau pamanya bisa menjawab pertanyaanya dan bisa memberi solusi atas kegelisahan yang iya alami.
Setelah panji menceritakan semuanya ke pamanya akhirnya panji disuruh untuk pergi ke timur mencari sebuah tempat yang jauh dan menemui seorang pertapa tua untuk menimba ilmu. Sebelum panji melakukan perjalannaya ia meminta restu kepada neneknya yang menjaganya sejak kecil dan tak lupa menulis sepucuk surat untuk sang putri, pertanda salam perpisahan.
“Putri dalam lamunanku terbayang senyummu dalam diamku terbesit wajahmu. Aku tak kuasa menahan rasa rindu ini. Aku berharap setiap tetes airmata yang tercucur dari mataku menjadi tebusan akan senyumanmu, sebentar lagi aku akan mengembara jauh putri doakan diriku agar aku selalu dalam lindunganya setelah aku usai dari pertapaanku akan kujemput engkau dan membangun kerajaan kita sendiri seperti apa yang sering aku bilang kepadamu.”
Begitulah isi surat dari panji untuk si putri, dikirimkanlah surat itu ke putri dengan penuh harapan surat itu sampai kepada tuan putri. Setelah semuanya sudah selesai panji mengajak kedua temanya untuk ikut dengannya dan merekapun mulai pergi ke tempat yang telah disebut pamannya itu.
Cerpen Karangan: Oki Andarista Blog: Ceritamaya10.bloghspot.com