Sepasang kekasih berjalan sehabis hujan di bawah sorot rembulan yang bulat bentuknya. Keduanya bercakap-cakap, dan tertawa, saling bergenggaman tangan, erat sekali.
Di kebun dekat rawa mereka selalu berhenti dan bercengkrama di bawah pohon manggis yang dikelilingi ilalang. Mereka menyaksikan tarian kunang-kunang dalam kegelapan malam. Musim penghujan adalah musim yang tepat bagi kunang-kunang untuk melakukan perkawinan. Betina akan mengeluarkan cahaya untuk memikat si jantan, lantas mereka saling kejar, seperti muda-mudi yang menari.
“Bang, dari mana kunang-kunang itu memiliki cahaya?” Dewi membuka percakapan. “Dari perutnya.” Lelaki itu menjawab tanpa melepaskan pandang dari kunang-kunang yang terbang hilir mudik. “Apakah mereka memakan cahaya?” Kerlip kunang-kunang menari-nari di bola matanya yang bening. “Kurasa tidak, aku mengumpamakannya seperti ibu.” Dewi mengalihhkan pandangannya kepada sang kekasih. “Ibu?” “Ya, kunang-kunang itu serupa ibu yang mengandung anak. Anak itu adalah cahaya yang ada dalam perutnya.” Deva tersenyum mebelai lembut rambut Ikal Dewi.
Dewi menerawang ke angkasa yang gelapnya sedikit pudar terkena pendar bulan. Kalau begitu kunang-kunang itu betina seluruhnya. Mana mungkin lelaki mengandung, karena lelaki tidak mempunyai rahim tempat menyimpan bayi, pun tak mungkin lelaki memuntahkan bayi, pikirnya. Tapi ia tak lagi bertanya pada kekasih, takut tersinggung perasaannya.
Subuh hampir menjelang. Keduanya masih terjaga di bawah pohon manggis sekedar duduk dan menonton tarian kunang-kunang. Mereka telah menjadi saksi perkawinan berpasang kunang-kunang di malam itu. Si lelaki, yang bahunya dijadikan sandaran Dewi yang mulai terkantuk, menjunjung kepala Dewi, mengajaknya pulang sebelum terang membuka bungkus rahasia mereka.
Di keesokan malam, di bawah rintik gerimis serupa hujaman jarum, sepasang kekasih berjalan saling berpegang erat, dan tertawa. Serbuan rintik air, membasahi mereka, tapi kehangatan masih menggebu di dalamnya. Keduanya terhenti di bawah pohon manggis, di kebun dekat rawa. Mereka menyaksikan tarian kunang-kunang, yang menari dalam gelap malam, dan serbuan hujan.
“Bang, benarkah kunang-kunang adalah jelmaan olah meninggal?” “Ya, mungkin saja.” “Jika memang benar, apakah kita juga akan menjadi kunang-kunang setelah meninggal?” “Mungkin,” jawab lelaki mancung itu. “Lalu, bagaimana dengan lelaki yang mati?” Dewi mendekatkan wajahnya pada si lelaki. Dua pasang bola mata itu saling memandang, menaruh tanya dan jawab. “Aku tidak tahu.” “Lalu, mengapa kau katakan mungkin, jika kunang-kunang adalah jelmaan orang mati?” “Itu hanya mitos. Dan tentang kunang-kunang seperti ibu, hanyalah menurut pandanganku, mungkin seperti perumpamaan atau, ah… sudahlah!” Lelaki itu hampir lelah menjelaskan, betapa beda pandangannya dengan sang kekasih.
Dalam keheningan malam, di bawah langit yang mulai terlihat pudar warnanya karena gerimis telah berganti dengan rupa purnama, sepasang kekasih itu masih terjaga di bawah pohon manggis. Bola mata mereka masih setia menyaksikan tarian kunang-kunang, dengan suara jangkrik sebagai lagunya.
“Bang, apakah kita akan mati bersama?” Dewi membuka kembali pembicaraan. “Aku tidak tahu. Bukankah kematian adalah sebuah misteri bagi manusia?” “Ya, tapi aku yakin, kematian dapat direncanakan.” “Sudahlah. Tak perlu kita membicarakan kematian. Malam semakin larut. Mari pulang!” ajak lelaki itu, merangkul Dewi.
“Bang, apa kau ingin mati bersamaku?”
Mata lelaki itu mengerling bersama desah nafas yang teramat pelan. Ada pancaran keraguan dalam sorot matanya. “Sudah kubilang, jangan membicarakan mati!” “Apa kau takut mati?” “Dewi, sudahlah! Jangan lagi membicarakan mati!”
Dewi menurut, karena tak ingin ada pertengkaran di antara mereka. Ia yakin lelakinya tak ingin kekasihnya melakukan hal gila hanya keran cinta yang terhalang restu. Wanita itu berjalan dalam rangkulan kekasih. Meski tubuh telah berada jauh dari kunang-kunang, tetaplah serangga bercahaya itu masih menari dalam pikirannya. Tentang kunang-kunang seperti seorang ibu mengandung, atau sebagai jelmaan orang mati. Tentang sepasang kekasih yang mati bersama seperti kisah kasih muda-mudi yang ditulis Shakespeare.
Di bawah sinar rembulan yang bentuknya serupa seringai tawa, sepasang kekasih berjalan saling menggenggam tangan, saling diam. Kehangatan yang sebelumnya begitu terasa, kini sedikit memudar. Bukan karena dinginnya tiupan angin sebekas hujan, atau lolongan anjing yang membangunkan bulu roma. Melainkan, pertengkaran serupa koyo yang teramat panas sehingga menimbulkan rasa teramat dingin di kulit.
Tentang kunang-kunang yang memancarkan cahaya di perutnya. Tentang ibu mengandung, atau anak yang menjadi cahaya bagi ibunya. Tentang kunang-kunang sebagai jelmaan orang mati, atau sepasang kekasih yang merencanakan kematiannya. Semua masih tersimpan di kepala Dewi.
Keduanya kembali berhenti di kebun dekat rawa. Muda-mudi itu berusaha mengembalikan kehangatan yang sempat hilang. Menari bersama ribuan kunang-kunang dalam kegelapan malam, seolah mereka adalah kunang-kunang yang memancarkan cahaya, bukan dari perutnya, melainkan dari hati. Mungkin juga kunang-kunang adalah sepasang kekasih yang memancarkan cinta tulus dari hatinya.
Nyanyian jangkrik mengalun dalam setiap gerak tubuh. Kunang-kunang yang binarnya menerobos bola mata itu, tiba-tiba menjelma menjadi wanita dengan perut busung dan bayi di dalamnya. Kunang-kunang yang menjelma wajah ibu yang melolong minta tolong.
“Tolong, jangan lanjutkan hubungan kalian!” Lalu keduanya berhenti saling menatap. “Bang, bukankah anak adalah cahaya di kegelapan malam? Lalu, mengapa ibu menolakmu? Bukankah kau adalah anak?” “Aku bukan anak ibumu. Aku terlahir dari rahim seorang perempuan yang tak kuketahui di mana keberadaannya.” “Ya, aku tahu. Tapi, mengapa kita tidak diizinkan bahagia? Padahal kita adalah cahaya untuk mereka.” “Aku tidak tahu. Tapi, cahaya tidak akan terpancar bila tak disimpan dalam perut kunang-kunang. Kalaupun disimpan, cahaya itu tak akan nampak jika kunang-kunang tak menyibak sayapnya. Kau mengerti maksudku kan?”
Perempuan itu mengangguk. Ia mengerti akan pentingnya seorang ibu. Anak adalah kebahagiaan ibu. Sedemikian rupa ibu menjaga dan menginginkan hal terbaik untuk anaknya. Meski, terkadang bertentangan dengan keinginan si anak.
“Bang, aku ingin menjadi kunang-kunang untukmu.” “Maksudmu?” Deva memandang bola mata Dewi. “Aku ingin menjadi ibu untuk anakmu, tidak untuk yang lain.”
Deva memalingkan mukanya dari Dewi. Bukan tidak ingin menanam benih cahaya dalam perut Dewi, melainkan tak ingin menentang kehendak orangtuanya. “Bagaimana dengan ibumu? Aku tak ingin …” “Kalau begitu maukah kau menjadi kunang-kunang bersamaku?” Dewi memotong Ucapan kekasihnya.
Lelaki itu mendesah pelan. Ada segunduk rasa yang mebebaninya. Tentang aturan yang bertentangan dengan perasaan. Tentang cinta dan kepatuhan. Tentang keyakinan dan kesetiaan. Ditatapnya kembali wanita di sampingnya. “Dewi …” Ucapannya kembali tertahan, oleh suara kekasihnya
“Apa kau mencintaiku?” “Tentu,” jawab lelaki itu.
Setelah percakapan itu, keduanya beranjak, bersama kehangatan yang telah kembali merasuki cinta mereka. Mereka bejalan, di bawah sorot rembulan serupa seringai tawa. Keduanya bersenandung lagu cinta, saling rangkul dan tertawa. Ada kisah romeo dan juliet dalam perencanaan masa depan mereka.
Tentang kunang-kunang dan seorang ibu dengan perut buncit. Tentang kunang-kunang sebagai jelmaan orang mati, atau sepasang kekasih yang mati bersama. Di malam yang benar-benar dingin. Di musim hujan, saat bulan tak nampak wujudnya, sepasang kunang-kunang menari dibawah rintik hujan, dalam kegelapan malam. Kehangatan terpancar dari bias cahaya keduanya. Meski dingin, meski hujan, dan angin bertiup kencang, sepasang kunang-kunang tetap menari dalam hening malam.
Cerpen Karangan: Bia R Blog / Facebook: Bia R