Ia tidak bisa menghilangkan siluet cowok misterius itu dari pikirannya. Sangat sulit untuk menutup mata, karena sering memikirkan sosoknya yang masih misterius.
Namanya Linda. Seorang Mahasiswi yang berkuliah di Bandung. Sejak pertemuannya dengan cowok misterius itu, ia tidak bisa melupakan tatapan elangnya. Duh, gimana sih. Susah sekali melupakan orang itu. Padahal besok mau jalan lagi, gusar Linda. Ia melihat jam wekernya, sudah jam 3.30. Berarti sudah 3 jam Linda memikirkannya. Ia menutup matanya dengan bantal, berharap dapat tidur dengan mulas. Tetapi, tidak.
Awal pertemuan mereka, yaitu di gudang, tempat Linda dibawa Ferri. Awalnya ia sedang menunggu temannya di cafe. Mereka berjanji akan bertemu di sini. Selama menunggu, Linda menyibukkan sendiri, kotak katik Hp, cek info dan membalas pesan dari teman-teman kuliahnya.
Saat itulah seseorang membekapnya. Linda memberontak, menjerit dan sesekali menggeliat seperti cacing. Badannya linglung, mata mulai samar-samar melihat dan seluruh dunia menjadi gelap. Sebelum benar-benar pingsan, Linda bisa merasakan seseorang menggotong dirinya.
Matanya mulai mengerjap menandakan Linda mulai sadar. Objek yang pertama dilihat adalah bangunan gelap, mungkin gudang. Pertanyaan demi pertanyaan mulai berkelebat dalam otaknya. “Tolong! Siapapun tolong aku!” teriaknya seraya berusaha melepas tali yang mengikat tangannya. Seiring berjalan waktu, seseorang dengan berperawakan tidak terlalu tinggi dan besar mendatangi Linda.
“Maafkan aku, Linda” suara berat dari pria itu. Ia mengenal suara itu, tidak lain adalah Ferri, teman satu kuliah yang selalu mengejar-ngejar Linda karena paras cantiknya. “Fer, apa-apaan ini? Apa yang di dalam pikiranmu itu untuk melakukan ini, Fer?” Tanya Linda yang masih berusaha melepaskan ikatan tali pada tanggannya. “Hahaha, Lin, Lin. Kamu itu bayangan yang tidak bisa kulupakan. Keberadanmu membuatku tergila-gila, Lin. Tapi, kamu selalu menghindariku. AKU MENYUKAIMU, LIN! TIDAKKAH KAU BISA PEDULI PADA PERASAANKU INI HAAAH!” bentaknya membuat Linda takut.
Bagaimana Linda bisa menerima dia, jika dia melakukan hal-hal yang membuat dirinya benci, apalagi melakukan cara picik ini. Dasar cowok brengsek, batin Linda. “Lin, kamu akan selalu menjadi milikku, selamanya” dia mendekatkan wajahnya ke wajah Linda, berniat menciumnya. Deru napasnya bisa dirasakan. Hanya bisa memejam mata, berharap seseorang menolongnya dari Ferri.
Tiba-tiba kaleng melayang dan tepat mengenai kepala Ferri. “Sh*t, siapa disana. Beraninya mengganggu waktuku” “ckck… makhluk rendahan sepertimu pantas untuk dilempari sampah kaleng” siluet hitam keluar dari kegelapan. Cowok misterius itu memakai jaket hitam pekat dan celana jeans gelap sesuai dengan warna jaket dan gelapnya gudang, membuat rupanya seperti bayangan. Cowok misterius itu menghampiri Ferry yang sedang mengaduh sakit pada kepalanya. Ferry yang merasakan keberadan pemuda itu, meliriknya. “Sakit? Padahal lemparanku pelan banget. Kan kamu cowok gila, kok bisa merasakan sakit?” Ucap cowok misterius itu, dingin. “Cih, aku juga manusia” balas Ferry. “Manusia? Kamu merasa manusia? Hahaha… kamu tidak pantas menjadi manusia. Lebih pantas kamu menjadi sampah Tuhan” ucap cowok misterius itu dengan menekankan kata “sampah” pada kalimatnya. “Jaga omonganmu ya!” Ferri bangkit dan terjadilah perkelahian.
Setiap serangan yang Ferry kerahkan, cowok misterius itu dengan mudah menghindarinya. Ferry mulai kelelahan, namun tidak ada satupun serangan yang mengenainya. “Segitu saja seranganmu? Baiklah giliranku untuk memulai permainan ini” ucapnya dan membuat kuda-kuda, menunggu Ferry menyerangnya.
Ferry semakin kesal pada ucapan cowok misterius itu. Ferry maju menyerang seraya berteriak memecahkan sunyi gelap gudang. Satu pukulan menghampirinya, dan cepat cowok misterius itu menangkap dan suara tulang patah terdengar jelas. KRAKK. Tangan Ferry dipatahkan dengna mudah membuat Ferry berteriak kesakitan, memecahkan hening gudang. Dia diam melihat Ferry yang merintih kesakitan. Linda masih terdiam kaku melihat adegan itu.
Seluruh gudang mulai hening kembali, tapi suara sepatu cowok misterius itu memenuhi keheningan gudang. Hingga dia berhenti di hadapan Linda, membuatnya bergidik takut. Wajahnya mendekat ke wajah Linda hinggga bisa dirasakan deru napas cowok misterius itu. Memeriksa setiap wajah Linda.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya cowok misterius itu. “Uhm… i…iya ter…terima kasih sudah menolongku” ucap Linda terbata-bata. “Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. Yang penting kau selamat. Aku akan membawamu keluar dari sini” ucapnya dengan nada dingin seraya melepaskan ikatan di tangan Linda dan membawanya keluar dari gudang. Sebelum itu, Linda melirik Ferry yang masih terbaring memegang tangannya yang patah. Semburat cahaya matahari menyilaukan matanya. Mereka keluar dari gedung, meninggalkan Ferry sendirian dalam kegelapan.
Linda melepaskan tangannya dari genggaman cowok misterius itu. Dia menoleh, menatap manik mata Linda, memeriksa apakah ia baik-baik saja atau tidak. Duh, semakin kau melihatku, semakin juga aku malu, gelisah Linda membuat rona merah pada mukanya. Jantung Linda berdetak tidak karuan. “Sepertinya, cukup disini pertemuan kita. Sampai jumpa” ucapnya seraya berjalan meninggalkan Linda, hingga Linda tersadar dari lamunannya. Dan mengejar cowok misterius itu. “Hei tunggu! Siapa namamu? Hei!” teriak Linda yang tidak digubris pemuda tadi. Linda menghentikan langkahnya, berdiri terdiam sambil menatap punggungnya yang pelan-pelan menghilang dari pandanganya. Linda menghela napas dan melangkah pergi. Tapi, sesuatu membuat langkahnya harus terhenti. Sebuah kartu nama, mungkin punya cowok misterius tadi. “Arya Kay,” batinnya.
Cerpen Karangan: Kay Blog / Facebook: Amiril Hakim Ini adalah cerpen pertamaku. Semoga dapat menikmati para pembaca 🙂