Terkadang, rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk berlindung malah menjadi tempat yang membuat kita merasa terpuruk. Bukan karena perbuatan keluarga kita yang semena-mena pada kita, melainkan adanya sebuah kenangan yang terjadi disana.
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah, mengenang kejadian beberapa waktu terakhir di saat kelas 9 lalu. Aku berjalan menuju kelasku yang dulunya aku singgahi untuk menuntut ilmu selama 1 tahun. Jujur, kelas 9 adalah saat-saat yang sangat berkesan selama aku berada di SMP. Karena di kelas 9 aku sudah mulai mengikuti arus pergaulan di sekolah, tidak seperti di kelas 7 yang masih “culun”. Walaupun sedari kelas 8 aku telah mengikuti arus pergaulan di sekolah, namun tetap saja aku belum merasa bebas dan masih terkekang. Bersama seorang temanku, kita berdiam sejenak di depan teras kelas. Mengabadikan potret kelas yang sekarang tidak kita singgahi lagi. Kelas yang sekarang bukan milik kita lagi.
Sekilas aku mengenang kenangan bersamanya. Ya, dia yang pernah singgah di hatiku. Pertemuan kita di awal kelas 9, takan pernah kulupakan. Berawal dari saling mengejek, dan akhirnya dekat. Tidak pernah kusangka jika kita bisa sedekat itu. Dulu.
Namanya Farhan, lebih tepatnya Muhammad Farhan. Laki laki polos yang tak mengerti apa arti dari kata “baper”. Sepintas memang dia terlihat culun, namun kalian tidak mengetahui bakat yang terpendam di dalam dirinya. Dia lelaki yang memilki ambisi besar. Jika dia menginginkan sesuatu, dia akan berusaha mendapatkannya.
Aku mengetahui Farhan ketika sahabatku, Ghina dan Murtya menceritakan tentangnya. Ghina mengejek Murtya dengan namanya. Aku tidak tahu bagaimana wajah Farhan saat itu, aku tidak tertarik untuk mengetahuinya. Dari cerita yang mereka ceritakan padaku, Farhan adalah anak yang pendiam, dingin, tertutup, dan tidak suka bergaul. Tak kusangka, kita bertemu di 9F.
Pada hari itu, sepulang sekolah aku dikejutkan dengan BBM dari Farhan yang menanyakan tentang tugas PJOK. Semenjak itu aku mulai akrab dengannya. Farhan menyukai teman dekatku, Sarah. Aku mengetahuinya dari Sarah. Dia bercerita padaku tentang Farhan. Farhan memberi beberapa buku novel kepada Sarah. Dia memiliki sisi romantis juga ternyata. Aku hanya bisa tersenyum saat Sarah bercerita. Farhan pun mulai menanyakan hal hal tentang Sarah kepadaku. Yang aku tidak ketahui adalah, dia mendekati Sarah melalui sahabat dekatnya yang lain. Sarah tidak suka dengan sikap Farhan yang seperti itu, dia berpikir hubungan yang seperti ini tidak akan berjalan mulus nantinya. Sarah pun menjauhi Farhan.
Farhan merasa terpukul dan meminta bantuanku untuk mencari wanita lain, pengganti Sarah. Beberapa kali aku mencarikannya ‘jodoh’, namun tidak ada yang cocok dengannya. Suatu hari, dia tertarik dengan seseorang yang kusebutkan namanya yaitu Sofia. Dia mulai mendekati Sofia setelah kuberikan pin BBMnya. Seminggu kemudian, Farhan dan Sofia jadian. Akupun diberikannya Pajak Jadian (PJ). Namun seminggu kemudian dia putus dengan Sofia, karena dia belum mengetahui sifat Sofia yang sebenarnya.
Di setiap lika liku perjalanan cinta Farhan, aku selalu mengikuti. Aku selalu ada untuknya. Hingga pada akhirnya Farhan memberitahu ada seseorang yang menyukaiku di kelas. “Tiek, ada yang suka sama kamu hayo” “Hah? Siapa?” “Someone” “Iya aku tau dia someone, namanya siapa??” “Adalah pokoknyaa”
Sempat aku mencurigai Erlangga, karena sikapnya berbeda kepadaku. Saat aku sendirian, dia menghampiriku dan mengajaku bicara. Saat aku menangis, dialah orang pertama yang menghampiriku. Semenjak itu perilaku Farhan berubah, dia selalu membahas tentang ‘someone’ itu, yang aku anehi adalah, mengapa dia merendahkan someone itu? Bukannya membicarakan perihal kelebihan someone itu padaku? Seperti orang orang yang akan menjodohkan seseorang. Ditambah dengan dia yang jadi lebih perhatian kepadaku. Kecurigaanku pada Erlangga berkurang setelah melihat perilaku Farhan yang seperti itu. Hingga pada akhirnya ada seorang temanku bernama Adel menceritakan tentang someone itu, dan someone itu ternyata Farhan sendiri.
Aku terkejut, aku bersikeras agar tidak menyukainya. Karena hubungan adik dan kakak tidak baik jika saling mencintai (bukan kandung, melainkan hanya main main saja). Namun kian hari, perlakuannya itu membuatku luluh. Aku termakan oleh perkataanku sendiri. Dia selalu menceritakan tentang seseorang yang dia sukai, aku pun mengikutinya. Aku meceritakan tentang seseorang yang kusukai dan bermaksud mengarah padanya. Tapi entah mengapa dia membicarakan tentang ‘mantan’nya dan membuatku cemburu. Tapi dia meyakinkanku bahwa dia hanya sekedar ‘teman’ dan tak lebih. Aku pun mewajarkan itu.
Karwis pun tiba. Yang aku pikir akan menyenangkan, ternyata tidak. Awal dari penderitaan pun dimulai. Aku dan Farhan berbeda bus. Kita dipisahkan karena tidak semua anak kelas mengikuti karwis. Awal awal tak ada yang aneh, namun di hari kedua karwis Farhan memberitahuku bahwa dia menyukai seorang perempuan dari kelas 9B yang sebus dengannya. Sakit hati yang kurasakan saat itu tak bisa aku curahkan dengan kata kata. Hanya bisa kujelaskan dengan air mata.
Setelah karwis aku memberanikan diri untuk mengatakan bahwa selama ini aku menyukai dia, aku memendam perasaan dan rasa sakitku selama ini tentangnya. Apa kalian bisa menebak reaksinya? Yap, dia berkata “yang benar? Aku tidak percaya” hanya itu? Iya, hanya itu. Untuk menutupi perasaan maluku karena telah menyatakan perasaan seperti itu, aku menawarkan diri untuk membantunya mendekati anak perempuan itu. “Aku bakal bantuin kamu deketin dia, kamu jangan khawatir sama perasaan aku. Lupain aja.” dan diapun dilema, antara melanjutkan mendekati anak itu atau memilih orang yang telah hadir di depan mata. Aku pun bersikeras akan membantunya. Dan dia pun memilih untuk melanjutkan mengejar anak itu.
Tak selang waktu lama, dia mengetahui bahwa anak itu tidak menyukainya dan menolaknya mentah mentah. Ada rasa puas di hatiku karena perasaannya tak berbalas. Dia pun kembali mengejarku seperti biasa. Tapi hingga sekarang dia tidak menyadari bahwa aku sudah tahu siapa someone itu sebenarnya.
Sifatnya mulai berubah. Dia bertingkah seperti ‘badboy’. Aku tak menyukainya. Aku sempat melarangnya dan dia memang bertingkah seperti badboy, jika dilarang makin melunjak. Aku pun tak nyaman dengan sikapnya yang seperti itu. Tapi entah kenapa semenjak aku mengetahui bahwa dia telah kehilangan ibunya dari kelas 2 sd, aku mewajarkan tingkahnya tersebut.
Berkali kali dia menyia nyiakan kesempatan dariku. Dia mengecewakan aku lalu pergi, dan kembali lagi lalu aku memaafkannya. Begitu terus hingga aku lelah. Dan dia pun pergi dan tak kembali. Awal awal aku biasa saja, dia menDC aku, memblokir line dan ig. Namun lama kelamaan aku merasakan ada yang hilang dari hidupku.
Yap, aku menyesali perbuatanku itu. Nasi telah menjadi bubur, aku tak bisa berharap seperti dulu lagi. Aku selalu berusaha menghubunginya. Namun hasilnya nihil. Meminta bantuan pada temanku, mereka tak dekat dengan Farhan. Aku hanya bisa menyesal, menyesali semuanya. Mungkin jika aku tak berprasangka buruk padanya, hal ini tidak akan terjadi. Aku sempat berpikir “mengapa segala sesuatu merupakan salahku? Apa aku tak berhak untuk benar?” namun saat itu aku memang tak bisa meredam amarah.
Dan hingga detik ini, kita tak berhubungan lagi.
Cerpen Karangan: Antiek Widya Terima kasih telah membaca cerpenku 😉 Ingin kenal aku lebih jauh? Atau ingin tau keseharian aku? Pindah lapak ke Ig: @antiekn